8. Hukuman Untuk Anya

1032 Words
Usai makan malam, keluarga Edward tidak langsung berpamitan pulang. Mereka kembali dijamu oleh Abi dan Kirana di ruang tamu sambil menikmati beberapa cemilan yang sempat Kirana bikin bersama Nella, kakak ipar sekaligus sahabatnya. Abi dan Aslan membahas kapan tanggal pernikahan yang tepat akan dilangsungkan. Mereka juga menyinggung soal pekerjaan dan rekan kerja yang hendak diundang. Karena Aslan dan Abi ternyata punya beberapa rekan kerja yang sama. Kalau di Aslan sebagai rekan kerja sama di perusahaan, maka di Abi menjadi salah satu donatur rumah sakitnya. Berbeda dengan kedua bapak itu, Kirana dan Tania membahas pernak-pernik pernikahan. Mulai dari pakaian seragam nanti hingga rekan-rekan arisan mereka yang akan turut hadir. Keduanya sama-sama wanita sosialita dan pengoleksi barang mewah. Semua orang menoleh kala suara salam terdengar dari arah pintu. Taqi masuk dengan senyuman ramah pada tamu keluarganya. "Siapa itu si ganteng?" tanya Tania pada Kirana. "Anak saya, Mbak, kembarannya Anya." Tania tampak terkejut. Dia baru tahu kalau calon menantunya itu kembar. "Kalau Anya jalan sama kembarannya, orang-orang bisa salah paham ngira mereka pasangan." Kirana tertawa. "Sering. Padahal kembar dan waktu kecil mirip. Gak tahu kenapa udah gede sekarang malah beda-beda." Tania tersenyum saat Taqi menghampiri Kirana dan mencium pipi wanita itu. "Anya mana?" tanyanya. "Lagi sama Edward di belakang," jawab Kirana. Setelah menyapa kedua orangtua Edward dan saudara pria itu, Taqi berlalu ke halaman belakang. Dia penasaran dengan calon suami kembarannya. Taqi memang tadi tidak sempat bergabung bersama Abi dan Kirana untuk menyambut calon besan orangtuanya. Lelaki itu mendapat telepon dadakan dari salah satu seniornya untuk ke rumah sakit. Jelas saja Taqi harus menurut sehingga melewatkan acara lamaran sang adik. Taqi berdiri di dekat pintu rumah sambil memperhatikan halaman belakang yang tampak kosong. Ke mana Anya? Lelaki itu berjalan ke arah gazebo, kosong juga. Taqi mendengkus, pasti kembaran bar-bar nya itu sedang mengikuti godaan setan bersama calon suaminya. Menghela napas, Taqi membalikkan tubuh dan berjalan kembali menuju rumah. Lelaki itu menaiki undakan tangga untuk ke kamarnya. Lebih baik dia istirahat saja. "Abang baru pulang?" Adalah sapaan dari Qia. Gadis remaja itu baru saja membuka pintu kamar dan melihat Taqi hendak memasuki kamarnya. "Iya. Adek kenapa belum tidur?" tanya Taqi sambil melihat jam di pergelangan tangannya. "Udah jam 10 lewat ini," lanjutnya. "Gak bisa tidur. Kak Anya berisik banget di sebelah," gerutu Qia. Kening Taqi berkerut bingung. Berisik? Memangnya apa yang kembarannya itu lakukan? "Berisik gimana?" "Abang denger aja sendiri. Adek mau ke bawah dulu." Qia berlalu menuruni undakan tangga meninggalkan Taqi dengan kebingungan. Taqi yang penasaran, memilih untuk melangkah ke kamar Anya. Lelaki itu hendak mengetuk pintu kamar Anya tapi tertahan saat mendengar suara di dalam sana. "Jangan digigit, Anya!" "Makanya diem!" "s**t! Kena gigi kamu!" "Diem aku bilang. Kamu bandel sih." "Pelan-pelan!" "Rambut aku jangan ditarik!" "Saya mau keluar!" "Sebentar!" "Saya gak tahan!" Taqi merinding mendengar suara Anya dan seorang pria saling bersahutan. Lelaki itu mengerjap lalu memilih pergi dari sana. Dia tidak mau kena amukan Anya si bar-bar. "Gila itu manusia. Belum sah udah main emut aja. Kena gigi segala. Anying!" Taqi yang terkenal kalem langsung mengumpat karena kelakuan kembarannya itu. *** "Kamu gak mau ganti panggilan ke saya?" tanya Edward saat tangannya sudah terlepas dari gigitan Anya. Perempuan itu ada-ada saja. Karena gemas melihat video kucing lucu, Anya melampiaskannya ke tangan Edward. Benar-benar tidak terduga. Mereka duduk di sofa di kamar Anya. Sebelumnya memang mereka berada di halaman belakang rumah Anya, lalu perempuan itu mengeluh kedinginan, dan berakhirlah mereka di sini. "Ganti jadi apa? Om?" Edward mendengkus sebal. Mereka sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Masa Anya memanggilnya dengan embel-embel bapak? Geli tahu gak. "Mas atau apa gitu," saran Edward sambil membenarkan rambut Anya yang sedikit berantakan karena tangannya tadi sempat mendorong kepala perempuan itu. "Gak ah. Bapak aja untuk sekarang. Kalo udah nikah, baru aku kasih panggilan khusus." Edward berdecak. Susah bernego dengan anak gadis Abi ini. "Ayo keluar, nanti yang lain nyariin," ajak Edward pada Anya. Anya menggeleng dan menarik lengan Edward untuk dia peluk. "Di sini aja. Aku pusing," keluh Anya melemahkan suaranya. "Jangan banyak alasan." Edward berdiri membuat Anya mencebikkan bibir kesal. Susah payah dia menahan Edward di sini karena sejak tadi pria itu selalu saja mengatakan 'saya mau keluar, saya gak tahan' karena dijajah oleh Anya. "Sayang," panggil Anya saat Edward hendak mencapai pintu kamarnya. "Apa?" tanya pria itu berbalik menatap Anya. Edward tidak mau berlama-lama dengan Anya di ruangan tertutup begini. Bisa-bisa dia khilaf dan menerkam Anya saat perempuan itu menggodanya. Masih terbayang oleh Edward betapa nekatnya mereka saat di meja makan tadi. Kalau saja Abi dan Aslan tidak memanggil mereka menanyakan sesuatu, bisa dipastikan Edward akan semakin tersiksa lagi karena godaan tangan Anya. "Sini dulu," panggil Anya lagi melambaikan tangannya pada Edward. Menghela napas panjang, pria itu berjalan kembali ke Anya dan mengerutkan kening melihat tunangannya itu tersenyum lebar. "Anya!" Edward melotot karena tanpa diduga tangannya ditarik kuat oleh Anya sehingga tubuhnya kini menghimpit tubuh perempuan itu. "Kita bisa ketahuan, Anya! Jangan gila kamu!" Anya terkekeh geli melihat wajah merah Edward. "Gak ada yang berani masuk ke kamar aku tanpa ngetuk pintu." Edward tetap saja waspada. Bagaimana kalau Kirana kembali memergoki mereka? Atau lebih parahnya Abi. Habis sudah Edward. "Lepasin lengan kamu." Edward jelas tidak bisa berbuat banyak dengan kedua tangannya karena tangan pria itu menahan bobot tubuhnya agar tidak menindih Anya. "Diem, Ed," ujar Anya berdecak. Edward semakin melotot. Apa katanya tadi? Ed? Perempuan itu memanggil namanya? Benar-benar minta dihukum. "Ulang lagi," kata Edward menantang. "Apa? Ed?" Edward menggertakkan giginya dan tanpa aba-aba langsung menyerang bibir lancang Anya. Perempuan itu tersenyum tipis saat bibirnya dilumat dan dicecap rakus oleh Edward. Semudah itu memancing pria yang menjadi tunangannya ini. Napas Anya terengah-engah kala bibir Edward melepaskan tautan bibir mereka. Mata Anya terlihat sayu menatap bibir Edward yang sangat menggoda baginya. "Lagi," bisik Anya serak. "Hukuman karena berani menggoda saya di meja makan tadi belum kamu terima. Apa kita harus melakukannya sekarang?" tanya Edward sambil berbisik juga. "Ya, lakukan." Sial. Edward benar-benar ditantang tanpa ampun oleh calon istrinya ini. "Kamu yakin?" tanya Edward memastikan. "Mhm...." Oke, baik. Edward tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Saat di meja makan tadi dia seperti pria dungu karena hanya bisa diam saat tangan nakal Anya bermain di pusat intinya. "Aahh...." Anya memejamkan mata sambil membusungkan d**a saat bibir pria itu mengecup daging payudaranya. Entah sejak kapan dres nya tersingkap sampai ke atas d**a sehingga kini payudaranya yang masih dilindungi bra putih berenda terpampang jelas di depan mata Edward. Tangan lihai pria itu memang tidak bisa diragukan lagi. "Jangan kuat-kuat," bisik Anya karena Edward akan melahap puncak payudaranya saat cup bra miliknya sudah pria itu turunkan. "Sial, Anya!" erang Edward dengan gairah yang benar-benar telah terpancing sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD