Bab 5 - Balapan

1054 Words
Kahi sebenarnya nggak mau menertawakan Axel. Namun menurutnya itu sangat lucu, bagaimana bisa dia yang sudah dewasa dan kuliah justru tidak paham apa-apa tentang progres perkembangan janin. Melihat kedua sudut bibir Kahi yang berkedut. Axel tampak tersinggung, "Kalau mau ketawa, ketawa aja. Lagian gue cuma nanya kan? Wajar gue nanya karena nggak tau." "Kamu dulu kelas IPA apa IPS?" Tanya Kahi. Axel malah terlihat makin kesal, "Gue nanya, kok lu ikutan nanya juga sih?" "Tau ah, males gue!" Axel langsung ngacir pergi ke kamarnya alih-alih meladeni Kahi yang sudah menyinggungnya. Meskipun sempat mengumpat dan mengata-ngatai Kahi karena merasa kalah sama Kahi. Malamnya Axel ada janji buat dateng ke arena balapan. Cuma dia ngerasa heran saat melewati ruang tengah dimana saat ini Kahi duduk dengan menggunakan daster bunga-bunga norak, rambut yang sengaja dicepol ke atas, lalu kacamata bulat yang setengah melorot itu. "Ngapain lu pu, betah banget di ruang tengah!" Tukas Axel yang ngambil kunci motor sportnya di atas nakas dekat televisi besar ruang tengah. Kahi nggak jawab dan cuma balas dengan lirikan sekilas kemudian lanjut lagi nonton televisi. Mungkin Axel nggak tau, tapi menonton televisi adalah hal yang langka bagi Kahi. Karena di panti asuhan, televisi cuma ada satu dan setiap kali Kahi mau nonton sinetron pasti ada anak-anak panti yang mau nonton serial anak-anak. Alhasil Kahi pasti mengalah dan bisa menonton ulang siarannya diaplikasi atau platform OTT. "Ditanya tu jawab, punya mulut kan?" Tegur Axel dengan sinis. "Lagi makan," balas Kahi yang malas berdebat sama Axel, dan berharap pemuda itu bisa segera pergi saja dari hadapannya. "Makan apa? Lu kan lagi nonton TV?" "Kamu udah tau, pakai nanya lagi. Emang udah kebiasaanya begitu ya?" Jawab Kahi malas. Axel mendengus sebal kemudian dengan iseng mencabut kabel televisi yang terhubung dengan stop kontak listrik, sehingga televisi itu langsung mati begitu Axel pergi. "Ya Tuhan, kalau udah nggak sabar ku lempar dia pake remote ini," gumam Kahi dan berdiri dengan pelan sambil memegang perutnya dengan hati-hati, lalu melangkah untuk menyambung kabel itu lagi. Sepanjang keluar dari pintu, Axel terus mendumel. Kenapa juga orangtuanya ini mau membiarkan Axel menikah dengan cupu itu. Padahal kan tinggal suruh aja si cupu gugurin. Namun baru saja dia berpikir seperti itu, Axel tiba-tiba dirundung rasa bersalah. "Ah taulah babi!" Umpatnya yang mulai menyalakan mesin motornya. Baru sampai di markas Axel langsung ngajak Satya buat tanding. Hal itu bikin Satya bertanya-tanya setan apa yang sedang merasuki Axel. Atau siapa yang sedang membuat Axel badmood hari ini. "Harus banget sekarang tanding nih?" "Iya," balas Axel cuek. Satya sendiri mau langsung ACC tantangan dari Axel. Karena motor sport kesayangannya lagi kena sita karena ketahuan pulang malam. Satya meminjam motor sport milik Anton dan sudah siap dengan helmnya. Untuk ronde pertama yang menang itu udah pasti Axel, begitu juga ronde kedua. Cuma masalahnya Axel minta tanding lagi yang ketiga dan bikin Satya mendengus sebal. Capek sekali rasanya ngeladenin Axel yang badmood. Cuaca yang pada dasarnya udah mendung daritadi sore, tiba-tiba udah hujan aja. Satya yang mager buat basah-basahan mutusin buat biarin aja Axel melakukan motornya di depan sana, sementara dia balik lagi ke markas. "Lho, kenapa balik lu?" Tanya Jovan yang melihat Satya sudah buka helm. "Tau tuh, temen lo lagi gila kayanya mau ngajak gue tanding tiga ronde. Males gue basah-basahan, kalau ketahuan sama emak gue bisa bahaya," balas Satya yang secepat kilat udah turun dari motor. "Si Anton mana?" "Balik dia, katanya eyangnya dateng sekarang," balas Jovan. "Keluarga gue juga sebenarnya lagi pada datang, tapi gue males pulang sih." Satya bergumam pelan. "Sama," balas Jovan lagi. Rasanya udah lama Axel menguasai arena balapan. Dia bahkan menerobos hujan yang deras dan tidak peduli ketika area balapan saat itu licin. "Axel gila banget anjing, ngapain coba dia kerasan begitu?" Ucap Satya yang geleng-geleng kepala sama kelakuan Axel. "Lagi ada masalah mungkin, kaya nggak tau keluarganya Axel aja lu," balas Jovan yang juga menghela napas karena Axel terlalu memaksakan diri. *** Kahi yang baru beres belajar, memilih untuk membaca beberapa jurnal tentang kehamilan. Sejujurnya dia tidak pernah berpikiran akan punya anak secepat ini. Namun karena sudah datang, Kahi tentu tidak mau menganggap bahwa anak ini datang sebagai bencana. Cukup lama Kahi baca, dia sampai nggak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Daritadi Kahi nggak melihat Axel pulang, tapi untuk apa juga dia peduli. "Ibu hamil itu nggak boleh terpengaruh secara psikologis. Karena katanya perasaan itu bisa dirasakan juga sama bayinya." Mendadak perutnya Kahi protes karena merasa lapar lagi. Entahlah Kahi juga bingung, kalau pagi bawaannya mual parah, sementara kalau sudah masuk malam, dia malah nggak bisa kontrol nafsu makannya. "Kayanya tadi ada sisa pisang deh di dapur, makan pisang aja kali ya?" Gumamnya yang masih pegang handphone dengan jurnal tentang kehamilan di dalamnya. Kamar Kahi ada di lantai bawah memang, dekat dengan ruang tengah. Jadi begitu keluar dari kamar, Kahi bisa melihat sofa yang ada di ruang tengah. Seharusnya lampu semua ruangan sudah mati. Tapi begitu keluar dari kamar Kahi malah melihat lampu semua ruangan yang menyala. "Lho, kok nyala?" Gumamnya. Rasa terkejutnya nggak berhenti disana, dia makin terkejut lagi karena melihat Axel yang sedang tiduran di sofa dengan posisi satu tangan ada di atas kepalanya. Kahi menghela napas dan mendekat ke arah Axel. Niat hati mau membangunkan, namun saat menyentuh tangan Axel, Kahi merasa suhu tubuhnya begitu hangat. Ditambah baju yang dipakai Axel masih terasa basah. Tadi memang hujan sih, tapi apa yang bikin manusia ini hujan-hujanan? "Xel?" Panggil Kahi. "Xel, ganti baju biar nggak masuk angin," ucap Kahi lagi yang menggoyang-goyangkan tubuh Axel dengan takut. Axel kan punya sifat tersembunyi yaitu pemarah. Nanti kalau Axel ngamuk-ngamuk karena disentuh sama Kahi, salah juga Kahi ini. Tapi kalau dibiarin takutnya demam Axel semakin tinggi, mana kamar Axel ada dilantai dua. Tolong, Kahi lagi hamil muda mana bisa memapah tubuh Axel yang berat? "Axel?" Panggil Kahi sedikit lebih lembut dan tidak menyentuhnya. "Axel bangun, ganti baju dulu, nanti kamu sakit," ucap Kahi. Entah sepertinya alam bawah sadar Axel merespon atau bagaimana. Pemuda itu bangun namun sepertinya nggak begitu sadar kalau yang lagi ada didepannya ini Kahi. "Mi?" "Mami pulang ya?" Suara Axel terdengar begitu lirih. "Mi ... Axel sakit, Mami kok nggak pernah disini?" Suaranya begitu pelan, kemudian menarik Kahi kedalam pelukannya, sehingga wajah Kahi tanpa sadar dekat dengan wajah Axel disitu dia merasa hembusan napas Axel yang hangat, menerpa wajahnya. Kahi menghela napas ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD