Bagian 7

1047 Words
*** Setelah tiba-tiba merasa sakit di bagian perut, Andini menurunkan ego dengan menerima ajakan Arjuna untuk pergi ke rumah sakit. Tanpa Melani, dia dan Arjuna berdua saja di dalam mobil. Tidak membawa perlengkapan apa pun, Andini hanya membawa raga juga tas kecil berisi dompet, karena memang di usia kandungan yang baru sampai di minggu ke dua puluh delapan, Andini belum sempat berbelanja keperluan sang jabang bayi. "Masih sakit?" tanya Arjuna, di sela kegiatan mengemudi. "Masih," ucap Andini, sambil terus memegangi perutnya yang rutin mengalami sakit di beberapa bagian. Entah kontraksi atau bukan, Andini tidak tahu, karena sebagai perempuan yang baru pertama kali mengandung, dirinya belum memiliki banyak pengalaman. "Coba tarik napas terus hembuskan pelan-pelan," ucap Arjuna, coba memberi saran. "Siapa tahu rasa sakitnya berkurang." Tidak menimpali, Andini memilih untuk langsung melakukan apa yang Arjuna sarankan. Hilang sebentar, selama beberapa menit dirinya berhenti meringis, hingga tidak berselang lama rintihan kembali terlontar. "Ah!" "Sakit lagi?" tanya Arjuna, menoleh spontan. "Tahan ya. Sebentar lagi kita sampai." Tanpa buka suara, Andini mengangguk pelan sebagai jawaban. Tidak bohong ucapan Arjuna, selang lima menit mobil yang ditumpanginya sampai di depan IGD sebuah rumah sakit. Sempat terkejut karena Arjuna membawanya ke rumah sakit swasta yang cukup elit, Andini tidak sempat protes karena rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi. "Suster, tolong kursi roda!" Turun lebih dulu, seruan tersebut Arjuna lontarkan setelah sebelumnya membuka pintu mobil sebelah kiri. Menenangkan Andini sambil menunggu bantuan datang, selanjutnya tanpa ragu dia mengangkat tubuh istri Patra tersebut untuk kemudian dipindahkan ke kursi roda. "Keluhannya apa, Pak?" tanya salah seorang perawat sebelum membawa kursi roda Andini ke IGD." "Ini Sus—" "Perut saya sakit, Suster," jawab Andini, sebelum Arjuna sempat memberi jawaban. "Enggak tahu kontraksi apa bukan, tapi yang jelas usia kehamilan saya baru dua puluh delapan minggu." "Ada flek enggak, Bu?" "Saya belum cek, tapi kayanya enggak ada." "Ya sudah kalau begitu kita ke IGD sekarang." Tidak terus di dekat mobil, kursi roda Andini didorong menuju IGD, lalu bersama dua orang perawat, perempuan itu masuk—meninggalkan Arjuna yang memilih diam di depan pintu masuk. Tidak jauh berbeda dari para suami yang sedang menunggu istrinya diperiksa, Arjuna merasa cukup gelisah sekaligus khawatir. Takut terjadi sesuatu pada Andini ataupun bayi yang perempuan itu kandung, perasaan tersebut juga menghantuinya karena jika sampai keduanya atau salah satu dari mereka kenapa-kenapa, rasa bersalah di hati Arjuna akan bertambah berkali-kali lipat. "Ya Tuhan, semoga Andini dan bayinya baik-baik saja." Tanpa kepalsuan, doa tersebut Arjuna panjatkan tulus dari dalam hatinya. Tidak duduk di kursi tunggu, yang dia lakukan sejak Andini masuk ke dalam IGD adalah mondar-mandir, hingga setelah hampir lima belas menunggu, pintu IGD terbuka—menampilkan dokter dengan seragam khasnya. "Keluarga Ibu Andini?" "Saya, Dokter," jawab Arjuna sigap. "Bagaimana kondisi dia sekarang? Enggak ada hal buruk terjadi ke bayinya, kan?" "Ibu Andini dan bayinya sejauh ini baik-baik saja, Pak, hanya saja Ibu Andini mengalami kontraksi dan pecah ketuban dini. Jadi sekarang juga bayi di kandungannya harus segera dilahirkan." Mendengar penjelasan dokter, Arjuna cukup terkejut. "Bukannya usia kandungan Andini baru dua puluh delapan minggu, Dokter?" tanyanya heran. "Bisa memang melahirkan di usia itu?" "Bisa, Pak, karena di usia tersebut pembentukan organ biasanya sudah sempurna. Namun, memang berat badan bayi masih kurang, dan karena lahir sebelum usia kandungan sampai di minggu ke tujuh, bayi dikategorikan prematur nantinya." "Kalau begitu tidak akan apa-apa memangnya, Dokter?" "Kalau bayinya sehat, semua akan baik-baik saja, Pak," ucap Dokter, coba memberi pengertian. "Nanti setelah bayi lahir, akan ada penanganan khusus juga dari tenaga medis. Jadi Bapak bisa percayakan semuanya kepada kami. Bahaya juga soalnya kalau bayi dibiarkan di dalam kandungan, karena ketuban Bu Andini barusan sudah pecah, dan hal tersebut bisa membuat bayi keracunan." "Ya sudah kalau begitu lakukan saja yang terbaik untuk Andini, Dokter," ucap Arjuna. "Dia sudah diberitahu, kan?" "Sudah barusan, Pak. Bu Andini ingin bersalin secara normal. Jadi setelah ini kami akan memindahkan beliau ke ruang bersalin." "Enggak apa-apa memangnya melahirkan normal?" tanya Arjuna. "Kan ketubannya sudah pecah barusan?" "Setelah ketuban pecah, bayi masih memiliki waktu dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam, Pak. Nanti kami akan terus pantau kondisi Bu Andini dan bayinya. Kalau sekiranya sudah tidak memungkinan, tindakan operasi pasti dilakukan untuk menyelamatkan keduanya. Bapak tidak perlu khawatir." Arjuna diam sejenak, sebelum akhirnya menyetujui segala tindakan yang akan dilakukan pada Andini. Tidak langsung mengurus administrasi, Arjuna mengunjungi dulu istri Patra tersebut untuk meminta kartu identitas sekaligus memastikan kondisi. "Andini," panggil Arjuna, setibanya di dekat bed tempat Andini berbaring. "Pak Arjuna," panggil perempuan itu, disertai ringisan. "Dokter sudah jelaskan semuanya pada saya, dan tindakan terbaik untuk kamu adalah persalinan dengan segera," ucap Arjuna. "Saya sekarang mau urus administrasinya, boleh minta ktp kamu?" "Bapak mau urus semuanya?" "Iya, biar saya yang urus," ucap Arjuna—membuat Andini menatapnya. "Kamu tidak perlu khawatir, karena saya tidak akan membiarkan kamu sendiri." "Saya belum punya apa-apa, Pak." "Kamu enggak perlu khawatir soal biaya," ucap Arjuna. "Semuanya biar say—" "Perlengkapan bayi," potong Andini—sebelum Arjuna selesai bicara. "Saya sama Mas Patra baru mau belanja pas dia libur, tapi karena Mas Patra keburu pergi, saya belum sempat beli apa-apa." Arjuna diam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Masalah itu juga biar saya yang urus. Kamu enggak perlu khawatir." "Tapi—" "Apa jenis kelamin anak kamu pas USG?" tanya Arjuna. "Biar bisa saya sesuaikan warna perlengkapan bayinya." "Laki-laki, Pak." "Oke. Nanti saya belikan semua yang dibutuhkan bayi kamu," ucap Arjuna. "Sekarang boleh saya minta ktp kamu? Saya harus urus administrasi." Tidak ada amarah, Andini menyerahkan kartu identitas miliknya pada Arjuna. Tidak terus ditunggui pria itu, dia kembali sendiri karena Arjuna yang harus pergi ke loket administrasi. "Mas Patra, aku mau lahiran, Mas." Sambil menahan sakit dan sedih, ucapan tersebut Andini lontarkan dengan suara getir. Berusaha kuat meskipun ingin menangis, sekiranya itulah yang dia lakukan sementara di luar sana, Arjuna sibuk dengan kegiatannya. Tidak sekadar mengurus administrasi, dia juga menghubungi asisten sekaligus sekretarisnya dikantor, untuk dimintai tolong membeli perlengkapan bayi. Selesai dengan urusan tersebut, Arjuna pergi menuju loket. Namun, karena sebuah panggilan dari seseorang, langkahnya terhenti. "Halo, Sherina. Kenapa?" tanya Arjuna, begitu panggilan terhubung. "Sayang, aku pulang hari ini. Kamu bisa jemput aku di bandara enggak? Ini aku mau take off. Dua jam lagi kayanya sampe." "Jemput ke Soetta?" "Iya. Mau enggak? Kamu bisa naik whoosh biar cepat sampe. Aku kangen."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD