Bagian 5

982 Words
*** "Bagaimana? Sudah masuk saldonya?" Bertanya tanpa merasa terbebani, itulah yang Arjuna lakukan setelah sebelumnya uang sebanyak seratus lima puluh juta rupiah, dia gelontorkan dari rekeningnya. Datang sebagai pahlawan ketika Andini tiba-tiba mendapatkan masalah, bantuan dari Arjuna diterima perempuan itu setelah sebelumnya sempat berdebat. Senang dan lega, dua perasaan itu menghampiri Arjuna karena setelah bantuan yang dia berikan sore ini, Arjuna yakin Andini akan menerima bantuan lain darinya secara perlahan. "Sudah, Pak, terima kasih," ucap Mah Kiran. Beralih pada Andini, dia berkata, "Sekali lagi maaf ya, Din, kalau kedatangan Mamah sore ini ngerepotin kamu. Mamah lagi terdesak uang, jadi ketika ada yang mau beli rumah ini dengan harga yang lebih mahal, Mama tergiur." "Iya, enggak apa-apa, Mah," ucap Andini dengan perasaan yang sebenarnya keki. Jika bukan karena segala kenangannya dengan Patra di rumah yang dia tempati, Andini sangat malas meminta bantuan pada Arjuna. Namun, dia tidak punya solusi lain karena mencari uang seratus lima puluh juta dalam semalam bukanlah hal mudah, bahkan nyaris mustahil. "Kapan sertifikat rumahnya bisa diambil?" tanya Arjuna. "Rumah ini sekarang udah resmi jadi milik Andini. Jadi sertifikatnya tolong berikan pada dia secepatnya." "Sekarang juga bisa, Pak. Cuman sertifikatnnya ada di rumah saya," ucap Mah Kiran. "Mau diambil?" "Bol—" "Enggak perlu," potong Andini ketus. "Cukup ini aja bantuan yang Bapak berikan. Soal sertifikat, saya bisa ambil sendiri ke rumah Mah Kiran besok. Saya bisa kok pergi sendiri." "Kamu sedang hamil besar, Andini. Jadi saya pikir lebih baik kamu diam di rumah," ucap Arjuna. "Saya luang kok hari ini." Andini mendelik, sementara Mah Kiran kembali menawarkan pengambilan sertifikat yang diiyakan oleh Arjuna. Tidak berlama-lama menetap di rumah Andini, Arjuna dan Mah Kiran pergi bersama—meninggalkan sang pemilik rumah yang hanya bisa diam sambil memandangi keduanya. Berjalan cukup jauh, sampailah Arjuna di depan gang, dan alih-alih melanjutkan langkah, yang pria itu lakukan justru berhenti—membuat Mah Kiran melakukan hal serupa. "Kenapa, Pak?" "Terima kasih untuk kerjasamanya," ucap Arjuna tiba-tiba, sambil mengulurkan telapak tangan. "Saya harap ibu bisa menjaga rahasia ini dari Andini." Boom! Bukan murni keinginan Mah Kiran, kenaikan harga rumah yang tiba-tiba diajukan pada Andini, faktanya hanyalah gimmick yang disusun oleh Arjuna. Merasa buntu karena terus ditolak oleh Andini, Arjuna mendapat saran untuk memanipulasi masalah yang berhubungan dengan perempuan itu. Mencari tahu lebih dalam tentang Andini, Arjuna menemukan celah setelah tahu rumah yang istri Patra itu tempati masih menyicil, sehingga dengan segera dia pun mengajak Mah Kiran untuk bekerjasama. Cara yang Arjuna pakai mungkin terkesan licik. Namun, dia tidak punya pilihan karena kondisi Andini yang kini sedang hamil besar, membuatnya harus dengan segera mendekati perempuan itu. "Saya pasti jaga rahasia Bapak sebaik mungkin, Pak," ucap Mah Kiran. "Terima kasih karena sudah bersedia menjaga Andini ya. Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri, dan jujur saya sangat sedih ketika dia mendapat musibah ini. Saya takut Andini enggak kuat, karena dia cuman punya Patra." "Ibu tidak seharusnya berterimakasih, karena apa yang saya lakukan adalah kewajiban saya selaku orang yang sudah membuat suami Andini meninggal," ucap Arjuna. "Doakan saja Andini semakin luluh, karena niat saya untuk bertanggungjawab benar-benar tulus." "Pasti saya doakan, Pak." Selanjutnya Arjuna dan Mah Kiran berpisah. Jika Mah Kiran pergi menggunakan motor, maka Arjuna justru masuk ke dalam mobilnya untuk kemudian berdiam diri di sana. Tentang sertifikat rumah Andini, Arjuna sudah memegangnya sejak kemarin, sehingga yang perlu dia lakukan sore ini hanyalah diam dalam waktu yang lama di dalam mobil, sebelum menemui lagi Andini di rumahnya. "Saya sudah bisa mendekati istri kamu, Patra. Semoga setelah ini, Andini bisa menerima bantuan saya yang lain agar kamu bisa tenang di surga sana." Ketika Arjuna tengah mengulur waktu dengan berdiam diri di mobilnya, di rumah sana Andini justru tengah meratapi kesendirian. Masuk ke dalam rumah setelah kepergian Arjuna dan Mah Kiran, dia disambut sepi sehingga yang ditujunya setelah itu adalah kamar. Duduk di tepi kasur, Andini kembali mengingat Patra juga semua momennya dengan sang suami di rumah yang mereka tempati. "Sakitnya masih sama, Mas, " ucap Andini dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipi. "Dan aku enggak tahu gimana sembuhnya, karena hidup tanpa kamu tuh enggak pernah aku bayangin." "Aku harus gimana, Mas Patra? Jangankan lanjutin hidup, berhenti nangisin kamu aja ternyata aku enggak bisa." Andini kembali terisak. Di dalam kamar yang pintunya tertutup rapat, dia kembali menumpahkan kesedihannya sambil sesekali meringis. Setiap kali menangisi sang suami, perutnya selalu dilanda kram. Namun, Andini selalu menahannya karena sakit dari kram yang dia rasakan, nyatanya tidak sebanding dengan sakit hatinya ditinggalkan Patra. "Ya Tuhan, tolong kuatkan aku." Cukup lama hanyut dalam kesedihan, Andini dibuat menoleh setelah suara ketukan di pintu depan, tiba-tiba terdengar. Tidak langsung beranjak, untuk beberapa saat dia sibuk menebak-nebak, hingga setelah hampir semenit tidak melakukan apa-apa, Andini bergegas untuk membukakan pintu. Dalam hati, Andini menebak jika yang datang ke rumahnya adalah Arjuna. Namun, ketika pintu terbuka, dia justru mendapati seorang perempuan tidak asing di depannya. "Melani," panggil Andini pada perempuan di depannya, yang tidak lain adalah teman kerja Patra di kantor. Tujuh hari Patra meninggal, perempuan itu belum pernah melayat ke rumahnya. Entah ke mana Melani, Andini tidak tahu. Namun, yang jelas dia tidak punya pikiran aneh terhadap perempuan tersebut karena selama ini mereka saling mengenal dengan baik. "Andini, aku dengar Patra meninggal. Apa itu benar?" tanya Melani. "Aku baru tahu, karena seminggu lebih aku cuti buat pulang ke kampung." "Iya, Melani. Benar," ucap Andini. "Hari ini tujuh hari Mas Patra meninggal." Tidak menimpali, Melani diam sementara kedua mata perempuan itu nampak basah oleh air mata. "Patra ...," ucapnya dengan suara lirih. "Gimana nasibku kalau kamu meninggal, Pat?" Mendengar ucapan Melani, Andini mengerutkan kening. Merasa adanyang janggal dengan perkataan perempuan itu, dia bertanya, "Maksud kamu apa bicara kaya gitu, Mel? Apa ada sesuatu?" Melani memandang Andini. Tidak menjawab pertanyaan yang dia dapatkan, untuk beberapa saat dirinya membisu—membuat Andini kembali buka suara. "Mel?" "Din," panggil Melani. "Aku hamil anaknya Patra, dan usia kandunganku sekarang dua bulan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD