5. Di Mobil

1073 Words
"Hm, kamu cantik kok begitu." Anya mengerjap. Apa tadi? Edward memujinya? Benarkah? Pria itu tidak salah makan, kan? "Aku emang udah cantik dari sel telur, Pak. Bibit unggul gak perlu diragukan lagi." Edward yang akan menelan minumannya langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Anya jadi meringis lalu membantu pria itu dengan menepuk punggungnya. "Jangan grogi gitu dong, bapak juga ganteng kok. Mungkin udah dari sel telur juga." Edward hanya geleng-geleng kepala sambil menatap Anya dengan pandangan tidak habis pikir. Bisa-bisanya perempuan ini berbicara hal seperti itu. "Cepat habiskan makananmu." Edward berdeham sambil melepaskan jasnya. Sial. Dia baru sadar kalau pakaian Anya memang agak transparan di bagian lengan. "Pakai ini," ujar Edward berdiri dan memakaikan jasnya ke tubuh Anya. Anya hanya diam sambil terus mengunyah. Dia benar-benar lapar dan tidak menghiraukan lagi pria yang bersamanya. Edward melangkah mendekati meja di mana beberapa rekan bisnis Papinya berada. Pria itu akan menyapa sebentar untuk berbasa-basi. "Pak Yogi," sapa Edward pada pria paruh baya yang paling kerap menjadi partner bisnis keluarganya. "Nak Edward," balas Pak Yogi sambil berdiri dan menyalami Edward. Mereka berbincang dan sesekali tertawa membahas hal random. Edward juga menyapa rekan bisnis Papinya yang lain yang bergabung di meja tersebut. "Gimana kerjaan? Kamu disuruh ambil alih perusahaan di Sydney malah gak mau. Lebih milih jadi dosen di sini." Edward terkekeh. "Saya lebih suka melakukan apa yang membuat saya nyaman. Mengurus perusahaan besar bukan cita-cita saya." Pak Yogi mengangguk. "Untung Mas mu mau menggantikan posisimu ke Sydney dan menikah dengan wanita sana. Kamu kapan? Pasti banyak mahasiswi cantik yang tertarik padamu di kampus." Edward menggeleng sambil tertawa. "Bapak ada-ada saja. Saya...." "Sayang," Edward menoleh kala seseorang memeluk lengannya dengan posesif. Oh, sial. Edward kehilangan kata-kata karena kini Anya tersenyum manis padanya. "Ini...." Edward berdeham dan tersenyum pada Pak Yogi. "Ini Zevanya, Pak." Edward beralih menatap Anya. "Ini Pak Yogi, rekan bisnis keluarga." Anya mengangguk lalu mengulurkan tangan pada Pak Yogi yang disambut pria paruh baya itu dengan senyuman hangat. "Halo, Pak Yogi, saya Zevanya, calon istri Edward." Edward mengerang di dalam hati. Perempuan yang memeluk lengannya ini benar-benar tidak tertebak. Beberapa saat yang lalu mengatakan tidak mau menikah. Tapi dengan berani mengumbar ke orang lain sebagai calon istrinya. "Wah, benarkah? Pak Aslan sama sekali tidak bercerita tentang Pak Edward yang akan menikah. Selamat." Anya tersenyum lebar sambil mengangguk. Sedangkan Edward lebih ke senyuman terpaksa karena bingung harus merespon seperti apa. "Kalau begitu saya pamit dulu, Pak, mari." Pak Yogi mengangguk saat Edward dan Anya berlalu dari hadapannya. Pria paruh baya itu mendapatkan informasi menarik yang harus ia bagi dengan rekan bisnis di meja yang sekarang ia tempati. Sedangkan Edward membawa Anya menemui keempat sahabatnya untuk berpamitan. "Gue balik dulu," ujar Edward pada keempat sahabatnya. "Nanti dulu, buru-buru banget sih lo, kita belum foto bersama ini. Sabar," ujar Diko. Edward menggeleng. "Kelamaan." Anya masih setia memeluk lengan Edward dan menatap ke sekeliling tempatnya berdiri saat ini. Banyak juga perempuan yang hadir. Mungkin menemani pasangan mereka atau juga rekan bisnisnya keempat sahabat Edward. "Kita foto dulu, sebentar." Suara Reza, sahabat Edward yang lain ikut menyahut dan segera memanggil fotografer untuk memotret mereka. "Aku nunggu di sana aja," bisik Anya pada Edward saat melihat seorang fotografer mendekat. Edward bergerak cepat menahan pinggang Anya sehingga perempuan itu tidak bisa ke mana-mana. "Ayo," ajak Tio, sahabat Edward satunya sambil melambaikan tangan pada keduanya. Anya melangkah pasrah mengikuti Edward dan keempat sahabatnya menuju spot foto di sebelah kanan dari tempat mereka berdiri. Sesi foto dimulai dan Edward sama sekali tidak melepaskan lengannya yang melingkar manis di pinggang Anya. Anya tersenyum manis saat sang fotografer memberikan aba-aba untuk mulai membidik. Anya juga tak segan meletakkan sebelah telapak tangannya di d**a bidang Edward. Sial, Anya menikmati peran dan posisinya saat ini. Dalam hati, perempuan itu terbahak. Dia akan menunggu hasil jepretan dari sang fotografer untuk segera dia posting dan membuat gempar mahasiswi di kampus. "Thanks, Ed! Lo harus sering-sering luangin waktu buat kita. Sok sibuk lo," kata Tio sambil menepuk lengan Edward. "Hm, gue kabari kalau senggang. Gue pamit, congrats buat kalian!" Mereka berpelukan ala laki-laki lalu keempatnya juga kembali menyalami Anya dengan sedikit mengernil nakal menggoda perempuan itu membuat Edward memutar bola mata. "Ayo," ajak Edward dan kembali melingkarkan lengannya di pinggang Anya. *** "Makasih, Pak," ujar Anya hendak membuka pintu mobil saat kendaraan Edward itu sudah tiba di depan gerbang rumahnya. Edward menahan lengan Anya dan menatap perempuan itu dengan serius. "Kamu harus ingat, Zevanya, Mami saya bukan orang yang gampang melupakan suatu hal dan ucapannya. Jadi, kamu harus memberitahu orangtuamu secepat mungkin. Saya tidak tahu kapan Mami saya akan datang ke sini." Anya meringis dan mendorong Edward. "Jan ngadi-ngadi, Pak. Aku belum mau menikah." Edward kembali menangkap pergelangan tangan Anya saat perempuan itu sudah membuka pintu mobil dan bersiap menjulurkan kaki keluar. "Kamu mempermainkan saya?" Anya menghela napas panjang. "Bukannya bapak waktu itu bilang kalau aku bukan tipe bapak? Bapak juga gak suka sama perempuan muda seperti aku kan? Sekarang kenapa ngotot mau ngajak aku nikah? Bapak udah gak tahan? Atau bapak udah suka sama aku dari lama cuma terhalang gengsi? Iya? Ngaku coba." Ya, Tuhan. Edward yang gemas dengan mulut lambe Anya segera saja menarik perempuan itu dan mengangkatnya dengan kedua tangan sehingga Anya berpindah di atas pangkuannya. Tubuh Anya benar-benar terjepit antara stir mobil dan tubuh Edward. "Sempit!" Edward mendengkus dan memundurkan kursi kemudinya sedikit sehingga Anya bisa bernapas lega. "Bapak mau kita dicyduk? Pak satpam Papi bisa aja lihat posisi kita begini. Pak satpam nanti lapor Papi dan aku pasti ditanyain macem-macem." "Saya gak peduli. Seharusnya saya memang memperkosa kamu saat di kampus tadi." Anya tertawa dan menepuk pundak Edward. "Kesempatan gak datang dua kali, Pak." Edward berdecih dan semakin menarik pinggang Anya sehingga wajah mereka juga ikut semakin dekat. Satu tangan Edward yang lain menarik tengkuk perempuan itu sehingga kini bibir mereka kembali bertemu. Hanya menempel saja karena Edward tidak berniat untuk menggerakkannya. Anya yang memang dasarnya bar-bar dan tak tahu malu jelas saja mengambil tindakan sesukanya. Dia melumat bibir Edward dengan lembut. Kedua telapak tangannya pun kini sudah menangkup rahang Edward. Sial. Anya munafik kalau sampai bilang dia tidak ketagihan dengan bibir sialan pria di bawahnya ini. "Mmhhmm...." desahan halus Anya dan gerakan pelan bokongnya membuat Edward mengerang. Kejantanannya diduduki dan digoda dengan b****g seksi Anya. Mana tahan! "Zevanya...." "Panggil Anya!" Edward semakin mengerang saat Anya sengaja bergerak lebih sensual. Bahkan kini bibir dan lidah perempuan itu menyusuri rahang dan lehernya. "Anya...." "Hm.... Bapak suka?" "Oh, s**t! YA!" Bahkan tangan nakal Anya kini turun membelai d**a bidang Edward hingga ke perutnya. Sedikit lagi, Anya akan menyentuh milik pria itu. Edward bahkan sudah menahan napas saat Anya menarik kemejanya ke atas dan lepas dari lindungan celana dan ikat pinggang. "Anya...." Edward mendongak sambil memejamkan mata menikmati permainan nakal perempuan di atasnya. "ANYA!" Keduanya tersentak saat suara nyaring memekakkan telinga itu sangat dekat terdengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD