Bagian 3

929 Words
*** Hari ketiga pasca kepergian Patra, Andini masih diselimuti duka mendalam. Kesulitan untuk bangkit, dia terus dibayang-bayangi kenangan bersama sang suami di setiap sudut rumah yang ditempati. Jarang sepi, suasana rumah setiap harinya selalu ramai karena kehadiran para tetangga, yang membantu Andini menyiapkan acara tahlilan. Namun, meskipun begitu Andini tetap kesepian karena dari sekian banyak orang, yang dia butuhkan hanyalah Patra, sang suami. "Hari ini Teh Susi antar ya, Din, ke makamnya. Gimana pun juga kamu lagi hamil gede. Takutnya ada apa-apa kalau sendiri terus." Pukul lima sore, acara tahlilan yang digelar di rumah Andini akhirnya selesai. Sama seperti hari kemarin, Andini berniat untuk menyiramkan sebotol air ke pusara sang suami. "Enggak usah, Teh, aku sendiri aja," tolak Andini. "Lagian makamnya juga enggak jauh, terus ini masih sore. Jadi enggak akan ada apa-apa." "Tapi Din—" "Aku butuh waktu berdua sama Mas Patra, Teh," potong Andini, sambil memandang Teh Susi dengan kedua mata sembabnya. "Teteh tolong ngerti ya." Teh Susi diam, sementara sambil memakai sendalnya Andini memulai langkah. Keluar dari pagar rumah, dia berjalan menyusuri gang menuju pemakaman umum tempat sang suami dikebumikan. Tidak ada senyuman, sepanjang jalan menuju makam, Andini lebih banyak menundukkan kepala. Terlalu hanyut dalam kesedihan, Andini seolah enggan berinteraksi dengan orang-orang karena setiap kali berbicara, mereka pasti memandangnya dengan raut wajah kasihan. Andini bukan tidak mau dikasihani, hanya saja melihat wajah iba mereka membuat dia teringat akan statusnya yang kini sebatang kara. "Dia lagi." Belum sampai di dekat pusara Patra, Andini spontan berucap setelah melihat kehadiran seorang pria di samping makam sang suami. Dari penampilan, Andini cukup tahu pria itu adalah Arjuna, dan dia tidak suka karena gara-gara kecerobohan pria itu, nyawa suaminya terenggut. Di malam saat Patra dimakamkan, Andini sudah meminta dengan tegas agar Arjuna tidak menemuinya lagi. Namun, pria itu sepertinya keras—membuat Andini merasa geram. "Masih berani bapak datang ke sini?" tanya Andini, yang akhirnya sampai di dekat Arjuna. "Saya kan udah minta supaya Bapak enggak pernah balik lagi, Pak, tapi kenapa masih bebal? Bapak mau saya penjarain?" Arjuna menoleh. Tidak panik, raut wajah pria tampan itu terlihat tenang, bahkan sepersekian detik setelahnya dia beranjak. "Selamat sore, Andini," sapanya. "Saya ke sini hanya berziarah. Bukan macam-macam." "Dan saya enggak izinin Bapak berziarah ke makam suami saya, Pak," ucap Andini, sambil mengusap perutnya yang sedikit menegang. "Bapak itu orang yang udah bikin Mas Patra pergi. Jadi jangan pernah sekali-kali lagi datang ke sini, karena saya enggak suka. Ucapan saya malam itu kurang jelas?" "Ucapan kamu sangat jelas, Andini, tapi maaf saya enggak bisa mematuhinya," ucap Arjuna. "Selain karena rasa bersalah, suami kamu juga menitipkan kamu pada saya. Jadi meskipun kamu menolak, saya akan tetap bertanggungjawab." Mendengar ucapan Arjuna, Andini mengukir senyum miring, sementara kedua mata sembabnya kembali berkaca-kaca. "Bapak bilang akan bertanggungjawab, tapi ketika saya meminta Bapak mengembalikan nyawa suami saya, Bapak enggak bisa," ucapnya. "Pertanggungjawaban apa yang mau Bapak kasih?" Arjuna menghela napas kasar. "Saya bukan Tuhan yang bisa menghidupkan manusia, Andini," ucapnya. "Saya manusia biasa, tap—" "Satu-satunya yang saya butuhin cuman suami saya, Pak," potong Andini sebelum Arjuna selesai berbicara. "Jadi kalau memang Pak Arjuna ingin bertanggungjawab, kembalikan Mas Patra ke saya karena cuman dia yang saya punya." Arjuna diam. Sejujurnya dia ingin menyerah saja mendekati Andini kemudian memperhatikan perempuan itu. Namun, permintaan Patra yang selalu terngiang-ngiang, pun rasa bersalah yang juga menghantui, membuatnya tidak bisa berhenti hanya karena penolakan. "Silakan pergi, dan jangan pernah datang ke sini atau coba temui saya di rumah, Pak," ucap Andini. "Saya masih berbaik hati karena enggak kasusin Bapak. Jadi sebelum saya berubah pikiran, jangan pernah muncul di hadapan saya, karena semenjak Bapak membuat Mas Patra pergi, Bapak adalah luka untuk saya." "Andini, tapi—" "Pergi, Pak!" ujar Andini dengan suara yang meninggi. "Kedua telinga Pak Arjuna masih berfungsi dengan baik, kan? Kalau iya silakan angkat kaki dari sini, dan jangan pernah muncul di depan saya karena saya muak lihat wajah Bapak. Saya juga enggak percaya sama karangan Pak Arjuna soal pesan dari Mas Patra. Jadi tolong berhenti ngarang, karena Bapak udah jahat di mata saya." Arjuna tidak menimpali, hingga sebuah dorongan dari Andini membuat dia mau tidak mau mundur. Arjuna masih ingin membujuk. Namun, karena kondisi Andini yang belum stabil, dia mengalah dengan pergi dari perempuan itu. Menjauh dari Andini, Arjuna kembali ke mobilnya. Tidak langsung berlalu, dia memperhatikan dulu perempuan tersebut, hingga sebuah panggilan yang tiba-tiba masuk membuat atensinya beralih. "Papi." Mendapat panggilan dari sang Papi, Arjuna lekas menjawab. "Halo, Pi." "Gimana? Udah kamu temuin lagi Andini?" tanya Danial dari sebrang sana. "Aku masih di makam, tapi barusan ketemu sama Andini," jawab Arjuna. "Seperti biasa, dia ngusir aku lagi dan kelihatan masih marah. Pas aku bahas tanggung jawab, permintaan Andini masih sama. Dia minta aku hidupin lagi suaminya." "Ya mana bisa kalau itu," ucap Danial. "Cuman Tuhan yang mampu menghidupkan dan mematikan manusia." "Iya, memang," ucap Arjuna, sambil sesekali memperhatikan Andini yang kini bersimpuh di samping pusara Patra. "Aku enggak tahu harus gimana lagi. Aku memang salah di sini, tap—" "Kalau sangat serius mau tanggung jawab?" "Pi ...." Arjuna mendesah. "Kalau enggak serius, aku enggak akan datang ke makamnya Patra setiap hari, terus bujuk Andini. Aku udah bikin suami dari seorang perempuan, meninggal, Pi. Jadi tanggung jawab tuh bukan pilihan, tapi kewajiban. Apalagi sebelum meninggal, Patra nitipin Andini. Jadi aku—" "Papi punya cara supaya Andini perlahan bisa menerima pertanggungjawaban kamu," ucap Danial—membuat Arjuna mengernyit. "Tapi caranya agak kejam sedikit, cuman kemungkinannya berhasil." Tidak langsung menimpali, Arjuna sibuk menebak-nebak, hingga selang beberapa detik dia bertanya, "Cara apa memangnya, Pi? Enggak membahayakan Andini, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD