BWV – 7. Back to New York…

2866 Words
New York, USA. -JFK Airport- Setelah private jet yang ia tumpangi mendarat dengan sempurna, George menatap ponselnya yang memuat foto dirinya dengan Stella. Begitu banyak kenangan indah hanya dengan satu foto itu, belum foto-foto mereka lainnya. Memilih menekan tombol power hingga layar ponsel itu menggelap, George memasukkannya kedalam tas. Keputusannya sudah bulat, dia hanya akan fokus mengurus segala tugas yang akan ayahnya beri dengan sangat cepat dan segera kembali ke Bali begitu semuanya selesai. Jika dirinya menelpon Stella dan mendengarkan tangis wanita itu, dia yakin akan mengikuti penerbangan selanjutnya untuk kembali ke Bali. “Kau selalu membuatku berada pada pilihan yang sulit, Dad…” desis George seraya meninggalkan kursi penumpang yang nyaman itu. Berjalan menuju pintu pesawat yang telah terbuka, mata hijaunya menyipit begitu menemukan cahaya matahari sore hari yang begitu menyilaukan. George pun memilih mengenakan kacamata hitamnya. Aroma musim gugur kota New York yang khas berbaur dengan rasa rindu akan rumah yang kental, dirinya tahu bahwa seindah apapun Bali tetap kembali ke rumah adalah yang terbaik. Namun, ada Stella disana yang tak pernah ingin meninggalkan pulau tropis itu. Wanita cantik yang sangat ia sayangi. “Hei, bagaimana kabarmu, George?” tanya seseorang menyambutnya dalam pelukan begitu dia meninggalkan tangga pesawat itu. “Jangan bertanya jika kau sudah tahu pasti semuanya, Ed…” desis George membuat sahabat sekaligus mantan sekretarisnya itu tersenyum bak orang bodoh. “Hanya basa-basi klise, George. Tidak perlu lampiaskan rasa sakit hatimu padaku…” “Apakah dia juga ikut menjemputku?” tanya George merasa malas untuk membayar rasa jetlag-nya dengan berdebat bersama sang ayah. Menggeleng samar, “Tadinya dia akan menjemputmu, tapi makan siang bersama seorang klien menyelamatkanmu…” ucap Edward membuat George tersenyum lega. “Baguslah, aku masih membutuhkan tidur, ketenangan dan kopi…” ucapnya memasuki mobil Bugatti yang Edward bukakan untuknya. “Aku rasa kau sudah cukup tidur selama 22 jam penerbangan, George…” “Dengan beberapa kali trubulensi, kau pikir aku dapat tertidur nyenyak dalam penerbangan?” tanya George menatap kesal kearah Edward yang sudah duduk manis dibalik kemudi. “Oh, George. Kau benar-benar sudah melewati banyak hal yang berat beberapa hari ini…” ucap Edward dengan nada prihatin. Menghembuskan napasnya kasar, “Hal yang berat, menyakitkan hati dan pastinya sangat menyebalkan…” desis George memperjelas ucapan Edward. “Apakah hubunganmu dengannya berakhir?” tanya Edward sedikit berhati-hati dengan topik sensitif itu. “Dude, aku bukan bocah cengeng yang akan menyerah karena ancaman konyol ayahku…” desis George kesal. “Lantas, mengapa kau memilih untuk kembali? Bukankah kau bilang kekasihmu tidak mau kau kembali ke New York jika tetap ingin bersamanya?” tanya Edward mengulang alasan terbesar George selama ini untuk tidak kembali ke New York. “Aku tidak kembali ke New York, Ed. Hanya menyelesaikan tugas yang akan ayahku beri, anggap saja ini sebuah perjalanan bisnis…” ucap George membuat dahi Edward sontak berkerut tak mengerti. “Tapi, tugasmu bukanlah hal yang biasa, George...” ucap Edward berusaha mengingatkan temannya itu. George mengangkat kedua pundaknya, “Mengakuisisi sebuah perusahaan besar di London memang bukan hal yang mudah, Ed.” ucapan George membuat Edward tertegun. Kini dia tahu bahwa George menurut begitu saja untuk kembali ke New York karena ingin menyelesaikan apa yang ayahnya pinta tanpa mengetahui perubahan rencana akuisisi menjadi sebuah merger dengan ikatan pernikahan bisnis. “Jadi, apa yang akan kau lakukan? Apakah kekasihmu akan mengerti dengan kepergianmu selama berbulan-bulan lamanya?” tanya Edward memilih untuk tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Berdecak kesal, “Aku tahu akan membutuhkan banyak waktu untuk merestrukturisasi perusahaan yang nyaris bangkrut itu dan aku akan membuat deadline untuk diriku sendiri. Tiga bulan, aku akan menyelesaikannya dalam tiga bulan dan menyerahkan semuanya pada ayahku. Selesai, aku akan kembali ke Bali selamanya…” ucap George tampak begitu percaya diri dengan masalah yang dia hadapi saat ini. “Apakah kau ingin singgah untuk membeli kopi?” tanya Edward mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “Tidak, nanti di kedai kopi biasa saja…” ucap George membuat Edward sontak tersenyum. “Kau terlihat seperti anak yang rindu kampung halaman setelah tersesat…” desis Edward membuat George berdecak kesal. “Tutup mulutmu dan menyetirlah dengan baik, Edward…” desis George membuat temannya itu sontak tertawa. *** -J&J The Coffee Shop- Mobil yang Edward kendarai membawa mereka meninggalkan kawasan Bandara internasional JFK yang berada di kawasan Jamaica, Queens. Dengan menempuh jarak sekitar 28 km menuju pusat kota Manhattan, Edward membawa George menemukan kedai kopi langganannya di Midtown, Manhattan. Tak berlangsung obrolan apapun diantara mereka karena George memilih tertidur ditengah cuaca dingin musim gugur kota New York yang lumayan menusuk tulang. “Bangunlah, pria pantai. Kita sudah sampai di kedai kopi yang kau inginkan, kurasa kau juga butuh sepotong roti untuk mengganjal perut.” ucap Edward membuat George terbangun dan melakukan peregangan ringan. “Ah rasanya seluruh sendi tubuhku membeku…” desis George merapatkan jaketnya dengan memasukkan kedua tangannya di saku seraya menyusul Edward memasuki kedai kopi itu. “Ini baru saja akhir musim gugur yang lembab, bagaimana kau akan melewati musim dingin yang ekstrem?” tanya Edward membuat George berdecak kesal. “Negara beriklim tropis memang yang terbaik, kau membutuhkan pendingin ruangan dan kipas angin meskipun hujan seharian suntuk…” ucap George membuat Edward berdecak malas. “Lupakan pulau tropismu itu untuk sementara, George. Mengingat fakta bahwa cuaca di London akan jauh lebih dingin dan sanggup membuatmu beku…” ucap Edward membuat George sontak memikirkan sesuatu. “Jadi, menurutmu benar aku akan menetap di London untuk sementara waktu setelah mengakuisisi Amethyst Group?” tanyanya membuat Edward mengangguk kaku. “Ya, tentu saja kau akan mengurusnya sampai berjalan stabil…” ucap Edward sedikit takut kelepasan bicara mengenai pernikahan bisnis itu. George sontak tersenyum, “Sepertinya, aku bisa mendatangkan support system terbaik disana…” ucapnya. “Maksudmu?” tanya Edward merespon ucapan George. “Aku akan mendatangkan Stella ke London…” ucap George menyatakan ide terbaiknya. “Apa kau sudah gila?” tanya Edward sedikit terkejut dengan ucapan George. Berdecak pelan, “Seseorang yang sanggup berpisah dengan kekasihnya selama berbulan-bulan, itu yang dinamakan gila, Ed…” “Tapi kau tahu sendiri akan banyak mata yang mengawasimu nantinya, George…” ucap Edward berusaha mengingatkan akan fakta itu. Menghembuskan napasnya kasar, “Akupun tak mengerti kenapa dia harus seperti itu menganggu kehidupanku sampai mendapatkan bukti masa lalu bahwa Stella pernah menjadi pengedar saat bekerja di sebuah tempat hiburan malam…” desis George kesal. “Ayahmu pasti sangat peduli dengan reputasi dan nama baik keluarganya, George.” “Ini hidupku, Ed. Bukankah sangat berlebihan jika ayahku mengatur jalan hidup putranya yang sudah berusia 34 tahun?” tanya George membuat Edward menghela napasnya pelan. “Kau putra bungsunya dan semua orang mengenalmu, sebagai penerus Gremlin Group. Salah satu perusahaan penyedia alat berat yang memiliki nama besar dan sangat berpengaruh di New York. Bukan hanya ayahmu yang ingin mengetahui seluk-beluk hidupmu diluar sana, tapi media juga. Paparazzi akan terus membongkar bangkai yang kau sembunyikan sampai dapat sebagai bahan berita spektakuler mereka.” ucap Edward menyuguhkan semua fakta itu pada George. “Aku benci mengingat semua fakta itu, Ed…” desis George membuntuti Edward memasuki kedai kopi tersebut. “Fakta yang tidak bisa kau sangkali dan selamanya akan seperti itu. Hubunganmu dengan wanita yang memiliki background seperti Stella tidak akan pernah berhasil di keluargamu…” “Stella tidak seberuntung kita yang hidup dan dibesarkan oleh keluarga baik-baik dan serba berkecukupan. Dia kerja di bar dan terpaksa menjadi pengedar untuk membayar hutang saudari ibunya yang kini entah berada dimana.” ucap George berusaha membela kekasihnya. “Maaf harus kukatakan ini padamu, George. Lepaskan dia sebelum terlalu banyak harapan yang bisa menyakitinya…” ucap Edward kini memilih untuk memesan kopi ke barista. “Berikan Americano dan Cappuccino...” Edward kini menatap kearah George yang kini tampak begitu diam, “Apakah kau ingin memesan sesuatu selain kopi?” tanyanya memastikan. “Berikan aku dua Turkey and Cheese Croissant” ucap George bersambut dengan ucapan seorang wanita dengan deep voice-nya yang serak dan seksi. “Apakah menurutmu itu menu yang paling enak disini?” tanya wanita itu membuat George sontak menoleh kearahnya. Mata abu-abu yang indah dengan rambut dirty blonde-nya yang tersanggul berantakan tak membuat kecantikannya sirna. George menemukan keterkejutan dimata indah wanita cantik itu. “Ah maaf, aku pikir kau temanku…” ucap Georgia berusaha untuk gugup saat menyadari siapa pria yang dia ajak bicara barusan. “Ya, tidak masalah. Oh ya, jika kau menyukai rasa gurih ataupun manis, Croissant disini tetap yang terbaik…” ucap George dengan senyuman manisnya. “George, ini kopimu dan 7 menit untuk Croissant mu…” ucap Edward seraya menyesap Cappuccino hangatnya. “Ah, thanks Ed…” Sementara Georgia hanya dapat mengangguk tanpa kata dan sedikit kebingungan saat pria yang dia kenal sebagai sekretaris Georgino kemarin seakan tak menyadari keberadaannya. Dia benar-benar menemukan pria bermata hijau yang terus dia cari saat berselancar di internet sejak kemarin secara nyata. “Gia, ini kopimu. Apa kau sudah memutuskan ingin memesan apa selain kopi?” tanya Jayden membuat Georgia menggeleng samar seraya melangkah mundur dan menarik Jayden untuk pergi dari sana. Jayden segera menurutinya ketika menyadari ada Edward Collins disana dan George Timothy. Sungguh sebuah kebetulan yang tidak disangkanya. Georgia menghela napasnya begitu memasuki mobil dan memperhatikan Jayden yang berjalan cepat memasuki pintu kemudi. “Ini bukan sebuah kebetulan yang kau dan Edward rencanakan, bukan?” tanya Georgia jelas menuduh Jayden. Mengangkat pundaknya, “Aku tak menyangka akan bertemu mereka disini, Gia. Tidak ada yang kurencanakan jika tujuanku hari ini mengajakmu berbelanja dan berkunjung ke Time Square untuk bersenang-senang.” ucap Jayden menegaskan. Georgia menghembuskan napasnya kasar, “Semoga dia tak mengingat pertemuan ini saat pertemuan makan malam nanti…” lirihnya masih merasa begitu terkejut. “Bukan sebuah masalah besar jika dia mengingat pertemuan tak disengaja ini, Gia…” ucap Jayden menanggapi perkataan Georgia yang terkesan berlebihan. “Bagaimana jika dia berpikir bahwa aku sengaja menguntitnya dan membuat pertemuan itu seolah-olah tidak di sengaja?” tanya Georgia yang kini kalut dalam pikirannya sendiri. “Semua itu hanya pikiran dan kekhawatiranmu yang berlebihan. Makan malam dirumahnya besok lusa akan berjalan baik, percayalah padaku…” bujuk Jayden menarik Georgia bersandar padanya. Menghembuskan napasnya kasar, “Bisakah kita kembali ke Vila? Aku rasa butuh istirahat sekarang…” ucap Georgia. Mengangguk setuju, “Ya, kau harus menikmati istirahatmu, besok sore kita akan menyusul ayahmu untuk menginap di Grand Tower Hotel. Fitting gaun pukul 7 dan setelahnya beristirahat…” ucap Jayden membuat Georgia mengangguk samar. “Aku sebenarnya ingin memakai gaun yang kupunya agar tidak terlalu formal, tapi Belinda selalu saja berlebihan…” keluh Georgia kesal. “Sudahlah, Belinda memang sangat menyukai kontrol dan dia hanya akan merasa senang jika mampu mengontrol semua orang untuk mengikuti kemauannya…” ucap Jayden. Georgia hanya memilih diam, menatap kearah jalan raya yang cukup sibuk dengan deretan mobil dan para pejalan kaki di trotoar. Langit yang tak lagi cerah, matahari seperti menyerah pada awan mendung akhir musim gugur. Semuanya tampak syahdu, seperti sedang mengadu sendu bersamanya. Lalu, dalam semua lamunannya, pria berambut pirang dengan mata hijaunya itu berhasil kembali memenuhi isi kepalanya. Pria yang menanggapi ucapan orang asing sepertinya, tanpa tahu kemarin wanita asing ini yang menawarkan pernikahan bisnis kepada ayahnya. Takdir Tuhan selalu siap memberikan kejutan setiap waktu dan Georgia berharap tidak banyak kebetulan yang merugikan dirinya sendiri. *** -Timothy’s House- “Aku tak menyangka kau mengabaikan permintaan ayahmu untuk menemuinya di kantor dan langsung memilih pulang kerumah…” ucap Edward begitu pagar besar kediaman Timothy itu terbuka untuk kedatangan mereka. Menyesap kopinya tanpa selera, “Lebih baik aku bertemu dengannya dirumah. Berbicara seperti ayah dan anak, bukan sebagai pimpinan dan bawahan.” ucap George menatap sekeliling halaman rumah yang dia tinggalkan hampir 2 tahun lamanya seiring dengan mobil yang membawanya menuju ke pintu utama. “Bilang saja, dirumah kau sedikit memiliki kekuatan karena perdebatan tentang pekerjaan dilarang keras oleh ibumu…” desis Edward membuat sudut bibir George tertarik sempurna. “Putra bungsu dan satu-satunya memang kesayangan ibu…” desis George dengan senyuman penuh kemenangan. “Ucapanmu terdengar seperti Baby Timothy yang merindukan ketiak ibu beserta ASI nya…” kelakar Edward membuat wajah George memasam. “Diamlah, aku sedang berdoa agar tak ada Gween dirumah...” ucap George membicarakan saudara perempuannya. Edward sontak mengulum senyumnya, “Sepertinya kehidupanku akan jauh lebih berwarna dengan kau kembali…” ucapnya mendapatkan tinjuan dari George pada lengannya. “Kau memang teman yang tidak baik…” desis George. Berdecak kesal, “Kau pikir, kau adalah teman yang baik? Kau melepas tanggungjawabmu hingga aku harus menangani semua pekerjaan yang menumpuk selama beberapa bulan sampai ayahmu siap kembali memimpin perusahaan.” ucap Edward tak mampu menyembunyikan rasa kesalnya. “Kau yang paling tahu bagaimana aku, Ed...” lirih George pelan. “Padahal ku pikir kau sudah ikhlas menerima pernikahan Angela dan Aldrich, sampai aku benar-benar terkejut bahwa kau pergi ke Bali dihari pernikahan mereka…” “Sudahlah, aku tak ingin membahas cerita lama…” George menepis ucapan Edward yang seakan menggali luka lamanya. Saat dimana dirinya berusaha bangkit dari masa lalu dan mengikhlaskan, tapi semuanya berakhir seperti omong kosong yang tak membuahkan hasil. Dia benci sebuah penolakan, harga dirinya merasa hancur jika harus kehilangan sesuatu yang dia inginkan, seperti menjeda sejenak kebersamaannya dengan Stella saat ini. Semua pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya sirna saat senyuman itu menyambut kedatangannya, George sudah merindukan wanita paruh baya itu sejak lama. Namun, ego yang terluka mendorongnya untuk pergi saat itu. “George, aku sangat senang kau kembali…” “Mom…” ucap George menarik tubuh ramping sang ibu dalam pelukannya, “Aku sangat merindukanmu…” lanjutnya berbisik dalam. Marcella tersenyum mengusap punggung putra bungsunya itu penuh kasih, “Setiap waktu aku harus menekan luapan rindu itu, nak…” lirinya dengan suara tercekat sedih. George membiarkan pelukan dengan rasa rindu yang meluap itu terjalin hingga sesak dadanya tak lagi terasa. Lalu, melepasnya perlahan. “Rasanya kau kehilangan begitu banyak berat badan…” ucap George menatap mata hazel ibunya yang indah. Wanita paruh baya itu mengusap pipinya, “Kau yang tampak lebih kurus dari terakhir aku melihatmu, sayang. Apakah kau tidur larut, banyak merokok dan alkohol?” tanya sang ibu membuat Edward tertawa. “Kurasa semuanya, terlebih dia bekerja keras selama disana…”“Jangan sok tahu, Ed!” teriak George membuat sang ibu berdecak kesal. “Tidak ada yang sok tahu, sayang. Kami mengenalmu...” ucap sang ibu bersambut dengan tepukan keras pada pundaknya. “Hei, Don Juan!” “Gween!” seru George kini beralih memeluk saudara perempuannya itu. “Aku pikir kau sudah lupa jalan pulang!” sindir Gween membuat George memutar kedua matanya malas. “Kau pasti tahu apa alasanku kembali saat ini, Gween…” Berdecak kesal, “Jika tujuanmu kembali hanya untuk pekerjaan, jangan kerumah. Kau jelas terpaksa bertemu dengan kami hanya untuk berlindung dari Daddy…” desis Gween sinis. “Gween sudahlah, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak ada pertengkaran?” tanya sang ibu membuat Gween bungkam. “Ayo masuk, kita bisa mengobrol sambil minum kopi. Sudah terlalu banyak kudapan manis kesukaanmu yang kubuat…” ucap ibunya berjalan masuk terlebih dahulu. “Kau seharusnya jangan pulang dengan hati bimbang memikirkan kekasihmu di Pulau Dewata…” “Oh Gween, berhentilah menyindir…” desis George disela langkahnya memasuki rumah bersama kakaknya itu. “Lebih baik aku menyindir daripada memukulmu sekarang, kau pikir sudah berapa banyak Mom menangis karena merindukanmu?” tanya Gween membuat George menghembuskan napasnya kasar. “Mengapa saat aku bersama perempuan yang kucintai, semuanya terasa salah dimata kalian?”tanya George membuat Gween menghembuskan napasnya kasar. “Wanita yang mencintaimu, tak akan membuatmu berjarak begitu lama dengan keluargamu…” “Faktanya bukan dia yang menahanku pulang, tapi aku yang masih ingin berada disana…” ucap George kini memilih duduk diruangan santai itu. “Sekarang tunjukan kau pulang untuk membantu perusahaan dan lupakan sejenak kekasihmu itu…” ucap Gween membuat George menghela napasnya lelah. “Aku bahkan sudah memutuskan untuk fokus membantu rencana akuisisi yang Dad inginkan dan memilih untuk tidak menghubunginya selama disini. Aku mempertaruhkan hubungan kami demi kembali kesini…” ucap George membuat Gween tersenyum sinis. “Jika Daddy tak melemparkan ancaman keras padamu, aku yakin kau tak akan pernah kembali…” desis Gween memukul telah George. George memilih untuk diam, lebih baik dia berhenti untuk membela diri. Karena pada kenyataannya, dirinya memang bersalah mengutamakan kepentingan diri sendiri selama lebih dari setahun belakangan daripada keluarganya sendiri. Kembali kerumah, tempat yang memang sangat dia rindukan juga menjadi tempat yang akan terus mendakwa kesalahannya selama ini. Anggap saja dia sedang menuai apa yang telah dia perbuat selama ini. “By the way, besok sore setelah kunjunganmu ke kantor temani aku ke butik langganan untuk fitting gaun sekaligus mencari jas dan kemeja untukmu…” George sontak menatap Gween tak mengerti, “Gaun dan jas baru untuk pertemuan apa?” Mengangkat kedua pundaknya, “Dad mengadakan pertemuan makan malam dengan seorang pemilik perusahaan besar dari London bersama keluarganya. Makanya dia berharap kita semua datang…” ucap Gween membuat George mengangguk samar. “Aku pikir Daddy mengadakan pesta amal untuk gereja…” ucapnya membuat Gween mengangguk samar. “Rencananya akan diadakan pada penghujung November nanti…” “Oh begitu…” ucap George tanpa selera. Pulang kerumah dan menghadiri berbagai macam pertemuan formal seperti sudah agenda wajib yang telah lama tak dia lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD