Kahi memuntahkan cairan beningnya di wastafel ketika perutnya kembali terasa bergejolak. Dia terduduk lemas bersandar pada dinding ketika merasa sudah tidak ingin muntah lagi. Arah pandangannya menatap ke jam dinding yang kini menunjukkan pukul enam pagi.
Kata dokter di usia kehamilan yang masih muda begini memang akan sering morning sickness. Kahi menghela nafas lelah sebelum akhirnya bangkit kembali.
Tidak pernah sekalipun terlintas dipikiran dan masa depannya kalau dia akan hamil di usia muda. Cita-citanya masih belum terkejar, namun Kahi sadar kalau pengorbanannya ini menyelamatkan banyak anak-anak panti.
Meninggalkan kegusaran di hatinya. Kahi memilih untuk belajar di ruang tengah sebelum Axel bangun. Ini hari Minggu, dia pergi keluar lebih baik daripada dia harus mengacau. Terkadang Kahi tidak tahan ingin menjambak rambut gondrong Axel kalau dia macam-macam kaya kemarin.
Tapi Kahi sadar yang beli s**u ibu hamil juga dia. Untuk apa Kahi begitu marah? Dari awal tau kalau Kahi hamil juga udah dari jauh-jauh hari mempersiapkan mental. Anggap aja lagi ospek dan ketemu kakak tingkat yang rese.
Lagi fokus-fokusnya belajar tiba-tiba saja Kahi melihat Axel berjalan turun dengan menggunakan kaos berwarna hitam dan celana pendek berwarna krem. Rambutnya terlihat sudah rapi dan Kahi kembali fokus dengan buku di depannya, melupakan Axel yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Suara yang muntah-muntah tadi, itu suara lo ya pu?" Tanya Axel yang kini melangkah menuju ke arah dapur lalu kembali lagi ke ruang tengah dengan snack kacang kulit kesukaannya.
"Eh cupu, ditanya juga diem doang lo," tegur Axel lagi.
"Kalau sudah tau jawabannya ngapain nanya lagi?" Kahi membalas tanpa menatap lawan bicaranya.
Hal itu membuat mood Axel langsung terjun bebas. Axel berdecak sebal, si cupu ini kadang-kadang tindakannya songong banget. Seenggaknya dia harus terlihat sungkan sama Axel. Benar kata Satya kemarin, Dia memang cupu tapi tidak bisa ditindas.
"Iyakah?" Gumam Axel pelan sebelum akhirnya membuka kacang kulit dan memperhatikan kulitnya sebelum dia melempar kulit kacang itu ke arah Kahi.
Posisinya Kahi duduk lesehan dan menjadikan meja persegi yang ada di ruang tengah sebagai meja belajar. Sementara Axel berada di sofa panjang belakang Kahi. Otomatis ketika Axel melemparkan kulit kacang itu ke arah Kahi, kulit kacang itu mengenai punggung Kahi.
Namun seolah tidak menggubris kelakuan Axel. Kahi tetap belajar meskipun kulit kacang itu terasa mengenai punggungnya, lalu berserakan di dekatnya. Kahi menghela nafas, namun dia tetap lanjut belajar.
Axel berdecak, "tahan juga dia," gumamnya sebelum mengambil remot televisi yang ada di sofa dan menyalakan televisi tersebut.
Lagi-lagi Axel berulah dengan sengaja menaikkan volume televisi hingga membuat Kahi yang tadinya tidak menggubris kulit kacang itu, berbalik menatapnya dengan datar.
"Kenapa?" Sewot Axel seolah tau kalau tatapan datar Kahi adalah bentuk protes darinya.
"Nggak usah protes masih untung diizinin belajar disini," ucap Axel yang menahan untuk tidak tertawa karena akhirnya Kahi terganggu dengan tingkah Axel.
Biasanya Kahi akan terlihat tenang dan datar, namun kedua alisnya yang merengut membuat Axel sadar kalau gadis itu sedang kesal padanya. Memang itu yang Axel inginkan.
Kahi langsung merapikan buku-bukunya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Hal itu membuat Axel tersenyum penuh kemenangan.
"Udah puas belajar lo!" Tukas Axel yang melihat Kahi perlahan bangkit dari tempatnya.
Kahi mengangguk singkat sebagai jawaban. "Kenapa? Lanjut aja belajar," ucap Axel yang sengaja ingin meledek Kahi.
"Nggak mau lanjut, soalnya tadi diganggu setan," ucap Kahi datar sebelum akhirnya pergi menuju kamarnya.
Axel melotot melihat punggung Kahi yang perlahan menghilang, "enak aja! Bisa-bisanya muka ganteng gue dibilang setan. Dasar cupu miskin!" Tukas Axel tidak terima.
Axel masih misuh-misuh sambil makan kacang. Kemudian melihat Kahi yang kembali lagi ke ruang tengah membuat Axel tidak tahan untuk sewot.
"Nggak usah kurang ajar sama majikan, enak aja muka gue yang tampan paripurna ini dikatain setan!"
Kahi melirik Axel dengan lirikan tajam, "kelakuanmu kaya setan," balasnya sebelum kembali lagi ke dalam kamar.
Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kahi yang kelaparan karena belum sarapan pagi ini segera keluar dari kamar. Namun matanya menyipit memindai sekeliling, berharap Axel sudah pergi terserah mau kemana, tapi akan lebih bagus kalau Axel pergi yang jauh sehingga lama pulang.
Bisa gawat kalau Axel berada di rumah weekend begini. Ketenangan Kahi akan terganggu terlepas dari fakta kalau Axel yang punya rumah.
Benar saja sepertinya Axel sudah pergi. Kulit kacang yang tadi berserakan juga sudah bersih Kahi melihat keberadaan Mbok Yun yang sedang beberes di dapur.
"Mbok Yun," sapa Kahi.
Wanita paruh baya itu ikut tersenyum menyapa, "sudah sarapan non?" Tanya Mbok Yun yang langsung dibalas gelengan.
"Mau saya buatkan nasi goreng? Tuan muda jarang sarapan pakai nasi, biasanya sereal atau nggak sandwich. Jadi saya nggak ada buat sarapan pagi," ucap Mbok Yun yang terdengar merasa bersalah.
Kahi dengan cepat menggeleng, "biar saya aja yang nyiapin sendiri Mbok, oh iya disini ada terasi?"
Mbok Yun mengangguk, karena rindu masakan sendiri. Kahi mulai berkreasi membuat telur dadar, dan memasak sepanci kecil sayur. Kahi sempat bertanya apakah dia bisa menggunakan ulekan, lalu Mbok Yun mengangguk.
Aroma masakan Kahi tentu menggugah selera. Mbok Yun sampai pengen juga makan. Soalnya Kahi bikin sambel tomat, telur dadar, sama sayur dadar. Menu sederhana memang apalagi ada kerupuk bunga putih, waduh itu kombo menu yang disukai orang-orang miskin kalau kata Axel.
"Ayo mbok, kalau belum makan ikut makan sama saya," ucap Kahi yang dijawab gelengan.
"Nona makan saja nanti kalau bersisa baru saya makan," balas Mbok Yun yang langsung membuat Kahi menggeleng dan menarik Mbok Yun untuk ikut makan bersama.
Pada akhirnya Mbok Yun menyerah dan ikut duduk makan. Nona mudanya ini memang orang yang sangat baik dan sederhana. Meskipun dia menikah dengan orang kaya, hal itu tidak membuatnya menjadi sombong.
"Oh iya Mbok, perasaan saya disini udah seminggu. Tapi kok orangtuanya Axel nggak pulang-pulang ya?" Tanya Kahi penasaran.
"Tuan dan Nyonya besar memang jarang pulang. Kadang dalam satu tahun mereka berdua nggak pulang. Apalagi dua-duanya sama-sama pebisnis besar, banyak pekerjaan yang harus di urus."
Kahi diam namun pikirannya berisik. Pantas saja rumah terasa sepi, lalu ketika mengadu kepada kedua orangtuanya Axel. Mereka terdengar tidak terlalu peduli. Jadi sayang sekali rumah sebesar ini hanya dihuni oleh dia dan Axel.
Tiba-tiba Kahi teringat dengan adik-adik yang ada di panti asuhan. Rumah ini bahkan lebih besar dari panti asuhan tempatnya hidup.
***
"Eh bantu-bantu!" Satya memekik ketika melihat ada ibu-ibu di seberang jalan kena copet mana kelihatannya ibu itu lagi hamil besar.
Tanpa Satya suruhpun Axel terlihat berlari mengejar si copet dan tidak butuh waktu lama Axel berhasil meraih copet tersebut meskipun dia harus jatuh bersama copet tadi.
Axel menghajar si copet baru si Jovan datang bersama polisi untuk meringkus si copet yang meresahkan di jalan tersebut.
Mereka lagi nongkrong santai di kafe dan melihat ibu hamil kena copet, langsung pada bangun. Seenggaknya mereka bukan orang yang nggak punya hati nurani.
"Ini Bu dompetnya," ucap Axel menyerahkan dompet itu kepada sang ibu hamil.
Wanita itu tersenyum, "terima kasih banyak ya sudah mau bantu ibu."
"Sama-sama Bu, lain kali hati-hati ya." Satya membalas.
Axel sempat melirik ke arah perut buncit dan besar ibu-ibu ini, mendadak dia teringat dengan Kahi yang saat ini juga sedang hamil. Kenapa tampaknya Kahi tidak seperti ibu-ibu ini?
Sepulangnya Axel sore itu dia langsung mencari keberadaan Kahi. Ketika menemukan Kahi sedang menonton televisi sambil merebahkan tubuhnya di sofa, tanpa pikir panjang Axel langsung mendekat dan menyentuh perut Kahi secara tiba-tiba.
Hal itu tentu saja membuat Kahi terperanjat karena terkejut. Apanih? Kok tiba-tiba banget Axel nyentuh perutnya? Kahi langsung menjauh dan menatap Axel dengan heran.
"Kenapa lo?"
"Kamu yang kenapa, tiba-tiba langsung nyentuh perut aku," balas Kahi sedikit sewot.
"Ya memangnya kenapa kalau gue nyentuh perut lo?" Axel merasa kalau tidak ada yang salah dengan itu.
Axel memutar bola matanya malas, "lo sebenarnya lagi hamil nggak sih? Atau lo cuma lagi pura-pura hamil?"
Kahi menatap kesal, sepertinya kali ini Kahi tidak bisa tidak tenang menghadapi tuduhan Axel, "enak aja, aku beneran lagi hamil. Tadi pagi kamu denger sendiri kalau aku muntah-muntah."
"Terus kenapa perut lo masih rata begitu, harusnya kan kembung!" Balas Axel menatap curiga ke arah Kahi. "Tadi ada ibu-ibu hamil juga, tapi beneran hamil soalnya perut dia gede."
Hal itu membuat Kahi mendadak terdiam, ini Axel pura-pura nggak tau atau emang beneran bego?