London, Inggris.
-Georgia’s Penthouse-
Senyap meliputi, sudah tidak terjadi pembicaraan apapun diantara mereka sejak di mobil dan Jayden hanya membiarkannya menangis, lalu memutuskan untuk membawanya ke Penthouse apartemen miliknya yang sudah ia tinggali selama lebih dari 5 tahun sejak ia memutuskan untuk hidup mandiri.
Georgia duduk di kursi pijatnya dengan mata yang terpejam tanpa melepaskan mantel dan sepatu hak yang ia kenakan. Dia benar-benar merasa lelah dengan semua pikiran yang memenuhi isi kepalanya, ingin sekali tertidur sejenak, namun tidak bisa karena hatinya yang terasa sangat resah.
Georgia terkesiap membuka saat seseorang membuka sepatunya dan melepaskan kaos kaki kecil pelindung jari dan tumitnya.
“Kau tak perlu melakukannya, Jayden...” desis Georgia tak membuat pria itu berhenti.
“Aku tak bisa membiarkanmu terlalu lama beristirahat seperti ini, Gia...” ucap Jayden menegaskan.
Georgia menegapkan tubuhnya saat Jayden membantunya melepaskan mantel tebal yang melingkupi tubuhnya.
“Terima kasih selalu ada untukku, Jayden...” ucap Georgia membuat Jayden tersenyum seraya mengusap kepalanya.
“Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, Georgia...” uca Jayden membuat Georgia tersenyum sedih.
“Kelak, jika aku sudah menikah pasti akan sangat sulit bertemu denganmu...” ucap Georgia lirih membuat Jayden terkesiap karenanya.
“Kau berkata seolah-olah sudah menemukan pria yang ingin kau nikahi saja.” ucap Jayden menutupi rasa terkejutnya dengan sebuah senyuman.
“Aku tak tahu bagaimana harus menceritakannya padamu...” ucap Georgia menatap jauh kedepan.
Jayden menghembuskan napasnya kasar, “Kau tak harus menceritakannya jika belum bisa. Sekarang, apakah kau ingin makan malam atau melanjutkan istirahat?”
Georgia menggeleng samar, “Bahkan semua pikiran yang memenuhi isi kepalaku terasa menghilangkan nafsu makanku...” ucapnya lesu.
“Bagaimana dengan berendam di air hangat untuk melepaskan semua rasa stress yang membelenggumu?” tanya Jayden membuat Georgia menatapnya tak mengerti.
“Kau tampak berbeda saat ini, Jayden...” ucap Georgia membuat Jayden tertawa.
“Apa yang berbeda, Georgia? Aku sahabatmu, Jayden Davis...” ucap pria itu membuat Georgia berdecak kesal.
“Biasanya kau sangat terkesan ingin tahu apa yang terjadi dan apa yang ku bicarakan dengan ayahku. Sekarang, kau jelas tampak tidak penasaran sama sekali...” desis Georgia merasa kesal dengan sikap Jayden.
“Tidak, Gia. Sesungguhnya aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi saat pertemuan dengan ayahmu, tapi aku lebih memikirkan keadaanmu saat ini. Kau bisa menceritakannya nanti setelah jauh lebih tenang...” ucap Jayden tersenyum tulus.
Senyuman itu menulari Georgia yang kini tersenyum karenanya, “Aku pikir aku akan mandi sekarang dan menceritakan semuanya padamu, Jay!”
Georgia berseru seraya beranjak meninggalkan Jayden yang kini langsung menahan tangannya hingga langkahnya terhenti.
“Setelah kau mandi, bagaimana jika kita makan malam bersama terlebih dulu?” tanya Jayden membuat Georgia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
“Yeah, give us beef steaks and some potato wedges for dinner!” seru Georgia penuh semangat
“Sounds good! Kau akan mendapatkannya, Georgia!” teriak Jayden pada Georgia yang telah berlalu pergi ke kamarnya.
Jayden menghembuskan napasnya kasar seraya meraih gagang telepon untuk memesan makan malam mereka kepada pelayan penthouse ini. Setelah memesan steak beserta wine, Jayden kini membiarkan dirinya duduk di salah satu sofa ruangan santai itu.
“Apakah Georgia akan menikah karena sebuah perjodohan?” tanya Jayden lalu menggeleng samar.
Dia tak ingin memikirkan Georgia akan benar-benar menikah dengan pria lain dan semua harapannya akan berakhir pupus begitu saja. Padahal, biar bagaimanapun memang tak ada kesempatan untuknya menyatakan cinta kepada Georgia karena wanita itu tak mungkin menerimanya. Kemungkinan terburuk Georgia akan menjauhinya, karena dia tahu Georgia menyayanginya sebagai seorang sahabat dan saudara lelaki. Tidak lebih dari itu.
Berdecak pelan, “Bangunlah, Jay!” desis Jayden seraya mengusap wajahnya kasar.
“Bangun? Ayolah Jayden, kau sedang tidak tidur!” teriak Georgia yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya dengan aroma khas sabun milik wanita itu.
“Cepat sekali kau mandi.” gumam Jayden menyatakan rasa terkejutnya.
“Hanya mandi, Jay dan perutku sudah sangat lapar...” ucap Georgia seraya mengusap perutnya.
“Oh my...” desis Jayden hendak bergerak kearah pintu di dahului oleh Georgia.
“Kau pasti melupakannya, dasar pelamun!” seru Georgia disela langkahnya membuka pintu penthouse-nya.
Dua orang pelayan sontak membungkuk sopan kepadanya, mengucap basa-basi dengan sopan dan menghidangkan makanan pesanan Jayden tadi dan para pelayan itu pergi setelah menerima uang tip dari Georgia.
“Maaf aku tiba-tiba menjadi tidak fokus…” ucap Jayden membuat Georgia tersenyum sembari mengecup pipi Jayden.
Cuph!
“Aku mandi cukup lama, begitu juga dengan kau yang melamun...” ucap Georgia seraya berjalan duduk di meja makan yang telah tersaji beef steak pesanannya.
“Baiklah, mari nikmati makan malam kita selagi hangat, Georgia...”
Georgia hanya dapat tersenyum menatap Jayden yang duduk dihadapannya, “Terima kasih, selalu ada untuk menemaniku...”
“Sudah tak tahu berapa banyak kau berterima kasih padaku hari ini, Gia...” balas Jayden.
Memutar kedua bola matanya malas, “Sejujurnya, aku selalu merasa berterima kasih kepada Tuhan karena kau ada di hidupku...” ucap Georgia membuat Jayden merasa hangat menjalar memenuhi hatinya.
“Meskipun ini bukan kali pertama aku mendengarkannya, tapi aku selalu merasakan sebuah rasa syukur yang membuat dadaku menghangat...” ucap Jayden sembari tersenyum tulus.
Georgia tahu kini wajahnya memanas karena senyuman pria baik itu, “Sudahlah, Jayden. Kita harus makan!” serunya memulai makan malam itu dengan penuh semangat.
Seakan melupakan semua masalah yang mengganggu pikirannya dan semua rasa sesak dihatinya tadi selepas bertemu dengan ayahnya.
Makan malam itu berlalu dengan obrolan ringan yang menyenangkan. Georgia dan Jayden membicarakan apapun selain masalah yang dia hadapi dan juga pekerjaan. Georgia tahu Jayden selalu berusaha menjaga perasaannya sejak dulu, sejak pertama kali mereka bertemu. Baik itu saat menjalin hubungan sebagai rekan kerja, hingga menjadi seorang sahabat seperti saat ini.
“Georgia, ini wine untukmu...” ucap Jayden menyodorkan gelas kristal yang berisi red wine itu.
Georgia tersenyum sembari menyambutnya, “Thanks, cuaca yang dingin dan pemandangan malam yang indah. Aku sangat membutuhkannya...” ucap Georgia menatap jauh kedepan.
Mereka sekarang duduk di rooftop Penthouse yang memiliki mini garden. Terasa sangat nyaman dengan indahnya pemandangan kota London di musim gugur.
“Aku berharap wine dapat membuatmu sedikit santai dan dapat menceritakan semuanya tanpa merasakan tekanan yang kau tanggung tadi...” ucap Jayden menatap Georgia yang sedang menyesap perlahan wine tersebut.
“Rasanya aku tak tahu bagaimana untuk bersantai saat ini, tapi kau membantuku merasa sedikit lebih baik sekarang...” ucap Georgia menatap jauh kedepan.
Dengan uap air yang tercipta dari hembusan napasnya, cuaca dingin pertengahan Musim gugur tak pernah bercanda. Jayden pun tak lelah menatapnya dan menantikan apa yang akan dirinya ceritakan saat ini.
“Pertemuan dengan ayahku dan istrinya selalu meninggalkan bekas luka baru dan merobek luka lama dihatiku. Kau tahu apa yang dia minta dariku tadi?” tanya Georgia membuat Jayden menggeleng dengan sangat jujur.
Pria itu memang tak tahu apapun yang terjadi tadi.
“Gerald memintaku agar menemui Georgino Timothy secara langsung untuk menawarkan kesepakatan merger perusahaan...” ucap Georgia merasa tak sanggup untuk menceritakannya.
“Merger? Menggabungkan perusahanmu dengan Gremlin Group?” tanya Jayden memperjelas ucapan Georgia.
Georgia menganggukkan kepalanya, “Ya, menawarkan untuk menggabungkan perusahaan dengan sebuah pernikahan bisnis...” ucap Georgia memperjelas semuanya.
Jayden menghembuskan napasnya kasar, “Bukankah kita bisa menawarkan kesepakatan merger dengan cara lain?” tanyanya membuat Georgia menggeleng samar.
“Mustahil jika hanya sekadar memintanya untuk menerima penggabungan perusahaan kami jika tak ada ikatan yang menguntungkan. Dia pasti lebih memilih untuk mengakuisisi penuh Amethyst Group dan menguasainya sepihak...” ucap Georgia jelas masuk di akal Jayden.
“Apakah kau sudah siap untuk menikah dan menerima segala konsekuensinya? Apakah ini akan berhasil?” tanya Jayden memastikan semua itu.
Napas Georgia berhembus kasar, “Siap tak siap aku harus melakukannya, Jayden. Gerald bilang dia berani memintaku untuk menawarkan penggabungan kedua perusahaan kami dengan ikatan pernikahan karena dia tahu keadaan Giorgino yang hampir kehilangan putra bungsunya saat ini...” ucapnya dengan ragu.
Jayden menarik pundaknya hingga tatapan mereka kini bertemu, “Kau tidak bisa terus menerus mengorbankan kebahagiaanmu, Georgia! Pernikahan tak semudah kau menjalankan peran sebagai pemimpin perusahan.” tegas Jayden membuat Georgia menganggukkan kepalanya.
“Aku tahu, tapi apakah aku memiliki pilihan lain selain menawarkan penggabungan perusahaan dengan pernikahan atau membiarkan Gremlin Group mengakuisisi Amethyst Group sepenuhnya?” tanya Georgia menatap mata Jayden dengan sangat dalam hingga pria itu mampu merasakan dirinya kini sudah berada dalam ambang keputusasaannya.
“Aku sangat takut kau terjebak dalam pernikahan itu, Georgia. Bagaimana jika suamimu bukanlah pria yang baik dan maaf, dia mungkin bisa membuatmu berakhir seperti ibumu nantinya...” ucap Jayden membuat Georgia merasa takut akan kemungkinan terburuk itu.
Meneguk ludahnya kasar, “Gerald bilang, aku bisa membuat perjanjian jika pihak Gremlin menceraikanku atas alasan perselingkuhan atau aku yang menuntut perceraian atas alasan yang sama, maka aku berhak atas 50% saham perusahaan yang mereka miliki dan meminta segala utang-utang perusahaan kepada Gremlin Group dihapuskan sebagai tuntutan ganti rugi atas perceraian itu...” ucap Georgia menjelaskan itu semua membuat hati Jayden merasa sedih.
“Jadi dia memintamu untuk menikah sekaligus mempersiapkan perceraianmu demi keuntungannya?” tanya Jayden membuat Georgia mengangguk lesu.
“Dia hanya ingin mempertahankan perusahaannya, tidak dengan kebahagian anak perempuannya...” lirih Georgia pelan.
Jayden menarik tubuh Georgia dalam pelukannya, “Rasanya aku ingin membawamu pergi dan menghilang darinya...” ucapnya membuat air mata Georgia sontak menetes.
“Aku ingin pergi, Jayden. Tapi aku tak bisa menutup fakta bahwa saat ini kehancuran perusahaan akulah penyebabnya dan aku harus bertanggung jawab untuk mempertahankan Amethyst Group. Dapat kau bayangkan jika perusahaan di akuisisi penuh oleh Gremlin dan mereka melakukan restrukturisasi terhadap para pekerja, pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran kemungkinan besar akan terjadi...” ucap Georgia menjelaskan semua kekhawatirannya saat ini.
Jayden menghembuskan napasnya kasar, “Aku tahu kau adalah pemimpin yang baik dan bertanggung jawab, tidak, kau sungguh wanita yang baik. Gia, jika ini satu-satunya jalan terbaik yang akan kau ambil, aku akan selalu ada untuk membantumu...”
“Setelah ku pikirkan, tak ada jalan lain yang bisa kutemukan selain menawarkan merger perusahaan dengan pernikahan...” ucap Georgia membuat Jayden menariknya kedalam pelukan.
“Jadi, kapan kau berencana akan pergi ke New York untuk menemui Georgino Timothy?” tanya Jayden membuat Georgia merasa harus membuat keputusan secepatnya.
“Besok, tolong persiapkan penerbangan untukku...” ucap Georgia mantap.
Jayden menatap padanya dengan takjub, namun dia tahu bahwa Georgia tak memiliki banyak waktu.
“Kita akan ke New York bersama, aku akan menemanimu, Georgia...” putus Jayden membuat Georgia menganggukkan kepalanya.
“Aku harap semuanya berjalan dengan sebagaimana mestinya...” ucap Georgia tak dapat menyembunyikan harapan besar yang ia nantikan dari Georgino Timothy.
“Pasti, aku yakin semuanya akan berjalan sesuai dengan harapanmu...”
Dering ponsel Georgia menginterupsi mereka, “Gerald pasti sudah tidak sabar untuk menanyakan keputusanku...” lirih Georgia melihat layar ponselnya yang kini tertera nama kontak ayahnya.
“Ya, Dad?” tanya Georgia begitu menjawab panggilan tersebut.
“Apakah kau sudah memutuskannya, Georgia?”
Pertanyaan sang ayah membuat Georgia tersenyum miris, “Aku benar-benar tak menyangka kau menanyakan keputusanku saat larut begini seakan tak ada hari esok...” ucapnya sarkas hingga terdengar eraman ayahnya pada sambungan telepon itu.
“Memang kita sudah tak memiliki banyak waktu, Georgia. Aku harap kau mengerti akan apa yang sedang kita hadapi, perusahaan kita akan di akuisisi oleh Gremlin Group kuartal pertama tahun depan!”
“Stop, Gerald! Aku sangat tahu itu, bahkan aku sudah memutuskannya sebelum kau menelponku! Aku akan terbang ke New York besok!”
Pip!
Georgia memutus panggilan tersebut sepihak seraya menghempaskan tubuhnya bersandar di sofa empuk itu.
“Aku tidak ingin lagi berbicara dengannya...” lirih Georgia berusaha mengatur napasnya yang teesengal-sengal karena luapan emosi di dadanya.
“Calm down, Gia. Kau tidak perlu menghubunginya lagi karena dia sudah tahu keputusanmu. Sekarang kau lebih baik tidur dan aku akan pulang setelahnya...” ucap Jayden membujuk Georgia.
Georgia mendongakkan kepalanya menatap mata Jayden, “Bisakah kau tidak pergi? Temani aku malam ini, Jay...” ucapnya dengan tatapan memelas.
Hati Jayden terasa semakin remuk melihat Georgia yang begitu rapuh saat ini, “Aku akan menemanimu, Gia...” ucapnya seraya mengusap pipi Georgia yang kini tampak sangat rapuh itu.
Rasa sedih dihatinya kini seakan meluap begitu saja, Jayden mengusap bibir ranum Georgia hingga dorongan hatinya yang kacau membuatnya dengan begitu berani menyapa bibir ranum itu dengan bibirnya.
Jayden tak tahu, mengapa dia harus seberani ini mencium bibir Georgia. Namun, perlahan tapi pasti wanita itu membalasnya.
Apakah perasaannya berbalas, atau ini adalah sebuah ciuman perpisahan?
“Maaf...” ucap Georgia setelah mendorong Jayden hingga ciuman mereka terlepas.
Ciuman pertamanya dan pria itu adalah Jayden sahabatnya, mungkin itu lebih baik daripada pria asing yang akan menjadi suaminya nanti.
***
Bali, Indonesia.
-Gremlin Private Resort-
Hembusan asap rokok mengepul dalam temaram gelap malam yang kelam, George tak tahu mengapa tidurnya menjadi tak menentu setelah telepon ayahnya kemarin. Dirinya memiliki firasat yang tidak baik mengenai kemarahan ayahnya.
George tahu kemarahan ayahnya suatu saat akan meledak begitu saja, tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Dia merasa belum siap jika harus melepas dan meninggalkan Stella, wanita yang dia sangat cintai saat ini.
George terkesiap saat sepasang tangan halus itu memeluknya dari belakang, “Kau terbangun?” tanyanya berujung senyap.
“Kafein, nikotin dan alkohol menjadi teman akrabmu sejak kemarin, apakah ada masalah?” tanya Stella membuat George menariknya dan berganti memeluk wanita itu dari belakang.
“Tidak ada masalah...”
“Tapi kau terlihat gelisah...” sahut Stella menatap matanya dalam.
George menyukai mata coklat kelam yang indah itu, perlahan dia menunduk dan mencuri ciuman dari bibir ranum wanita cantik itu.
“Stella, jika aku harus kembali ke New York, aku harap kau bersabar dan tak berpaling dariku...” ucap George menatap wanita itu dengan penuh kesungguhan.
Stella tersenyum sedih seraya mengangguk, isyarat kesedihan jelas tergambar dari mata hijau George.
“Jika kau pergi untuk kembali, maka aku akan menunggumu sampai kapanpun itu, George. Akan tetapi, jika kau tahu kau tak akan pernah kembali. Tolong jangan pinta aku untuk menunggu...” ucap Stella dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku pasti akan kembali...” ucap George kembali mengecup bibir ranum itu untuk menyampaikan rasa hatinya saat ini.
Dia telah membuat sebuah keputusan demi Stella. Demi wanita yang sangat ia sayangi hingga tak sanggup untuk meninggalkannya, George tak ingin ayahnya semakin murka hingga mengganggu Stella. Dia akan kembali ke New York, membantu ayahnya dalam rencana mengakuisisi perusahaan besar di London dan segera kembali melanjutkan hidupnya bersama Stella.
***
London, Inggris.
-Amethyst Private Airport-
Tepat pukul 5 pagi, mobil yang membawanya telah berada di bandara pribadi keluarga. Georgia masih tak mengerti apa yang dinamakan keputusan yang tepat atau tidak, tapi hanya ini jalan yang bisa dia tempuh. Bertemu dengan pemilik Gremlin Group dan menawarkan kesepakatan untuk menggabungkan perusahaan mereka atas dasar pernikahan.
Georgia tak tahu penolakan ataukah persetujuan yang akan membuatnya bernapas lega. Sungguh, dia takut jika harus menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Semua itu terasa tak akan berakhir baik, selain untuk beberapa waktu perusahaannya masih tetap dapat berjalan dalam andil ayahnya dan mereka tak kehilangan semuanya begitu saja hingga dinyatakan bangkrut. Dirinya harus mempertahankan Amethyst Group.
Georgia terkesiap saat tangan Jayden menggenggam tangannya dan memberikan senyuman tulus kepadanya, “Jangan khawatir, kudengar Georgino Timothy adalah sosok religious yang bijak dan baik” ucap Jayden cukup menghiburnya.
Georgia tersenyum sembari mengangguk samar, “Ya, aku tahu itu. Di dunia ini ayah yang kejam hanyalah Gerald Clayton…” kelakarnya membuat Jayden sontak tertawa.
“Gerald hanya terlalu obsesi dengan keinginannya sehingga dia bersikap terlalu keras padamu. Tapi tenang saja, setelah kau menikah, mungkin saja dia tidak memiliki kesempatan untuk menekanmu lagi…”
Menganggukkan kepalanya, “Aku merasa pernikahan ini hanya akan membungkamnya sementara sampai nanti dia pasti akan memintaku merencanakan perceraian agar dapat mengambil kembali perusahaan sepenuhnya.” ucap Georgia yang sudah sangat hapal dengan tabiat ayahnya selama ini.
Jayden menghembuskan napasnya kasar, “Jika memang kau tidak bahagia dalam pernikahan itu, kau harus mencari keadilan untuk dirimu sendiri dengan mengupayakan perceraian, terlebih jika suamimu berselingkuh…” ucapnya membuat Georgia mengangguk setuju.
“Apakah kami harus menandatangani perjanjian pranikah?” tanya Georgia membuat Jayden mengangguk samar.
“Tentu saja, dalam pernikahan bisnis perjanjian pranikah diperlukan. Surat yang berisi kesepakatan dan perjanjian kalian jika nantinya terjadi sesuatu yang tak diinginkan, seperti perselingkuhan dan apa yang akan kau dapatkan jika terjadi perceraian. Semuanya harus benar-benar jelas mengenai kesepakatan untung dan rugi kedua belah pihak.” Jayden menjelaskan semuanya.
“Membayangkan betapa rumitnya pernikahan sudah membuat kepalaku menjadi sangat pusing hingga ingin muntah…” ucap Georgia membuat Jayden mengusap punggungnya.
“Kau harus menghadapi semuanya dengan santai, Georgia. Biarkan bagaimana waktu dan pencipta semesta yang menentukan seperti apa akhirnya…”
Georgia mengangguk samar, “Seandainya aku memiliki pilihan lain…” gumam Georgia membuat Jayden memegang pundaknya.
“Jika kau ingin menyerah sekarang, aku bisa menemanimu lari dari semua ini…” ucap Jayden membuat Georgia tertegun sejenak.
Lalu menggelengkan kepalanya, “Melarikan diri dan tak menyelesaikan semua kekacauan yang telah kuperbuat hanya akan membuatku semakin terlihat buruk, mendiang ibuku akan semakin mendapat cercaan karena ulahku dan keluargamu yang selama puluhan tahun menjadi orang kepercayaan perusahaan pasti akan sangat kecewa padamu…” ucap Georgia memberikan alasnnya untuk tidak setuju akan ide Jayden.
Jayden tampak menghela napasnya berat, “Bisakah kau hanya berfokus untuk menyelamatkan diri sendiri dan berhenti memikirkan orang lain, Georgia?” tanyanya menatap Georgia kesal.
Georgia tersenyum sedih seraya menggelengkan kepalanya, “Seumur hidupnya ibuku telah banyak menanggung derita dan aku sama sekali tak pernah melakukan apapun untuk membahagiakannya. Aku tak ingin dia menanggung kesedihan disana dengan kesalahan yang telah kulakukan…” ucapnya menerawang jauh, lalu menatap Jayden, “Dan kau adalah satu-satunya sahabat yang sangat berharga dalam hidupku, aku tak mau melibatkanmu hingga kau merusak hubunganmu dan orangtuamu. Mungkin ini adalah satu-satunya takdir yang harus aku jalani saat ini…”
Tanpa sanggup membalas perkataan Georgia, Jayden kini menariknya dalam sebuah pelukan, “Aku akan selalu ada disisimu, bahkan jika nanti kau telah resmi menikah. Jangan sungkan untuk meminta bantuan apapun kepadaku…”
Georgia berdecak kesal seraya memukul d**a bidang Jayden, “Tawaranku untuk merger perusahaan dengan pernikahan juga belum tentu diterima oleh Georgino Timothy, kau berkata seolah-olah aku akan menikah besok!” serunya seraya melepaskan diri dari pelukan pria itu.
“Aku hanya ingin kau mengingatnya, Georgia…” ucap Jayden membuat Georgia melihat arlojinya.
“Yang perlu kita ingat sekarang bahwa sepuluh menit lagi pesawat akan lepas landas ke New York…” ucap Georgia membuat Jayden tersenyum sembari menghela napasnya berat.
“Baiklah, sudah saatnya kita pergi…”
Georgia mengenakan kacamata hitam begitu jejak kakinya pada aspal lapangan terbang tersebut, bukan karena matahari dini hari yang menyilaukan, tapi matanya yang sembab perlu ditutupi. Private jet miliknya telah menunggu, setelah basa-basi para pramugari yang bertugas menyapa dan mengecek paspornya, Georgia pun menaiki anak tangga private jet yang telah siap untuk terbang itu, segala pikiran memenuhi isi kepalanya. Penerbangan selama lebih kurang delapan jam itu mungkin dapat menjadi penentu masa depannya atau akan membuatnya berubah pikiran.
Georgia tahu bahwa dirinya bukanlah seseorang yang sanggup untuk meramalkan masa depan dan yang dapat dia lakukan saat ini hanyalah berpasrah diri…