BWV – 9. At Dinner…

2510 Words
-Grand Tower Hotel- Georgia kini tertegun menatap pantulan dirinya di depan cermin, gaun panjang musim gugur berwarna hitam yang sederhana, namun tetap membuatnya tampak cantik dan mewah dengan make-up natural yang memberikan kesan tidak berlebihan pada penampilannya. Rambut pirang gelap miliknya dijepit kedua sisi dengan gelombang pada ujungnya. Dirinya merasa cukup puas dan siap dengan pertemuan makan malam ini, meskipun perdebatan panjang dengan ayahnya mengenai kepulangan Jayden ke London Senin besok nyaris membuat suasana hatinya terjun bebas. “Kau sudah tampak begitu cantik, Georgia…” ucapan Belinda menarik Georgia dari lamunan. “Apakah aku harus balas memujimu, Belinda?” tanya Georgia membuat Belinda berdecak kesal. “Aku tahu perdebatan kalian tadi telah membuat suasana hatimu berantakan. Tapi menurutku ucapan Gerald benar, Jayden harus kembali ke London dan fokus mengawasi jalannya perusahaan saat ini…” “Aku sedang tak ingin membahasnya, Belinda. Aku sudah tahu betul tabiat ayahku sendiri, dia akan merampas satu persatu tempat yang membuatku merasa nyaman jika keinginannya telah tercapai…” ucap Georgia datar. “Gerald selalu mempertimbangkan segala sesuatu yang terbaik untuk perusahaan, Georgia” “Melupakan segala yang terbaik untukku, begitu? Aku masih belum benar-benar lega berada disini karena semuanya belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Aku masih membutuhkan teman untuk bertukar pikiran…” jelas Georgia, berharap Belinda dapat memberikan pengertian pada ayahnya. Berdeham pelan, “Fokus dulu untuk pertemuan makan malam ini, Georgia. Bagaimana hasilnya nanti, jika memang kau membutuhkan Jayden disini bersamamu, aku akan bantu berbicara kepada Gerald…” ucap Belinda memastikan agar Georgia dapat sedikit tenang. “Ya, terima kasih sudah berniat membantuku…” ucap Georgia membuat Belinda membenarkan tatanan rambutnya dengan senyuman yang sangat tulus. “Ayo, kita harus berada di lobi sembari menunggu mobil jemputan dari Georgino Timothy…” ucap Belinda membuat Georgia membuntutinya sembari mengambil tas tangannya. Perasaan berdebar dan rasa tidak tenang jelas bercampur aduk dalam dirinya, Georgia tahu bahwa makan malam ini tidak akan mudah dia lalui. Namun, dirinya tetap berharap semuanya akan berjalan dengan baik seperti saat Georgino menerima tawarannya. Limousin hitam mengkilap itu berhenti tepat di depan lobi hotel dengan seorang pria yang sangat familiar di matanya memasuki lobi dan menghampirinya seraya membungkuk sopan kearah mereka. “Selamat malam, Mr. Clayton. Saya Edward Collins, sekretaris pribadi Georgino Timothy yang ditugaskan untuk menjemput anda sekeluarga memenuhi undangan makan malam di kediamannya…” ucap Edward seraya mengulurkan tangannya pada Gerald. “Sebuah kehormatan bagi kami atas jemputan anda, kami sudah siap untuk pergi ke kediaman Georgino Timothy…” ucap Gerald dalam jabat tangannya. Edward menuntun Gerald untuk berjalan bersamanya kearah Limousin dengan pintu yang telah terbuka itu, mempersilakan Gerald dan istrinya untuk masuk, lalu tersenyum menatap Georgia. “Kau sangat cantik malam ini, George akan tertawan dengan kecantikanmu…” bisik Edward menuntun Georgia masuk ke Limousin. Georgia tahu, wajahnya memanas dibawah cuaca malam yang sangat dingin ini, dia memilih duduk tanpa menjawab ucapan Edward meski rasa penasaran begitu mencekiknya untuk menanyakan Apakah George Timothy sudah mengetahui rencana pernikahan bisnis ini. Edward pun mengucapkan basa-basi kepada mereka untuk menikmati perjalanan lebih kurang 95 menit itu. Lalu supir menutup pintu Limousin tersebut dan Edward memilih untuk memasuki pintu lainnya. *** -Timothy’s House- “George, sebentar lagi Mr. Clayton dan keluarganya akan datang. Mau sampai kapan kau hanya berbaring dengan kepala batumu itu dan mempermalukan keluarga kita?” tanya Gween membuat George menyentakkan kakinya hingga kasur empuknya itu berguncang. “Sudah kubilang, aku tak setuju dengan penggabungan perusahaan dan rencana pernikahan bisnis itu!” teriak George berkeras. Mendengus kesal, “Aku tidak sedang membahas keinginanmu, George. Sekarang aku membahas orangtua kita yang telah bersusah payah mengundang tamu untuk makan malam bersama keluarganya. Kau akan membuatnya malu jika kau tidak keluar dengan segala arogansimu ini…” ucap Gween mulai merasa kesal pada adiknya itu. “Biarkan saja Daddy menanggung semua keputusan yang dia buat sendiri tanpa mendiskusikannya denganku…” sungut George membuat Gween menariknya hingga terduduk dan memukul kepalanya. Plak! “Gween, apa kau sudah tidak waras?!” teriak George tak terima dengan apa yang kakaknya itu lakukan. “Ya, memang aku sudah tidak waras karena melihat adikku yang kurang ajar seperti ini terhadap orangtua. Kau pikir siapa dirimu hingga merasa pantas menghukum ayahmu sendiri, hah?!” teriak Gween marah. “Kau pikir selama ini Daddy tak tersiksa karena kelakuanmu? Berapa kali dia berusaha melindungimu dan kekasihmu itu dengan meminta para paparazzi menyimpan semua berita buruk tentangmu, tentang kekasihmu yang bahkan menolak pertemuan dengan keluargamu ini!” teriak Gween membuat George menghembuskan napasnya kasar. “Stella tak seburuk semua catatan kriminalnya di masa lalu. Dia terjerat dengan kehidupan malam itu hanya karena tuntutan hidup dan tanggungan hutang yang saudara ibunya tinggalkan!” teriak George memberikan pembelaan untuk Stella. “Persetan dengan apa yang telah kekasihmu lalui, George! Jika kau tidak bisa menghargai dan melindungi keluargamu ini, jangan harap aku membiarkan kau dan kekasihmu itu hidup dengan tenang! Aku akan membiarkan Daddy melakukan apa yang sudah seharusnya sejak lama dia lakukan!” ucap Gween penuh penekanan membuat George kini hanya dapat terdiam. “Aku menunggumu diruang makan, jika kau belum turun disaat Mr. Clayton sampai, jangan panggil aku Gween jika tak membuatmu menyesal seumur hidup!” seru Gween meninggalkan George dengan hempasan pintu yang kuat. Blam! “Sialan!” Brak! Teriak George memukul meja kecil yang berada di samping ranjang tidurnya hingga menjatuhkan lampu tidur yang bertengger mans disana. Menghela napasnya, “Mengapa kalian semua begitu hebat mengancamku…” desis George berusaha mengatur emosinya. George menyadari bahwa dirinya memang begitu keterlaluan terhadap Gween yang sedari tadi memberikan saran yang baik untuknya. Memintanya untuk menghormati tamu dengan menghadiri makan malam itu, lalu dia bisa menolak rencana pernikahan itu secara langsung. Menatap bayang dirinya di cermin, “Kau memang sangat egois, George…” desisnya meninggalkan semua rasa kesal dan menuju ke kamar mandi untuk mulai mempersiapkan diri. - Georgia menatap pagar besar yang terbuka itu dengan debaran yang semakin tak menentu. Bagaimana jika dia mendapat penolakan malam ini? Apa yang harus dia lakukan selanjutnya? “Georgia, kau tampak begitu gugup, nak…” ucap Gerald membuat Georgia tersenyum tipis meninggalkan semua lamunannya. “Aku hanya tak terbiasa menghadiri makan malam seperti ini…” ucap Georgia membenarkan mantel musim gugur yang dia kenakan itu. “Kau hanya terlalu memikirkan bagaimana sambutan mereka padamu, tenang saja. Semuanya akan berjalan dengan sesuai harapan kita…” ucap Gerald membuat Georgia menggeleng samar. “Tolong jangan berikan tekanan lebih untukku, jika terjadi sesuatu yang tak sesuai dengan keinginanmu…” ucap Georgia menatap ayahnya penuh harap. “Kau tahu bahwa ayahmu sangat benci jika harapannya tak dipatahkan, bukan?” tanya Belinda membuat Georgia kembali bersedekap dan memilih diam. Limousin itupun akhirnya terhenti tepat di depan pintu masuk utama Mansion yang begitu mewah dengan desain khas Eropa seperti rumahnya. Georgia merasa seperti kembali kerumah. “Selamat datang dirumah kami, Mr. Clayton…” ucap Giorgino menyambut kedatangan ayahnya dalam jabat tangan yang hangat. “Suatu kehormatan untuk kami mendapat undangan makan malam bersama di kediaman anda, Mr. Timothy…” ucap Gerald membuat Georgino tertawa. “Putrimu yang cantik ini mampu memikatku dengan penawarannya yang menjanjikan. Aku sangat mengapresiasi keberaniannya…” “Terima kasih, Mr. Timothy…” ucap Georgia menanggapi pujian itu. Sambutan kedatangan mereka dengan basa-basi sederhana dan menyenangkan telah usai. Kini mereka telah berada di ruang makan setelah perkenalan masing-masing. Namun, Georgia tak menemukan George Timothy disini. Dimana pria itu berada? Kini dirinya merasa sangat pesimis jika rencana pernikahan bisnis yang ia tawarkan akan bersambut dengan baik oleh George. “Permisi semuanya, maaf kami terlambat…” ucap wanita cantik itu bersambut dengan ucapan ayahnya. “Ini putri sulung kami Gween dan George putra bungsu kami. Maaf mereka sedikit terlambat karena beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan…” ucap Georgino memperkenalkan putra-putrinya. Gerald tersenyum seraya menyambut uluran tangan Gween dan George, “Ah, anak-anak muda memang lebih b*******h dalam menyelesaikan pekerjaan daripada kita, Georgia juga lebih mementingkan pekerjaan daripada apapun itu…” “Georgia memang tampak begitu b*******h dalam pekerjaannya, sama seperti Gween. Ah, wanita memang memiliki ambisi yang besar…” ucap Georgino menambahkan basa-basi itu. Gween tersenyum menatap kearah Georgia seraya mengulurkan tangannya, “Aku Gween Timothy…” ucapnya bersambut dengan jabat tangan Georgia. “Georgia Clayton, senang mengenalmu…” ucap Georgia menatap pria bermata hijau yang kini menatapnya dengan penuh penilaian. “George perkenalkan dirimu…” desis Gween menyikut lengan adiknya yang tampak begitu tertawan dengan pesona wanita bermata abu-abu itu. “George…” ucapnya bersambut dengan jabat tangan Georgia. “Georgia…” ucap Georgia kini merasa bingung harus mengucapkan apalagi. “Aku rasa kita pernah bertemu sebelumnya…” ucap George membuat Georgia menggeleng samar. “George, ayo persilahkan Georgia duduk. Kita semua akan memulai makan malam...” panggilan suara lembut sang ibu membuat George harus meninggalkan tatapannya dari wanita cantik yang sangat familiar itu. “Mari…” ucap George menuntun Georgia untuk duduk di salah satu kursi tepat dihadapannya. “Terima kasih…” ucap Georgia membuat Gween bersiul ringan. “Memang sulit untuk tidak tertawan dengan gadis Inggris…” ucap Gween membuat wajah Georgia sontak memerah. “Agree with you, Gween. Pertama kali aku bertemu dengan ibumu, detik itu juga aku jatuh cinta padanya…” kelakar Georgino membuat semua orang tertawa. “Ya, mungkin Georgia kami memang sangat cantik, namun dia sedikit kaku. Kau butuh waktu untuk membuatnya cair karena putri kami tak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, George…” ucap Belinda menimpali dengan basa-basi hangat. Wajah Georgia memerah, tapi berusaha dia sembunyikan dibalik senyuman yang semakin canggung saat menemukan mata hijau itu terus memperhatikannya. Georgia yakin, George masih mengingatnya. Namun, pria itu pasti lupa dimana tepatnya. Makan malam itu berlangsung dengan obrolan hangat untuk saling menjamu satu sama lain. Dentingan gelas sampanye menjadi pembuka. Hidangan khas Inggris yang nyaris sempurna, dari appetizer penggugah selera sampai dessert yang memberi kesan makanan penutup yang sangat lezat. Setelah makan malam itu usai, kini mereka mendapat jamuan santai diruang minuman hangat dan obrolan pun berlanjut. “Aku sangat senang berhasil menjamu tamu istimewa seperti kalian dengan sangat sempurna. Terlebih aku sangat terkesan saat Georgia menyampaikan penawaran penggabungan perusahaan dengan pernikahan bisnis yang sangat menjanjikan untuk perusahaan kita…” ucap Georgino membuka pembicaraan mengenai pertemuan makan malam ini. Gerald tersenyum seraya meninggalkan gelas kopinya, “Kami mendengar desas-desus mengenai kunjunganmu ke Amethyst Group untuk melakukan rapat dewan hari minggu depan, Georgia langsung menghubungiku dan mengatakan dia akan ke New York untuk bertemu denganmu…” ucapnya jelas berbohong dengan apa yang terjadi sebenarnya. “Oh Tuhan, putrimu langsung mengerti akan rencana kami untuk mengakuisisi Amethyst Group. Namun, sungguh langkah yang ingin kuambil semata-mata untuk menyelamatkan perusahaan…” ucap Georgino membuat Gerald sontak tertawa. “Aku juga akan mengambil keputusan yang sama jika berada di posisimu, menyelamatkan perusahan dimana aku memiliki saham terbesar disana sebelum harga saham semakin merosot tajam. Hanya saja, Georgia memang tipe wanita yang peka akan situasi. Bahkan aku tak menyangka tujuannya bertemu denganmu adalah menawarkan merger perusahaan dengan sebuah pernikahan bisnis...” Allright! Georgia tahu, ayahnya kini menjadikan kambing hitam atas ide yang dia berikan demi menjaga harga dirinya. “Tidak masalah, justru aku sangat senang mendapatkan tawaran terbaik ini dan bertemu dengan wanita pintar dan cepat tanggap seperti Georgia…” ucap Georgino memberikan pujian untuk kesekian kalinya pada Georgia. Georgia menunduk malu sebelum suara dehaman George membuat, degup jantungnya seketika tak beraturan. “Maaf jika saya menyela obrolan kalian…” ucap George membuka kata-kata yang terus berusaha untuk dia tahan sedari tadi. “Ya, George. Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan...” ucap Gerald menatap pria muda itu dengan senyumannya yang memudar saat menemukan tatapan dinginnya. “Kepulanganku sejak awal jelas hanya untuk memenuhi permintaan ayahku dalam rencana mengakuisisi Amethys Group. Namun sore tadi aku mendapati fakta bahwa terdapat perubahan, aku memutuskan untuk menolak pernikahan bisnis ini. Maaf jika makan malam ini berakhir dengan keputusanku yang tidak menguntungkan bagi kalian. Aku rasa, sudah cukup aku berbaur. Selamat malam…” ucap George berdiri dari duduknya dan membungkuk sopan kepada para orangtua. Gerak kepalanya terhenti sepersekian detik saat mendapati tatapan kecewa dan sedih bak anak anjing yang wanita cantik itu berikan padanya. George menghembuskan napasnya kasar seraya meninggalkan pertemuan yang memuakkan itu. “Ah, maafkan kami. George pasti sangat terkejut dengan rencana pernikahan ini, dia mengetahuinya secara mendadak dan mungkin dia belum siap dengan semua ini...” ucap Georgino meluruskan penolakan putranya itu seraya meminta maaf. “Tidak apa-apa, aku malah merasa tak enak hati jika keadaan ini membuatnya terganggu…” ucap Gerald sembari menyuguhkan senyum palsunya. “Georgia, George memang sedikit keras kepala tapi kami tahu bahwa pernikahan ini adalah yang terbaik untuknya. Dia hanya masih sulit melepaskan masa lalunya, sebagai orangtua sulit bagiku untuk terlalu memaksakannya. Mungkin dia masih butuh waktu untuk berpikir.” ucap Georgino membuat Georgia tersenyum sembari menggeleng samar. “Bukankah, lebih baik kita menghargai keputusannya?” tanya Georgia berusaha menguasai dirinya agar tidak tampak terlalu menginginkan pernikahan itu. Namun, suara dehaman ayahnya menegaskan kekecewaan mereka. “Baiklah, mungkin sudah waktunya kami untuk pulang…” ucap Gerald jelas tak dapat menutupi suasana hatinya saat ini. Georgino menghela napasnya berat, “Sekali lagi maafkan kami, Mr. Clayton…” ucapnya penuh sesal. “Kami juga meminta maaf jika terkesan terlalu memaksakan rencana ini. Kami yakin, hanya ini satu-satunya jalan yang dapat Georgia lakukan untuk mempertahankan perusahaan yang dibangun kakek buyutnya sejak 80 tahun lalu…” ucap Belinda membuat Gerald menghembuskan napasnya kasar. “Mungkin Amethyst Group yang telah diteruskan selama tiga generasi secara turun temurun harus berakhir di generasi keempat ini. Kami harus menerima kenyataan untuk kegagalan putriku…” ucap Gerald terpaksa menimpali. Georgino menatap istrinya berakhir menghembuskan napasnya kasar, “Kami akan membicarakannya kembali kepada putra kami. George sedang tidak stabil karena masalah pribadinya, tapi kami akan berusaha meyakinkan bahwa pernikahan ini demi kebaikan masa depan dirinya dan perusahaan…” ucapnya berusaha meyakinkan Georgia dan keluarganya. “Georgia, George memang sedikit keras kepala untuk melepas masa lalunya, tapi dia juga seorang pria yang tulus dan tidak tegaan. Menurutku kau bisa melakukan pendekatan secara langsung agar George menyetujui pernikahan bisnis ini…” ucap Marcella kini merasa tak tega melihat tekanan yang Georgia dapatkan. Wanita muda itu tampak menanggung beban yang berat karena telah gagal memimpin perusahaan yang diteruskan dengan baik secara turun temurun oleh keluarganya. Hal itu membuat hati Marcella terketuk saat membayangkan jika Gween yang harus berada di posisi sulit seperti ini. Seakan mendapatkan angin segar dan sebuah dukungan yang nyata dari Georgino dan istrinya, raut wajah kusut Gerald kini kembali menjadi hangat seperti semula. Mereka pamit untuk kembali ke hotel dengan suasana yang cukup mencair diantaranya. Namun, Georgia tahu bahwa ayahnya pasti akan memberi tekanan padanya agar berhasil mewujudkan pernikahan bisnis ini. *** “Kau harus berhasil meluluhkan hati, George hingga mau menikah denganmu dan mengurungkam niatnya untuk mengakuisisi penuh perusahaan kita…” ucap Gerald kini terdengar bak mimpi buruk yang menjadi nyata untuk Georgia. “Biarkan aku yang memikirkan langkahku untuk mewujudkan kesepakatan penggabungan perusahaan dan pernikahan ini. Kau hanya perlu duduk diam dan menunggu hasilnya…” ucap Georgia datar. Georgia menatap jauh keluar jendela limousin yang sedang membawa mereka dalam perjalanan kembali ke hotel. Sungguh, kini dirinya merasa sangat lelah hingga tak sanggup untuk mengatakan apapun lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD