- Adelia-
Akad ini sebagai wujud cintaku pada Ummi, menemani hidup sosok lelaki yang menjadi pilihan bukan dipilih. Andai saja kalimat perjodohan itu tidak ada, mungkin semua tidak akan berakhir di meja pernikahan.
" Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Pertiwi dengan maskawin cincin emas dan seperangkat alat shalat di bayar tunai." Suara lantang Dimas memenuhi ruangan, yang menjadi tempat dirinya dan Adelia melaksanakan akad nikah.
" Bagaimana saksi?" tanya petugas Kantor Urusan Agama yang menjadi wali dari mempelai perempuan.
" Sah," jawab kedua saksi yang duduk tidak jauh dari Dimas.
" Alhamdulilah." Ucap para undangan serentak.
Doa pun terlantunkan setelah prosesi ijab kabul berjalan dengan lancar. Ada rasa haru yang tidak bisa dijelaskan oleh Dimas, perjalanannya selama 24 tahun, kini sudah menjadi suami untuk Adelia.
Namun bagi Adelia, semua masih terasa mimp menjadi bagian hidup lelaki yang tidak dikenalnya sama sekali. Hanya isak tangis yang terdengar, antara hati dan mata berjalan selaras untuk mencurahkan rasa sedih yang tidak terbendung.
" Adelia," panggil Dimas pelan." Boleh aku membacakan doa barakah untuk kita?"
perempuan itu mendongakkan kepala, wajahnya berurai air mata. Entahlah, ia hanya ingin lelaki itu merasakan kesedihannya hari ini.
Dimas pun membacakan doa pernikahan, setelahnya mereka menandatangani buku nikah, Dimas menyerahkan maharnya kepada Adelia.
" Silahkan, Mas Dimasnya memberikan mahar pada istri." Ucap petugas Kantor Urusan Agama.
" Adelia.." Ucap Dimas bergetar.
" Aduh, jangan nama Mas suami, panggilan sayang." Petugas itu mengajari, sembari mencandai Dimas sebagai pengantin baru." Biasanya dipanggil apa istrinya?"
" Adik saja, Pak." Sahut Dimas.
" Nah, itu juga manis." Lelaki paruh baya itu tertawa.
" Dik, Adelia. Ini mahar dari saya, seperangkat alat shalat, mohon diterima dengan tulus dan ikhlas." Ujarnya mengikuti arahan dari pihak KUA, keringat dingin semakin membasahi sekujur tubuh Dimas.
Adelia mengangguk, menerima mahar yang diberikan oleh Dimas.” Terimakasih, Mas.” Ia tersenyum tipis, hanya mereka berdua yang bisa melihatnya.” Saya terima mahar dari kamu dan akan saya pergunakan sebaik mungkin."
Tes.
Dimas pun memeluk Abdi dan Ratih begitu erat penuh haru, memperhatikan satu persatu wajah orang tua yang sudah membesarkannya sejak kecil hingga dewasa.
Belum sempat memberikan banyak kebahagiaan atas semua perjuangan dan jasa – jasanya sebagai seorang Anak.
"Ayah dan Ibu, Dimas mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan sebagai seorang anak, tetaplah membimbing Dimas sekalipun sudah terikat pernikahan. Doakan pernikahan kami, berjalan atas ridha yang Ayah dan Ibu berikan." Ucap Dimas terisak – isak.
" Ibu doakan yang terbaik untuk kamu dan Adelia, rumahtangga yang diidam - idamkan oleh banyak pasangan. Tidak ada satu pun yang di harapkan oleh orang tua selain kebahagiaan anaknya." Ratih mengusap punggung Dimas berulangkali.
Dimas mengangguk, mencium takzim tangan ibunya lalu beralih pada Abdi.
" Menjadi suami adalah tugas yang tidak mudah, Dimas. Bangunlah istana pernikahan kalian sebaik mungkin. Apapun yang istri kamu lakukan itu bisa menjadi ladang pahala dan juga dosa, jangan sembarangan bermain dengan ikatan pernikahan." Nasihat Abdi.
Naluri seorang ayah memang berbeda dengan Ibu, namun Abdi lebih peka dalam mengartikan perasaan sang buah hati.
“ Umi selalu berharap, kelak kamu menjadi istri yang baik, patuh dan menjaga pernikahan bersama Dimas.” Yasmin memberikan nasihat pada anaknya. Tidak ada jawaban, Adelia hanya mencium tangan Umminya sembari menangis tersedu- sedu sebelum bergantian menyalami orangtua Dimas, mertuanya disebelah.
_______
Suara Kompang khas pedesaan menjadi pelengkap acara bersandingnya sang Raja dan Ratu sehari. Adelia gelisah, berkali – kali melirik kearah pergelangan tangan. Baju yang dikenakan sangat panas, cuaca bahkan tidak mendukung. Ikut memberikan keringat berlebihan.
" Masih lama? Saya lelah." Tanya Adelia ke arah Dimas.
" Sepertinya cukup lama, tamu yang hadir ramai sekali.” Dimas menunjuk para undangan yang masih padat di tenda tamu.
Adelia terlihat kesal." Saya harus kembali ke kamar, katakan itu pada Ibumu!"
" Bersabarlah sebentar saja, saya juga lelah, bukan hanya kamu." Dimas mengarahkan kipas angin pada Adelia.
" Kalau kamu lelah, itu bukan urusan saya." Jawab Adelia memberi peringatan," saya hanya ingin kembali ke kamar."
Dimas menatap wajah Adelia yang memerah menahan amarah, ia pun mengalah, menghampiri Ibunya yang sedang berbincang bahagia bersama Yasmin.
“ Ada apa Dimas?” Tanya Yasmin pada sang menantu.
“ Ummi, Adelia sudah kelelahan. Saya bawa masuk ke rumah, tidak apa – apa kan?”
“ Loh, kan baru saja bersanding, masa sudah mau bubar.” Mata Yasmin mengarah pada Adelia, tampak anaknya benar - benar kelelahan.
“ Sudah, tidak apa – apa Mbak.” Ratih menengahi,” bawa saja istrimu masuk ke rumah, Kebetulan cuaca memang sedang hangat, kasihan Adelia.”
Dimas bergerak cepat, kembali menuju pelaminan, Adelia menunggui penuh harap.Senyumnya terpaksa hadir ketika melihat ada Ibu Dimas yang menyusul dari belakang.
“ Hanya untuk berbincang dan pendekatan saja ya, Mas.” Pesan Ratih sebelum anak dan menantu masuk ke dalam rumah.
Adelia menunduk, hatinya terasa dicubit mendengar ucapan Ibu mertuanya. Harusnya Dimas bukan dia, namun yang kelihatan sulit menerima pernikahan adalah dirinya bukan lelaki di sebelah.
________
Adelia melepaskan segala pernak –pernik pernikahan secara paksa, hingga resleting kebaya yang masih menempel di tubuh sudah rusak pun tetap tidak dipedulikan.
Dimas melirik ke arah istrinya, namun tidak berani menawarkan bantuan. Ia hanya sesekali mencuri pandang sembari melepaskan beskap yang dikenakan.
“ Pelan – pelan saja Adelia, nanti bisa melukai tubuhmu.” Akhirnya Dimas buka suara, mengingatkan Adelia.
“ Itu jauh lebih baik daripada kamu yang menyakiti saya.” Lirihnya sinis.” Saya bukan anak kecil yang harus kamu ajari."
“ Saya tidak berniat mengajari, saya hanya mengingatkan saja. Lakukan sesuatu pakai hati, maka tidak akan ada yang melukai kamu."
“ Jangan bawa – bawa perasaan." Adelia menatap Dimas yang bertelanjang dada." Jangan pernah singgung apapun mengenai perasaan bodoh itu."
" Saya tidak mengerti, apa makna dari ucapanmu." Dimas sudah berganti pakaian, duduk di kasur pengantin.
Adelia diam, menjatuhkan tubuhnya di kasur lalu melelapkan diri. Tidak peduli tatapan Dimas padanya.
l'M SORRY HUSBAND
seharusnya acara berakhir sebelum Maghrib, namun baru sebentar bersanding Adelia memilih untuk menyudahi walaupun tamu undangan masih banyak di luar. Seingatnya, ia terlelap dan Dimas masih berada di kamar pengantin.
Namun ketika membuka mata, ia tidak menemukan sosok lelaki itu di ruangan. Tidak ingin ambil pusing, Adelia bangkit dan menatap dirinya melalui pantulan kaca. Wajahnya masih tampak cantik, make- up melekat sempurna. Perias wajah tadi pagi, membuat pernikahannya tidak terlihat buruk, justru terkesan sempurna.Adelia berterima kasih.
Ia melepaskan cincin yang ditautkan Dimas pada jari manis, sebagai mahar pernikahan. Di letakkan pada meja lalu ia mengikat rambutnya yang terurai panjang.
Tidak betah dikediaman sang mertua, Adelia memutuskan untuk menemui Umminya dan mengajak pulang ke kota, malam ini juga.
Pintu kamar terbuka, masih banyak orang berlalu - lalang. Ibu - Ibu menyuguhi senyuman manis, mau tidak mau pun Adelia membalas dengan senyuman juga, sedikit tipis.
Ia menoleh ke kiri - kanan, namun tidak menemukan sosok Umminya. Hingga akhirnya Dimas sudah berdiri dihadapan, Adelia memasang wajah dingin, seperti biasa.
" Ada apa?" Tanya Dimas lembut.
" Lihat Ummi?"
" Sudah pulang ke kota, tadi saya berniat membangunkan kamu, tapi Ummi tidak izinkan. Ummi hanya titip pesan, satu minggu di sini baru kembali ke kota, bersama saya."
Adelia mendengus, mengepalkan tangan tanda tidak terima. Menarik tangan Dimas agar masuk ke kamar.
" Kamu pikir, kamu siapa?!" Kata Adelia emosi, giginya bergemeletuk menahan amarah.
"Saya sendiri tidak tahu, saya ini siapa bagimu. Maafkan saya, Adelia." Jawab Dimas, berusaha meredam amarah sang istri." Jangan pula kamu lampiaskan amarah itu pada saya, sungguh, saya tadi sudah membangunkan kamu, sekalipun Ummi tidak mengizinkan. Kamu lelap sekali, hingga tidak mendengar panggilan saya."
Adelia membuang tatapan dari Dimas. " Tolong, batasi sikap kamu pada saya." Ia memperingati Dimas untuk tidak terlalu ikut campur.
" Memangnya saya apa kan kamu hingga harus membatasi?" Kening Dimas berkerut, tidak mengerti." Saya tidak menyentuh tubuhmu dari ujung rambut hingga ujung kaki, sepertinya kamu yang terlalu berlebihan."
Adelia pura - pura tidak mendengar. Ia duduk ditepi kasur dengan tangan terlipat di d**a.
" Lalu kita akan bagaimana ke depannya?"
" Entahlah, saya belum mampu memikirkan itu." Dimas bersiap - siap keluar kamar," bersihkan tubuhmu, sudah sore. Jika sudah malam, rumah ini akan ramai dengan keluarga besar." Ucapnya pada Adelia, sebelum keluar kamar.
Adelia tidak menjawab, namun ia tidak menentang perintah Dimas. Tubuhnya sudah gerah, ketika ia mandi, maka air akan mendinginkan segala isi tubuhnya sekaligus membuat dirinya merasa bersih. Baginya Air menjadi sumber utama kebahagiaan dari Dimas yang baru saja dianugerahi gelar suami.
TBC
Best regard, Ratniey