Manhattan, New York.
-Gremlin Group-
Sambutan yang hangat itu tak lantas membuat Georgia lupa diri, kini dirinya benar-benar gugup hingga ingin menghilang saat pria paruh baya itu menanyakan kesepakatan apa yang ingin dia tawarkan dalam kunjungan ini.
“Bagaimana, Georgia?” tanya Giorgino menyentak Georgia dari pikirannya yang kalut saat ini.
“Maaf, aku sedikit terjebak dalam pikiranku…” ucap Georgia membuat pria paruh baya itu kembali tersenyum hangat.
“Aku tahu kau kini sedang mempertimbangkan segalanya, tapi tidak ada salahnya kau mengatakannya agar aku bisa segera mempertimbangkannya.” Giorgino tampak begitu peduli dengan gagasan yang ada di kepalanya dan Georgia tahu bahwa pria paruh baya itu sangat tulus, bukan hanya sedang melempar sarkasme untuk menjatuhkannya.
“Jadi menurutmu, tawaran apa yang akan jauh lebih menguntungkan bagi perusahaanku, Georgia?” Giorgino mengulang pertanyaannya.
Georgia berkedip samar dalam semua pertimbangan yang tersusun dikepalanya, “Daripada mengakusisi sepenuhnya Amethys Group, bukankah lebih baik mempertahankan perusahaan kami yang telah berdiri lebih dari 50 tahun dengan menggabungkan Gremlin Group dan Amethys Group yang sama-sama memiliki nama besar di kedua negara dengan kekuasaan yang sama besar di dua Benua?” tanyanya menatap Giorgino Timothy dengan penuh keyakinan.
Pria paruh baya itu tampak sedikit meragukan ucapannya, “Jika kau berpikir dengan menggabungkan perusahaan kita semuanya akan berjalan dengan baik, keuntungan apa yang bisa kau pastikan dapat kami rasakan lebih daripada rencana akuisisi yang jelas akan memberi peluang besar untuk kami menjalankan perusahaaan induk manufaktur alat berat di London?”
Georgia meneguk ludahnya yang terasa sedikit pahit sekarang, “Kau pasti sangat mengerti betapa mahalnya sebuah loyalitas atas sebuah hubungan baik antar perusahaan?” tanyanya membuat Georgino tampak mengangguk samar.
“Restrukturisasi perusahaan pasca pengumuman akuisisi bukanlah hal yang mudah, semuanya akan berjalan dari bawah, bahkan bisa berada di angka nol, hanya nama baik dan cerita sepak terjang Gremlin Group di Amerika dan berbagai negara yang telah kau jajaki selama ini yang akan kau jual. Sementara, nama besar Amethyst Group tempat dimana kau berpijak telah kau runtuhkan. Amethys Group sudah memiliki nama besar dan memiliki klien serta investor yang begitu loyal sejak puluhan tahun, Bahkan Charles Murphy seorang yang memilki perusahaan tambang dan kontruksi yang telah menciptakan pemasukan lumayan besar dan stabil untuk perusahaan selama lebih dari 50 tahun adalah sahabat mendiang kakekku. Aku sangat yakin sebagian besar investor dan klien dari perusahaan besar yang sudah bekerja sama dengan Amethys Group akan memilih mundur dan menghentikan kerja sama setelah kami bangkrut karena mereka telah memiliki banyak tawaran dari perusahaan manufaktur alat berat lain dari negara Asia yang berani memberi harga sedikit lebih rendah dengan kualitas yang lumayan sama. Selama ini loyalitas dan hubungan baik dengan Amethyst Group yang menahan mereka...” Georgia memberi jeda sejenak atas ucapannya seraya menatap raut wajah serius Georgino yang tampak sedang mempertimbangkan ucapannya.
“Amethys Group masih memiliki loyalitas dan dukungan yang kuat dari para pebisnis maupun politikus di London maupun beberapa bagian negara di Eropa. Bisa kau bayangkan jika pernikahan bisnis dan penggabungan perusahaan terjadi, saham perusahaan kita akan melonjak drastis jika mengingat bagaimana prestasi Gremlin Group yang kau bangun selama 3 dekade dan dilanjutkan dengan prestasi putramu yang berhasil menyukseskan banyak project besar hingga membantu proyek pembangunan besar MC Company yang nyaris bangkrut. Banyak prestasi yang membuatnya mendapatkan label sebagai pengusaha muda yang membawa keberuntungan.”
“Jangan terlalu berlebihan memuji putraku, Georgia...” ucap Georgino berusaha menepis fakta masa-masa keemasan George saat membangun karirnya selama lima tahun sebagai CEO muda perusahaan penyedia alat berat yang mampu menyediakan, membantu dan menyukseskan pembangunan bahkan untuk perusahaan yang nyaris bangkrut sekalipun.
“Aku selalu mencari data yang valid sebelum mengambil sebuah keputusan dan aku yakin keputusanku untuk menawarkan pernikahan bisnis ini pasti akan berakhir baik.” ucap Georgia menuturkan semua ucapannya dengan menatap mata Georgino penuh keyakinan.
“Para pemegang saham pasti tidak segan menyuntikkan dana yang besar untuk membantu restrukturisasi perusahaan kita dan keuntungan yang kuyakin paling membuatmu merasa sangat bahagia ketika rumor yang membuat reputasi putramu memburuk selama setahun belakangan ini akan tertutupi dengan berita heboh tentang pernikahannya. Dia juga akan mendapatkan penuh sanjungan jika restrukturisasi pasca penggabungan perusahaan perusahaan kita berhasil. Semua orang akan mengakui sepak terjangnya di dunia bisnis...” ucap Georgia membuat pria paruh baya itu mengumpat dalam hati.
George yang merusak reputasinya sendiri dan keluarga karena mengundurkan diri dari jabatan CEO Gremlin Group dan lebih memilih mengurus perusahaan anak cabang di Bali, Indonesia, dengan alasan ingin menenangkan diri. George memang sangat lemah dalam urusan cinta hingga sekarang hubungannya dengan gadis bar di Bali sudah membawa rumor yang tidak sedap untuk keluarga dan perusahaan. Hubungan mereka sebagai ayah dan anak yang tidak harmonis semakin mencuat ke publik. Media terus memainkan desas desus bahwa George Timothy si pembangkang yang tak akan meneruskan kepemimpinan Gremlin Group di masa depan hanya karena terpikat dengan wanita bar yang kini tinggal bersamanya tanpa status pernikahan.
“Media memang selalu melemparkan berita murahan tak berdasar...” desis Georgino membuat Georgia menganggukkan kepalanya.
“Ya, semua orang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar dan mewujudkan asumsi mereka menjadi nyata, putramu juga menjawab wawancara mereka di Bali secara gamblang bahwa dia tidak akan kembali ke New York untuk melanjutkan memimpin Gremlin Group. Dia menciptakan fakta bahwa dirinya sebagai anak durhaka dan kau adalah orangtua yang malang...” ucap Georgia menatap pria paruh baya itu prihatin.
Georgino pun mengakhiri pertimbangannya dengan helaan napasnya kasar, “Harus kuakui kau sosok wanita muda yang cukup berani menawarkan kesepakatan pernikahan bisnis ini tanpa ayahmu, Georgia. Aku rasa tawaranmu memang cukup menjanjikan dan membuatku sangat terkesan.”
“Jadi, apakah kau menyetujuinya?” tanya Georgia tidak sabar dengan binar matanya yang tampak begitu bersemangat.
Georgino kembali tersenyum karenanya, “Tentu saja, jika aku ayahmu pasti aku tak akan membiarkan putriku yang hebat pulang dengan rasa kecewa. Namun aku harus menekankan padamu bahwa aku tidak bisa menyetujui jika kau hanya berniat untuk menyelamatkan perusahaan dan keluargamu dengan pernikahan bisnis ini. Bagiku pernikahan sesuatu yang sakral yang tidak pantas untuk di permainkan.”
Georgia sedikit tercekat, rasa leganya seketika sirna.
“Apakah kau berpikir aku akan mempermainkan pernikahan dengan menjadikan akta perkawinan hanya sebagai sebuah formalitas?” tanya Georgia pada pria paruh baya itu.
“Yeah, who knows? Banyak pernikahan bisnis yang berujung perceraian karena kedua belah pihak telah meraih keinginan masing-masing...” ucap Giorgino mengangkat kedua pundaknya.
“Aku tidak pernah bermain-main saat memutuskan pilihan untuk hidupku di masa depan. Pernikahan memang tak mudah bagiku, apalagi dengan pria yang belum ku kenal, tapi aku berpikir bahwa apapun yang ku pilih haruslah yang terbaik untukku dan keluarga. Terlebih di penghujung kepala dua, apalagi yang ku pikirkan selain menikah dengan pria yang berasal dari keluarga terhormat dan untuk saling menguntungkan dalam berbagai aspek kehidupan? Jadi, tidak ada yang namanya permainan konyol dalam kamus hidupku...” desis Georgia mengakhiri semua obrolannya dengan senyuman.
Kini Georgino tampak terpukau dengan jawabannya yang sangat realistis, “Wanita muda yang memiliki pikiran begitu idealis dan realistis. Sungguh sesuai dengan julukanmu Ice Princess Clayton yang tak tersentuh...” ucap pria paruh baya itu terdengar seperti sebuah ejekan kagum.
Georgia tersenyum dengan penuh percaya diri, “Aku selalu menjalani hidupku dengan realistis, Georgino. Logika harus membimbing hati jika kau ingin menjalani hidup dengan sebagaimana mestinya...”
Georgino mengangguk setuju, “George harus belajar banyak denganmu. Aku akan segera membawa putraku kembali ke New York dan mengundangmu beserta ayahmu untuk untuk membicarakan tentang pernikahan kau dengan putraku. Jesus Christ, aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan tawaran sebaik ini…”
Georgia tersenyum senang merasa permintaannya bersambut dengan baik, “Aku juga tidak menyangka kau akan menerima tawaranku secepat ini, Georgino…” ucapnya membuat rona bahagia seakan tak ingin lepas dari wajah pria paruh baya itu.
“Jika kau tidak keberatan, aku bisa menjamumu untuk makan siang bersama putri sulungku, Georgia.”
“Maaf, aku sudah memiliki jadwal kunjungan lain ke kantor cabang kami disini.” tolak Georgia mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan pria paruh baya itu, “Terima kasih banyak atas sambutan hangatmu akan kunjunganku, aku sangat amat tersanjung dan akan mengingatnya seumur hidup…” lanjutnya menutup pertemuan itu dengan debaran yang kian ingin membuat dadanya meledak seketika.
Georgia merasa perlu menghilang segera dari sini, memikirkan pernikahan, pertemuan keluarga, pesta pernikahan dan penggabungan kedua perusahaan nyaris membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya saat ini.
“Aku akan menghubungimu secepatnya untuk pertemuan makan malam keluarga kita, terima kasih juga atas kunjunganmu…” ucap Georgino melepas jabat tangan dengan gadis muda yang begitu berani menawarkan kesepakatan terbaik untuk perusahaan mereka.
Georgino sangat senang kini memiliki alasan untuk mengikat George kembali ke New York agar memperbaiki citra dirinya dengan pernikahan ini dan meninggalkan wanita bar yang dia kencani selama setahun belakangan ini.
Georgino menghela napasnya lelah setelah mengantarkan Georgia Clayton keluar dari ruangannya. Kini dia menatap layar ponselnya dengan penuh pertimbangan.
Nada sambung menjadi pembuka sambungan telepon international itu, Ini tepat pukul 12.13 siang di New York, itu berarti sekarang sedang tepat tengah malam di Bali.
“Selamat malam, Mr. Timothy. Maaf jika saya sedikit terlambat menjawab telepon…” jawab orang kepercayaannya yang dia tugaskan untuk memantau kehidupan George selama di Bali begitu panggilan telepon tersambung.
Georgino menghembuskan napasnya kasar, “Tugasmu disana telah selesai, kembalilah ke New York...” ucapnya pelan.
“A-apakah aku telah melakukan kesalahan, Mr. Timothy?” nada kalut terdengar dari suara berat diseberang sana hingga Georgino tersenyum tipis.
“Tidak, bawa kembali George bersamamu ke New York di penerbangan pertama pagi ini.” Georgino menegaskan maksudnya.
“Ba-bagaimana? Bukankah anda tahu berapa keras kepalanya putra anda? Dia pasti tak akan mau...”
“Jalankan tugasmu dengan baik dan aku akan membuatnya tak berkutik.” tegas Georgino dengan smirk yang menghiasi wajahnya.
“Baik, Mr. Timothy. Aku akan memastikan kami sampai di New York besok sore tergantung dengan penerbangan kami dari Bali...”
“Aku menunggu kepulangannya di rumah...” ucap Georgino memutuskan panggilan tersebut.
Ini bukan lagi waktunya untuk meminta persetujuan putranya, tapi saat ini George yang harus menuruti kehendaknya. Entah mau ataupun tidak, Georgino telah muak memakai cara lembut yang membuat George semakin keras kepala.
Helaan napas itu tercipta, dahi yang berkerut diwajah senja pria berusia 59 tahun itu, mata hijaunya yang kelam kini tampak begitu tajam menatap keluar jendela. Kota New York yang kelam di akhir musim gugur ini seakan menyertai keputusan yang ia ambil secara cepat.
Menerima tawaran untuk menggabungkan perusahaannya dengan Amethyst Group adalah langkah yang sangat tepat, untuk masa depan perusahaan dan mengembalikan citra George putranya yang sedang dipandang begitu buruk oleh publik.
Tring!
Bunyi lift membawa kedua sisi pintu besi itu terbuka, Georgia berjalan mendahului Jayden mengikuti sekretaris pribadi Georgino yang mengantarkan mereka keluar. Jayden merasa tak mengerti dengan raut wajah dingin dan penuh ketegangan yang tergambar di sana.
Georgia jelas menggambarkan semua perjuangannya telah berbuah sia-sia dan masalah besar sedang menanti dengan ayahnya di London, kini Jayden semakin ingin kembali menawarkan pada Georgia rencana untuk kabur dari semua masalah ini dan pergi dengannya. Dia berharap Georgia tak lagi menolaknya.
“Terima kasih atas kunjungan anda di Gremlin Group, Ms. Clayton...” basa-basi sekretaris itu jelas diabaikan oleh Georgia yang berjalan lurus kearah mobil mereka begitu pintu kaca itu terbuka.
Jayden tersenyum menyambut tangan sekretaris Georgino dengan senyuman yang hangat, “Aku juga berterima kasih padamu, jika kau tidak membalas surel secepat itu maka kunjungan ini tak akan pernah terjadi...”
“Tentu saja, semua surel yang aku jawab atas persetujuan Mr. Timothy, Jayden...” ucap Edward Collins membuat Jayden tersenyum seraya menepuk pundaknya.
“Tetap saja aku sangat berterima kasih untuk semua kebaikanmu hari ini, Edward. Aku akan mentraktirmu kopi lain kali...” ucap Jayden melengkapi cengkrama hangatnya dengan pria itu.
“Aku akan menunggu kunjunganmu di lain waktu...”
“Baiklah, aku harus pergi sekarang, Edward...” ucap Jayden menutup basa-basinya sebelum memasuki mobil SUV Marcedes Benz itu.
“Georgia, bagaimana hasilnya?” tanya Jayden dengan begitu hati-hati melihat raut ketegangan wanita itu.
Georgia pun membuang napasnya kasar, “Rasanya sangat sulit untuk bernapas, Jayden...” ucap Georgia kini menyandarkan kepalanya pada pundak Jayden yang kini menariknya dalam sebuah pelukan.
“Apapun itu, yang terpenting kau sudah tahu apa jawaban dari Giorgino. Sekarang tinggal kau yang membuat keputusan untuk dirimu sendiri. Jalani atau lepaskan semuanya...” ucap Jayden membuat Georgia mendongak menatapnya.
“Andai saja aku memiliki pilihan itu, Jayden...” ucap Georgia kini merasa begitu putus asa.
“Ya, jika Georgino menolak tawaranmu itu berarti Amethys Group akan di akuisisi pada kuartal pertama tahun depan dan kau bisa meninggalkan rumah kalau Gerald mengusirmu dari rumah...” ucap Jayden membuat Georgia mendengus pelan.
“Andai jikalau itu ada, Jayden...”
“Apa maksudmu, Georgia?” tanya Jayden kini merasa Georgia mulai melantur dalam keputusasaannya.
“Georgino menerima tawaranku, Jayden. Aku tak bisa lari lagi dan harus menjalani semua yang akan terjadi kedepannya. Aku harus menikah, melayani suamiku dengan baik dan memiliki anak...” ucap Georgia meremas kepalanya frustasi.
Jayden tercekat bersama denting pecahan hatinya di dalam sana, “Jadi, dia menyetujui pernikahan bisnis itu, Georgia? Kapan kau akan menikah?” tanyanya mendapat gelengan dari Georgia.
“Tidak tahu, Jayden. Bisa lebih cepat atau lambat yang jelas Georgino telah menerima tawaranku dan mengatakan akan segera membawa putranya kembali ke New York dan pertemuan keluarga akan dilakukan...” ucap Georgia menatap Jayden dengan penuh kebingungan.
“Haruskah kita kembali ke London sekarang untuk mengabarkan kepada Gerald?” tanya Georgia membuat Jayden meneguk ludahnya kasar.
“Tenang, Georgia. Kita akan pergi ke rumahmu di Southampton dan menghubunginya, lalu tanyakan pada ayahmu haruskah kau kembali atau menunggu kedatangannya...” ucap Jayden membuat tangan dingin Georgia kini menggenggam erat tangannya.
“Aku tak pernah segugup ini, Jayden...” ucap Georgia membuat Jayden hanya dapat mengusap kepalanya penuh kasih.
“Tenanglah, aku ada disini bersamamu...” ucap Jayden menyambut Georgia bersandar dalam pelukannya.
Georgia kini kalut memikirkan hari-hari kedepan yang akan dia hadapi tanpa tahu bahwa saat ini Jayden sedang merasakan patah hati yang teramat dalam atas berita yang ia sampaikan.
***
-Gremlin Group-
Sudah lebih dari empat jam berlalu sejak kunjungan Georgia Clayton yang sangat mengejutkan untuknya. CEO Amethyst Group itu menawarkan kesepakatan pernikahan bisnis untuk penggabungan perusahaan mereka dengan cukup berani dan kini penantiannya terasa melelahkan.
Menunggu kabar bahwa George sudah ditangani dan akan terbang ke New York dari Bali sekarang meski yakin bahwa George tak akan menolak permintaannya kali ini, tapi mungkin saja jalang kecil itu berhasil membuat George bertahan.
Suara dering ponselnya berhasil menginterupsi, sudut bibirnya tertarik saat melihat nama putra bungsunya itu terpampang di layar ponselnya.
“Ya, George...” ucapnya menjawab panggilan telepon tersebut dengan senyum kemenangan.
“Dengar, kau berhasil! Namun, aku memintamu dengan hormat untuk tidak menyuruh orang-orangmu datang kemari. Aku akan ke bandara sendiri!”
Suara bisik-bisik penuh penekanan putranya yang tampak seperti tikus yang terjatuh dalam beras, kini membuat Georgino nyaris meledakkan tawanya.
Berdeham pelan, “Baiklah, kopermu sudah siap untuk kau bawa. Pergilah ke bandara dan aku menunggumu di New York besok siang. Jangan berubah pikiran karena kau akan tahu apa yang akan terjadi dengan Stella Hwang...” desis Georgino mengulang ancaman yang ia kirimkan melalui surel putranya itu.
“Aku tak menyangka kau begitu licik menggunakan masa lalu gadis sebatang kara untuk menghancurkan hidupnya...” desis George jelas terdengar tercekat dalam amarahnya.
“Aku hanya memanfaatkan sejarah hidupnya, George Timothy. Ini hukuman karena kau terus membangkang terhadapku...” desis Georgino berusaha untuk tidak merasa bersalah.
“Tunggu kedatanganku dan sedikit saja kau menyentuhnya, maka aku akan kembali kesini dan kabur dengannya hingga kau tak dapat mencariku lagi!”
Georgino tersenyum tipis mendengarkan ancaman putranya itu, “Simpan saja ancamanmu, George. Safe flight...” ucap Georgino memutus panggilan tersebut secara sepihak.
Pip!
Dirinya sungguh sangat tak ingin berdebat dengan George dan kini fokusnya hanya pada satu hal. Merencanakan masa depan perusahaan yang akan dia ambil.
“Tolong berikan aku kontak pribadi Gerald Clayton, Edward.” ucap Giorgino melalui sambungan telepon kepada sekretaris pribadinya.
“Baik, Presdir...”
Meletakkan gagang telepon seraya menghembuskan napasnya kasar, dirinya harus menghubungi Gerald Clayton untuk menceritakan segalanya dan meminta pria itu untuk pertemuan makan malam bersama keluarga mereka hari jumat nanti. George akan sampai ke New York hari Rabu.
Georgino merasa harus dapat menahan George dengan pernikahan bisnis ini agar tak kembali ke jalang kecil yang menjadi benalu hidupnya itu. Kartu as untuk menghancurkan Stella telah dia dapatkan dari detektifnya. George tak akan dapat lari dan pergi lagi jika dia ingin melindungi wanita itu.