"Jangan kuat-kuat," bisik Anya karena Edward akan melahap puncak payudaranya saat cup bra miliknya sudah pria itu turunkan.
"Sial, Anya!" erang Edward dengan gairah yang benar-benar telah terpancing sepenuhnya.
Mulut Edward mencecap dengan rakus di p******a Anya secara bergantian. Pria itu kehilangan kendali diri karena godaan Anya. Edward pria normal yang tidak akan bisa menahan godaan beruntun dari seorang Ratu Zevanya Abimanyu.
Mungkin, awal Anya menggodanya di kampus dulu, mengajaknya untuk berpacaran, Edward masih bisa menolak dan menahan. Mengingat Anya mengatakan itu semua dengan ekspresi santai yang Edward yakini hanya lelucon saja. Ternyata Edward salah. Anya tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Anya menggigit bibir karena emutan Edward di payudaranya semakin kuat. Anya pusing dihantam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Anya tidak tahu kalau menyusui akan senikmat ini. Pantas saja dulu papinya juga tidak mau ketinggal untuk menyusu pada Kirana. Bahkan Anya masih ingat dulu mereka sempat saling berebut antara Abi dan dirinya membuat Kirana kewalahan.
"Edhh...."
Edward malah sengaja menggigit puncak mengeras Anya saat perempuan itu mendesahkan namanya. Edward tidak suka Anya memanggil namanya saja. Seperti tidak ada spesialnya sama sekali.
"Jangan digigit!" Anya mendorong kepala Edward dengan kedua tangannya karena pria itu bandel.
Edward menatap Anya dengan pandangan kesal. Bukannya peka, Anya malah menggeser sedikit posisinya agar lebih nyaman.
"Sekali lagi kamu panggil nama, saya pastikan orang-orang di luar sana akan mendengar jeritanmu," bisik Edward serak.
Anya terkekeh geli lalu menarik kepala Edward agar kembali terbenam di dadanya. "Nenen lagi biar gak bawel."
Edward memejamkan mata mendengar kata-kata vulgar Anya. Calon istrinya ini benar-benar tidak bisa diprediksi. Semuanya serba kejutan. Sifat, tingkah dan masih banyak lagi yang Edward harus pelajari dari diri Anya.
"Sial!" Edward memaki siapapun yang mengirim pesan beruntun pada ponselnya sehingga benda itu terus saja berbunyi dan bergetar di saku celananya.
"Aku aja," ujar Anya saat Edward akan beranjak dari atas tubuhnya.
Anya mengulurkan tangan untuk merogoh saku Edward lalu menarik benda pipih di dalam sana. Edward diam saja saat Anya memainkan ponselnya.
"Bagus," kata Anya melihat pesan gambar yang dikirim sahabat Edward.
"Apa?" tanya Edward penasaran.
"Foto yang di acara tadi," jawab Anya memperlihatkan layar ponsel ke wajah Edward.
"Aku akan posting ini di isntagram," ucap Anya tersenyum kelewat lebar.
Edward tidak lagi memperdulikan Anya karena pria itu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Melahap kedua p******a Anya.
"Mas, jangan digigit! Perih!"
Edward tersenyum saat mendengar kalimat manis Anya. Apalagi dengan panggilan 'Mas' yang perempuan itu ucapkan.
Anya tidak tahu harus mengetikkan caption apa untuk foto yang akan dia unggah. Akhirnya perempuan itu hanya menyematkan emot hati saja. Tidak lupa juga Anya men-tag akun-akun sahabat Edward dan akun miliknya.
"Selesai," ucap Anya melempar ponsel Edward ke atas meja di dekatnya.
Kini tangganya membelas rambut Edward dan Anya merasa kegelian di bawah sana. Celana dalamnya terasa basah.
"Basah," bisik Anya membuat Edward mendongak menatapnya.
"Apa?" tanya Edward bingung.
"Celana dalamku, basah," Anya memanyunkan bibir membuat Edward mengerang kesal.
Edward benar-benar ingin menghabiskan Anya sekarang juga. Dengan kasar pria itu mencium bibir Anya membuat d**a Anya sesak karena hampir kehabisan napas.
***
Anya terbahak saat Edward mengirim pesan dengan emot marah. Bagaimana tidak, postingan foto yang Anya unggah di akun i********: Edward langsung banjir oleh komentar netizen kampus. Apalagi di foto itu lengan Edward melingkar mesra di pinggang Anya.
[Kenapa, Maskuh? Fotonya bagus kan?] -Anya
[Bagus. Bagus memancing kekepoan orang kampus!] -Edward
Anya berguling di atas kasur dengan senyum yang tidak pernah luntur di bibirnya. Entah kenapa memancing emosi Edward membuatnya senang.
"Ya, Mi?"
Anya beranjak dari atas kasur dan membuka pintu saat mendengar suara ketukan diiringi panggilan Kirana.
"Kenapa?" tanya Anya saat melihat wajah Kirana yang menatapnya dengan mata memicing.
"Qia bilang dia gak bisa bikin tugas karena kamu sama Ed berisik di kamar. Kalian ngapain aja tadi?" Kirana melipat kedua lengannya di d**a.
Anya menggaruk kepalanya karena bingung harus menjawab apa. Sial adiknya, kenapa harus mengadu pada Kirana, coba?
"Buka segel kamu?"
Anya melotot horor sambil menutupi aset berharganya di bawah pusar. Kirana kalau bertanya menyeramkan.
"Yakali, Mi," sungut Anya kesal.
Perempuan itu berjalan ke arah kasur dan kembali merebahkan diri. Kirana ikut masuk dan membiarkan pintu kamar putrinya terbuka lebar.
"Mami harap kelakuan kamu gak kelewatan, Kak. Kamu tahu kan, kalian masih bertunangan, belum menikah. Jangan sampai main kalian kejauhan. Mami gak mau nanti kamu nyesal. Mami harap kamu paham apa yang Mami maksud."
Anya menelan air ludahnya susah payah karena tatapan serius Kirana. Jarang-jarang maminya seperti ini.
"Iya, paham." Anya menunduk sambil mencebikkan bibir.
Pasti Qia mengira mereka melakukan hal yang iya-iya sehingga mengadukan ke Kirana. Awas saja bocah tengik itu nanti. Anya akan menjewernya.
"Sekarang tidur. Besok kamu ada kuliah pagi kan?"
Anya mengangguk dengan patuh. Perempuan itu menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Kirana tersenyum lalu mendekat untuk memberikan ciuman di kening sang putri sebelum mematikan lampu kamar Anya dan berlalu keluar kamar.
Anya yang memang sudah diserang rasa kantuk segera saja menutup mata dan langsung memasuki alam mimpi.
Berbeda dengan Anya yang sudah terlelap, Edward malah masih terjaga dan menunggu balasan pesan dari Anya.
"Tidur?" tanya Edward pada diri sendiri karena Anya sudah tidak terlihat online lagi.
Menghela napas dengan sabar, Edward kembali membuka akun instagramnya. Ada lima ribu orang yang menyukai unggahan terbarunya. Ada sekitar seribu komentar yang membuat Edward tidak berani membalasnya.
Dia harus segera menghalalkan Anya agar bisa mengunggah potret mereka berdua untuk membungkam komentar negatif tentang Anya.
"Jalang? Sial! Kalau Anya baca, bisa perang dunia," ujar Edward karena sebagian komentarnya adalah penghinaan untuk Anya.
Penggemar dosen tampan seperti Edward di kampus begitu banyak sehingga saat primadona kampus yang bar-bar seperti Anya terlibat hubungan dengannya, pasti akan ada pro dan kontra.
Masalahnya, Edward tidak tahu yang berkomentar dari jurusan apa saja. Karena pria itu mengajar di berbagai jurusa fakultas karena mata kuliahnya tersebut mata kuliah umum.
"Anya, Anya, kamu benar-benar membuat saya hilang akal."
Edward tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala saat jarinya menscroll postingan i********: Anya. Perempuan itu bahkan masih sempat-sempatnya membuat story punggung lebar Edward.
"Nekat!" Edward meletakkan ponselnya lalu membaringkan tubuh.