*** Selesai sarapan dan meminum obat, Andini tidak diam di kamar rawat. Dibantu Malik, dia pergi menuju ruang NiCu—tempat sang putra berada. Sudah siuman sejak semalam, Andini belum bertemu putranya sama sekali. Bukan tanpa alasan, hal tersebut tidak bisa dia lakukan karena kondisinya yang belum terlalu baik. Jangankan pergi untuk melihat bayi kecilnya, duduk saja semalam Andini tidak bisa, sehingga meskipun sangat ingin pergi, dia harus menahan diri. "Nah, kita sampai, Din," ucap Malik, setibanya dia dan Andini di depan sebuah ruangan yang dikelilingi pembatas kaca. "Semalam aku udah ke sini, dan bayi kamu ada di bagian dalam." "Kamu udah lihat anakku dari dekat?" tanya Andini. "Belum," jawab Malik. "Kata suster, jam besuk di sini dibatasin banget. Jadi enggak bisa sembarangan masuk

