Rumah Langit

1396 Words
Dengan berat hati, Hikaru mengikuti langkah sang guru, di tengah perjalanan menuju ruang interogasi, ia mendengar derap langkah cepat menuju atap gedung yang tidak lama kemudian disusul dengan suara pintu dibanting. Hikaru mengernyitkan dahinya, ia ragu, langkah mana yang harus ia ikuti, gurunya atau memenuhi rasa penasarannya. Ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan sang guru, hanya ada ceramah yang tidak jauh berbeda dengan Maira. Sedangkan suara mencurigakan di atas, bisa jadi lebih berbahaya. Akhirnya ia memutuskan untuk segera berlari menaiki tangga, tidak jauh, karena kelasnya tepat di bawah atap. “Arika! Hentikan!” teriak Hikaru, melihat Arika berdiri di pinggir pagar atas gedung sekolah. “Aku…” bergetar suara Arika, “Bukan untuk pertama kalinya berdiri di sini!” lirihnya, ia berbalik badan, melihat siapa yang datang dan hendak menghentikan aksinya. “Setiap aku merasa frustasi, amarah, kesal, dan apapun rasa yang membuat aku putus asa, aku selalu berdiri di sini!” teriaknya meluapkan semua emosi yang membelenggunya selama ini. “Aku…” Arika menjeda, “Aku tidak ingin melihat ibuku. Aku…” jedanya lagi, “Aku benci, Aku benci Ibu… Aku benci diriku sendiri,” bentaknya lagi pada Hikaru. Hikaru berlari, ikut naik ke atas pagar tempat di mana Arika berdiri. “Bagaimana kalau kita mati bersama?” tawar Hikaru. “Karu…” suaranya tiba-tiba lembut. “Pegang tanganku,” pemuda tampan itu mengulurkan tangannya, membuat si perempuan putus asa itu berpikir. “Aku sudah siap,” sesekali Hikaru melihat ketinggian dari tempatnya berdiri, “Apakah kamu sudah siap?” Arika terdiam, ia menggeleng halus, ia tidak ingin mati bersama Hikaru, cukup ia yang mati sendiri. Di tengah kebimbangan mereka, tiba-tiba langit menghitam, seperti akan ada badai besar datang. Konsentrasi Arika buyar melihat langit, hal ini dimanfaatkan Hikaru untuk mendorong Arika ke balkon, dan Arika berhasil selamat. Duaaarr… Suara petir menggelegar mengagetkan Hikaru yang justru membuatnya tergelincir dari atas gedung, diiringi dengan teriakan Arika dari balkon, “Karu …” POV EIKO Adegan di layar besar itu mulai memunculkan adegan yang diharapkan Eiko. Sepasang kekasih akan berciuman. Eiko membulatkan mata, membukanya lebar-lebar, ia sangat ingin melihat orang berciuman. Ia menutup mulutnya, bersiap menatap adegan yang sangat ia tunggu-tunggu. Deng… Deng… Tiba-tiba suara aneh yang ia benci berdentang sangat keras, membuat tangannya refleks menutup telinga keras-keras. Ia menekuk lutut dan memejamkan matanya ketakutan. Sementara matanya terbuka sedikit demi sedikit, ia masih penasaran dengan adegan di layar besar itu, dan dalam waktu bersamaan suara keras itu terus berbunyi membuatnya semakin tidak tenang. Slab… Eiko menghilang seakan dimakan waktu. Suara dentangan tadi berhenti. Eiko sedikit merasa tenang. Angin menerpanya cukup keras, membuat rambutnya ikut menari dengan angin. “Di mana aku?” dengan mata yang masih terpejam Eiko bertanya pada dirinya sendiri. Perlahan ia membuka matanya, ia berada di atas sebuah gedung. Dilihatnya dua orang manusia yang tengah bersitegang. Satu orang perempuan berdiri di pagar pembatas gedung dengan lebar 20 centimeter, dia Arika. Dan seorang laki-laki berusaha membujuk sang perempuan untuk tidak menjatuhkan diri, dia adalah Hikaru. “Dia,” lirihnya saat melihat Hikaru berdiri di belakang Arika. “Mengapa selalu ada dia akhir-akhir ini?” ia bertanya seolah ada keanehan dalam dirinya. Eiko memperhatikan dua orang di bawahnya. Arika yang hendak mengakhiri hidupnya, dan Hikaru yang hendak menyelamatkan Arika. Tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Hikaru berdiri bersama dengan Arika di sisi pagar. “Drama apa yang kalian ciptakan? Aku sibuk, dan tidak ada waktu melihat kalian berdua,” lirihnya. Padahal suaranya sama sekali tidak akan terdengar oleh Arika dan Hikaru. Tring…. Terdengar suara notifikasi dari tablet yang Eiko miliki dari dalam tasnya. Ia benci harus membuka tablet tugas sebagai malaikat. Dengan malas ia membuka, dalam layar utama terlihat gambar Arika. Pertanda sebentar lagi Arika akan mati. Eiko melihat Arika yang masih ragu, dan Hikaru yang tengah membujuk. Tring…. Tabletnya berbunyi kembali, kini yang tampil di layar utama adalah dua gambar Arika dan Hikaru, pertanda keduanya akan mati. Ini membuat sang malaikat mau bingung. “Ini yang aku tidak suka, dua gambar yang berputar, lantas siapa yang akan meninggal lebih dulu?” umpatnya. Layar masih menampilkan gambar Arika dan Hikaru, dua gambar itu berputar-putar silih berganti pada kolom kematian. Lalu, tiba-tiba langit menghitam. Dum…. Eiko mendengar suara dentuman itu lagi. Eiko menarik napas kasar, ia memegang jantungnya yang berdetak kencang. Duarr… Suara petir menggelegar, ia melihat Hikaru tergelincir, Hikaru berhasil menggapai pagar paling bawah, sehingga masih bisa menyelamatkan diri. Namun itu tidak bertahan lama, kekuatan tangannya segera menghilang dan akhirnya jatuh melayang terus ke bawah. “Hikaru…” teriaknya, tanpa berpikir panjang ia ikut terjun dari atas gedung menyelamatkan Hikaru. Keduanya melayang, bertatapan satu sama lain. Eiko menahan Hikaru yang terjun. Keduanya saling bertatapan. Satu wajah tidak asing untuk Hikaru tengah menahannya untuk tidak langsung menyentuh tanah. Lama keduanya saling bertatapan, sampai langit terlihat cerah kembali. Suara dan bayangan Hikaru serta Arika pun hilang dari tablet milik Eiko. Bersamaan dengan Keduanya pingsan di atas tanah, tabletnya menghilang. Dan sesuatu yang besar telah terjadi pada Eiko. Arika melihat Hikaru dari atas gedung, ia panik dan bergegas turun. Namun, ia tahan, ia tidak ingin bertemu dengan ibunya. Hafsa yang mencari keberadaan Hikaru, mendapati murid berprestasi itu pingsan di atas Eiko yang ia tidak kenal. Bergegas ia membawa dua orang ini menuju pusat kesehatan sekolah. Hikaru dan Eiko terbaring berdampingan, cukup lama mereka berada di sana. Sampai akhirnya Hikaru terbangun lebih dulu dan melihat sosok tidak asing di sampingnya. Ia menatap, memerhatikan perempuan itu, ia ingat pernah bertemu dengannya tadi pagi, sekarang mengapa berada dalam ruangan yang sama dan nasib yang sama. Pikirnya. Perlahan Eiko membuka matanya, bertatapan langsung dengan Hikaru. Jantungnya berdegup kencang. “Ada apa dengan aku?” tanyanya dalam hati. “Mengapa dia menatapku seperti itu?” tanyanya lagi dalam hati, ia mengedipkan mata tak percaya. Ia menarik nafas, masih belum percaya dengan apa yang terjadi, tadi ia berada di atas gedung dan melompat, sekarang mengapa ada di ruangan serba putih seperti ini, kontras dengan pakaiannya yang serba hitam. “Kamu sudah sadar?” sapa Hikaru, ramah. “Apa?” tanya Eiko, “Apakah kamu bertanya padaku?” “Ya! Pada siapa lagi?” Hikaru mengendikkan bahu. “Tidak mungkin,” tambah Eiko semakin tidak percaya. “Mengapa tidak mungkin, tadi pagi kita bertemu, tapi saat aku mencarimu lagi tidak ada, sekarang kita berada di tempat yang sama, jadi semua kemungkinan itu pasti mungkin,” kata Hikaru. Eiko tidak menanggapi Hikaru. Ia bangun perlahan tanpa alas kaki, dan melangkah pergi meninggalkan Hikaru yang keheranan. “Hei… kamu mau kemana?” teriak sang pemuda, lalu ia mengikuti perempuan dengan pakaian serba hitam itu. “Tunggu!” tiba-tiba Eiko berhenti dan balik kanan, untung Hikaru masih beberapa langkah di belakang Eiko, sehingga tidak terjadi tabrakan. Eiko kembali ke tempat tidurnya, mencari sesuatu, namun tidak benda apapun di sana. “Apakah kamu melihat tas dan tabletku?” tanyanya pada Hikaru yang keheranan. Hikaru menggelengkan kepala. Eiko mencari sampai ke bawah tempat tidur, tidak didapati tas dan tabletnya. “Tablet? Warna apa, sebesar apa? Mungkin aku bisa bantu mencarinya,” tawar sang pemuda. Bukanya menjawab, Eiko malah lemas dan duduk dengan tatapan kosong. Keduanya saling berdiam. “Apakah kamu tahu nomor tabletmu? Atau surel yang tersambung ke sana?” Hikaru berusaha membantu. “Apakah aku harus mengingat keduanya?” “Kita bisa melacaknya dengan nomor telepon atau surel.” Eiko menggelengkan kepala, itu bukan tablet biasa. Itu adalah data rahasia dirinya sebagai seorang malaikat. “Memprediksi orang mati?” tanyanya dalam hati, “Apakah itu berarti aku tidak bisa melakukannya lagi?” Eiko bergelut dengan pikirannya. “Tempat tinggalmu di mana? Biar aku antarkan kamu pulang,” tawar Hikaru lagi, dengan ramah. Kini Eiko berjalan dengan tatapan kosong, dengan diikuti Hikaru yang terus bertanya tentang asal usul sang malaikat. “Tempat tinggal?” Eiko mempertanyakan semuanya, tentu selama ini ia tidak punya tempat tinggal dan bisa tinggal dimanapun ia ingin. “Iya.” “Aku tidak punya tempat tinggal,” balas Eiko dengan nada datar. “Masa tidak punya tempat tinggal, katakan saja dimana, biar aku mengantarnya,” desak Hikaru. “Kalau aku mengatakannya, kamu tidak akan percaya.” “Katakan saja, aku akan percaya.” “Benarkah?” Hikaru menganggukkan kepalanya, menatap manik Eiko dan meyakinkan perempuan dengan pakaian serba hitam itu bahwa ia akan percaya. Eiko menatap langit, begitupun dengan Hikaru, mengikuti apa yang dilihat Eiko. Lalu tiba-tiba Eiko menunjuk langit. “Rumahku ada di sana!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD