POV Bilal
“Bilal, ayo kita makan,” ajak Kireina, ibu sambung Bilal. Segera Bilal memasang headphone putihnya, tak ingin mendengar suara sang ibu.
Tanpa dipersilakan, Kireina masuk ke dalam ruang pribadi putra sambungnya yang tengah sibuk dengan buku dan pensil, mencirikan dia sedang belajar.
Kireina tak kehilangan akal untuk mengajak sang putra, ia menuliskan sebuah ajakan makan di kertas yang ada di atas meja.
“Makan sendiri-sendiri saja,” dengan segera Bilal merobek tulisan ibu sambungnya, dan melempar sembarangan.
“Hah…” Kireina menghempaskan nafas kesal, ada setitik rasa sakit di sudut hatinya. “Aku juga tidak ingin makan bersamamu,” ucapnya perlahan namun pedas. Ia yakin anak sambungnya itu mendengar apa yang ia katakana meski telinganya ditutup headphone.
“Ayo keluar, nanti makanannya dingin.” Andramawan ikut masuk mengajak istri dan anaknya segera sarapan.
“Kami baru saja mau keluar,” jawab Kireina dengan senyum mengembang seolah tidak terjadi penolakan sebelumnya.
Ting… tong… Suara bel berbunyi.
“Seharusnya tidak ada yang datang,” seloroh Kireina, “Siapa itu, biar aku buka.” Kireina keluar meninggalkan suami dan anak sambungnya. Menyambut siapa yang datang.
Terlihat seorang kurir makanan dengan kantong kresek bertuliskan ‘Kedai Hanan’ datang membawa satu paket makanan.
“Kami tidak pesan makanan,” tolak Kireina, sedikit sinis.
“Tapi ini sudah sesuai alamatnya.” Hikaru tegas memperlihatkan catatan alamat yang sebelumnya ia tulis.
“Iya, tapi kami tidak memesannya.” Kireina pun tidak ingin menerima pesanan tersebut, ia telah memasak, buat apa beli makanan lagi.
“Tunggu, alamatnya sudah benar.” Hikaru melihat lagi catatannya, ia pun tidak ingin rugi karena pesanannya dibatalkan. “Sungguh Anda tidak memesannya?”
Kireina teringat sesuatu, “Bilal,” lirihnya.
Andramawan yang tengah duduk dengan Bilal pun menyadari hal tersebut, “Apakah kamu yang memesannya?” tanyanya pada sang anak.
“Aku lapar,” jawab Bilal singkat.
“Bilal yang pesan,” teriak Andramawan.
“Berapa semuanya?” tanya Kireina sambil memberikan uang pecahan lima puluh ribu rupiah.
“Empat puluh ribu, tapi tidak ada kembalian, maaf.”
“Apakah kamu menerima Qris?”
“Maaf juga saya tidak membawa HP.”
“Kalau tidak ada uang pas, silahkan nikmati dulu, kapan saja bayarnya.” Hikaru menyerahkan keresek pesanan Bilal.
“Tidak, ini.” Andramawan menyerahkan sejumlah uang, “Tidak usah kembalian.”
“Baik. Lain kali kalau bisa pesan minimal 10 porsi, karena harga ongkir yang cukup mahal. Dan kalau 10 porsi akan mendapatkan gratis ongkir,” sebelum pergi ia berpanjang lebar promosi.
“Kalau begitu saya akan beli di tempat lain saja,” tolak Kireina.
“Silakan saja, tapi basko aci, seblak dan lainnya di Kedai Hanan dijamin paling terbaik.” Hikaru meyakinkan pelanggannya untuk tetap setia belanja di Kedai Hanan.
“Baik, terimakasih,” tutup Andramawan.
“Selamat menikmati,” pamit Hikaru.
Adramawan dan istrinya pun masuk, Bilal telah menanti di meja makan.
“Sepertinya minggu depan Ibu harus ikut les memasak.” Kireina mengusap kepala Bilal penuh dengan sindiran. Ia dan Bilal sebenarnya belum dekat seperti itu. Bilal belum menerima Kireina sebagai ibu sambungnya.
Keduanya seolah kompak di depan Andramawan menjadi seorang ibu dan anak yang akur, tetapi nyatanya tidak. Adra pun menyadari hal tersebut, dan masih mencari cara bagaimana supaya anaknya bisa menerima Kireina sebagai ibu sambung.
“Bilal tak pernah berselera makan masakanku, dan memilih membeli makanan diluar,” lanjutnya.
“Betul, aku setuju. Kamu harus belajar memasak, dan masakan yang kamu harus pelajari adalah masakan presiden,” balas Bilal dengan nada sinis.
“Bilal, apakah kamu tidak penasaran dengan orang yang kecelakaan kemarin hidup atau mati?” Andra coba mengalihkan pembahasan.
Kemarin, ketika Bilal dan ayahnya sarapan mie instan, terjadi sedikit insiden. seorang paruh baya pingsan dan ditolong Hikaru, Andramawan menolong dengan menelpon ambulan, sedangkan Bilal acuh dengan terus menghabiskan mie instannya.
“Aku lebih penasaran dimana ibuku berada.” Bilal menjawab ketus lalu pergi meninggalkan meja makan.
“Aish… anak itu tidak sopan, mirip siapa coba kelakukannya,” umpat Andra.
“Kamu kenapa bicara seperti itu? Tentu saja karena dia belum bisa menerimaku,” ucap Kireina sadar dengan dirinya.
Setelah makan, Kirei membawa satu nampan berisi makanan untuk Bilal. Terlihat putra sambungnya tersebut sedang memukul drum akustik tanpa aturan dan irama yang sangat tidak indah didengar.
“Aktingmu bagus,” kata Bilal, tiba-tiba.
“Kamu juga, seharusnya kamu menang dan mendapatkan penghargaan aktor pendatang terbaik,” sang ibu membalas ucapannya tak kalah ketus.
“Dasar munafik,” umpat Bilal.
“Munafik masih di batas normal dan etika, kalau kamu menunjukkan semuanya pada mereka, aku yakin mereka tidak akan ada yang suka kepadamu.”
Bilal menatap tajam. “Perusak rumah tangga orang sok mengajarkan etika kepadaku, menggelikan sekali,” tambahnya dengan nada dingin.
Bilal membuang pandangan kembali pada drumnya.
Trang…. Dia memukul satu alat musiknya lagi.
“Orang itu juga mama barumu, keluarga ini berantakan bukan karena aku, aku ke sini supaya bisa bertanggung jawab pada keluarga yang sudah berantakan.” Kireina berkata dengan sedikit nada tinggi yang ditekan.
“Bukan!” bantah Bilal, “kalau bukan karena mu, papa tidak akan pernah berpisah dengan mamaku.”
“Ini melebihi ekspektasi kemampuanku,” Kireina bernapas berat. “Aku berterimakasih jika permasalahan orang dewasa bisa terselesaikan dengan baik, dan lebih baik kamu rajin belajar, sepertinya ujian kali ini sangatlah susah.”
Trak… trak… trak… Bilal memukul drum nya sembarangan, sampai ada yang terbang saking kerasnya pukulan dari pemuda dingin itu.
***
POV Hikaru
Permasalahan datang dan pergi, sampai manusia tidak tahu kapan ini berakhir.
Di kedai Hanan, Maira telah menunggu Hikaru, ia membawa selembar tagihan atas kerusakan yang diperbuat oleh Eiko.
“Memangnya apa yang kamu lakukan Eiko, sampai-sampai kita harus membayar ganti rugi sebanyak ini?” Hikaru naik pitam, ia merasa sejak adanya Eiko, hidupnya bertambah susah.
Pada hari dimana mereka berada di kantor polisi, Eiko kesal pada Maira, sehingga ia mencorat-coret mobil maira dengan cat permanen. Mana tahu itu permanen atau bukan, dirinya saja tidak tahu apa-apa tentang kehidupan manusia.
“Hah…” Hikaru membuang napas kesal. Menghentakkan kakinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa benar kamu yang melakukannya Eiko?” Hanan bertanya pelan, meskipun dirinya juga tidak menyangka dengan lembar tagihan yang ada di atas meja.
Eiko terdiam. Ia mengangguk dan mengaku salah.
“Anak tidak tahu diri ini akan dipenjara bersama cucu Anda,” kata Maira.
“Apakah Anda melakukan ini supaya saya pindah sekolah?” tanya Hikaru.
“Iya, sepertinya otakmu sangat encer, waktu itu aku bilang, jika sekali lagi kamu bertemu dengan Arika, kamu akan dikeluarkan dari sekolah,”terang Maira mengingatkan, “tapi kemarin kamu malah mengajaknya keluar.”
“Tapi Arika yang mengajaknya keluar.” Eiko menyela.
“Kamu diam saja Eiko,” cegah Hikaru.
“Kalian berdua bikin masalah saja. Dasar,” matanya mengerling penuh kebencian.
“Saya tidak ingin pindah sekolah,” pemuda itu coba melakukan pembelaan.
“Ya kalau tidak ingin, ya… tidak usah, namun kalian harus membayar ganti rugi ini, atau kalian akan dipenjara. Dan tetap dikeluarkan dari sekolah.” Maira mengancam.
“Bu Maira, kalian banyak uang untuk sekolah, mengapa tidak kalian saja yang pindah sekolah?”
“Karena, di sekolah lain Arika tidak dapat menjadi nomor satu, dan sekarang kamu adalah penghalang Arika menjadi nomor satu di sekolah, sebaiknya kamu yang pindah sekolah. Dan jumlah ini tak seberapa, aku tidak akan terima jika kamu benar-benar pindah sekolah.”
“Heh…” Hikaru tersenyum miris.
Brak…
Hanan menggebrak meja, ia kesal dan sudah tidak tahan lagi untuk bicara. “Hikaru! Kamu jangan pindah sekolah!” seru Hanan, “Aku akan membayar semua tagihan dan kamu jangan pernah muncul lagi di hadapan kami, terutama di hadapan Hikaru!” tegas Hanan, “Jika kamu datang lagi, maka hari itu adalah akan menjadi hari pemakamanmu.” Hanan mengancam.
“Pemakaman? Apa yang kamu bicarakan? Omong kosong!” Maira cukup terguncang dengan ancaman Hanan. “Pemakaman apa maksud Anda?”
Hanan mengambil spatula besar ke dapur, bumbu-bumbu masih menempel, lalu mengarahkan pada Maira.
“Hikaru mau dikeluarkan? Atau nyawamu yang akan saya keluarkan?” teriaknya, berhasil membuat maira berdiri dari duduknya yang elegan.
Tak ingin kalah dengan Hanan, Eiko mengambil centong lainnya yang masih ada bumbu di ujungnya.
“Apa sih kalian, mau menyerang saya dengan spatula besar itu?”
“Benar Bu Maira, kamu jahat, kamu berhak mati.” Eiko ikut menyerang.
“Semua ini salahmu!” nada Maira cukup tinggi sambil menunjuk Hikaru.
“Eiko!” panggil Hikaru. “Kamu! Keluar! Ikut aku!” Hikaru keluar, dengan bingung Eiko mengikuti Hikaru.
“Kamu!” Hikaru, nafasnya tertahan, “Benar kamu yang melakukannya?”
Dengan penuh penyesalan, Eiko mengangguk perlahan.
“Karena aku…,” Eiko gugup, “Karena aku, kamu disalahkan. Dan ibu-ibu itu orang jahat.” Eiko teriak membela diri,.
“kamu malah lebih parah, setiap kamu ikut campur pasti bikin masalah.” Hikaru balas teriak.
“Tapi aku hanya ingin membantumu!” bela Eiko.
“Siapa yang bantu siapa maksudmu? Nama dan alamat mu saja kamu tidak tahu, sekarang mau sok membantu?”
“Itu…” Eiko ragu.
“Aku bahkan tak mengenalmu!” Hikaru merendah.
“Tapi aku hanya mengenalmu.” Eiko berkata lirih.
“Aku gak kenal kamu, pergi sana!” usir Hikaru. “Tak mau pergi? Kalau begitu aku yang pergi.” Hikaru balik kanan dan meninggalkan Eiko.
“Hikaru!” panggilnya, dan berhasil menghentikan langkah Hikaru, “di dunia ini aku hanya mengenal kamu! Kita pergi sama-sama,” ucap Eiko.
“Kenapa aku? Tanpamu saja hidupku sudah susah, dan setelah bertemu denganmu semuanya semakin amburadul, semakin berantakan, kamu sadar tidak?” bentak Hikaru. “Jangan ikuti aku!”