***
Hari ini, tepat tujuh hari pasca kepergian Patra, Andini pergi ke makam seperti biasa setelah acara tahlilan selesai. Menetap di sana selama setengah jam, dia selalu sampai di rumah sekitar pukul setengah enam sore.
Jika biasanya kepulangan Andini selalu disambut suasana rumah yang sepi, maka sore ini berbeda karena dari depan pagar rumah, dia melihat kehadiran seorang wanita paruh baya di kursi teras.
Bukan orang asing, Andini mengenal baik wanita tersebut, sehingga sambil membuka pintu gerbang yang semula tertutup, dia menyapa.
"Mah Kiran," panggilnya. "Mamah sejak kapan di sini? Kok enggak telepon Dini?"
"Mamah belum lama datang kok. Ada kayanya sepuluh menitan lalu."
Andini tersenyum tipis sambil melangkahkan kakinya mendekati Mah Kiran. Bukan sang Ibu atau mertua, Mah Kiran adalah tetangga Andini dan Patra di kontrakan lama mereka.
Tidak hanya itu, Mah Kiran juga pemilik lama dari rumah yang Andini dan Patra tempati, sehingga hubungan mereka cukup dekat.
"Ada apa Mamah ke sini?" tanya Andini, setelah duduk di samping Mah Kiran. "Apa mau nanyain sisa uang rumah? Kalau iya, besok Dini mau cek tabungan dulu. Beberapa hari terakhir pengeluaran Dini untuk acara tahlilan kan lumayan. Jadi saldonya berkurang banyak."
Tidak membeli secara cash, Andini dan Patra menyicil rumah milik Mah Kiran dengan rutin membayar setiap bulan. Memiliki harga dua ratus juta, pembayaran rumah sudah sampai di angka seratus lima puluh, sehingga hanya dengan melunasi sisanya, rumah tersebut akan dimiliki penuh oleh Andini.
"Mamah bukan mau nagih sebenarnya, Din, tapi mau ngomongin sesuatu, dan ini tentang rumah yang kamu tempati," ucap Mah Kiran—membuat Andini mengerutkan kening.
"Maksud Mamah?"
"Kalau Mamah kembaliin uang yang udah kamu sama Patra kasih, kamu marah enggak?" tanya Mah Kiran, yang berhasil membuat Andini dilanda kaget. "Mamah bukan bermaksud ingkar, cuman kemarin tuh ada yang mau beli rumah ini dengan harga 300 juta, dan karena kebetulan Mamah lagi butuh uang, Mamah mau jual rumah ini ke dia."
"Mamah ngusir Dini dari rumah ini, Mah?" tanya Andini, tanpa ba bi bu.
"Bukan ngusir, Din, tap—"
"Dini sama Mas Patra udah nempatin rumah ini selama satu tahun lebih lho, Mah," ucap Andini, sambil menahan tangis. "Udah banyak kenangan kami di sini dan—"
"Mamah butuh uang banget, Din, buat bayar biaya kuliahnya si bungsu," potong Mah Kiran—membuat Andini yang mentalnya sedang tidak baik-baik saja, rasanya ingin menangis. "Kalau seandainya kamu keberatan buat ninggalin rumah ini, kamu bersedia enggak nambah lagi pembayaran? Cuman jangan dicicil, karena Mama butuh banget."
"Kalau harus sekali lunas, Dini uangnya darimana, Mah?" tanya Andini, dengan suara yang mulai tercekat. "Dini emang punya tabungan, tapi enggak sampai segitu juga nominalnya."
"Terus gimana dong, Din?" tanya Mah Kiran. "Mamah bukannya enggak kasihan sama kamu, cuman Mamah juga lagi butuh banget. Itu juga mumpung ada yang beli dan—"
"Dini harus ke mana, Mah, kalau Mamah usir Dini dari sini?" tanya Andini dengan suara bergetar. "Mamah kan tahu Dini enggak punya siapa-siapa setelah Mas Patra pergi."
"Kalau kamu enggak bisa nambahin bayar cash, Mamah kembaliin uang yang seratus lima puluh, Din," ucap Mah Kiran. "Kamu bisa cari rumah baru, cuman mungkin harus malam ini juga perginya karena yang mau beli rumah ini dengan harga tiga ratus, pengen nempatin rumahnya besok."
"Mamah tega sama Dini, Mah?" tanya Andini, dengan air mata yang akhirnya tak terbendung. "Dini baru kehilangan suami lho, dan sekarang Dini lagi hamil besar. Memang bisa Dini cari rumah baru tap—"
"Permisi."
Tidak selesai Andini bicara, suara seorang pria lebih dulu terdengar dari depan gerbang—membuat atensi Andini mau pun Mah Kiran, beralih.
Di sana, Andini mendapati Arjuna. Entah kapan pria itu datang, dia tidak tahu. Namun, yang jelas Andini kaget.
"Iya? Kamu siapa ya?" tanya Mah Kiran yang langsung beranjak dari kursi.
"Perkenalkan, saya Arjuna," ucap Arjuna—memperkenalkan diri, setelah sebelumnya membuka pintu gerbang lalu masuk tanpa meminta izin. "Saya temannya Andini."
"Oh," ucap Mah Kiran. Beralih pada Andini, dia bertanya, "Beneran teman kamu, Din?"
Andini tidak menjawab, sementara Arjuna kembali bicara.
"Benar, Bu. Masa saya bohong?" tanya Arjuna sambil tersenyum, sementara Andini memandangnya sinis.
Jika sedang tidak kebingungan, perempuan itu pasti sudah mengusir Arjuna. Namun, karena sedang pusing oleh masalah rumah, Andini tidak melakukan hal tersebut.
"Oh ya, sebelum ini saya enggak sengaja dengar obrolan Ibu dan Andini. Maksudnya gimana ya? Ibu mau ambil rumah yang sudah Andini dan suaminya beli?"
"Iya, Pak," jawab Mah Kiran. "Tapi kebetulan rumahnya juga belum lunas. Jadi saya mau kembaliin aja uangnya Andini, terus jual rumahnya ke orang lain. Kebetulan ada orang yang mau beli rumahnya dengan harga 300 juta. Saya lagi butuh banget, Pak. Kalau enggak mah, saya enggak akan kaya gini."
"Bisa memangnya, Bu, seperti itu?" tanya Arjuna. "Andini udah nempatin rumah ini lama lho, udah banyak juga kenangan di sini sama suaminya. Kasihan kalau pergi."
"Ya mau gimana lagi, Pak? Saya lagi kepepet banget ini," ucap Mah Kiran. "Kalau Andini bersedia nambahin mah enggak apa-apa. Dia enggak perlu pergi."
"Dari yang udah Andini bayar, berapa memang kurangnya?"
"Seratus lima puluh," jawab Mah Kiran. "Andini baru bayar seratus lima puluh juga soalnya."
"Oke, saya yang bayar kalau gitu," ucap Arjuna santai, seolah nominal yang barusaja disebutkan Mah Kiran bukanlah nominal yang besar untuknya. "Kirim ke rekening mana?"
"Maksud Bapak apa sih?" tanya Andini, terlihat tidak terima. "Jangan sok baik sama saya ya, Pak! Saya enggak butuh bantuan apa pun dari Bapak. Jadi mendingan sana pergi dan jangan ikut campur urusan saya."
"Saya bukan sok baik," ucap Arjuna. "Saya cuman mau bantu kamu."
"Saya enggak butuh bantuan Bapak," ucap Andini. "Saya bisa atasin masalah saya sendiri."
"Yakin?" tanya Arjuna, sambil menaikkan sebelah alis. "Bayar yang seratus lima puluh jutanya kalau gitu sekarang."
Tidak menjawab, Andini diam, sementara Arjuna kembali bicara.
"Di sini pasti udah banyak banget kenangan kamu sama Patra. Mau emangnya kamu ngelepasin rumah ini gitu aja? Siap emangnya ninggalin semua kenangan sama suami kamu di sini?"
Andini masih membisu hingga pertanyaan dari Mah Kiran membuat atensinya beralih.
"Gimana, Din? Kamu mau pertahanin rumah ini atau mau Mamah kembaliin uangnya?" tanya Mah Kiran. "Mama harus hubungin yang mau beli rumah ini soalnya. Dia nungguin."
"Enggak bisa kasih waktu, Mah?"
"Enggak bisa, Din. Yang beli rumahnya pengen nempatin rumah ini besok. Jadi kalau kamu enggak bisa bayar yang seratus lima puluh, malam ini juga kamu harus ninggalin rumah ini."
Andini kembali diam, sampai akhirnya Arjuna bicara lagi—membuat dia dilema.
"Bagaimana, Andini? Bantuan dari saya siap meluncur kalau kamu mau menerima."