"ANYA!"
Keduanya tersentak saat suara nyaring memekakkan telinga itu sangat dekat terdengar.
Anya dan Edward menoleh pada pintu mobil penumpang yang tadi memang sudah Anya buka dan perempuan itu lupa menutupnya.
"M-mami...."
Anya merasakan aura perang dari tatapan Kirana. Sial. Kenapa Maminya ada di sana? Tamatlah riwayat Anya sekarang. Kirana melihat semuanya dan Anya yakin, wanita yang melahirkannya itu akan memberitahukan kepada Abi juga.
"M-mi.... Aku...."
"KELUAR!"
Anya gelagapan sampai tidak tahu harus melakukan apa sekarang selain ekspresi bingung hendak ke mana. Posisinya jelas terjepit. Edward yang merasa bersalah segera saja membuka pintu mobil di sebelahnya dan membantu Anya untuk turun. Edward juga ikutan turun. Pria itu tidak akan membiarkan Anya menghadapi orangtuanya seorang diri.
"MASUK KE DALAM! SEKARANG!"
Anya meringis. Matanya berkaca-kaca menatap Edward. Beberapa aat Edward terpaku pada mata indah perempuan di depannya.
"Masuklah, biar saya yang urus."
"RATU ZEVANYA ABIMANYU!"
Anya terlonjak saat Kirana semakin membentaknya. Perempuan itu masuk dengan tergesa sambil menutup bibirnya yang bergetar. Ini untuk pertama kalinya selama Anya hidup dibentak oleh Kirana.
"Mami jahat!" Anya berlari memasuki gerbang dan memasuki rumah lalu langsung menuju ke kamarnya.
Taqi yang saat itu hendak memanggilnya langsung mengurungkan niat melihat wajah basah kembarannya.
"Kenapa lagi tuh anak," gumam Taqi geleng-geleng kepala.
Di depan gerbang rumah, Kirana menatap nyalang pria di depannya. Wanita itu maju beberapa langkah mendekati Edward dengan angkuh. Kedua tangannya berkacak pinggang.
"Kamu pacar anak saya?"
Edward menunduk sopan pada Kirana lalu meminta maaf. Kirana mendengkus kasar sambil meneliti penampilan Edward dari atas sampai bawah. Lalu matanya beralih pada kendaraan yang pria itu miliki.
'Dewas, kaya, tampan. Apa Anya simpanan om-om?' batin Kirana bertanya horor.
"Kamu harus bertanggung jawab. Kamu sudah menyentuh anak saya di banyak tempat. Saya gak mau anak saya kamu campakkan begitu saja setelah kamu melecehkannya seperti tadi."
What the...
Edward mengutuk di dalam hati. Sekarang Edward tahu dari mana asal kebar-baran Anya.
"Tante, saya juga berniat melamar Anya. Mami saya juga sudah bertemu dengan Anya tadi. Dan beliau serta keluarga saya mau datang ke sini secepatnya. Masalahnya, Anya bersikeras menolak tidak mau menikah sementara saya...."
Edward berhenti bicara saat Kirana mengangkat tangan tanda stop. Wanita itu menatap Edward dengan pandangan serius.
"Bawa orangtua kamu nanti malam ke sini. Saya tunggu jam 7. Kalau kamu dan keluargamu gak datang, saya bakal cari kamu sampai dapat. Ingat ucapan saya."
Kirana berlalu pergi dari sana setelah berbicara demikian. Wanita itu kembali memasuki mobilnya dan membawanya masuk ke dalam perkarangan rumah.
"Sial. Untung gak kena gampar gue."
Edward bergidik ngeri. Pria itu segera memasuki mobil dan melaju meninggalkan rumah Anya. Dia harus memberitahu Tania soal ini.
***
"Sayang, kenapa?" Abi memasuki rumah dan mendengar suara Kirana dan Anya saling bersahutan dari lantai dua di mana kamar anak-anaknya berada.
Abi langsung saja menuju ke sana dan melihat Kirana memijit pelipisnya dengan satu tangan berkacak pinggang.
"Mi," Anya menatap penuh permohonan pada Kirana agar tidak memberitahu Abi soal kejadian tadi siang.
"Papi wajib tahu kelakuan kamu."
"Mi, aku udah jelasin ke Mami, tapi kenapa harus ngasih tahu Papi juga?!"
"Jaga nada bicara kamu sama Mami! Jangan kurang ajar kamu, Anya." Kirana menatap marah pada putrinya. Sejak tadi mereka beradu mulut karena Anya selalu saja menyangkal perkataan Kirana.
"Kenapa ini? Kamu bikin ulah lagi? Apalagi kali ini, Anya?" tanya Abi menghela napas dan memilih duduk di pinggir kasur anaknya.
Kirana berdiri di depan sofa yang Anya duduki. Perempuan itu langsung menunduk karena ditanya dengan nada serius oleh Abi.
"Aku pusing, Mas," ujar Kirana hampir oleng dan syukurnya Abi sigap menahannya.
"Tenanginn diri kamu. Kita ke kamar. Nanti kita bicarain ini." Abi membawa Kirana keluar dari kamar Anya.
Anya langsung menghela napas dan berbaring di atas sofa. Matanya menatap langit-langit kamar.
"Nikah? Mami ketularan Edward nih. Yakali cuma grepe-grepe gitu langsung dinikahin. Emang grepe-grepe bikin hamil? Is! Nyebe- AW, b*****t!"
Anya langsung duduk dengan wajah super kesalnya saat sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya.
"Lo gila!"
Anya menatap Taqi dengan marah. Perempuan itu berdiri lalu mendekati Taqi dan memukul lelaki itu membabi buta dengan bantal di tangannya.
"Sinting lo!"
Anya semakin tersulut emosi saat Taqi kembali memakinya. Dia benci dikatain oleh mulut berbisa kembarannya.
"AW! SAKIT ANJIR! LEPAS!"
Anya tidak memperdulikan teriakan kesakitan Taqi. Perempuan itu bahkan semakin menambah kekuatannya untuk menghajar Taqi melampiaskan kekesalannya.
"ANYA! SAKIT!"
"BIARIN! BODO AMAT! LO NYEBELIN!"
"s**t! MATA GUE! WOI!"
"ABANG!"
Anya melotot saat satu manusia lagi ikut campur. Anya menatap Qia penuh peringatan untuk segera menjauh. Tapi gadis tengik itu sama sekali tidak menghiraukannya.
"Kamu mau ditimpuk juga, hah?!"
Qia menatap sebal pada Anya. "Coba kalo berani!" tantangnya sambil berdiri di depam Taqi.
"ANYA! KALAU SAMPAI KAMU NYENTUH QIA AWAS KAMU!"
Bantal yang hampir mendarat di wajah Qia segera saja ditarik lagi oleh Anya saat mendengar teriakan Kirana. Si kampret Qia enak bener ada yang belain. Awas aja.
"JANGAN KETAWA LO!" teriak Anya kepada Taqi yang menyengir lebar dengan tatapan mengejek padanya.
"AW, sakit...."
Qia menatap Taqi dengan khawatir. Gadis itu membantu Taqi berdiri dari posisi mengenaskannya di lantai setelah dihajar Anya pakai bantal.
"Ayo adek antar ke kamar Abang."
Anya menggertakkan giginya karena Taqi lolos dari tangannya berkat Qia yang ikut campur.
"Banci!"
Taqi yang hendak mencapai pintu kamar Anya menoleh sambil melotot. Kakinya hendak melangkah mendekati Anya kembali tapi tertahan Qia.
"Udah, Bang, gak usah diladeni. Orang stress ya gitu," bisik Qia pada Taqi yang dibalas semburan tawa oleh lelaki itu.
"HEH!"
Qia menoleh dan mengangkat dua jarinya pada Anya. "Becanda hehe."
Anya menghembuskan napas kasar saat kedua manusia itu menghilang dari hadapannya. Anya melempar bantal ditangannya ke sembarang arah dengan kesal. Perempuan itu menatap ponselnya yang berkedip tanpa pesan masuk.
Tangan Anya meraih benda pipih itu dan membuka pesan yang dikirim oleh orang yang membuatnya berada dalam posisi sekarang.
[Dandan yang cantik. Saya dan keluarga akan ke rumah kamu jam 7.]
Anya menatap horor layar ponselnya. "Gila nih orang," ujarnya dan membuat benda itu ke atas kasur.
Anya memilih berlalu memasuki kamar mandi. Lebih baik dia berendam lalu tidur siang dan berharap akan bangun keesokan hari saja. Biar dia tidak perlu berhadapan dengan Abi untuk malam ini.
Anya yakin kalau Kirana pasti menceritakan semuanya. Maminya itu mana mau diajak kerja sama.
"Edward b******k!" maki Anya sambil memejamkan mata saat berendam di dalam bathtub.