Bagian 2

1075 Words
*** Semilir angin membawa aroma tanah basah dan bunga sedap malam. Andini duduk di atas rerumputan hijau yang lembab, di samping pusara baru Patra yang malam ini langsung dikebumikan. Baju hitam Andini tampak kusam di bawah langit malam yang terlihat mendung. Dengan kedua mata yang terlihat begitu sembab, dia mengulurkan tangan, menyentuh nisan dingin bertuliskan nama lengkap sang suami. Beberapa jam berlalu pasca mengetahui Patra meninggal, Andini masih merasa semuanya seperti mimpi. Bukan berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa, dia masih beranggapan jika suaminya itu kini masih di kantor untuk lembur seperti biasa. Ini terlalu menyakitkan. Andini yang selalu bergantung pada Patra, harus kuat hidup sendiri tanpa kehadiran suaminya itu. Jika boleh memilih, ingin rasanya Andini menyusul Patra. Namun, takdir tidak sesederhana itu. Waktu Andini di dunia masih belum habis, dan hal tersebut membuat dia hancur. Andini tidak tahu hidupnya akan bagaimana tanpa Patra, karena jangankan menjalani, membayangkannya saja d**a Andini terasa sesak. "Setelah ini aku enggak tahu harus gimana, Mas," ucap Andini dengan suara yang tercekat. "Bersamaan dengan longsornya tanah kuburan kamu, aku ngerasa hidupku ikut runtuh. Aku enggak punya kekuatan lagi buat hidup, bahkan harus bagaimana menghadapi hari setelah ini pun aku enggak tahu caranya. Aku cuman punya kamu, tapi kamu malah pergi ninggalin aku sendirian." Air mata Andini kembali mengalir deras, membasahi kedua pipi yang sudah mulai pucat. Dia tidak mampu membendung kesedihan yang mengguncang jiwanya. Kenangan indah bersama Patra berputar-putar di kepalanya. Tawa bahagia, interaksi yang manis, bahkan canda tawa, semuanya muncul—membuat d**a Andini semakin terasa sesak. "Din, pulang yuk. Sudah malam." Andini menoleh, kemudian memandang perempuan yang sejak tadi setia menemani dirinya. Bukan teman atau sahabat, perempuan tersebut adalah Teh Susi—tetangga sekaligus istri dari ketua RT di lingkungan tempat Andini tinggal. "Aku masih pengen di sini, Teh," ucap Andini. "Aku masih pengen nemenin Mas Patra. Dia pasti kesepian kalau aku tinggalin." Dengan kedua mata berkaca-kaca, Teh Susi merendahkan posisinya lalu memberikan usapan pelan di bahu Andini. "Teteh tahu ini sangat menyakitkan buat kamu, Din, tapi kamu harus ikhlas. Kamu harus kuat, kamu harus tabah, karena ada dedek bayi yang harus kamu jaga. Kamu enggak sendiri kok. Kamu punya calon anak kamu yang nantinya akan menggantikan sosok Patra di hidup kamu." "Aku udah coba ikhlas, Teh, aku juga udah coba kuat, tapi fakta tentang penyebab Mas Patra meninggal masih belum bisa aku terima," ucap Andini lirih. "Suamiku udah berkendara sehati-hati mungkin, tapi karena kecerobohan orang lain, nyawanya terenggut." Bertemu dengan Arjuna yang mengaku sebagai pengemudi dari mobil yang bertabrakan dengan Patra, sore tadi Andini dibuat murka setelah tahu jika penyebab kecelakaan adalah; kecerobohan Arjuna yang nekad berbalas pesan di tengah kegiatan mengemudi. Andini marah. Tidak peduli pada ucapan pertama Arjuna tentang pria itu yang katanya siap bertanggungjawab, dia memaki pria yang ditemuinya itu di ruang jenazah, bahkan tanpa ragu mengusir Arjuna. Andini sakit hati. Dia tidak bisa memaafkan kelalaian Arjuna, sehingga apa pun yang akan pria itu berikan, dia tidak akan menerimanya. "Ini kecelakaan, Din," ucap Teh Susi, coba menenangkan. "Ini takdir Allah. Jadi kamu harus menerima." "Iya, tapi kalau laki-laki itu enggak nyetir sembarangan, Mas Patra enggak akan ketabrak terus meninggal, Teh," ucap Andini sambil terisak. "Teteh bisa minta aku kuat dan sabar, karena Teteh enggak ngerasain gimana rasanya jadi aku. Teteh enggak pernah pas hamil besar ditinggal suami. Padahal, enggak punya siapa-siapa lagi di dunia." "Din ...." "Aku sakit hati, Teh. Aku hancur." Lagi, Andini kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan emosi. Tidak peduli malam yang semakin larut dan gelap, dia kembali menangis tersedu-sedu—membuat Teh Susi mulai kehabisan cara untuk membujuk perempuan hamil itu pulang. Tidak ada lagi para pelayat, Andini dan Teh Susi hanya berdua di samping pusara Patra. Namun, pada jarak beberapa meter, seorang pria setia menjaga keduanya. Siapa? Tentu saja Arjuna. Tidak gentar meskipun dimaki dan diusir oleh Andini, tekad Arjuna untuk bertanggungjawab tetaplah besar karena bukan sekadar keinginan dari hati, pertanggungjawaban darinya didasari permintaan dari Patra sebelum menghembuskan terakhir beberapa jam lalu. Selaku penabrak, Arjuna ada di dekat Patra ketika pria itu ditangani, sehingga ketika pada akhirnya suami Andini itu menyerah, dialah yang dititipi pesan. "Tolong temui istri saya dan sampaikan permintaan maaf saya untuknya, Pak. Saya titip juga Andini ke Bapak karena setelah saya pergi, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Anggaplah Andini saudara bapak. Saya percaya Bapak orang baik, dan saya juga percaya Bapak bisa menjaga Andini juga calon anak kami yang ada di kandungannya." Di benak Arjuna, masih teringat jelas pesan yang dilontarkan Patra sebelum kehilangan kesadaran. Jika mau, Arjuna bisa saja mengabaikan permintaan Patra. Namun, fakta tentang kematian pria itu yang secara tidak langsung disebabkan olehnya membuat dia harus mengabulkan apa yang dimintanya. "Saya minta maaf, Andini," ucap Arjuna, yang pada akhirnya buka suara, setelah sebelumnya hanya memandang Andini dengan raut wajah iba. "Saya enggak bermaksud membuat kamu kehilangan dunia kamu." Arjuna mengusap sudut matanya yang basah. Melihat Andini sehancur itu, dia merasa sangat bersalah. Dia merusak kebahagiaan keluarga kecil seseorang dan dia membuat calon anak kehilangan ayahnya. "Aku harus dekati Andini lagi. Ini udah terlalu larut, dan dia harus segera kembali ke rumah." Setelah cukup lama memperhatikan dari jarak beberapa meter, Arjuna memberanikan diri mendekati Andini. Sampai di samping perempuan itu, kehadirannya disadari Teh Susi. "Bapak ...," panggil perempuan itu—membuat Andini ikut menoleh. Tidak berbeda dari tadi sore, gurat kebencian di wajah perempuan itu masih begitu kentara. Meskipun susah payah, Andini yang semula bersimpuh, beranjak sambil memegangi perut buncitnya. "Mau apalagi Bapak ke sini?" tanyanya dengan raut wajah emosi. "Belum puas Bapak bikin saya dan anak saya kehilangan Mas Patra? Belum cukup, kami kehilangan orang yang paling kami cinta dan—" "Saya ingin bertanggungjawab terhadap kamu, Andini," potong Arjuna. "Saya tahu saya salah, tapi sebelum kepergiannya, suami kamu menitipkan kamu dan calon anak kalian pada saya. Jadi tolong biarkan saya mempertanggungjawabkan semuanya. Saya akan terus dihantui rasa bersalah kalau tidak melakukan apa yang suami kamu pinta." "Ya sudah," ucap Andini. "Daripada menerima pertanggungjawaban atau bantuan dari Bapak, saya lebih baik melihat Bapak dihantui rasa bersalah. Bukankah seperti itu akan lebih adil? Saya diselimuti kehancuran dan kesedihan, Bapak dihantui rasa bersalah." "Andini ...." Air mata Andini semakin deras mengalir. Memalingkan pandangannya dari Arjuna, dia mengepalkan tangan dengan pikiran yang penuh, hingga setelah beberapa detik berlalu, dia buka suara. "Kalau memang Bapak ingin menebus rasa bersalah Bapak, kabulkan satu permintaan saya," ucapnya tanpa memandang Arjuna. "Saya akan memaafkan Pak Arjuna, kalau permintaan saya dikabulin." "Apa permintaannya?" tanya Arjuna. "Apa pun yang kamu minta, pasti saya kabulkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD