Mata Andini terbuka perlahan. Cahaya redup dari lampu tidur menerpa kelopak matanya yang masih berat. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan ruangan yang asing. Ini bukan kamarku. Di detik berikutnya batin Andini berbicara, disusul gerakan spontan dari tubuhnya yang beringsut secara perlahan. Dia mengedarkan pandangan, berharap bisa mengenali ruangan tempatnya berada. Namun, meskipun setiap sudut sudah dia pandangi, Andini masih tidak hafal tempatnya berada sekarang. "Aku di mana?" tanyanya, kali ini membuka mulut. Tidak menemukan jawaban, Andini diam sejenak, lalu bayangan aktivitasnya kemarin melintas kembali di benak. Tak nyaman terus berdiam diri di rumah, kemarin sore Andini berpamitan pada Rahma untuk mencari angin. Awalnya Andini hany

