***
"Jadi begitu ceritanya?"
Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, pun raut wajah yang sarat akan luka, pertanyaan tersebut meluncur dari mulut Andini.
Entah harus bagaimana lagi bereaksi terhadap cobaan berat di hidupnya, dia sendiri tidak tahu. Namun, yang jelas setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Melani, hati Andini yang sebelumnya sudah terluka, semakin berdenyut nyeri.
Patra menghamili perempuan lain di belakangnya.
Bukan sekadar hoax, ucapan Melani katanya fakta karena memang bukan sekadar teman kerja, Melani dan Patra selama ini berhubungan cukup dekat.
Namun, meskipun kini Melani mengandung anak Patra, suami Andini tersebut tidak bisa disebut berselingkuh karena apa yang terjadi diantara Patra dan Melani tidak didasari cinta.
Pada Andini, Melani menjelaskan bahkan tiga bulan ke belakang, perempuan itu mengalami banyak masalah dalam rumah tangganya. Merasa cukup dekat dengan Patra, Melani selalu bercerita pada pria itu hingga tiba di suatu malam, Melani yang benar-benar kalut karena masalah bersama sang suami, pergi ke sebuah diskotik.
Di waktu yang sama dengan mabuknya Melani, Patra yang malam itu lembur di tempat kerja, menghubunginya dan yaps! Karena tahu Melani mabuk, Patra datang menjemput sampai akhirnya di kediaman Melani, semua terjadi.
Patra yang sangat mencintai Andini, sempat menghindar dari kegilaan Melani. Namun, karena dia pria biasa, hal yang tidak dia inginkan terjadi juga—membuat sebuah janin akhirnya tumbuh di rahim Melani.
"Iya, Andini, begitu ceritanya," ucap Melani, dengan raut wajah bersalah yang begitu kentara. "Patra marah banget setelah kejadian itu, karena dia ngerasa udah ngehianatin kamu. Cuman, aku mati-matian minta maaf, sampai akhirnya aku cari solusi dan aku coba minum pil darurat biar enggak hamil. Aku dan Patra juga sepakat buat sembunyiin semuanya dari kamu, karena katanya Patra enggak siap kehilangan kamu."
"Kalau kamu sama Mas Patra udah bikin janji, kenapa sekarang kamu datang ke sini?" tanya Andini yang kini memberikan tatapan kosong pada sang teman. "Hamil atau enggak, harusnya kamu tetap simpan rahasia kalian berdua, karena meskipun kamu ngadu ke aku, kamu enggak akan dapat pertanggungjawaban dari Mas Patra. Dia udah enggak ada. Jangankan tanggung jawab ke anak yang kamu kandung, menyaksikan anaknya dari aku lahir ke dunia aja enggak bisa."
"Aku panik, Andini," ucap Melani. "Aku takut suamiku marah kalau tahu aku hamil anak orang lain, dan—"
"Aku enggak bisa bantu apa-apa," potong Andini. "Itu urusan kamu, dan tolong jangan ngerepotin aku karena jangankan mengurus kepentingan orang lain, urus hidupku sendiri aja aku enggak yakin sanggup."
Melani diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri, dia kini bingung harus melakukan apa. Melani tidak bisa meminta bantuan Andini karena dibanding dirinya, perempuan itu sekarang lebih hancur.
"Aku enggak tahu pelangi seperti apa yang akan Tuhan kasih setelah ini, tapi yang jelas semuanya terlalu berat buat aku, Melani," ucap Andini. "Aku kehilangan suamiku secara tiba-tiba, dan sekarang aku juga tahu kalau diam-diam, suamiku pernah tidur dengan temannya sendiri."
"Aku minta maaf sama kamu, Andini," ucap Melami. "Ini salahku dan—"
"Kamu sama Mas Patra salah," potong Andini. "Kalian membuat anak itu berdua. Jadi yang salah bukan cuman kamu, tapi keduanya. Mas Patra enggak tahu batasan dalam membantu teman, dan kamu ... kamu terlalu berlebihan bergantung ke lelaki. Padahal, kamu tahu laki-laki itu punya pasangan."
"Andini, aku—"
"Andini. Kamu di dalam?"
Belum selesai Melani bicara, suara ketukan juga suara seorang pria lebih dulu terdengar dari depan pintu—membuat atensinya mau pun Andini beralih.
"Ada tamu ya?" tanya Melani.
"Sebentar."
Tanpa menjawab pertanyaan dari Melani, Andini beranjak lalu berjalan menuju pintu. Tidak salah tebakannya, yang datang kini adalah Arjuna. Tidak dengan tangan kosong, pria itu membawa sesuatu di tangannya yang tidak lain adalah; sertifikat rumah.
"Kamu kenapa?" tanya Arjuna spontan, setelah melihat wajah Andini yang sembab dan basah oleh air mata.
"Bukan urusan Bapak," jawab Andini.
"Andini ...."
"Apa pun yang terjadi pada saya, bukan urusan Pak Arjuna," desis Andini dengan raut wajah tidak sukanya. "Meskipun Bapak sudah bantu saya, bukan berarti Bapak berhak tahu apa yang terjadi pada saya, karena di mata saya Bapak tetap sama. Penyebab suami saya meninggal."
Arjuna menghela napas kasar, hingga kehadiran Melani di belakang Andini, membuatnya mengerutkan kening.
"Kamu siapa?" tanya Arjuna penasaran. "Temannya Andini atau—"
"Saya Melani, Pak, teman baiknya Patra," ucap Melani apa adanya. "Bapak siapa?"
"Say—"
"Orang yang udah bikin Mas Patra meninggal," potong Andini, sebelum Arjuna sempat menjawab. Tidak memberi ruang untuk pria di depannya menyangkal, dia kembali berkata sambil melirik Melani. "Kalau kamu mau tahu, Mas Patra ditabrak laki-laki ini yang dengan ceroboh, balas chat sambil nyetir. Jadi kalau kamu mau marah, silakan marah ke laki-laki di depan aku ini, karena gara-gara dia, calon anak kamu kehilangan ayahnya."
Melani nampak terkejut, sementara Arjuna yang sangat peka terhadap ucapan Andini, buka suara.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" tanyanya penasaran. "Kenapa kam—"
"Bukan urusan Bapak," potong Andini lagi. "Sekarang daripada terus di sini, Bapak lebih baik pulang karena setiap lihat wajah Bapak, amarah saya pasti meningkat. Saya enggak mau bikin anak di perut saya enggak nyaman. Jadi silakan angkat kaki dan—"
"Bayar dulu hutang kamu ke saya kalau kamu mau ngusir saya dari sini," potong Arjuna—membuat kedua mata Andini memicing. "Seratus lima puluh juta bukan uang sedikit. Jadi sebelum saya pergi, saya pengen kita buat kesepakatan."
Tidak menimpali, Andini hanya menatap Arjuna dengan raut wajah kaget pun perasaan tidak habis pikir, sementara yang ditatap justru dengan santai kembali berbicara.
"Sertifikat rumah ini ada di saya. Jadi saya lebih berhak atas rumah ini," ucap Arjuna. "Saya bisa usir kamu kapan pun saya mau dan—"
"Aw!"
Tidak selesai Arjuna bicara, Ardini lebih dulu merintih sambil memegangi perutnya, dan hal tersebut membuat Arjuna terkejut.
"Andini, are you okay?"
"Aw!" rintih Andini lagi, sambil meremas perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. "Perut saya sakit, Pak, argh!"
"Kita ke rumah sakit kalau begitu," ucap Arjuna dengan perasaan panik yang seketika menyelimuti. "Takutnya ada apa-apa."
Tidak menjawab, Andini justru memandang Arjuna sambil menahan sakit yang semakin meningkat, dan karena paham pada arti tatapan Andini, dengan tenang Arjuna buka suara.
"Saya enggak sejahat yang kamu pikirkan, Andini. Saya tulus membantu kamu. Mau, kan, ke rumah sakit sama saya?"