Definisi Jodoh

1275 Words
" Virra." Panggil Dimas, masih kebingungan mencari jawaban yang pas." Kamu tidak salah orang?" " Tidak Dim, Maafkan lah atas kelancanganku, atas ucapan yang terlepas dari hubungan kita sebagai seorang Kakak – Adik. Itu yang aku rasakan dan kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya mencintai orang yang hatinya tidak disatukan.” Ia tertawa pilu, memberanikan matanya menatap Dimas. " Rasa cinta ataupun suka itu suatu Fitrah Vir, tidak ada yang salah dengan perasaan kamu. Tidak ada juga yang perlu dibebani, aku menerima semua luahan hati kamu dengan tulus, tapi hingga saat ini belum ada yang merubah pandangan dari aku sebagai seorang Adik perempuan, tetap sebuah rasa itu akan selalu tersimpan rapi di hati.Terima kasih ya, sudah berani menyampaikan dan mencintai lelaki seperti aku yang penuh kekurangan." Virra menghapus air mata." Semoga Sakinah - mawaddah – warahmah pula untuk pernikahan kamu nantinya, diberkahi Allah subhanahuwataala. Aku berusaha untuk bersikap sebagai seorang Adik, seperti biasanya hingga rasa ini perlahan – lahan menghilang." " Aku minta maaf sudah mengecewakan perasaan kamu Vir, pasti akan ada sosok lelaki yang bisa dipercaya untuk menjadi pendamping hidup, jauh lebih baik dari aku." Dimas menatap mata indah milik Virra namun malam ini terlihat begitu sendu. " Tetap Dim, melupakan cinta pertama itu sangat sulit. Aku mengerti, aku pamit untuk istirahat, selamat malam." Ucap Virra buru -buru. Ia segera masuk ke kamar, dadanya kembang kempis untuk segera melepaskan tangis. Walau sudah berusaha menerima sebuah takdir yang berlaku, Dimas masih sebagai lelaki yang paling dicintai. Memang ia salah, mencintai makhluk Allah secara berlebihan, sampai akhirnya hanya kecewa saja yang diraup. Dimas mendudukkan diri ke kursi, menstabilkan perasaannya yang semakin kacau.Kenyataan yang tidak pernah terlintas, bahwa sosok Virra ternyata begitu mencintainya. Bahkan ia tidak terpikir, jika perempuan itu diam - diam menaruh rasa. Setiap orang ditakdirkan hidup dengan cara yang berbeda, salahsatunya jodoh. Dia, seorang lelaki yang benar-benar jauh dari impian masa kecil, hanya lelaki biasa tanpa kelebihan apapun. Baru saja mengabari tentang persetujuan untuk menikah, sebentar lagi dunia indahnya akan berubah menyeramkan sepanjang masa. Pernikahan, suami dan juga istri, hak dan kewajiban. Semua akan menyulitkan hidupnya. Wait that, you can see! " Adelia," suara lembut Yasmin mengisi gendang telinga. Lamunannya terlalu dalam, enggan kembali pada dunia nyata yang isinya akan kacau." Adelia, Ummi.sedang berbicara padamu." " E, iya Mi, maaf, aku tidak dengar." Ia tergagap mendapati Yasmin sudah duduk bersamanya. " Bagaimana jika Akad nikah kamu, dikediaman orang tua Dimas saja?" " Di kampung?" “ Apa salahnya menikah di sana, nanti resepsi baru di Kota. Kamu bisa undang teman Kuliah, teman SMA atau bahkan teman - teman kamu dulu ditempat kerja." Yasmin menyarankan. " Terserah Ummi saja, aku malas mau menolak. Aku tidak ingin bertengkar apalagi meninggikan suara pada Ummi." Ia kembali fokus pada hamparan langit yang dipenuhi bintang - bintang. Adelia sengaja memilih bungkam, malas berdebat dengan perempuan yang melahirkannya ke dunia. Sudahlah dosa, keras kepalanya pun melebihi batu, kadang ia ingin marah namun ingat posisi di rumah. Umminya adalah orang tua satu - satunya saat ini, Papanya telah meninggalkan keluarga sejak usianya 12 Tahun. Rasa kehilangan itu membuat dirinya menjadi tidak terkendali, hingga akhirnya mengenal dunia yang cukup memiliki kebebasan. Ah, Pa. Maafkan aku. Pada akhirnya, putri kecil Papa akan menikah juga. IM SORRY HUSBAND Ucapan Yasmin benar – benar terbukti, saat ini Adelia tengah menatap rumah sederhana setelah keluar dari mobil. Ya, masih jauhlah dari kata – kata sederhana bagi Adelia, rumah bercat putih usang itu hanya berukuran besar kamar miliknya di kota. Walau sekitarannya dipenuhi berbagai bunga, namun dimata Adelia masih tetap bukan pemandangan yang layak. Nuansa khas bangunan perkampungan, dibubuhi panggung, beratap seng yang bisa di pastikan sudah berusia cukup tua. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal di tangan, benar – benar mimpi buruk. Memang tampak perbedaan yang cukup signifikan untuk sebuah acara antara dikampung dan kota. Bahkan Adelia bisa menebak, hampir seluruh orang yang berada di rumah Dimas merupakan tetangga kiri dan kanan yang ikut menyambut hari pernikahan mereka. Sikap kekeluargaan pun masih melekat kental,berbeda di kota mereka lebih mempercayakan Wedding Organizer untuk menangani sepenuhnya acara yang dibooking jauh - jauh hari. " Adelia di mana?" tanya Ratih setelah mempersilahkan Yasmin masuk ke rumah.” Kok sendirian?” " Masih di mobil, sebentar lagi juga menyusul." Jawab Yasmin ramah.” Cukup kaget, sejak kecil Adelia tidak pernah merasakan suasana asri di desa, akan terkejut.” Ratih terkekeh.” Terkejut karena tidak terbiasa Mbak, bukan kagum.” Yasmin ikut terkekeh.” Biar Adelia bisa belajar juga mbak, di kota dia tidak pernah menemukan pemandangan alam yang Masya Allah sekali." Perbincangan mereka pun berlanjut panjang, mengenai persiapan menjelang akad besok pagi. Berbeda dengan Adelia, sepanjang menuju ke rumah milik orang tua Dimas. Bibirnya tidak berhenti mengomel, menggerutu seadanya yang ingin diucapkan. " Adelia, tidak ikut Ummi masuk?" Suara lembut Dimas terdengar di gendang telinga, untuk pertamakalinya mereka bertemu empat mata. Saat Dimas bertandang ke rumah, ia sengaja menghindar, hanya Umminya saja yang menemui lelaki itu. Ia memutar bola mata kesal, tidak mempedulikan ucapan Dimas yang ditujukan padanya. " Iki to calon bojo mu, Mas?" Tanya salah satu Bapak –Bapak yang tidak sengaja melewati mereka berdua. " Nggeh pakde." Dimas mengangguk. " Ayu tenan, Mas. Apik kowe lek golek bojo yo." Ujarnya lagi, memberi Dimas godaan kecil. “ Mereka mengatakan apa?" Tanya Adelia tidak suka. “ Kamu cantik, katanya.” Dimas menatap Adelia, tersenyum manis. Adelia tertawa mengejek kearah Dimas, sampai suara perempuan paruh baya mengusik perbincangan mereka kembali. " Cah ayu iki, calon pengantinnya Mas?" Tanya Mbokde Darmi pada Dimas, menunjuk ke arah Adelia. " Bukan saya, Nenek salah orang.” Jawab Adelia cepat, Dimas sampai salah tingkah mendengarnya. " Aduh, maaf. Mbokde pikir kamu pengantin perempuannya. Rencananya mau menanyakan pakaian akad esok. Ya sudah, Mbokde pamit.” Ia pun meninggalkan mereka berdua. " Mengapa harus berbohong?" Dimas bertanya. " Siapa?" Adelia pasang wajah tidak bersalah. " Saya pikir, kamu calon pengantinnya. Ternyata saya salah orang, setahu saya. Bu Yasmin hanya memiliki anak tunggal, apakah calon istri saya tertinggal di dalam mobil?" Adelia diam, hanya menatap kesibukan para tetangga Dimas menyambut pernikahan besok pagi, tidak peduli Dimas masih bersamanya dan menanti jawaban. Ada rasa yang tiba – tiba mengisi relung hati, kehilangan dan kerinduan pada kekasihnya yang sangat dicintai. Hari pernikahannya sengaja disembunyikan dari Arden, ia belum siap menerima kenyataan. Cukuplah sahabat – sahabatnya saja yang dikabari, kalau besok akan melaksanakan Akad pernikahan. " Tidak ada jawaban atas pertanyaan saya?" Dimas membuka percakapan kembali. " Tidak." Jawab Adelia dingin. " Jika saya salah, saya minta maaf. Masuklah, temui Ummi dan orang tua saya di dalam, walaupun kamu menolak perjodohan ini, setidaknya hargai mereka sebagai keluarga saya." Perintah Dimas pada perempuan di sebelah. Adelia menoleh, menatap lelaki yang akan menikahinya. Datar saja, tanpa ada perasaan apapun yang singgah. " Apa saya salah bicara?" Dimas merasa bersalah," jika ucapan saya tadi menyinggung perasaanmu, maafkan saya lagi. Istirahat di dalam, kamar pengantin sudah menerima kamu dengan baik." Adelia menghela napas, menarik koper dan meninggalkan Dimas sendirian di halaman rumah. Ia hargai kesopanan lelaki itu, namun bukan berarti ia sudah diluluhkan. Dimas bukan kriteria sebagai suaminya. Belum, dan sepertinya pun tidak akan bertahan lama. Lelaki itu cukup tampan, sesuai yang dikatakan sahabatnya lalu. Ketampanan yang alami, kulitnya bersih, hanya saja kurang mendapatkan perawatan. " Ugh!" Desis Adelia kesal, mendapati roda koper tersangkut di pintu masuk rumah orang tua Dimas. Hawa yang terasa sangat panas, rumah papan yang diinjaki kakinya adalah rumah papan pertama yang ia lihat. - Kita tidak bisa apa – apa, waktu yang menginginkan dua hati manusia untuk menyatu. Tidak ada pilihan mengenai jodoh dan perasaan, satu hal yang sulit ditebak, seperti definisi cinta yang berbeda.- Dimas Zidan. TBC Best regard, Ratniey
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD