London, Inggris.
-Clayton’s House-
Pagi hari di kediaman Clayton berjalan seperti biasa tanpa ada yang istimewa, diruangan makan dengan meja persegi panjang yang cukup untuk delapan orang itu, Gerald duduk di kursi utama sembari menyesap kopi paginya yang terasa lebih nikmat dari hari-hari sebelumnya. Keputusan Georgia yang menyetujui permintaannya untuk menawarkan secara langsung pernikahan bisnis dengan pemilik Gremlin Group yang berpusat di New York membuatnya sedikit lega dengan kebangkrutan perusahaan yang telah berada di depan mata. Rencana akuisisi yang akan Gremlin Group lakukan pada awal kuartal pertama tahun depan cukup membuatnya nyaris terkena serangan jantung.
Saat ini dirinya hanya berharap Georgia membawa kabar baik dari pertemuannya dengan Giorgino Timothy. Meskipun cukup optimis akan membuahkan hasil yang baik karena keadaan Giorgino dengan putranya yang sedang tidak baik saat ini, tetapi dirinya belum bisa benar-benar bernapas lega.
“Aku tak menyangka Georgia menggunakan jadwal penerbangan pertama untuk pergi ke New York. Sepertinya dia ingin menunjukkan padamu kesungguhannya…” ucap Belinda mengusik lamunan Gerald.
“Dia memang bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi dibawah kepemimpinnnya. Georgia memang selalu bertanggung jawab atas apa yang terjadi karenanya…” ucap Gerald membuat Belinda memutar kedua matanya malas.
“Begitu mudah memuji dan begitu mudah menjelekkan. Kau selalu saja begitu, Gerald…” ucap Belinda mengomentari kelakuan suaminya.
“Apakah kau berharap aku mengatainya, Belinda? Lagipula Georgia pasti memperhitungkan waktu kedatangannya dengan pergi pukul 5 pagi...” ucap Gerald jelas membela Georgia.
“Lucu sekali tiba-tiba kau menjadi begitu menyanjungnya, Georgia nyaris membuat Perusahaan yang dibangun oleh kakekmu bangkrut tak bersisa...” desis Belinda tak mampu menutupi rasa kesalnya.
“Sebagai ayah, aku hanya ingin mengapresiasi usaha yang telah dia lakukan.” Gerald merasa sangat malas untuk berdebat sepagi ini dengan istrinya itu.
Belinda berdecak kesal, “Tapi kau tak pernah mengapresiasi apa yang telah kulakukan selama ini untukmu…” ucapnya ketus membuat Gerald memejamkan mata demi meredam amarah.
“Aku telah menjadikanmu istri dan membuatmu merasakan kenyamanan hidup sebagai Nyonya Clayton, istri seorang miliyuner Inggris selama hampir 20 tahun.” Tegas Gerald membuat Belinda berdecak malas.
“Untuk apa semua harta yang berlimpah jika dimata putrimu aku hanya seorang sekretaris jalang yang berselingkuh dengan ayahnya, padahal dia tidak tahu bahwa ibunya sendiri yang terobsesi memiliki anak laki-laki hingga berselingkuh!”
“Cukup, Belinda! Aku sudah menegaskan padamu untuk tidak mengungkit masa lalu itu, apalagi jika Georgia sampai mendengarkannya!” bentak Gerald membuat Belinda mendengus kesal.
“Terkadang hidup denganmu membuatku nyaris kehilangan kewarasan…” desis Belinda membuat Gerald berdeham pelan.
“Jika kau ingin tenang, kita bisa bercerai dan aku akan membayarkan tuntutan yang tercatat dalam perjanjian pranikah dengan catatan kau akan menjaga semua rahasia yang kau ketahui…” ucap Gerald dengan suaranya yang dalam.
Belinda hanya memilih diam, selama 18 tahun dia hidup sebagai Nyonya Clayton yang dihormati dan bergelimang harta. Dirinya belum sanggup harus kehilangan semua upah atas pengabdiannya kepada Gerald selama ini. Dia tidak ingin kehilangan warisan senilai 300 juta poundsterling yang Gerald janjikan atas tanah perkebunan yang pria itu miliki. Jika mereka bercerai, dirinya hanya akan mendapatkan 50 juta poundsterling dan semua itu telah tercatat dalam perjanjian pranikah mereka berikut dengan perjanjian yang telah dia sepakati dengan Gerald.
“Maaf, aku hanya menjadi sedikit emosional dengan ucapan putrimu kemarin…” ucap Belinda kini tak berani berkeras dengan egonya.
Pria paruh baya itu menghembuskan napasnya kasar, “Aku tahu bahwa kau muak dengan Georgia yang terkesan selalu memandang rendah dirimu dan aku yang tak pernah ingin menceritakan tentang kisah masa lalu yang sebenarnya. Tapi percayalah, dia sudah cukup menderita selama ini dan aku tak ingin dia semakin hancur saat mengetahui kesalahan yang ibunya lakukan.”
Belinda menghela napasnya lelah, “Seandainya dia tahu betapa besar kau mencintai ibunya dan betapa kau menyayanginya, dia pasti akan menyesal karena selalu berkata kasar padamu.
“Ayolah, Belinda. Aku sangat keras dalam mendidiknya selama ini dan kau terlalu senang membantuku menjatuhkan mentalnya. Kita bukanlah orangtua yang baik dan hanya perlu seperti ini yang Georgia ketahui…” ucap Gerald membuat Belinda menatapnya skeptis.
“Terkadang aku tak mengerti ayah seperti apa dirimu, Gerald…” desis Belinda membuat Gerald kembali menyesap kopi paginya dengan begitu nikmat.
“Aku hanya akan menjadi ayah paling buruk untuk putriku dan sosok yang tak akan pernah dia tangisi saat aku harus menyusul ibunya menghadap takdir kematian nanti…” ucap Gerald dengan tatapan yang jauh kedepan.
“Kehidupan orang kaya hanya dipenuhi dengan rahasia yang akan tersimpan sampai mati…” ucap Belinda membuat Gerald tersenyum samar.
“Terkadang fakta hanya akan memberikan tamparan keras hingga mematahkanmu, aku tak ingin Georgia patah semangat. Dia harus menjadi wanita penuh ambisi yang mampu menunjukkan segala kemampuannya padaku dan dunia.” ucap Gerald membuat Belinda berdecak kesal.
“Kau memang ayah berhati dingin, Gerald. Padahal Georgia adalah putrimu satu-satunya…” desis Belinda menatap mata senja sang suami yang selalu bersembunyi dibalik sorot dinginnya.
“Aku tak ingin dia tumbuh sebagai wanita lemah yang terlalu termakan perasaan seperti ibunya. Kita semua tahu betapa kejamnya dunia ini…” ucap Gerald menciptakan hening melingkupi mereka.
Tidak ada yang dapat mengukur rasa cinta seseorang di dunia ini hanya dari apa yang telah dilakukan, semua orang mempunyai cara masing-masing dalam menyampaikan rasa kasih sayang dengan cara yang berbeda. Gerald tahu putrinya tak perlu merasakan kasih sayang dan cinta yang nyata dari dirinya sebagai ayah, suatu saat Georgia akan mengerti bahwa tak ada orangtua yang sanggup membenci darah dagingnya sendiri.
***
Manhattan, New York.
Georgia tersentak dari tidur saat seseorang menepuk pipinya, kini dia menangkap senyuman tulus Jayden menyapanya.
“Hei putri tidur, kita sudah sampai di New York...” ucap Jayden berbisik membuat Georgia kontan menegapkan tubuhnya.
“New York?” tanya Gerorgia membuat Jayden mengangguk seraya membantu menegapkan kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman untuknya.
“Sebentar lagi pesawat akan mendarat, makanya aku membangunkanmu...” ucap Jayden di susul dengan pengumuman dari pramugari.
Georgia meneguk air mineral dari botolnya demi mengusir rasa gugup, “Apakah kau sudah mendapatkan balasan surel dari sekretaris pribadi Mr. Timothy?” tanyanya pada Jayden yang kini telah kembali duduk di kursi penumpang tepat disebelahnya.
“Sayangnya, kita datang tepat waktu...” ucap Jayden membuat Georgia menatapnya tak mengerti.
“Maksudmu?” tanya Georgia menuntut sebuah penjelasan.
Dirinya kini merasa sangat takut karena sejak kemarin surel yang Jayden kirimkan mengenai kunjungannya tak mendapatkan balasan, akan sia-sia kedatangannya
Jayden menunjukkan balasan surel dari layar iPad-nya, “Mr. Timothy menunggu kunjungan anda pukul 11.30 am…” ucapnya membuat Georgia sontak melihat jam di ponselnya yang kini menunjukkan pukul 10.10 am waktu New York.
“Kita masih memiliki lebih dari satu jam, apakah menuju Gremlin Group memakan waktu satu jam?” tanya Georgia merasa cukup gugup saat ini.
Dia tak ingin terlambat dan meninggalkan kesan pertama yang buruk terhadap Georgino Timothy hingga kemungkinan besar pria paruh baya itu menolak tawarannya.
“Kurang lebih memakan waktu 45 menit dari bandara menuju Gremlin Group jika tidak macet, tapi akan ku pastikan kita bisa sampai 5 menit sebelum pukul setengah 12.” Ucap Jayden meyakinkan Georgia yang kini tampak gugup.
“Aku harap kita bisa sampai tepat waktu…” lirih Georgia seiring dengan pendaratan pesawat.
Begitu pintu pesawat terbuka, butuh waktu lebih kurang 10 menit untuk mereka menuruni tangga dan memasuki mobil SUV keluaran Marcedes Benz yang telah menunggu kedatangannya. Georgia masuk kedalam mobil yang telah dibukakan oleh supir dan diikuti oleh Jayden.
Mobil itu melaju meninggalkan JFK Airport melalui jalur khusus menuju kota Manhattan, New York. Georgia tahu, telah lama dirinya tidak melakukan perjalanan bisnis ke New York. Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu untuk sebuah negosiasi dermaga untuk penempatan alat berat miliknya di salah satu dermaga pribadi di New York Harbour.
Georgia terus menerus memperhatikan jam yang tertera di ponselnya seraya menyetel arlojinya agar mengikuti jam New York saat ini. Dia khawatir terlambat, tapi sepertinya semua berjalan lancar karena gps pada layar mobil tersebut menunjukkan sekitar 30 menit lagi mereka sampai meski kini baru saja pukul 10.55 waktu setempat.
“Kita pasti sampai tepat waktu, minum dulu kopimu agar lebih santai…” ucap Jayden membuat Georgia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Menyambut gelas kopi tersebut dan meneguknya, “Terima kasih, Jayden...” ucap Georgia.
“Dengan senang hati, Georgia...” ucap Jayden membuat Georgia kini merasa sedikit lebih tenang.
Hingga mobil membawa mereka melewati pusat kota Manhattan, New York. Gedung-gedung perkantoran pun mulai mereka temui sampai mereka terhenti tepat di depan lobi Gremlin Group yang menjadi tujuan mereka datang kemari.
Jayden terkesiap saat Georgia meremas erat tangannya, “Aku sungguh sangat gugup sekarang, aku pikir butuh waktu 2-3 hari untuk dapat bertemu dengan Georgino Timothy sesampainya kita di New York. Ternyata dia langsung menerima kunjungan kita hari ini...”
“Kau tidak perlu gugup, Georgia. Mr. Timothy menerima kunjungan kita dengan baik, aku ada disini bersamamu...” ucap Jayden membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya kepada Georgia.
Georgia menghembuskan napasnya kasar, lalu menyambut tangan Jayden seraya merapalkan mantra dalam hati bahwa dia bisa melalui semua ini dengan sebuah kabar baik untuk ayahnya. Georgia kini berjalan bersama Jayden memasuki lobi Gremlin Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan penyedia alat berat pertambangan dan alat berat konstruksi yang bekerja sama dengan perusahaannya sejak puluhan tahun yang lalu dan merupakan pemegang saham terbesar perusahaannya sejak lima tahun belakangan sejak ia memimpin Amethyst Group.
“Selamat datang di Gremlin Group, apakah anda telah membuat janji temu dengan Presdir sebelumnya?” tanya resepsionis itu menanggapi ucapan Jayden.
Jayden menganggukkan kepalanya, “Saya Jayden Davis, Sekretaris CEO Amethyst Group, Ms. Clayton telah membuat janji temu pukul setengah dua belas.” Ucapnya menunjukkan surel balasan dari sekretaris pribadi Georgino Timothy.
“Baik, silakan menunggu sebentar, saya akan menghubungi Mr. Collins...” ucap wanita resepsionis itu bersambut dengan sebuah suara.
“Saya telah disini, Carlina. Terima kasih telah melewatkan panggilan telepon saya...” ucap Edward Collins yang merupakan sekretaris pribadi Georgino Timothy.
“Maaf, Mr. Collins. Panggilan masuk secara bersamaan membuat saya sedikit lalai...” ucap wanita ber-nametag Carlina Jewel itu dengan begitu menyesal.
“Ah, yang terpenting aku tidak terlambat untuk menyambut kedatangan tamu penting Presdir dari London siang ini...” ucap Edward kini membungkukkan tubuhnya kearah Georgia dan Jayden.
“Selamat datang, Ms. Clayton dan Mr. Davis. Perkenalkan saya sekretaris pribadi Mr. Timothy. Edward Collins.”
“Terima kasih atas sambutanmu yang hangat, Mr. Collins...” ucap Jayden memulai basa-basinya.
“Ah, cukup panggil Edward, Jayden. Mr. Timothy telah menunggu kedatangan kalian di ruangan pribadinya. Mari saya antarkan...” ucap Edward mulai untuk mengakrabkan diri kepada tamu penting bagi perusahaannya.
Melewati semua basa-basi yang memuakkan itu, Georgia mengikuti sekretaris Mr. Timothy dari lobi sampai menuju keruangan President Direktur perusahaan ini. Sedikit melelahkan saat dirinya harus menangkap reaksi terkejut para karyawan maupun karyawati yang tahu siapa dirinya. CEO Amethys Group, satu-satunya CEO wanita termuda di London, Inggris yang beberapa kali masuk ke dalam majalah bisnis ternama dunia.
Georgia tak tahu dirinya harus merasa bangga ataukah malu karena setahun belakangan media bisnis selalu menyoroti saham perusahaan yang terus merosot tajam dan begitu banyak berita buruk perusahaan dibawah kepemimpinannya terhadap Amethyst Group yang nyaris bangkrut dan berhembus kuat rumor bahwa Gremlin Group akan mengakuisisi perusahaannya.
“Georgia, apa yang sedang kau pikirkan?” ucapan Jayden menarik Georgia dari lamunannya.
“Ma-maaf...” ucap Georgia kini menatap senyuman Edward Collins yang seakan sedang mngejeknya.
“Silakan masuk, Ms. Clayton. Mr. Timothy telah menunggu kedatangan anda...” ucap pria itu seraya membukakan pintu ruangan pimpinan perusahaan ini setelah mengetuknya.
Georgia menatap Jayden sebelum memasuki ruangan itu dan pria itu menganggukkan kepalanya sebagai bentuk dukungan moril bahwa dirinya bisa melewati semua ini.
Menghembuskan napasnya kasar seolah membuang semua rasa gugupnya, Georgia memasuki ruangan tersebut.
“Selamat siang, Mr. Timothy...” ucap Georgia membungkuk sopan kepada pria paruh baya yang telah berdiri menyambut kedatangannya.
Pria paruh baya itu tersenyum dengan begitu hangat, “Silakan duduk, Ms. Clayton. Aku sangat senang mendapat kabar dari sekretarisku mengenai surel kunjungan pribadi anda dari sekretarismu...” ucap Georgino menyambut jabat tangan Georgia dan menarik wanita muda itu untuk duduk dihadapannya.
“Masih sulit menyangka bahwa kau langsung membalas surel dariku untuk pertemuan ini tak sampai 24 jam, Mr. Timothy. Jujur saja, aku merasa sangat tersanjung...” ucap Georgia membuat pria paruh baya itu tertawa renyah.
“Aku tidak mungkin menunggu lebih lama untuk tahu maksud dan kedatanganmu kemari, Ms. Clayton...” ucap Giorgino memuat Georgia menghebuskan napasnya gugup.
“Kedatanganku kemari pertama-tama untuk meminta maaf padamu selaku pimpinan Gremlin Group yang memegang saham terbesar perusahaanku karena berbagai macam masalah besar yang terjadi selama hampir dua tahun belakangan ini dan yang terakhir kasus tenggelamnya kapal pengangkut alat berat yang akan dikirim ke Seattle untuk Erdigo Company. Aku sangat amat berterima kasih karena kau telah menyelesaikan semua masalah ganti rugi dengan menyetujui pinjaman untuk Amethyst Group. Kami sungguh sangat terbantu dan bersyukur atas pertolongan anda, Mr. Timothy...” ucap Georgia membuat Giorgino menganggukkan kepalanya.
“Sebagai pemegang saham terbesar Amethyst Group, aku merasa perlu membantu kesulitan perusahaanmu. Terlebih untuk kecelakaan yang terjadi, semua itu diluar kendalimu sebagai pimpinan perusahaan. Namun, sebagai seseorang yang mengeluarkan dana bantuan dan pemilik saham terbesar, aku merasa restrukturisasi perusahaan sangat diperlukan agar saham perusahaan tidak terus merosot tajam seperti saat ini, Georgia...” ucap Giorgino kini membuang sedikit formalitas dengan memanggil nama wanita itu.
“Ah, maaf jika aku memanggil namamu yang mengingatkanku dengan nama putra bungsuku agar kita dapat mengobrol santai tanpa tekanan...” lanjut Giorgino membuat Georgia mengangguk tidak keberatan dengan itu.
“Aku tahu, meski aku menjanjikan akan memperbaiki semuanya dan segera memulihkan perusahaan dan membayar semua utang-utang perusahaan terhadapmu, tak menutup kemungkinan pada akhirnya rencana mengakuisisi Amethys Group akan anda lakukan sebagai gebrakan besar untuk merekstrukturisasi perusahaan yang semakin lesu dengan berbagai masalah saat ini. Memulihkannya pun bukan hanya semudah membalikkan telapak tangan...” ucap Georgia membuat Giorgino tampak terkesima dengan jawabannya.
“Aku tahu kau seorang wanita yang berbakat dalam memimpin perusahaan, Georgia. Sayangnya, saat ini dewi keberuntungan seakan tidak bersamamu...” ucap Giorgino membuat Georgia menganggukkan kepalanya.
“Tujuan kedua dari kunjunganku untuk menemuimu adalah ingin menawarkan sebuah kesepakatan yang jauh lebih menguntungkan dari rencana akuisisi yang sedang kau rencanakan terhadap Amethyst Group saat ini, Mr. Timothy...” ucap Georgia berusaha sebisa mungkin agar dirinya tidak gugup.
“Tawaran apa yang menurutmu jauh lebih menguntungkan bagi perusahaanku, Georgia?” tanya Giorgino menatap Georgia skeptis.
Georgia kini merasa tercekik dalam rasa gugup untuk menyatakan kesepakatan yang ingin ia tawarkan, dirinya benar-benar takut akan penolakan dari Giorgino Timothy...