Bagian 8

987 Words
*** Arjuna tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, termasuk dalam masalah tanggung jawab. Sudah berjanji untuk ada di dekat Andini dalam situasi apa pun, sore ini dia dengan kesadaran penuh menolak permintaan yang dilontarkan seseorang untuknya. Bukan sekadar teman, Sherina—orang yang beberapa saat lalu menghubunginya lalu meminta dijemput, adalah kekasih Arjuna yang sudah dia pacari selama enam bulan. Jika biasanya apa pun yang diminta Sherina, selalu dikabulkan oleh Arjuna, maka sore ini berbeda karena pria itu dengan halus menolak. Tidak jujur tentang alasan sebenarnya dia menolak permintaan Sherina, Arjuna mau tidak mau berbohong, karena tentang apa yang terjadi pada Patra pun pertanggungjawaban darinya pada Andini, Sherina belum tahu apa-apa, sehingga untuk sementara waktu, Arjuna akan menyembunyikan semuanya. "Suster, pasien di bed ini ke mana ya? Tadi dia mau lahiran, terus barusan saya habis urus administrasinya dulu." Selesai urusannya di loket pendaftaran, pertanyaan tersebut Arjuna lontarkan setelah tidak mendapati Andini di bed IGD. "Pasien sudah dipindahkan ke ruang bersalin, Pak. Dari sini, Bapak tinggal lurus terus belok ke kiri. Nah, nanti di sana ada ruang bersalinnya. Kalau enggak ketemu, Bapak bisa tanya perawat di sekitaran sana." "Oh, oke, terima kasih." Tidak diam saja di IGD, Arjuna bergegas menyusul Andini. Tidak terlalu jauh dari bagian depan, ruang bersalin hanya berjarak puluhan meter saja, sehingga kurang dari lima menit, Arjuna sampai. "Suaminya Bu Andini ya?" Tiba di dekat pintu ruang bersalin, pertanyaan tersebut menodong Arjuna—membuat dia mengukir senyum samar. "Saya sahabatnya, Sus," jawab Arjuna setelahnya. "Andini ada di dalam?" "Ada, Pak, silakan masuk," ucap sang perawat. "Bu Andini kontraksinya sudah makin sering. Bapak bisa temani dan bantu tenangkan ya. Hal itu cukup penting soalnya untuk ibu yang mau melahirkan." "Baik, Sus." Tidak banyak mengobrol, Arjuna melangkah masuk. Namun, belum jauh dia melangkah, sebuah panggilan kembali diterima—membuat dia menoleh. "Pak." "Ya?" "Suaminya Bu Andini ke mana ya?" tanya perawat. "Kalau sedang bekerja atau pergi jauh, mungkin bisa dihubungi dulu. Peran beliau cukup penting juga soalnya." Mendengar pertanyaan perawat, ingatan Arjuna ditarik paksa pada kejadian di mana dirinya menabrak motor yang dikendarai Patra. Kembali dihampiri rasa bersalah, disertai senyuman samar dia berkata, "Suaminya kebetulan sudah meninggal, Sus, tapi tenang saja karena saya akan menggantikan perannya. Saya akan mendampingi Andini di proses persalinan yang dia jalani. Jadi kalau ada apa-apa, Suster bisa panggil saya." "Oh, begitu. Maaf, Pak, sebelumnya." "Tidak apa-apa." Tidak ada perbincangan yang lebih panjang, Arjuna melanjutkan langkahnya untuk menemui Andini. Mendapati perempuan itu di salah satu bed, hati dia teriris setelah melihat Andini meringkuk dengan posisi membelakanginya. Tidak ada siapa pun, perempuan itu benar-benar sendiri—membuat Arjuna rasanya ingin memaki dirinya, karena sudah membuat Andini kehilangan sosok penting dalam hidupnya. "Andini," panggil Arjuna, sambil mendekati istri Patra tersebut. "Pak Arjuna," panggil Andini, kali ini dengan suara yang terdengar pelan. "Saya sudah urus semua administrasinya, dan saya juga sudah minta pegawai saya untuk membeli perlengkapan bayi kamu," ucap Arjuna, sambil membungkukan badan. "Jangan khawatir ya. Sekarang kamu fokus aja ke persalinana kamu. Anak kamu pasti baik-baik aja. Jadi kamu harus kuat." Tidak menjawab, Andini hanya memandang Arjuna, hingga tidak berselang lama kedua matanya berkaca-kaca—membuat pria di depannya dilanda khawatir. "Hei, kok nangis? Ada yang sakit?" tanya Arjuna lembut. "Apa perlu saya panggil Dokter?" Andini masih membisu, sementara cairan bening yang semula terbendung di kedua pelupuk mata, luruh membasahi kedua pipi. Selain sakit di bagian perut karena kontraksi, dia juga merasa nyeri di bagian d**a karena di momen seperti ini, dia membutuhkan sosok Patra. "Andini ...." "Saya butuh Mas Patra, Pak," ucap Andini dengan suara lirih. "Saya butuh dia di samping saya." Mendengar pengaduan Andini, d**a Arjuna ikut merasa sesak. Seperti dirajam senjata, rasa nyeri bersemayam di dalam tubuhnya, sementara perasaan bersalah yang tidak ada habisnya, kembali menyelimuti—membuat kedua telapak tangannya yang bertumpu pada bed, spontan mengepal. "Sebelum ini, Mas Patra janji buat menemani saya melahirkan buah cinta kami, Pak. Dia juga janji untuk terus ada di samping saya apa pun yang terjadi dan—" "Andini, saya minta maaf," ucap Arjuna, yang pada akhirnya merendahkan posisi. Berjongkok di depan Andini dengan kedua mata yang basah, dia memandang perempuan itu dengan perasaan bersalah yang semakin menguasai diri. "Saya sangat salah di sini, karena gara-gara kecerobohan saya, suami kamu kehilangan nyawanya. Kamu boleh memukul saya, Andini. Kamu juga boleh memaki saya dan—" "Apa dengan lakuin itu semua, Mas Patra saya bisa kembali, Pak?" tanya Andini. "Apa dengan menyiksa Pak Arjuna, suami saya bisa hidup lagi kemudian menemani saya melahirkan?" Arjuna membisu, sementara Andini yang kembali mengalami kontraksi, kembali meringis kesakitan—membuatnya bingung harus melakukan apa. "Andini ...." "Sakit banget, Pak," ucap Andini, yang tiba-tiba berpegangan pada Arjuna—membuat pria itu balas menggenggam tangannya. "Saya enggak kuat." "Kamu bisa, Andini. Kamu pasti kuat." Selanjutnya—karena kontraksi Andini yang semakin intens, obrolan diantara dirinya dan Arjuna tidak dilanjutkan. Andini terus berusaha menahan sakitnya kontraksi, sementara layaknya seorang suami, Arjuna berusaha menguatkan perempuan itu. Tidak hanya lewat ucapan dan pegangan tangan, Arjuna bahkan mengikuti intruksi Dokter untuk memberi usapan pelan di punggung Andini. Beberapa jam berlalu, kontraksi Andini semakin menggila. Namun, hal tersebut justru tidak selaras dengan bukaan yang perempuan itu alami. Tidak ada penambahan di angka bukaan setelah sebelumnya sampai di lima, Dokter mengambil keputusan serius yaitu; Andini harus menjalani operasi, setelah detak jantung bayi di perutnya mulai tidak stabil. Tanpa ada drama, tindakan operasi disetujui Andini mau pun Arjuna, sehingga segala persiapan pun dilakukan. Tidak terus di ruang bersalin, Andini diboyong menuju ruang operasi, sementara Arjuna harus menandatangani surat persetujuan yang disiapkan. "Pak Arjuna," panggil Dokter yang akan menangani Andini di ruang operasi. "Ya, Dokter." "Operasi Ibu Andini akan segera dimulai, dan kalau melihat kondisi mental Ibu Andini, sepertinya beliau butuh teman di dalam," ucap Dokter—membuat Arjuna mengerutkan. "Apa Bapak bersedia menemani?" "Menemani Andini di ruang operasi, Dokter?" "Betul," ucap Dokter. "Bersedia tidak, Pak? Saya tanya Bapak, karena sejak tadi kebetulan hanya Bapak yang mendampingi Bu Andini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD