Southampton, New York.
-Clayton’s Villa-
Dua puluh menit penerbangan dengan helikopter dari New York ke Southampton, New York menambah daftar perjalanan yang cukup melelahkan bagi Georgia. Kini dirinya berada di Vila pribadi milik ayahnya yang terletak di salah satu komplek hunian mewah yang sangat tertutup dari dunia luar yaitu Meadow Lane.
“Beristirahatlah, pukul satu aku akan membangunkanmu untuk makan siang dan setelahnya kau bisa menelpon ayahmu...” ucap Jayden tetap membuat Georgia membisu.
“Georgia, apakah kau membutuhkan-”
“Aku ingin sendiri, Jayden...” ucap Georgia masih bersedekap menatap kearah pantai yang tenang itu.
Jayden hanya dapat mengangguk pasrah, “Panggil aku jika kau membutuhkan teman bicara...” ucapnya seraya meninggalkan kamar yang selalu Georgia tempati jika berkunjung kemari.
Georgia menghembuskan napasnya kasar setelah dia merasa kini benar-benar sendirian, dia tak tahu apa yang dia inginkan saat ini. Semuanya terasa sangat salah.
Semalaman dia tidak dapat tidur memikirkan tawarannya kepada Gremlin Group akan ditolak, tapi sekarang setelah Giorgino Timothy menerima tawarannya untuk pernikahan bisnis dadanya tiba-tiba merasa sesak. Tercekat hingga tak tahu bagaimana caranya untuk menemukan jalan keluar dari semua masalah yang membelengunya.
Georgia tahu, tempat ini adalah tempat terbaik untuk menenangkan diri. Semuanya tampak indah dan menenangkan. Rumah dengan konsep naturalistik ini dibangun dengan desain minimalis dengan dinding kaca yang langsung menyuguhkan pemandangan keindahan Pantai Hamptons.
Namun, saat memikirkan dia akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenali membuat dirinya seakan ingin meledak.
Menduduki tepian ranjang empuk itu, Georgia mengambil secangkir teh bunga krisan dari Tiongkok kesukaannya. Menyesap perlahan sembari membawa semua rasa sesak itu dalam tegukan.
“Semuanya akan berjalan lancar seperti kebohongan yang kau ucapkan, Georgia...” lirihnya memberi penghiburan diri.
Ya, dirinya bisa dan sanggup menjalani dan melewati ini. Meskipun Georgino menginginkan pernikahan sungguhan untuk putranya. Georgia tahu, semua yang akan dijalaninya memang nyata. Perihal perjanjian pranikah akan dia pikirkan nanti setelah bertemu dengan George Timothy.
Georgia menatap ponselnya yang memuat laman di sebuah situs pencarian yang menampilkan foto beserta data diri George Timothy. Pria tampan berambut pirang dengan mata hijaunya, sosok yang terkenal seorang umat gereja yang taat dan dermawan. Pria yang akan menjadi suaminya dari pernikahan bisnis ini.
Entah apa pendapat pria itu tentangnya nanti…
Menutup semua laman situs informasi itu, kini Georgia memutuskan untuk menelpon ayahnya. Dia ingin segera tahu tanggapan ayahnya dan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Nada sambung mulai terdengar, mengantarkannya untuk terhubung dengan sang ayah yang sedang duduk manis di dekat perapian rumah mewahnya di London. Membayangkan betapa ayahnya dapat bersantai saat dirinya kalut dalam pertentangan batinnya saat ini membuatnya kesal.
“Georgia, baru saja aku akan menelponmu…” ucap sang ayah begitu panggilan terhubung.
Georgia sontak tersenyum sinis, “Aku tahu kau pasti sudah tidak sabar untuk mendapatkan kabar dariku, Dad…”
“Tentu saja, Gia. Tadi kupikir membiarkanmu beristirahat terlebih dahulu, makanya aku tidak menelponmu.”
“Ya, seharusnya aku beristirahat. Namun, kupikir lebih baik kau tahu lebih cepat daripada tercekat rasa penasaranmu, bukan?” tanya Georgia sarkas.
Sungguh dirinya merasa sangat muak dengan basa-basi klise bersama ayahnya.
“Aku tak menyangka secepat itu Georgino Timothy menghubungiku dan mengatakan dia tertarik dengan penawaran yang kau berikan...”
“Apa? Dia sudah menghubungimu?” tanya Georgia takjub.
“Ya, dia juga mengundang kita untuk makan malam bersama keluarganya hari Jumat nanti…”
Georgia sontak tertegun dalam rasa terkejutnya, sampai suara sang ayah kembali menginterupsi.
“Georgia, apa kau masih disana?”
“Ya, aku disini. Maaf, aku hanya sedikit terkejut dia menghubungimu dan mendapat undangan makan malam secepat itu…” ucap Georgia menjelaskan perasaannya saat ini.
“Negosiasi yang kau berikan sangat membuatnya tertarik, Georgia. Selamat atas keberhasilanmu...”
Georgia menghembuskan napasnya kasar, “Jadi, aku hanya perlu berada di New York sampai acara makan malam itu, nanti?” tanya Georgia bersambut dengan tawa ayahnya diseberang sana.
“Ya, jika perlu sebelum rencana pernikahanmu berada di depan mata, kau tidak perlu kembali lagi kesini. Biarkan Jayden yang mengurus perusahaan untuk sementara waktu sampai penggabungan perusahaan kita terlaksana…”
Georgia menghembuskan napasnya kasar, “Biarkan Jayden disini menemaniku sampai pernikahan itu terlaksana…”
“Ayolah, Georgia. Kau tidak perlu terlalu dekat dengan Jayden lagi...”
“Aku butuh seorang teman disini.” tegas Grace.
“Baiklah, apapun yang dapat membuatmu merasa nyaman saat ini. Nikmati liburanmu di Southampton. Aku akan datang ke New York hari kamis dan menginap di Grand Tower Hotel milik Georgino Timothy.”
“Ya, aku akan beristirahat sekarang…” ucap Georgia ingin segera menyelesaikan panggilan tersebut.
“Beristirahatlah, aku akan bertemu dengan Dr. Fitz malam ini untuk mendapatkan injeksi multivitamin. Aku harus bugar untuk menyambut hari pernikahanmu…”
Georgia hanya dapat tersenyum hambar mendengarkan kebahagiaan ayahnya saat ini, tanpa ingin menanggapi semua itu dia memilih memutus panggilan sepihak.
“Apakah aku berhasil membuatnya bahagia, Mom?” tanya Georgia sembari menatap langit-langit dengan begitu jauh.
Rasa hatinya saat ini terasa begitu bercampur aduk dengan rasa sakit hati, tetapi disisi lain dirinya juga merasakan lega…
***
Bali, Indonesia.
-Gremlin Private Resort-
Deru angin beserta nyanyian burung di pagi hari menariknya perlahan menemukan kesadaran. Mata coklat kelam itu terkuak perlahan dan menoleh kearah ranjangnya yang kosong.
“George? Apa kau sedang mandi?” tanya Stella pada kekasihnya berbuah hening.
Stella merugas bangun berlari ke kamar mandi, tapi kosong. Dia pun berlari mencari pria yang menjadi kekasihnya selama setahun belakangan di balkon kamar mereka. Namun, tak dapat dia temukan pria keturunan Amerika-Inggris itu disana.
“George, jangan bermain-main denganku!” teriak Stella semakin kalut dengan pikirannya sendiri.
Saat dia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi George, namun secarik kertas berada dibawah ponselnya.
Maaf, aku tak tega membangunkanmu dan mengucapkan selamat tinggal padamu. Ya, perpisahan ini hanya sementara. Tetap tinggal disana dan tunggu aku kembali. Aku sangat mencintaimu, Stella – George Timothy.
Air mata sontak jatuh membasahi pipinya, Stella meremas surat tersebut seraya menyambar ponselnya untuk segera menelpon George.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan…
Pip!
“Tega sekali kau tidak membangunkanku, George…” lirih Stella membuka lemari pakaian milik pria itu yang nyaris kosong.
Tubuhnya pun merosot jatuh seiring dengan tangisnya yang pecah, George mengatakan padanya bahwa pria itu tak akan pernah meninggalkannya.
Namun, pada kenyataannya pria itu meninggalkannya sendiri seperti ini…
***
Dua jam penerbangan seperti awal pembuka yang membosankan untuk 22 jam penerbangan menuju New York. George yakin bahwa sekarang Stella telah bangun dari tidur dan menyadari kepergiannya.
Meninggalkan tatapannya yang jauh dari gumpalan awan putih diluar sana, “Maafkan aku, Stella…” gumam George kini memilih memejamkan matanya.
Dia hanya ingin tidur hingga terbangun di New York, menyelesaikan semua urusan yang ada disana dan kembali secepatnya ke Bali.
Pasti dirinya akan kembali dan melanjutkan kehidupannya yang menyenangkan bersama Stella.
***
Southampton, New York.
-Clayton’s Villa-
Petang yang dingin di musim gugur, membawa angin sejuk menerpa wajahnya. Georgia duduk di balkoni dalam senyap, menikmati isi kepalanya yang sedang bertengkar.
Georgia pun terkesiap saat selimut hangat melingkupi tubuhnya, “Jayden…”
“Berapa lama lagi aku harus menyaksikan kau hanya duduk diam, Georgia…” ucap Jayden membuat Georgia tersenyum sembari mengucap maaf.
“Masih terlalu sulit aku mencerna, semuanya terasa begitu cepat saat Georgino menghubungi ayahku untuk sebuah undangan makan malam keluarga…” ucap Georgia pelan.
“Melihatmu memilih tidur dan melewatkan makan siang membuatku mengerti apa yang sedang kau rasakan saat ini, Gia. Akan tetapi, bukankah semua ini adalah jawaban yang kau tunggu sejak kemarin?” tanya Jayden seraya menyodorkan segelas coklat sereal hangat untuknya.
Georgia tersenyum tipis menyambut gelas tersebut dan menggenggamnya, “Aku tahu bahwa aku merasa lega dengan penerimaan Georgino atas tawaranku dan respon bahagia Gerald atas apa yang telah kulakukan. Namun, disisi lain aku merasa sakit hati sekaligus khawatir dengan apa yang harus kuhadapi kedepannya…” ucapnya membuat Jayden hanya dapat mengangguk mengerti.
“Pernikahan adalah tanggung jawab yang besar, pilihan yang mungkin membuatmu terjebak dalam kehidupan orang lain seumur hidup. Namun, aku percaya segala yang dimulai pasti akan menemukan akhirnya. Kau pasti bisa dan mampu melewati semuanya…”
Georgia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, “Makan malam keluarga cukup membuatku bimbang, aku takut terjadi kesalahan disana. Kau tahu bukan, bagaimana Belinda sangat senang untuk menjatuhkanku dihadapan semua orang?”
Menggeleng samar, “Aku yakin ayahmu bahkan telah membungkamnya. Ini pertemuan penting untuk masa depan perusahaan, keluargamu pasti harus meninggalkan kesan yang baik untuk Georgino Timothy dan keluarganya.” ucap Jayden berusaha meyakinkan Georgia.
“Aku harap semuanya berjalan lancar dan mereka segera menentukan tanggal pernikahan tanpa menunggu persetujuan putranya. Aku benar-benar takut kehadiran George Timothy hanya untuk menentang rencana pernikahan bisnis ini, mengingat dia sudah memiliki kekasih di Bali…” ucap Georgia menyatakan kekhawatirannya.
Jayden menghembuskan napasnya kasar, “Sepertinya kekhawatiranmu kini sudah di depan mata, Georgia…”
Georgia sontak menatap Jayden tak mengerti, “Apa maksudmu, Jay?”
“Aku mendapat kabar dari Edward Collins bahwa George Timothy sedang dalam penerbangan kembali ke New York. Itu berarti dia akan sampai besok lusa dan menghadiri makan malam dirumahnya hari Jumat nanti…” jelas Jayden membuat Georgia terdiam dengan fakta yang ia dapati saat ini.
Fakta bahwa hari Jumat nanti dia akan bertemu dengan George Timothy untuk pertama kalinya. Pria yang akan menjalankan pernikahan bisnis dengannya.
“Georgia?” tanya Jayden menariknya dari lamunan.
“Ya, Jayden?” tanya Georgia menatap pria bermata biru itu.
“Kau terlihat begitu tertekan saat ini, percayalah semuanya akan baik-baik saja…” ucap Jayden membuat Georgia menghembuskan napasnya kasar.
“Menurutmu, apakah dia sudah tahu tentang pernikahan bisnis ini?” tanya Georgia membuat Jayden hanya dapat menggeleng samar.
“Rasanya sulit menebak apa yang Georgino lakukan sehingga putranya langsung kembali ke New York beberapa jam setelah pertemuannya denganmu…” ucap Jayden.
Menghembuskan napasnya kasar, “Aku harap bukan sesuatu yang mempersulit rencana pernikahan bisnis ini. Aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan jika rencana penggabungan perusahaan gagal terlaksana…” ucap Georgia mengungkapkan rasa cemasnya.
“Percayalah, Georgia. Kesepakatan pernikahan bisnis yang kau tawarkan pada Gremlin Group bukan hanya untuk menyelamatkan Amethys Group semata, mereka juga membutuhkan kekuatan untuk membangun perusahaan besar yang memiliki pengaruh besar di London. Pernikahan bisnis ini juga kesempatan yang tidak datang dua kali untuk mereka…” ucap Jayden membuat Georgia tersenyum sembari mengangguk.
“Aku berharap makan malam bersama nanti akan memberikan hasil yang baik…”
“Aku selalu mengamini setiap harapan yang terbaik untukmu, Georgia…” ucap Jayden membuat Georgia sedikit merasa lebih tenang dan percaya diri saat ini.
Hari Jumat kini menjadi hari yang sangat ia tunggu, dia berharap banyak akan kesepakatan pernikahan bisnis dan penggabungan perusahaan mereka menjadi sesuatu yang pasti. Ya, saat ini dia sangat membutuhkan sebuah kepastian.