Bab 2 - Nerdy Wife

1266 Words
"Itu anak kamu." Mata Axel membulat sempurna dengan cepat menutup kedua telinganya seolah-olah tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Yang benar saja, ada angin apa tiba-tiba dia yang tidak mengenal gadis cupu di hadapannya ini datang membawa kabar bahwa dia sedang hamil anak Axel. Tunggu? Melihat style dari gadis ini saja Axel sudah tidak minat. Lalu kenapa dia bisa berpikir untuk menghamili gadis cupu bin aneh ini? Sungguh gila, ini pasti hanya hayalan dari gadis itu. Axel terlalu tampan dan menjadi idaman untuk dapat fans halu. Menyadari raut wajah Axel yang seolah tidak percaya dengan ucapan gadis cupu tadi, gass tersebut kembali merogoh isi tas ranselnya. Menemukan selembar foto monokrom lalu memberikannya pada Axel. "Kalau kamu butuh yang lebih jelas, itu ada hasil USG. Usianya baru empat minggu, jadi kelihatannya kaya biji-bijian---" "Diem!" Sergah Axel dengan cepat. Gadis itu langsung diam sesuai dengan perintah Axel. Dia memperbaiki letak kacamatanya, tatapannya masih datar. Apalagi ketika Axel mengernyitkan dahinya menatap gambar monokrom yang kini berada dalam genggaman. "Lo nggak lagi ngibul kan, saking pengennya lo sama gue jadi ngarang cerita kalau lo lagi hamil?" Axel bertanya dengan nada sedikit sinis. "Kamu yang narik buat kita berhubungan intim, kamu yang lupa pakai pengaman, dan kamu juga yang ngancam supaya aku nurut sama kamu. Kok sekarang malah bilang aku halu, kamu kali yang halu. Makanya kalau mabuk tuh kontrol diri sendiri, titid nggak bisa di kontrol malah nyalahin orang." Gadis itu berkata tanpa ragu, hal itu membuat Axel tidak sanggup berkata-kata untuk kedua kalinya. Ini yang katanya gadis cupu? Dia bisa seenak jidat membantah ucapan Axel dengan mudah. Dimana letak cupunya, sepertinya dia hanya nenek sihir yang berlindung dibalik topeng polos. Pikiran Axel melayang pada ingatan satu bulan lalu ketika dia terbangun di kamar hotel dan mendapati secarik kertas bertuliskan nomor ponsel dan dengan nama yang tertera. Sehingga Axel mencoba kembali untuk membantah. "Nggak mungkin, gue tuh tidur sama cewek yang namanya Kahiyang. Bukan cupu kaya lo!" Tukasnya. Gadis itu menghela nafas lelah sembari menggeleng. Lagi-lagi di merogoh ke dalam tas ranselnya, mencari sesuatu yang membuat Axel berdebar waspada. Ini setiap kali gadis itu merogoh ke dalam tas ransel usangnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu berwarna biru dan memperlihatkannya kepada Axel sebelum akhirnya Axel melongo untuk yang kedua kalinya. "Kahiyang Nareswari, itu namaku." Axel tidak bisa berkutik lagi, "gue kasi duit aja duit, mau? Gue bakalan usahain lo dapat rumah sakit terbaik buat ... Buat---" kata-kata Axel tertahan di ujung lidah. Entah mengapa dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Kalau dia berniat untuk meminta Kahi menggugurkan kandungannya. "Kamu berpikir untuk gugurin kandungan ini?" Seolah menyadari ketidaksanggupan Axel, Kahi justru mengatakannya dengan tenang. Angin malam yang dingin, suasana yang berubah senyap. Jauh di lubuk hatinya Kahi tidak baik-baik saja mendengar apa yang diucapkan oleh Axel, namun tatapannya selalu tenang. Seolah tidak goyah meski Axel sudah menyatakan keinginannnya agar anak itu gugur. "Sayangnya udah terlambat, anak ini nggak akan aku gugurin. Lalu kedua orangtua kamu sudah tau, karena sore tadi aku sudah ngehubungin mereka." Lagi-lagi mata Axel melotot kali ini dia terkejut bukan main. Pantas saja daritadi dia mendapat notif panggilan tidak terjawab sebanyak lima kali dari Maminya. "Anjing ya lu! Kok bisa-bisanya langsung ngadu ke orangtua gue, sengaja banget mau buat orang susah!" Tukas Axel bertepatan dengan itu Maminya kembali menghubunginya. Kahi hanya diam memperhatikan Axel yang kini tampak frustasi setelah menerima panggilan sang Mami. Tentu itu bukan sebuah pertanda yang baik. Kok bisa si cupu ini tau nomor kedua orangtua Axel? Pemuda itu mendapat teguran yang keras dari Maminya. Suara cempreng sang Mami terdengar lalu besok mereka harus pergi untuk pemberkatan, karena Kahiyang akan menjadi istri Axel. *** "PT Artha Jaya adalah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang elektronik. Di tahun dua ribu dua puluh tiga, perusahaan mengalami penurunan penjualan akibat persaingan pasar. Untuk menjaga kepercayaan investor dan mendapatkan pinjaman dari bank, direktur keuangan menyuruh tim akuntansi untuk menaikkan angka penjualan dan mengurangi nilai beban operasional pada laporan keuangan akhir tahun." "Seorang akuntan muda bernama Dimas menyadari ada kejanggalan dalam angka laporan. Ia diminta secara langsung oleh manajernya untuk “sedikit mengatur angka” demi kebaikan perusahaan. Dimas bingung, karena jika menolak, ia bisa dianggap tidak loyal dan terancam tidak naik jabatan." Pria paruh baya itu kemudian celingak-celinguk dan menunjuk Kahiyang yang duduk di pojok belakang kelas. "Anda yang ada di pojok, tolong dari penjelasan saya, menurut kamu apa pelanggaran etika yang terjadi?" Kahiyang masih terdiam mencerna situasi yang kini menghadapinya. Hingga akhirnya menyadari kalau seseorang sudah berdiri di depan tempatnya. "Anda mendengarakan penjelasan saya bukan? Ini materi kelompok anda sendiri!" Suara itu terdengar meninggi, Kahi yang tersadar dari lamunannya langsung bangkit. "Pe-pelanggaran etika ya pak?" Beo Kahi namun tidak mendapat respon dari sang dosen dan hanya menatap tajam saja. "Pelanggaran integritas dimana mereka melakukan rekayasa data keuangan yang tidak sesuai fakta," ucap Kahi lagi yang membuat Pak Dosen langsung mengangguk, namun tatapannya terlihat tidak bersahabat. Setelah kelas selesai Kahi merutuki dirinya sendiri karena tidak fokus mendengar dosen. Sudah seminggu setelah pemberkatan dan sekarang Kahi resmi menjadi istri dari seorang Axel. Hal yang membebaninya adalah bagaimana sikap Axel yang terus-menerus membuatnya sakit kepala. "Tumben banget si cupu nggak fokus, lagi mikirin apa sih?" Ledekkan itu terdengar dari Siska yang kini menatap remeh ke arahnya. "Paling juga duit, orang miskin kan permasalahannya seputar duit," tambahnya kemudian tertawa. Kahi berdecih, "daripada permasalahannya tentang bapak yang keciduk wleo-wleo bareng boti," gumam Kahi yang untungnya tidak didengar oleh Siska. Saat merapikan buku-bukunya, Satya datang menghampiri Kahi. Sudah tau apa yang Satya inginkan, Kahi menghela nafas, "iya nanti rangkumannya aku kirim lewat email, kamu cek dan jangan lupa buat parafrase supaya nggak dikira mirip," ucapnya yang membuat Satya menyengir. "Memang terbaik deh kubu ini." "Koreksi panggilan kamu mulai sekarang, namaku Kahi bukan Kubu," protes Kahi yang membuat Satya langsung menatapnya heran. "Perasaan dari awal masuk kampus juga udah dipanggil Kubu sama orang-orang, kenapa baru sekarang protes?" Tanya Satya. "Kalau kamu nggak mau koreksi nggak masalah, tapi rangkumannya nggak akan dikirim." Satya mengulum ludah dan menggeleng dengan cepat. "Becanda Kahi, tenang aja sekarang gue pasti manggil nama lo dengan bener, kalau gitu bye ya!" Satya meninggalkan Kahi yang juga bersiap untuk pulang. Ah, dia teringat kalau sekarang dia sudah tidak akan pulang ke panti, melainkan ke rumah mewah keluarga Reigar. Dari awal Kahi tahu bahwa Axel yang menidurinya. Kahi sudah bersiap untuk meminta tanggung jawab. Namun dia memang selalu terpesona akan kekayaan keluarga Reigar yang nyata adanya. Pertama kali datang ke rumah itu, Kahi mengira bahwa rumah itu seperti istana. Berada dalam kawasan komplek elit, meski jarak pagar depan dengan pintu utama tidak terlalu jauh, namun itu cukup membuat takjub. Garasi mobil yang terlihat lebih besar dari kamarnya di panti asuhan saja sudah membuat Kahi menyadari kalau mobil dan motor yang ada di dalam sana pasti lebih dari satu. BUGH! Kahi terduduk jatuh dan segera menyentuh perutnya. Dia melihat bola basket menggelinding ke arahnya. Kahi menghela nafas, memikirkan soal dia yang sudah menjadi istri Axel sungguh membuatnya tidak fokus dalam apapun. "So-sorry Lo nggak apa-apa?" Suara itu membuat Kahi mendongak dan menatap pemuda yang dikenal sebagai salah satu pemuda tampan di kampus. "Iya, aku nggak apa-apa," balas Kahi yang perlahan bangun sambil menyentuh perutnya dengan hati-hati. "Vin, lama banget lo!" Suara itu membuat Kahi menoleh dan mendapati Jovan yang kini menghampiri mereka bersama dengan Axel. Ah, pemuda itu sedang bermain basket ternyata. Salah Kahi juga yang tidak melihat jalan padahal dia hendak menuju parkiran melewati lapangan basket. Dia dan Axel sempat beradu tatap beberapa detik sebelum Axel memberi isyarat dengan dua jari dan tatapan yang sengit. Kahi berdecak, "Kenapa lagi sih dia?" Keluhnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD