3. Sama-sama Gila

979 Words
Suara decapan dua bibir yang saling beradu masih memenuhi ruangan Edward. Pria itu sama sekali tidak berniat untuk menghentikan aksi gila perempuan di atas pangkuannya. Edward pria normal dan dia sangat menikmati permainan gratis ini. Bibir keduanya kembali terlepas saat Anya menyudahinya. Perempuan itu tidak menjauhkan wajahnya dari wajah Edward. Bahkan hembusan napas keduanya saling menerpa wajah mereka. "Bagaimana? Menyesal menolakku?" Anya memang sejak awal berbicara dengan Edward memanggil dirinya sendiri dengan 'aku' tidak terbiasa 'saya'. Makanya saat perempuan itu tadi kesal, dia menggantinya dengan panggilan 'saya' dan itu membuat Edward sedikit terganggu. Kali ini Edward yang berinisiatif memulai lebih dulu. Pria itu menekan tengkuk Anya dengan satu telapak tangannya. Bibirnya melumat dengan rakus bibir Anya yang sedikit membengkak. Sedangkan sebelah telapak tangannya lagi mengusap pinggul Anya. Saat Edward melingkarkan lengannya di pinggang ramping Anya, saat itulah Anya menekan habis tubuhnya ke tubuh Edward. Bahkan jemari lentik Anya sudah menyisir rambut Edward dan menariknya dengan pelan. Edward dibuai kenikmatan dunia sehingga saat pintu ruangan dosen tampan itu terbuka, Anya langsung membebaskan diri lalu berdiri sambil mengayunkan satu tamparan ke wajah tampan Edward. Pria itu sampai melongo dan mengerjap mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Sedang enak-enak cipokan, tahunya dapat tamparan. Apakah ini bonus dari seorang Ratu Zevanya? "Pak Edward keterlaluan! Hiks...." Anya berlari dan berdiri di belakang tubuh orang yang beberapa detik lalu membuka pintu. "Tante, tolong saya. Dia mau memperkosa saya. Saya masih kecil, Tante, saya masih mau kuliah. Tapi dia memaksa saya. Hiks..." Anya tidak tahu siapa wanita yang saat ini berdiri di depannya. Yang jelas, dari pakaian dan dandanannya yang sempat Anya lirik, wanita ini bukan wanita sembarangan. Apakah petinggi kampus? Kalau iya, mampus. Anya berada dalam masalah besar. Tapi.... Bodo amatlah. Toh, Abi bisa menyelesaikannya nanti. Anya tertawa lebar di dalam hati. "Ed! Kamu...." "Mi.... Ini...." "b******n! Bisa-bisanya kamu melecehkan gadis polos seperti dia, Ed! Mami gak habis pikir. Kamu... Astaga... Kepalaku...." "Mi..." Edward berjalan cepat saat melihat wanita di depan Anya hampir oleng. Ekspresi Anya sontak kaku dan pegangannya di baju belakang wanita itu terlepas. 'Mami? What the.... Jangan bilang ini Maminya Pak Edward?!' Anya memekik syok di dalam hati. Ini di luar dugaannya. Sumpah. Anya ingin kabur sekarang juga. Tapi tangannya lebih dulu ditarik oleh Edward untuk kembali memasuki ruangan dan pria itu membanting pintu ruangannya agar tertutup rapat. "Ed, kamu.... Astaga.... Anak gak ada akhlak!" Wanita yang masih terlihat muda dari usia yang sebenarnya itu berjalan cepat ke arah Edward dan menampar pipi anaknya. Edward memejamkan mata dengan rahang mengeras. Sedangkan Anya menutup rapat mulutnya agar tidak berteriak karena syok untuk kesekian kalinya. "Mami tenang dulu. Aku bisa jelasin." Edward menuntun maminya ke sofa dan menyuruh wanita itu untuk duduk. Pria itu juga menarik Anya lalu menatap Anya dengan pandangan tajam. "Nama kamu siapa, Nak?" Anya mengerjap lalu meringis sambil menatap wanita di depannya. "Anya, Tante." "Nak Anya, saya Tania, Maminya Edward. Saya sangat minta maaf atas kelakuan anak saya. Saya tidak tahu kalau anak saya sebajingan ini. Saya...." Wanita yang bernama Tania itu memijit pelipisnya karena pandangannya terasa memburam saat menatap Anya. "Mi, kita ke rumah sakit sekarang. Ayo," Edward mendekati Tania dan mengelus lengan wanita itu. "Ed, kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kamu gak mau dijodohin? Kalau Mami tahu kamu gak suka sama Zizie, Mami gak akan maksa kamu buat terima perjodohan itu. Bahkan kamu melampiaskan rasa frustasi kamu ke gadis baik-baik seperti Nak Anya. Kamu jahat, Ed!" Astaga. Plis, Edward tidak mau Tania mengeluarkan jurus drama queen nya selain di dalam rumah. Penghuni rumah mungkin sudah biasa. Tapi orang-orang baru yang belum kenal Tania bisa salah paham. "Mami pasti pusing banget ya? Ayo ke rumah sakit. Kita cek tekanan darah Mami." Tania menggeleng lalu melotot kepada Edward membuat pria itu menghela napas kasar. "Nak Anya," Tania menatap Anya yang sejak tadi kebingungan dengan dua orang di depannya. "Rumah orangtuamu di mana? Saya mau bertanggungjawab atas tindakan anak saya." Anya gelagapan dan megibaskan kedua tangannya kepada Tania. "G-gak usah, Tan. Saya gak kenapa-napa kok. Saya...." Anya menatap Edward yang kini mengangkat alis sambil memandangnya. Seringai tipis muncul di bibir pria itu. "Edward tahu alamatnya, Mi. Kapan kita ke sana? Edward juga harus minta maaf ke orangtua Anya karena HAMPIR merusak anak gadisnya." Edward sengaja menekan kata 'hampir' saat menatap Anya. Perempuan itu meringis dan memelas. Gila. Anya tidak menyangka kalau drama kecilnya berakhir dengan mengenaskan seperti ini. "Mhm... Anuh... Saya...." "Serius kamu tahu, Ed?" tanya Tania antusias. Edward mengangguk santai lalu tatapannya beralih ke Tania. "Maaf ya, Mi, kalau aku bikin Mami syok. Aku khilaf." Tania tersenyum dan menggeleng. "Gak masalah. It's ok. Mami paham. Pasti kamu tertekan karena tuntutan Papi. Makanya kamu berulah begini. Tapi... Mami lebih senang lagi kalau kamu secepatnya membatalkan pertunanganan kamu sama Zizie. Dan kita bisa segera mendatangi rumah orangtua Anya." Edward tersenyum lebar dan mengangguk pelan. "Demi Mami," ujarnya lalu mengecup pipi Tania. Anya mengerjap dan bibirnya berdenyut ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan melihat kekonyolan dua manusia di depannya. "Aneh," desis Anya pelan dan bergidik. "Zevanya!" Anya terbelalak saat suara panggilan itu menyentaknya. Anya mengerjap lalu menatap sofa di depannya dengan bingung. Ke mana perginya wanita itu? "Kamu sepertinya hobi sekali melamun. Apa yang ada di kepala kamu? Memikirkan bagaimana pernikahan kita nanti?" Anya berdecih lalu berdiri. "Gak seru lagi. Masa ketahuan sih! Gini aja nih? Ah, gak enak banget." Edward menarik lepas dasinya lalu melempar benda itu ke atas meja. "Kamu tahu, Mami saya punya riwayat penyakit jantung. Kalau tadi beliau sampai kenapa-napa, kamu saya hukum seumur hidup." Anya bergidik ngeri membayangkannya. Amit-amit dia membunuh orang karena ulah gilanya. "Pak, aku permisi dulu. Laper." Astaga. Edward rasanya ingin meledak. Kenapa Anya menganggap semua hal sangat gampang? Bahkan setelah membuat wanita yang Edward cintai hampir serangan jantung. "Saya tidak main-main dengan ucapan saya, Zevanya." Anya mencebikkan bibir. "Pak, aku laper. Kita bahas ini kapan-kapan. Oke?" Anya melangkah dengan yakin dan gagal lagi saat Edward mendorongnya sehingga terbaring di atas sofa. "Bagaimana kalau saya benar-benar memperkosa kamu?" tanya Edward berbisik di depan bibir Anya. Perempuan itu mendengkus dan mendorong d**a Edward tetapi tidak bisa. Pria itu kuat sekali mengurung dirinya. "Bapak yakin? Tapi aku gak mau hamil." "Bisa di atur," balas Edward.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD