- Aku adalah orang yang akan selalu membenci sekalipun ada banyak kebahagiaan yang kamu hadirkan.- Adelia Pertiwi
- Tak apa jika itu cara pandang kamu dalam menilai seseorang,sebagai suami tugas saya memberikan kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Walau kamu tidak ingin menerimanya.- Dimas Zidan
I'M SORRY HUSBAND
Setelah menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi, Adelia segera membaringkan diri di atas kasur. Membuka handphone, ucapan selamat dari sahabat - sahabatnya membanjiri grub. Padahal ia sudah memberi peringatan, bahwa pernikahannya hanya sebatas formalitas. Jangan berlebihan hingga mengiriminya papan bunga atau hadiah - hadiah lain. Ia takut, usia pernikahannya berumur pendek, jika sahabatnya menghadiahi barang mahal, akan percuma saja.
Pintu kamar terbuka, sosok Dimas ada di sana. Sekilas Adelia membalas tatapan Dimas, lalu fokus kembali pada benda pipih di tangan.
" Sudah mandi?" Tanya Dimas berbasa - basi.
Adelia menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya hingga tidak menemukan wajah lelaki itu. Tangannya sibuk membalas pesan - pesan yang menumpuk.
Dimas hanya menghela napas panjang, tidak banyak bicara, ia menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi. Sebentar lagi azan Maghrib berkumandang, ia bisa terlambat ke Masjid jika tidak segera membersihkan diri.
Mendengar gemericik air dari kamar mandi, Adelia membuka selimut. Ia bernapas lega, menambah kecepatan berputar kipas angin di kamar.
" Ya ampun, bisa - bisanya aku menikah dengan lelaki yang tidak aku kenal." Keluhnya frustasi," entah dia lelaki macam apa, aku pun tidak tahu." Ia mengusap wajah kasar, meninggalkan ruangan sebelum Dimas keluar dari kamar mandi.
Yang penting pergi, entah kemana tujuannya. Ia meraih handphone, buru - buru keluar setelah tidak mendengar suara air dari kamar mandi yang dipakai Dimas.
" Adelia, ada apa?" Tanya Ratih khawatir, melihat menantunya buru - buru keluar sampai tersandung, bahkan handphonenya sudah tergeletak di lantai.
Ia meringis." Tidak ada apa - apa Bu," jawabnya sesopan mungkin.
Ratih menyimpulkan senyum menggoda." Dimas memang biasa mandi mau Maghrib, Adelia. Padahal tidak baik, besok - besok ingatkan saja suamimu itu."
" Baik Bu."
Adelia pun menuju ruang tamu, tidak ada siapa - siapa. Akhirnya ia menemukan tempat yang aman, ia pun duduk di sofa, kembali memainkan handphone.
Walaupun suasana masih ramai, Adelia bersikap tidak peduli. Bahkan ia tidak ingin mengenali saudara Dimas satu persatu, selain tidak penting, menambah pekerjaan saja.
" Mbak Adelia." Sapa perempuan dihadapan Adelia," dicari Mas Dimas."
Adelia terbatuk, bagaimana perempuan itu bisa menemukan dirinya yang tengah bersembunyi?
" Oh, iya." Katanya kikuk, membenarkan baju tidur yang dikenakan," ada apa ya dia mencari saya?"
" Virra tidak tahu Mbak, tapi dia tadi menanyakan Mbak."
Adelia mau tidak mau kembali ke kamar, menemui lelaki yang mencari dirinya. Ketika pintu kamar terbuka, wangi parfum Dimas menyengat indera penciuman. Sudah siap dengan perlengkapan shalat, sepertinya lelaki itu akan menunaikan ibadah shalat Maghrib berjamaah.
" Kamu mencari saya?" Adelia bertanya, menjaga jarak aman dari Dimas.
" Kamu sedang tidak berhalangan kan?" Dimas menatap Adelia, menyampirkan Sajadah ke bahu.
" Bukan urusan kamu."
" Urusan saya, saya ini suami kamu Adelia." Ia mendekati perempuan yang sudah halal disentuh." Shalat ya, saya tidak ingin kamu meninggalkan kewajibanmu pada Allah."
" Saya sedang tidak shalat."
" Jika kamu menjadikan alasan tidak shalat karena takut saya sentuh, itu tidak masalah untuk saya. Tapi saya tidak mau dengar, alasan kamu tidak shalat hanya karena malas. Saya pamit ke Masjid, saya pulang malam, jika ingin tidur cepat, silahkan. Asal pintu kamar jangan dikunci saja." Pesan Dimas.
Adelia mengangguk, tidak memberikan Dimas jawaban. Membiarkan suaminya meninggalkannya sendirian di kamar, bukan masalah. Ia justru senang jika Dimas tidak satu ruangan, ia memiliki kebebasan tersendiri tanpa harus merasa kesal, kesalnya pun tidak beralasan.
I'M SORRY HUSBAND
Adelia terkejut, mendengar suara petir yang sangat kuat. Ia merasakan rumah orang tua Dimas sampai bergetar. Ia menyingkap selimut, menemukan Dimas terlelap di sebelah. Lampu sudah mati, sepertinya sengaja dipadamkan oleh pihak terkait.
Senyumnya mengembang, ternyata ia tidak sendirian. Ada suaminya, ketakutannya sedikit menghilang dan ia kembali membaringkan diri.
Suara petir saling sahut - menyahut, Adelia meresapi getaran tersebut, padahal mengerikan. Matanya tidak terpejam, pikirannya sudah berjalan jauh menghampiri Arden di kota. Ia merindukan lelaki itu, lelaki yang masih menjadi kekasihnya.
Ia mengeratkan pelukan bantal guling, air matanya meleleh. Arden adalah cinta pertama, kakak kelas yang pernah ia kagumi dan sekarang menjadi kekasih. Sudah dua tahun, mereka menjalin hubungan tanpa restu, namun bagi Adelia, selagi atas nama cinta. Semua memiliki jalan keluar, entah bagaimana caranya, ia meyakini itu.
Tiba - tiba jemarinya terasa digenggam, ia menoleh ke sebelah, Dimas sudah bangun.
" Mengapa menangis?"
Adelia diam.
" Kamu menyesal telah menikah denganku?"
Adelia membalikkan tubuh, membelakangi Dimas. Ia tidak ingin lelaki itu melihat dirinya yang lemah, hanya karena tidak mampu memperjuangkan cintanya pada Arden.
Dimas menahan lengan Adelia." Berdosa, tidur membelakangi suami."
" Saya tahu."
" Lantas, mengapa kamu melakukannya."
" Saya ingin."
" Adelia, kamu istriku." Dimas memaksa Adelia agar menghadapnya." Aku tidak ingin kamu menanggung dosa, apa pernikahan ini menjadi beban paling berat dalam hidupmu?"
" Entahlah." Ia terisak - isak.
Dimas merasa bersalah." Maafkan lah aku, tidak bisa memahami perasaanmu saat ini. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
" Seharusnya kau menolak perjodohan ini, Dimas. Mengapa kau menerimanya, kau membuat saya kehilangan banyak hal." Luahnya tidak terima.
" Aku tidak merebut apapun darimu, Adelia. Kalau kau lupa, Ummimu yang mendatangiku, menawarkanmu menjadi istri. Lalu terjadi kesepakatan diantara dua keluarga, kalau kau tidak ingin aku nikahi, mengapa tidak kau tolak dari awal akan menikah."
" Saya tak punya kuasa untuk menolak!"
Dimas memeluk istrinya." Aku tidak pernah kau izinkan bertemu, apalagi berbicara. Bagaimana aku tahu akan perasaanmu, Ummi mu mengatakan setuju aku nikahi, tidak ada penolakan apapun. Bahkan aku baru melihat wajahmu, saat kita akan melangsungkan Akad nikah. Lalu, aku salah apa?" Tanya Dimas dalam kegelapan malam.
Adelia melepaskan pelukan Dimas, namun usahanya sia - sia saja. Pelukan lelaki itu lebih erat dibanding tenaganya yang cukup terkuras habis karena resepsi siang tadi.
" Lepaskan saya Dimas." Bisik Adelia tidak suka.
" Ini malam pertama kita, harusnya aku mendapatkan apa yang aku mau sebagai seorang suami dari istriku saat ini. Untuk pelukan saja, apa salahnya Adelia, kau halal untukku dan aku halal untukmu."
" Hanya berlaku bagi pasangan yang saling mencintai." Adelia semakin tidak suka mendengar penuturan Dimas.
" Aku lelah, mari kita tidur." Ajak Dimas, matanya sudah kembali terpejam tanpa melepaskan pelukan.
Adelia kesal setengah mati, jika sudah pagi tiba. Ia akan memberi Dimas pelajaran, bahwa sikapnya malam ini benar - benar keterlaluan.
Untuk pertama dan terakhir Dimas menyentuh kulitnya, ia berjanji akan membuat perhitungan pada lelaki yang tidak tahu untung. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Apa itu namanya?
" Tunggu lah pembalasan yang setimpal dariku, aku janji, kau tidak akan melupakannya!" Geram Adelia, menahan diri untuk bersabar hingga esok.
Entah bagaimana ceritanya, ia pun ikut terlelap. Hujan diluar terdengar mengguyur deras, sudah tidak disertai petir namun semilir angin sejuk menyapa setiap kamar - kamar yang ada di rumah.
Pelukan Dimas terasa hangat, hingga akhirnya mimpi pun menjemput Adelia, tangannya tanpa disadari sudah melingkar pada pinggang Dimas, begitu erat.
Lelaki yang tadi hanya memejamkan mata, tidak benar - benar terlelap, mengukir senyum kecil. Di kecupnya dahi sang istri.
" Aku mencintaimu, istriku." Batin Dimas," kamu cantik."
TBC
Best Regard, Ratniey