Malam itu sinar rembulan tampak bersinar terang, suasana dinginnya malam tidak menyurutkan suara deru motor yang mulai memenuhi udara. Dua motor sport keluaran terbaru yang satu berwarna hitam mengkilap, yang satu lagi berwarna merah menyala. Berada sejajar di garis start. Aura permusuhan antara keduanya begitu kuat.
"Lo nggak curang kaya kemarin lagi kan?" Ucap Axel smirknya tertutup helm yang dia gunakan saat ini.
"Berisik! Siap-siap aja lo kalah dari gue!" Tukas Arthur tidak terima.
Setelah seminggu yang lalu mengakui kekalahan karena curang. Lalu Arthur kembali mengajaknya untuk tanding di arena.
Di samping sana Jovan mendekat untuk berbisik pada Satya, "paling si Arthur nanti curang lagi."
"Ck, kelihatan banget nggak bisa menang karena usaha sendiri," sewot Satya.
"Tiga ... Dua ... Satu!"
Vroom!
Kedua motor itu melaju kencang meninggalkan garis start. Lampu jalanan berganti bayangan, knalpot meraung-raung memecah keheningan malam. Angin malam tidak menjadi penghalang.
Tatapan Axel begitu lurus dan fokus. Setiap ada belokan motornya berbelok dengan indah. Untuk saat ini Axel masih unggul dibanding dengan Arthur yang tertinggal beberapa meter darinya.
Tentu Arthur tidak tinggal diam dan kembali menekan gassnya dengan kencang. Dia hampir saja berhasil merebut posisi atas, namun Axel mencondongkan tubuhnya dan melaju lebih kencang.
Garis finish terlihat semakin dekat. Riuh suara penonton dan teman-temannya yang mulai bersorak-sorai menyebut namanya. Yah, inilah Axel si pemenang yang tentu saja Raja balapan. Mengalahkan seorang Arthur tentu tidak sulit baginya.
"AXEL!" pekik para gadis yang turut menjadi penonton ketika melihat kemenangan Axel yang berhasil melaju melewati garis finish terlebih dahulu.
Axel membuka helmnya dan mengacak-acak rambut bermodel modern wolf cut tersebut dan memberikan senyum ke arah gadis-gadis cantik yang mendukungnya.
"a***y!" Jovan menepuk bahu Axel.
"Memang nggak perlu diragukan lagi, Axel si Raja balap," celetuk Satya yang berada di belakang Jovan.
Arthur menatap ke arah mereka kesal. Merasa tidak terima, namun kali ini Arthur akui bahwa menantang Axel adalah hal yang salah. Seharusnya kemarin dia ajak Jovan berduel saja.
Anton sempat melirik Arthur dengan senyum mengejek. Teringat akan kecurangannya Minggu lalu tentu saja membuat Anton ingin bertepuk tangan di depan wajan Arthur.
"Taruhannya jangan lupa!" Tukas Axel diiringi kekehan mengejek.
Mereka memutuskan untuk kumpul di basecamp setelah Satya balap dengan orang dari circle balap lain. Axel terlalu malas untuk pulang ke rumah, karena berpikir kalaupun sekarang sudah ada si cupu di rumah, namun itu tidak merubah apapun.
Teman-temannya belum ada yang tau kalau Axel sudah pemberkatan dengan si cupu. Kalau sampai mereka tau, bisa habis Axel kena ledek. Apalagi si cupu jadi istrinya benar-benar jauh dari kriteria tipe ideal seorang Axel Elvano Reigar.
"Ah elah, muka Lo ngapain sinis gitu xel. Perasaan juga baru menang ngalahin si Arthur," celetuk Jovan yang mengambil kacang kulit di atas meja kemudian makan dalam sekali hap.
"Muka gue biasa aja padahal, ganteng banget," balas Axel narsis.
"Eww." Jangan tanya itu suara siapa karena pemuda yang paling irit bicara itu pemiliknya.
"Lain kali lo kalau mau balapan sama Arthur, minta taruhannya motor dia aja. Sok banget dia bilang motornya itu keluaran terbaru dan pasti bikin menang." Satya menyahut.
"Ngapain?" Axel menyisir rambutnya dengan santai, "gue bisa beli motor yang lebih bagus daripada punya dia. Lagian kalau taruhan pakai duit udah basi. Mending taruhan pakai tindakan. Contohnya dia yang mungkin gue babuin." Axel tertawa jahat.
"Aura pembullynya kuat banget ya," balas Jovan sambil geleng-geleng kepala, "gue jadi inget si cupu deh. Dia dibully di kelas lo juga nggak sat?" Jovan tiba-tiba bertanya.
Tentu saja pertanyaan tentang si cupu cukup mengganggu fokusnya. Axel berdecak sebal, mengingat sekarang si cupu itu satu atap dan sedang mengandung benih mahalnya saja sudah membuat Axel merasa super kesal.
Namun mendengar jawaban Satya, entah kenapa Axel agak sedikit penasaran, "kalau masalah itu sih, kayanya nggak ya. Soalnya meskipun cupu, dia bukan tipe orang yang mudah dibully. Mulutnya aja setajam silet, kalaupun dia diem juga paling karena males ngeladenin hal yang nggak ada manfaatnya."
Sepulang dari basecamp Axel melirik arloji di tangannya yang kini menunjukkan pukul dua belas malam. Satpam yang berjaga segera membukakan pintu gerbang untuk tuan muda mereka itu.
Tampaknya beberapa lampu sengaja dimatikan. Padahal biasanya lampu akan dibiarkan menyala sampai Axel pulang sebelum dimatikan seluruhnya.
Prang!
Suara itu membuat Axel sedikit membulatkan matanya. "Mbok Yun?" Beo Axel yang mencoba memanggil siapapun yang sedang membuat kegaduhan di arah dapur.
Langkah kaki Axel berjalan dengan ragu ke arah dapur sebelum akhirnya dia menyipitkan mata mencoba menangkap satu objek.
Puk!
"ANJING!" Axel menjerit mengumpat ketika merasa seseorang menepuk bahunya.
Lalu ketika Axel berbalik dia hampir saja jatuh ke belakang kalau tidak ada meja makan yang menahan pergerakannya. Bagaimana tidak terkejut sampai hendak terjungkal kalau melihat seorang gadis dengan rambut di kepang dua tanpa kacamata dan kini menyorot wajahnya sendiri dengan lampu senter.
"CUPU LO NGAGETIN AJA ANJ--"
"Takut kamu?" Potongnya dengan cepat.
"Hah? Siapa yang takut, apa itu takut?" Dengan segera Axel merubah ekspresi wajahnya. Menjadi lebih tenang dan berdehem.
"Maaf, soalnya aku kira kamu maling tadi," balas Kahi dengan mudahnya.
"What!" Axel merasa tidak terima.
"Serius lo ngira gue maling, ini rumah gue sendiri padahal. Yang ada malah Lo malingnya!" Tukas Axel tidak terima dan kini menatap sinis dari atas sampai bawah sosok Kahi.
Kahi kemudian mengangguk, "kamu bener sih, di rumah ini banyak barang mahal bisa diambil," balasnya acuh kemudian melangkah menuju dapur.
"Lain kali kalau gue belum pulang, Lo nggak usah ngide buat matiin lampu. Meskipun Lo itu istri gue, tapi jangan berlagak kalau Lo itu nyonya rumah, paham?" Axel melipat kedua tangannya di d**a, namun dia seketika berbalik ke arah Kahi karena tidak mendengar jawabannya.
"Paham nggak lo?" Ulang Axel.
"Hem." Balasan singkat Kahi entah kenapa membuat Axel semakin kesal, semakin darah tinggi. Seumur-umur baru kali ini dia nemuin cewek modelan Kahi.
Tapi kalau dilihat-lihat Axel lumayan penasaran sama kegiatan cupu di dapur. Tangan Kahi terlihat meraba-raba area cabinet untuk mencari sesuatu sambil menggunakan flash handphonenya.
Axel berdecak sebal, "nyalain aja udah lampunya, nggak usah sok ngide ngeraba-raba---"
"Tolong nyalain lampunya xel," ucap Kahi yang langsung membuat Axel mendadak kesal lagi.
"Lo nyuruh gue?"
Kahi menghela nafas lelah, "aku nggak tau dimana saklar lampunya. Yang matiin lampu tadi Mbok Yun," balasnya.
Saat itu juga mood Axel langsung berubah senang, "Yah wajar sih kalau Lo nggak tau, namanya juga orang miskin." Ucapan Axel emang sengaja banget buat menghina Kahi.
Sementara Kahi tampak tidak peduli, namun tiba-tiba ketika Axel tepuk tangan lampu kemudian menyala. Saat itu juga Kahi langsung kaget.
"Kok bisa pakai tepuk tangan doang?" Kahi penasaran sekaligus takjub. Kirain rumah ini sistem lampunya masih pakai saklar, dan seketika Kahi langsung ingat kalau saat ini dia berada di rumah mewah.
Axel memutar bola matanya malas, "norak sih lo!" Kahi hanya diam, meskipun Axel kembali bersuara, "Lo ngapain malam-malam begini?"
"Minum s**u ibu hamil, tadi lupa."
Axel langsung ber-oh ria. Sejenak dia lupa kalau Kahi lagi hamil. Sialnya emang lagi hamil anaknya Axel. Namun tiba-tiba Axel punya ide jahil di kepalanya.
Susu yang sudah dibuat Kahi tiba-tiba direbut oleh Axel. Kahi hanya diam dan tidak bertanya, apalagi ketika Axel melangkah menuju wastafel. Pemuda itu sempat menatap Kahi dengan smirk liciknya lalu membuang s**u itu di wastafel.
Axel tersenyum puas melihat bagaimana kening Kahi mengerut, "jadi peringatan, kalau keberadaan Lo disini bener-bener kaya hama. Seandainya anak gue gak ada di rahim lo, pastinya lo nggak akan nikmatin kehidupan mewah kaya sekarang kan?"