***
"Pak Arjuna, ada apa ke sini?"
Andini yang sudah berbaring di sebuah brankar, buka suara setelah sosok Arjuna yang tidak dia lihat sejak dirinya dipindahkan ke ruang operasi, datang dengan pakaian serba hijau pun penutup kepala.
Persis seperti dirinya, itulah penampilan Arjuna sekarang. Entah apa alasan pria itu berpakaian serba hijau, Andini tidak tahu, karena semenjak Andini mengalami kontraksi yang hebat, dia dan pria itu tidak lagi mengobrol.
"Saya mau menemani kamu," ucap Arjuna, sambil mendekat—membuat Andini spontan mengerutkan kening.
Tidak bicara apa pun, selanjutnya dia memilih diam sementara Arjuna menarik kursi persis di samping kepalanya.
"Saya janji untuk bertanggungjawab, kan?" tanya Arjuna pelan. "Ini salah satu bentuk tanggung jawab saya terhadap kamu. Menemani kamu melahirkan dan—"
"Saya enggak perlu ditemani, Pak," ucap Andini. "Kalau pun butuh teman, saya pengennya didampingi suami saya."
"Kalau Patra menemani kamu di sini, enggak akan ada yang mau operasi kamu karena mereka pasti takut sama suami kamu," ucap Arjuna, coba mencairkan suasana. "Saya enggak akan gigit kok. Saya juga muslim. Jadi nanti pas anak kamu lahir, saya bisa mengadzani dia."
Andini diam, hingga ucapan dokter yang memberitahunya tentang pembiusan, membuat dia beralih atensi. Tidak berselang lama setelahnya, Andini meringis ketika jarum suntik mendarat di bagian belakang tubuhnya.
Menunggu selama beberapa menit, selanjutnya Andini kehilangan rasa di bagian bawah tubuhnya sehingga pembedahan pun mulai dilakukan.
Tidak ada obrolan, yang terdengar di ruangan dingin itu hanyalah bunyi alat—membuat Andini yang sebelumnya merasa tenang, perlahan dihampiri takut.
"Kamu bisa berdoa supaya perasaan kamu tenang," ucap Arjuna—membuat Andini menoleh kemudian memandang pria itu.
"Darimana Bapak tahu perasaan saya enggak tenang?" tanya Andini.
"Feeling," ucap Arjuna, disertai senyuman tipis. "Kalau sekarang kamu merasa takut, kamu harus yakinkan diri kamu kalau semuanya akan baik-baik saja. Anak kamu sebentar lagi lahir, dan kamu akan menjadi ibu."
Andini diam, hingga sentuhan tangan Arjuna di lengannya membuat dia terkejut.
"Saya mendoakan yang terbaik untuk kamu dan anak kamu."
Andini masih menutup mulut, hingga tidak berselang lama giginya bergemelatuk karena rasa dingin yang tiba-tiba menusuk. Tangan Andini bergetar, dia merasakan gigil yang tidak tertahankan, dan apa yang terjadi padanya disadari Arjuna.
"Andini, kamu kedinginan?" tanya pria itu dengan raut wajah khawatir.
Andini tidak membuka mulut. Namun, kepalanya mengangguk sebagai jawaban—membuat Arjuna lekas bertindak dengan memberi genggaman di telapak tangannya.
Tanpa banyak bicara, selanjutnya Arjuna memberi usapan berulang kali. Namun, hal tersebut tidak berhasil mengusir kedinginan yang dialami Andini.
"Dingin, Pak," cicit Andini, dengan kedua mata yang nyaris terpejam, pun tubuh yang semakin menggigil.
"Kamu pasti bisa, Andini. Kamu kuat," ucap Arjuna, tanpa berhenti mengusap lengan perempuan di depannya itu. "Kamu harus bisa."
Andini tidak menimpali, hingga setelah empat puluh menit berlalu, suara tangisan bayi terdengar—membuat Andini yang hampir memejamkan kedua matanya, mengalihkan atensi pada salah satu petugas medis yang menangani dirinya.
"Anaknya sudah lahir ya, Bu, lengkap tanpa kurang apa pun, dan jenis kelaminnya laki-laki," ucap salah satu dokter yang sosoknya tidak bisa Andini lihat.
"Bayi saya baik-baik aja, kan, Dokter?"
"Bayinya mungil, Bu. Sebentar ya, kami tangani dulu."
"Tolong lakukan yang terbaik ya, Dokter."
"Pasti."
Andini kembali diam, sementara Arjuna sesekali beranjak untuk melihat bayi mungil yang barusaja lahir tersebut.
Selang beberapa menit, informasi tentang bayi yang baru Andini lahirkan, didapat dari salah satu dokter. Lahir di usia kandungan yang belum sampai di angka tiga puluh minggu, bayi mungil tersebut memiliki berat badan 2200 gram, sehingga sementara waktu inkubator dan ruang NICU akan menjadi tempat tinggalnya.
"Sebelum bayinya dibawa ke ruang NICU, silakan diadzani dulu, Pak. Muslim, kan?"
"Iya, Dokter," ucap Arjuna. Beranjak dari kursi, dia beralih pada Andini. "Boleh saya adzani anak kamu? Kalau kamu keberatan, say—"
"Silakan," ucap Andini singkat—membuat Arjuna tersenyum, sebelum akhirnya mendekati inkubator.
Persis seperti seorang ayah yang tengah mengadzani anak kandungnya sendiri, Arjuna berdiri di samping inkubator sambil mengumandangkan adzan.
Sedih, terharu, juga senang, itulah yang Arjuna rasakan ketika netranya bertemu dengan mata mungil bayi Andini, hingga di detik berikutnya suasana operasi yang semula tenang, berubah chaos setelah salah satu perawat berseru.
"Dokter, kesadaran Bu Andini menurun!"
"Dokter, ada pendarahan!"
Tidak lagi tenang, semua orang sibuk menangani Andini, sementara Arjuna yang semula bisa mendampingi perempuan itu, kini harus keluar bersamaan dengan dibawa perginya inkubator bayi dari ruang operasi.
"Dokter, Andini pasti baik-baik saja, kan?" tanya Arjuna, setibanya dia di depan ruang operasi.
"Pendarahan pasca operasi sering terjadi, Pak. Kita doakan saja yang terbaik untuk Ibunya ya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Hasilnya tetap di tangan Tuhan."
Alih-alih tenang, Arjuna justru semakin khawatir setelah mendengar ucapan tersebut. Namun, karena tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menunggu.
Waktu berlalu, pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Setia menunggu di kursi yang tersedia, perasaan Arjuna enggan menenang, hingga di tengah kegiatannya menunggu, suara dering ponsel terdengar dari saku celana yang dia kenakan.
Bukan ponselnya, yang berbunyi adalah ponsel Andini. Mendapati nama Teh Susi di layar, Arjuna lekas menjawab, kemudian dengan sopan dia menjawab,
"Halo."
"Halo, ini siapa ya? Andininya mana? Ini saya di depan rumah Andini, tapi dianya enggak ada."
"Andini di rumah sakit, Teh, dia sedang operasi."
"Hah? Operasi? Kenapa?"
"Andini melahirkan, Teh," ucap Arjuna lagi. "Bayinya sudah lahir, tapi Andininya masih mendapat penanganan."
"Ya Allah, di rumah sakit mana? Eh, ini siapa yang pegang hpnya Andini?"
"Saya Arjuna," jawab Arjuna. "Teteh mau ke sini? Kalau iya, saya sebutkan nama rumah sakitnya."
"Iya mau," ucap Teh Susi. "Ini saya sekalian bawa orang yang nyari Andini juga. Kebetulan barusan tuh saya ke rumah Andini buat antar orang yang nyariin rumahnya."
Arjuna mengerutkan kening. "Siapa, Teh?"
"Namanya Mas Malik, Pak. Dia dari Semarang."
Lagi, Arjuna mengernyit sebelum akhirnya kembali bertanya, "Siapanya Andini? Teman atau siapa?"