4. Lelang

1022 Words
"Bagaimana kalau saya benar-benar memperkosa kamu?" tanya Edward berbisik di depan bibir Anya. Perempuan itu mendengkus dan mendorong d**a Edward tetapi tidak bisa. Pria itu kuat sekali mengurung dirinya. "Bapak yakin? Tapi aku gak mau hamil." "Bisa di atur," balas Edward. Wajah merona Anya saat ini sangat menggoda jiwa liar Edward untuk menyentuh lebih jauh lagi tubuh perempuan itu. Tapi akal sehat Edward sepenuhnya pulih saat pintu ruangannya diketuk dari luar. Anya mengerjap karena Edward langsung beranjak dari atas tubuhnya dan membantu perempuan itu untuk berdiri sambil membenahi penampilan Anya. "Pulang, tunggu saya dan keluarga saya tiba di rumahmu." Anya melongo. Tunggu! Jadi, Edward serius dengan ucapannya? Gila. Ini benar-benar gila! "Gak usah datang, Pak, aku cuma bercanda. Aku belum siap nikah hehe..." Anya menyengir lebar lalu melipir menuju pintu dan membukanya. "Sayang..." Wanita yang berdiri di depan pintu menatap Anya dengan melotot. Anya balas menatapnya dengan angkuh. "Kamu siapa?!" tanya wanita di depan Anya. Edward yang berjalan mendekat ke arah keduanya mengusap wajah dengan kasar. Sial. Kenapa dua makhluk Tuhan ini harus bertemu sekarang?! Edward mendadak migren. "Kamu yang siapa?" tanya Anya balik sambil bersedekap d**a. Wanita di depan Anya mendadak emosi. Perempuan kecil di depannya ini tidak bisa menghargai yang lebih tua rupanya. "Saya tunangan Edward! Minggir!" Tubuh Anya terdorong ke belakang dengan kuat dan hampir terjungkal kalau saja Edward tidak cepat menahannya. "Zizie! Jaga sikapmu!" Edward berseru marah karena Anya hampir saja terluka karena kecerobohan wanita itu. Sedangkan kini wajah Anya pucat pasi saat mendengar nama yang pria itu sebutkan. 'Zizie? Oh, sial.' "Kamu baik-baik saja?" tanya Edward pada Anya sambil meneliti penampilan perempuan itu. Anya memegang kepalanya membuat Edward menatapnya khawatir. Lihat saja, Anya akan membuat wanita tua itu semakin emosi. "Kepalaku pusing," ujar Anya pelan dan membebankan seluruh bobot tubuhnya ke tubuh Edward. "s**t!" Edward memaki dengan sangat pelan tapi Anya masih bisa mendengarnya. Apalagi wajah panik Edward saat ini membuat Anya mengulum senyum. 'Pria munafik!" maki Anya dalam hati. Benar, kan? Edward itu pria munafik yang pernah Anya temui. Seminggu yang lalu dia menolak Anya. Tapi lihatlah sekarang, pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan Anya. Cih. "Antarkan aku pulang," bisik Anya dengan kedua lengan yang melingkar ke leher Edward saat pria itu menggendongnya. "Edward!" Pria itu menoleh pada wanita yang kini berdiri di dekat sofa dengan kedua tangan terkepal erat sambil menatap marah padanya. "Turunkan perempuan itu! Memangnya dia siapa sampai kamu harus seperhatian itu?!" Wanita yang dipanggil Zizie oleh Edward itu berteriak lantang. Anya mencibir di dalam hati. Dari percakapan Tania dan Edward tadi saja bisa diambil kesimpulan kalau wanita itulah yang tergila-gila pada Edward. "Aduh, kepalaku." Anya berujar pelan sambil mendesis kesakitan. Sepertinya akting Tania menular padanya. "Edward!" Zizie kembali berteriak saat pria itu melangkah pergi membawa Anya di gendongannya. Anya menatap ke belakang di mana Zizie berdiri lalu tersenyum mengejek sambil menjulurkan lidah. "Perempuan sialan!" Zizie pergi menghentakkan kaki meninggalkan ruangan Edward. *** "Turunkan aku," ujar Anya saat mereka sudah tiba di dalam lift menuju ke basemant di gedung dosen. "Bukankah kepalamu pusing? Biar saya antar sampai ke rumahmu." Anya memberontak di dalam gendongan Edward. Tapi pria itu sama sekali tidak terpengaruh dengan tubuh Anya yang bergerak-gerak seperti ulat bulu. "Pak!" Edward tetap bungkam sampai pintu lift terbuka dan mereka tiba di basemant. Pria itu berjalan dengan langkah tegap menuju mobilnya. Lalu menurunkan Anya sebelum membuka pintu mobil. Edward memaksa perempuan bar bar itu untuk masuk ke dalam dan memasangkan sabuk pengaman saat Anya sudah duduk meski dengan wajah yang ditekuk. "Kita mau ke mana?!" tanya Anya karena Edward mengemudi bukan ke jalan di mana rumah Anya berada. "Makan. Bukannya kamu bilang lapar?" Oh, makan. Oke, Anya duduk dengan anggun dan meneliti mobil mewah Edward. Perempuan itu baru sadar kalau mobil Edward sama persis seperti mobil milik pamannya, Kayden. "Kita makan di sini?" tanya Anya lagi saat mereka sudah tiba di restoran mewah di tengah kota. "Hm. Turun." Anya segera turun mengikuti Edward yang kini berdiri menunggunya. Perempuan itu bahkan berjalan lebih dulu meninggalkan Edward di belakang. Anya benar-benar lapar dan tidak sabar untuk mencicipi menu terlezat dari restoran ini. "Itu yang katanya pusing?" tanya Edward pada diri sendiri sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan tingkah Anya. "Kenapa?" tanya pria itu saat Anya masih saja berdiri di pintu masuk. "Mereka bilang restorannya udah di booking dan kita gak bisa masuk." Anya berujar sedih sambil menatap ke sekeliling restoran yang kosong. Tidak ada pengunjung sama sekali. Hanya beberapa pelayan restoran yang sibuk mondar-mandir membawa berbagai makanan. Edward menghela napas panjang lalu menggenggam tangan Anya sebelum melangkah masuk tanpa menghiraukan pelayan restoran yang ada di sana. Anya melongo lalu kepalanya menoleh ke sembarang arah di mana pelayan berdiri sambil menunduk menyambut mereka. Apa-apaan ini?! "Aneh," ujar Anya pelan. Edward membawa Anya ke halaman belakang restoran di mana ternyata sangat ramai. Anya masih diam tidak bersuara karena bingung ingin mengatakan apa. "Woah, Ed! Akhirnya pria sibuk ini datang juga." Anya semakin mengeratkan genggaman tangannya dan Edward saat beberapa pria menghampiri mereka. "Guys, lihat! Siapa yang dia bawa," ujar pria yang tadi menyapa Edward. Ada 4 pria yang Anya perkiarakan seumuran Edward dan semuanya tampan-tampan. "Baru kali ini seorang Edward datang dan langsung membawa seorang perempuan cantik," timpal pria lain. Anya sama sekali tidak menunduk. Perempuan itu berdiri dengan angkuh di samping Edward yang masih menggenggam tangannya. "Anya, kenalkan, mereka sahabat saya." Anya mengulurkan tangan untuk memperkenal diri. Dengan antusias keempat sahabat Edward bergantian menyalami Anya dan ikut menyebutkan nama mereka. Anya tersenyum karena sahabat Edward ternyata lumayan ramah meski wajah mereka terkesan m***m seperti wajah Edward saat menyosornya tadi. "Ayo makan, sebelum kamu pingsan di sini karena kelaparan." Anya tertawa mendengar kalimat sarkas Edward. Keempat pria tampan tadi sudah memisahkan diri dengan mereka. Kini Edward mengajak Anya untuk mengambil makanan lalu duduk di meja dan kursi yang sudah disediakan. "Ini acara apa?" tanya Anya sambil memperhatikan sekeliling mereka yang penuh dengan pria-pria berjas khas pekerja kantoran. Edward yang baru saja duduk di sebelah Anya memperhatikan perempuan itu lalu tersenyum miring. "Lelang," katanya. "Hah? Lelang? Lelang apa?" "Perempuan muda. Saya ingin melelangmu." Anya melotot dengan wajah pucat pasi. Edward yang melihat itu semua seketika menyemburkan tawa sambil mencubit pipi Anya. "Gak lucu!" desis Anya karena sempat merasa ketakutan. Sialan si Edward! "Kamu bisa lihat sendiri ini acara kantor keempat sahabat saya. Mereka mendirikan usaha bersama dan merayakan kesuksesan proyek besar yang berhasil mereka selesaikan." "Oh, makanya yang hadir di sini formal semua. Aku ngerasa aneh sendiri karena pake pakaian begini." "Hm, kamu cantik kok begitu." Anya mengerjap. Apa tadi? Edward memujinya? Benarkah? Pria itu tidak salah makan, kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD