-Grand Tower Hotel-
Sudah lebih dari sepuluh menit Georgia duduk di lobi menunggu kedatangan ayahnya. Mungkin ini suatu hal yang berlebihan, tapi dirinya memang tak dapat menolak permintaan sang ayah untuk menyambut kedatangannya hari ini.
“Georgia!” teriakan sang ayah menyentak Georgia dari lamunannya.
“Selamat datang, Dad…” ucap Georgia menyambut ayahnya kedalam pelukan hangat.
“Aku sangat senang bisa menemukanmu, nak…” ucap ayahnya jelas tergambar dari nada suaranya.
“Hai, Belinda…” sapa Georgia beralih memeluk ibu tirinya itu.
“Terima kasih atas sambutanmu, Georgia…” ucap Belinda mengusap punggungnya dengan begitu lembut.
Permainan keluarga harmonis ini memang selalu mereka lakoni didepan umum. Padahal semuanya jelas terasa palsu dan membuatnya nyaris ingin muntah.
“Penerbangan kalian pasti sangat melelahkan. Jayden sudah meminta pelayan hotel untuk menyiapkan air panas untuk kalian mandi…” ucap Georgia membuat Belinda tersenyum senang.
“Aku melewatkan makan siang di pesawat karena merasa mual. Sudah lama tidak dalam penerbangan lebih dari sepuluh jam…”
“Tenang saja, Jayden juga telah memesan makanan untuk kita di suite room…”
“Ah, kau memang selalu dapat diandalkan, Jayden…” puji Belinda membuat Georgia tersenyum hambar.
“Aku akan langsung beristirahat, punggungku terasa begitu lelah karena penerbangan…” ucap Gerald membuat Belinda kini memimpin tangannya menuju lift.
“Kau bisa beristirahat, pukul 7 malam kami akan pergi ke Royal Rose Boutique untuk fitting gaun yang akan dikenakan malam bersama keluarga Timothy besok. Aku akan membangunkanmu untuk makan malam bersama nanti…” ucap Belinda membuat Gerald mengangguk samar.
“Persiapkan putri kita secantik mungkin, dia harus menjadi pusat perhatian di acara makan malam besok…” ucap Gerald kini merangkul Georgia bersamanya.
“Kau tahu aku selalu memiliki selera yang bagus bukan? Georgia pasti akan menjadi calon pengantin wanita yang sangat sempurna…” ucapnya membuat Georgia berdecak kesal.
“Besok malam bukan malam pernikahanku, Belinda. Hanya acara temu keluarga…” ucap Georgia menegaskan.
“Keluarga pria yang akan menjadi suamimu, lebih tepatnya…” balas Belinda tak mau kalah.
“Akan tetapi aku belum tahu apakah putra Georgino ingin menerima pernikahan bisnis ini” jelas Georgia merasa perlu menjaga ekspektasi orangtuanya.
Gerald berdecak pelan, “Aku yakin, Georgino Timothy merasa tawaran pernikahan bisnis dan penggabungan perusahaan ini akan sangat menguntungkan baginya. Lihatlah, putranya langsung kembali ke New York untuk pertemuan makan malam keluarga. Jadi, jangan cemaskan penolakan terhadapmu, Georgia…” ucapnya meyakinkan Georgia.
Membuang napasnya kasar, “Aku hanya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi, Dad...” tegas Georgia membuat sang ayah dan istrinya berhenti membahas semua itu.
***
-Royal Rose Boutique-
“George, kau lihat kemeja biru ini sangat cocok untukmu…” ucap Gween membuat George menatap kakaknya kesal.
“Aku masih memiliki banyak kemeja, sudah kubilang aku hanya ingin setelan blazer musim gugur tadi saja…” ucap George kini menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu.
Berdecak kesal, “Kau ini, aku sudah lama tak mengajakmu ke butik. Setidaknya biarkan aku melihatmu mengenakan setelah blazer itu dengan kemeja baru ini…” ucap Gween membuat decakan lidah George terdengar.
“Sudahlah, sebenarnya akan makan malam dengan pemilik perusahaan besar di London yang mana? Amethyst Group atau Dwaney Company?” tanya George membuat Gween mengangkat pundaknya.
“Aku tidak tahu, mengapa kau tidak bertanya pada Daddy tadi?” Gween balik bertanya.
“Apakah kau hanya belajar menjawab pertanyaan dengan pertanyaan selama ini?” tanya George kesal.
“Aku memang tidak tahu, George. Dad hanya mengatakan bahwa dia akan mengundang keluarga rekanan bisnisnya dari London…” ucap Gween membuat George kini terdiam dalam pikirannya.
“Aku merasa sedikit aneh, Dad memintaku kembali untuk rencana mengakuisisi Amethyst Group kuartal pertama tahun depan. Namun, tadi ku tanyakan perihal kunjungan ke perusahaan itu untuk rapat dewan, dia mengatakan akan diputuskan hari Senin nanti…” ucap George menyatakan kejanggalan yang ia rasakan.
“Kalau begitu, apanya yang aneh? Dia mengatakan hari senin, itu berarti kau akan mendapatkannya hari senin...” ucap Gween seraya berputar di depan cermin dengan Maxi dress musim gugur yang memiliki motif bunga biru laut dengan punggungnya yang terbuka itu.
“Apakah kau tidak mengetahui sesuatu, Gween?” tanya George berusaha menggali informasi dari sang kakak.
“Tidak ada, George. Tapi aku sudah menemukan gaun yang cocok untukku, kita harus ke kasir dan pulang. Mommy pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Mengenai keingintahuanmu, pinta Daddy untuk memberitahukannya nanti…” ucap Gween membuat George mengangguk samar.
Tidak tahu mengapa, dia merasa semua orang sedang menghindari pertanyaannya sejak tadi. Ayahnya, Edward Dan kini kakaknya. Apakah ada rencana yang tidak dia ketahui?
***
Keesokan harinya…
-Grand Tower Hotel-
Hari – hari terlewati begitu saja bagaikan mimpi hingga kini bertemu dengan hari Jumat. Georgia merasa telah siap untuk pertemuan makan malam nanti, setelah semua rasa penat menyambut kedatangan ayahnya kemarin sore dan dilanjutkan dengan makan malam yang menyenangkan.
Menyenangkan sekaligus memuakkan sebenarnya, mendengarkan ayahnya berulang kali mewanti-wanti agar dirinya bersikap mengangumkan untuk menarik perhatian keluarga Timothy dan tentunya perhatian pria yang akan menikah dengannya. George Timothy.
“Kau sudah bangun?” tanya Jayden membuat Georgia terkesiap dari lamunannya.
“Ya, baru saja bangun…” jelas Georgia dengan suara serak khas bangun tidur.
“Minumlah, untuk penghilang pengar…” ucap Jayden mengulurkan tablet aspirin dan air mineral padanya.
Mengerutkan dahinya, “Apakah aku begitu mabuk semalam?” tanya Georgia yang kini menyadari rasa pusing yang membuatnya sedikit linglung dan tak enak badan.
“Kau hanya diam dan terus minum hingga habis 3¼ botol wine…” jawab Jayden membuat Georgia mengusap wajahnya kasar.
“Apakah aku tidak mengamuk dan membuat kekacauan?” tanya Georgia memastikan.
Jayden menggelengkan kepalanya, “Setelah pertemuan makan malam bersama, kau kembali ke kamar. Aku pikir kau tertidur, ternyata saat aku datang untuk mengantarkan lilin aromatherapy kau sedang duduk diam di balkon dalam keadaan mabuk…” jelasnya.
Georgia menghembuskan napasnya kasar setelah meneguk tablet aspirin bersama air putih itu, “Aku pikir aku bisa melewati semua ini dengan santai. Namun, seiring dengan berjalannya waktu semua tekanan itu terasa semakin nyata. Apakah menurutmu George Timothy sudah mengetahui pernikahan bisnis ini?” tanyanya membuat Jayden menggeleng samar.
“Aku tidak tahu pasti, tapi kemarin saat bertemu Edward di Coffee Shop seberang butik, dia mengatakan baru saja Gween dan George pergi setelah memilih gaun dan jas mereka. Itu berarti dia mengetahui pertemuan makan malam dirumahnya malam nanti…”
“Untung saja, kami tak bertemu lagi…” ucap Georgia dengan tatapan jauh kedepan.
“Kau takut dia akan berpikir kau mengikutinya kemanapun?” tanya Jayden membuat Georgia menggeleng samar.
“Kemarin aku pergi bersama Belinda, kau tahu bagaimana dia begitu suka sok akrab dengan orang lain. Bagaimana jika tanpa sengaja dia mengungkapkan pernikahan bisnis itu kepada George yang belum tentu mengetahuinya?” tanya Georgia mengungkapkan kecemasannya.
“Sudahlah, yang terpenting sekarang semua itu tak pernah terjadi...”
“Ya, kuharap George sudah mengetahui perihal pernikahan bisnis ini agar tak ada masalah saat makan malam nanti…” ucap Georgia dengan segenap harapannya.
“Semoga makan malam nanti berjalan lancar, sebentar lagi kita akan makan siang bersama dan kau bisa istirahat setelahnya. Pukul empat sore nanti, kau akan mengikuti serangkaian body care, massage dan spa sebelum make-up artist dan stylist mempersiapkan penampilanmu…” ucap Jayden memberitahukan kegiatan Georgia seharian ini sebelum menghadiri pertemuan makan malam nanti.
“Aku benar-benar merasa semuanya sangat berlebihan untuk sebuah pertemuan makan malam keluarga…” desis Georgia mendapatkan usapan tangan Jayden di kepalanya.
“Biarkan Belinda merasa senang dan nikmati perlakuan istimewa yang kau dapatkan hari ini. Berhenti merasa semuanya berlebihan dan kontrol pikiranmu agar tidak overthinking. Kau harus yakin semuanya berjalan dengan baik…” ucap Jayden membuat Georgia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih selalu berusaha membuatku tenang, Jay…” ucap Georgia tulus.
Dirinya memang harus tenang agar tak membuat kesalahan nantinya dan semuanya akan berlalu begitu saja dengan baik seperti saat dia menemui Georgino Timothy untuk pertama kalinya.
Georgia hanya berharap tidak ada perkara yang dapat membuatnya malu nanti…
***
-Timothy’s House-
Kediaman Timothy begitu sibuk sejak pagi tadi, dimulai dari tukang kebun yang sibuk menata taman dan membersihkan pekarangan. Para pelayan yang sibuk berkemas, mengganti karpet rumah dan memperbaharui bagian cat yang rusak meskipun hanya setitik.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan dapur sejak siang tadi, para koki rumah bekerja keras mempersiapkan hidangan pembuka hingga penutup untuk acara makan malam nanti. Sebagai Nyonya besar dirumah ini, Marcella terus menerus mengoreksi rasa hingga mengatur contoh-contoh plating hidangan yang dia inginkan kepada para pelayan dapur.
“Meja makan sudah tampak begitu sempurna…” komentar Gween begitu melihat meja yang telah terpasang taplak merah marun, selaras dengan kursi dengan cat emas dan tempat lilin dengan warna senada.
Persiapan untuk menjamu tamu pada makan malam nanti sudah benar-benar nyaris selesai meskipun baru pukul 5 sore.
“Aku cukup puas dengan pekerjaan para pelayan, mereka sangat mengerti seleraku meski sudah lama kita tidak menjamu tamu dirumah…” ucap wanita paruh baya itu menatap putri sulungnya dengan begitu intens.
“Apa yang membawamu kemari, Gween?” tanyanya to the point.
Marcella tahu, Gween tak pernah mencarinya hingga ke dapur kecuali memang ada sesuatu hal yang sangat penting dan rahasia yang harus dia bicarakan.
Gween hanya dapat tersenyum sembari menghembuskan napasnya, “Aku rasa tidak baik merahasiakan semua ini dari George…” ucapnya.
“Tapi, ayahmu meminta kita untuk merahasiakannya agar George tidak nekat untuk kabur dan menghilang saat makan malam nanti…” ucap Marcella kini merasa serba salah.
“Bagiku lebih baik dia kabur daripada amarahnya membuat selera makan semua orang hilang begitu saja. Tidak hanya mempermalukan keluarga, George bisa saja melukai hati orang lain dengan ucapan dan perbuatannya.” ucap Gween mempertimbangkan George yang begitu implusif jika sedang marah.
Menghela napasnya berat, “Kau harus berbicara dengan ayahmu, agar kita dapat mengatakan padanya bersama…” ucap Marcella penuh pertimbangan, tanpa tahu bahwa George telah berada disana sedari tadi.
“Bisakah kalian jelaskan padaku, apa yang kalian semua rahasiakan dariku?” tanya George membuat Gween meneguk ludahnya kasar.
“Aku hanya mengikuti permintaan Daddy untuk…”
“Lebih baik kita membicarakannya diruangan kerja ayahmu.” ucap Marcella memutus ucapan putrinya.
“Tidak bisakah hanya kalian yang memberitahukannya padaku?” tanya George merasa malas untuk mendengar sanggahan dari ayahnya.
“Memang lebih baik Daddy yang mengatakannya langsung padamu…” ucap Gween menarik tangan George untuk pergi bersamanya.
“Mengapa kalian menjadi seperti ini begitu aku kembali?” tanya George kesal.
Gween memutar kedua bola matanya malas, “Tidak akan ada asap jika kau tidak bermain api, George…”
“Aku saja yang selalu kau persalahkan, Gween…”
-
Raut ketegangan tampak di wajah senja ayahnya, tidak semua orang turut tegang dengan pertanyaan yang dia lontarkan barusan mengenai sebenarnya apa yang sedang sang ayah rencanakan.
Pria paruh baya itu meneguk kopinya perlahan, “Ya, memang seharusnya aku memberitahukanmu lebih awal. Namun, aku tak akan mentolerir apapun jika kau pergi dan membuat kekacauan setelah ini…”
“Cukup beritahu aku apa yang sedang kau rencanakan dengan kepulanganku dan makan malam ini, Dad…” tegas George tak sanggup lagi menunggu.
“Malam ini, aku mengadakan jamuan makan malam untuk keluarga Clayton pemilik Amethyst Group…” Georgino memulai ucapannya.
“Bukankah kau berencana untuk mengakuisisi penuh Amethyst Group hingga memerlukan bantuanku?” tanya George membuat sang ayah mengangguk samar.
“Akan tetapi, putri Gerald Clayton telah menawarkan padaku kesepakatan untuk menggabungkan perusahaan dengan sebuah ikatan pernikahan bisnis. Tawaran yang menurutku sangat menguntungkan untuk memperbaiki citra dirimu dihadapan publik.” Jelas Giorgino membuat George mengumpat pelan.
“Jadi, kau memintaku kembali untuk menikah dengan putri pemilik Amethyst Group demi rencana penggabungan perusahaan dengannya?” tanya George mendapatkan anggukan dari ayahnya.
“Apa kau sudah gila, Dad?!”
“Hanya ini satu-satunya jalan terbaik yang bisa kau lakukan untuk memperbaiki citra dirimu sebagai anak pembangkang yang meninggalkan rumah demi kekasihmu yang memiliki latar belakang buruk di Bali!” teriak Georgino penuh amarah.
“Apakah sulit bagimu untuk mengerti bahwa aku sangat mencintainya, tak peduli seberapa buruk masa lalunya!”
“Ya, aku tahu itu, kau bahkan tak peduli jika harus kehilangan keluargamu demi wanita itu! Kau ingat bahwa pertengahan tahun aku telah memintamu membawanya kemari untuk bertemu dengan kami, tapi apa jawaban yang kau berikan, Stella belum siap untuk bertemu keluargamu. Entah belum siap atau dia tak pernah menghargaimu sama sekali?” tanya Georgino membuat George seakan kehilangan kata-katanya.
“Jelas wanitamu itu hanya mementingkan kau bersamanya tanpa ingin meminta persetujuan keluarga kita, George.” ucap Gween turut menyuguhkan fakta untuk adiknya itu.
“Kalian tak mengenal Stella dan semua kesulitan yang telah dia hadapi sepanjang dia hidup…” ucap George berusaha memberikan pembelaan untuk Stella.
“Aku tak peduli bagaimana dengan kehidupannya. Sebagai ayah aku hanya ingin memperbaiki langkahmu yang sudah salah, George! Bangun dari mimpi indahmu dan hadapilah kenyataan bahwa kau terlahir dalam keluarga ini, kemanapun kau melangkah, baik dan buruk tetap akan membawa nama keluargamu!”
“Aku bisa menyukseskan rencana akuisisimu terhadap Amethyst Group, aku sendiri yang akan menjalankan restrukturisasi perusahaan itu hingga berjalan stabil atas nama Gremlin Group di London! Aku bisa menjamin semua itu dalam enam bulan kedepan. Namun, tidak dengan pernikahan bisnis yang kau rencanakan saat ini!” teriak George berkeras dengan keyakinannya.
“Apapun itu usahamu, kau tidak bisa membeli loyalitas perusahaan yang telah bekerja sama sejak lama dengan Amethys Group. Meskipun sekarang perusahan itu sedang berada diambang kebangkrutan, citra baiknya dan para investor yang selalu mendukungnya masih sangat kuat. Kita membutuhkannya andil Amethyst Group untuk sukses berkembang di London. Aku tak memberikanmu pilihan lain selain pernikahan bisnis ini. Lupakan Stella dan semua fatamorgana semu yang kau bangun selama ini dengannya, hubungan kalian tidak akan pernah berhasil!” teriak Georgino tak sanggup menahan amarahnya.
“Aku yang menentukan hidupku sendiri, Georgino!”
“George, jaga ucapanmu!” teriak sang ibu membuat George menghembuskan napasnya kasar.
“Mau atau tidaknya menjalankan pernikahan bisnis ini, aku yang menentukan! Berhenti merasa berkuasa untuk mengatur kehidupanku!” seru George meninggalkan ruangan kerja ayahnya itu dengan bantingan pintu.
Blam!
Gween kini hanya dapat bersedekap, “Aku sudah berpikir semua ini sejak awal tak akan berhasil…” komentarnya pelan.
Marcella turut menghela napasnya berat, “Cinta telah membutakannya…” ucapnya merasa prihatin melihat George kini menjadi begitu pemarah dan begitu kasar terhadap orangtuanya.
“Biarkan saja dia, aku akan membuatnya tak memiliki jalan lain untuk mempertahankan egonya dengan wanita itu…” desis Georgino dengan rahangnya yang mengeras.
“Kau tidak boleh bersikap terlalu keras padanya, Gino…” ucap Marcella berusaha membujuk suaminya.
“Kita sudah bersikap lunak padanya selama setahun ini. Membiarkannya untuk menjalani hubungan itu dan berusaha untuk mengenal lebih dekat wanita itu, tapi wanita itu berperan memegang kendali penuh atas hidupnya. Seakan-akan sebagai orangtua, kita adalah orang yang paling kejam dan tak memiliki hati…” ucap Georgino menyatakan fakta yang tak sanggup disangkal oleh istrinya.
Gween menghela napasnya lelah, “Kita telah membiarkannya menyelam terlalu dalam dengan perasaannya. Biar aku mencoba berbicara dengannya untuk menghadiri makan malam nanti. Kalian sebaiknya menenangkan diri agar tidak membawa kesan buruk terhadap tamu kita nanti…” ucap Gween meninggalkan ruangan tersebut.
“Persiapkan dirimu untuk jamuan makan malam nanti…” ucap Georgino pada istrinya yang hanya mengangguk.
“Kau seharusnya tak memaksakan pernikahan ini padanya, selain memikirkan George kita juga harus memikirkan putri Clayton yang harus menikah dengan pria yang masih mencintai kekasihnya…” ucap Marcella membuat sang suami beranjak dan memeluknya erat.
“Pihak Amethyst Group menginginkan pernikahan ini agar dapat menggabungkan perusahaan kita dengannya. Aku tak memaksakan pihak manapun kecuali putra kita, aku ingin dia berhenti memperjuangkan sesuatu yang jelas tidak baik untuk masa depannya…” ucap Georgino berusaha memberi pengertian pada istrinya.
“Aku benar-benar sangat lelah melihat suami dan putraku bertengkar…” lirihnya mengandung kesedihan yang teramat dalam.
“Dia juga putraku, Marcella. Putra yang sangat kita sayangi, mungkin ini adalah hal terakhir yang tak akan kita sesali karena telah memaksakan kehendaknya…” ucap Georgino membuat Marcella tersenyum sedih.
“Aku tak ingin menyesal seumur hidup jika nanti George hanya menyakiti wanita yang menikah dengannya…”
“Aku yakin, George tak akan bisa menolak pesona Georgia. Dia wanita yang pintar dan cantik. Juga sangat menarik hati…” ucap Georgino akan keyakinannya itu.
Marcella tersenyum sembari mengangguk samar, “Aku semakin tak sabar ingin bertemu dan berkenalan langsung dengannya…”
Malam ini, jamuan makan malam sekaligus pertemuan dua keluarga akan berlangsung diruang makan Mansion mereka. Georgino berharap George tidak membuat masalah hingga mempermalukannya dihadapan keluarga Clayton.