Siapa Dia

1215 Words
"Hentikan makannya". Nana merebut Burger ditangan Leandra. "Kau tidak puasa?". Nana memarahi Leandra. "Musafir tidak harus ...." (Leandra) "Oh ya Tuhan, aku tak ingat kalian masih puasa, bagaimana ini.. aku benar-benar minta maaf". Martin memang non muslim dan dia tak sengaja. "Tak apa Martin, kamu sangat tepat. waktu Magrib kita sepertinya masih di jalur tol". Rio menenangkan. "Nana, aku tak sahur tadi". Leandra membujuk. "Tapi tadi kau puasa kan?". Tagas Nana. "Iya sih, aku kan g punya uang". Leandra Memelas "Tahan, tidak ada dua jam". Nana semakin galak. Percakapan Leandra dan Nana menenggelamkan kecanggungan Martin. *** Dilain pihak melalui kaca spion Laras terus memperhatikan Leandra. 'Iya orang itu. tidak salah lagi, benar itu orangnya'. Gumamnya meyakinkan diri. Bahwa dialah orang yang merusak alat pemanas air untuk membuat Mie instan atau kopi di Bee Market saat jam kerjanya. Dan parahnya orang itu melarikan diri begitu saja. Sehingga manajernya dengan sangat terpaksa harus memberhentikan Laras. Manajer itu sebenarnya sangat baik. Sudah berusaha membantu. Namun mas Anam tidak bisa berbuat apa-apa karena dari HRD pusat memutuskan demikian, apalagi Laras hanya pekerja part time. Bukan karyawan resmi seperti yang lain. *** Orang yang menghancurkan dunia sederhananya tiga bulan yang lalu ada di sini. Apa yang harus dia lakukan?. Atau sekarang dia perlu minta pertanggungjawaban?. Sebaiknya bagaimana?. Setelah bertemu sang biang kerok pun dia tak tahu harus bagaimana. Hah benar-benar payah. Bahkan dia kini menumpang di mobil sahabat sang pembawa sial itu. *** "Kau baik-baik saja?". Rio menyapa gadis yang belum dia temukan definisinya itu. "Oh iya". Laras langsung tersenyum melihat Rio. mengalihkan fokusnya dari si sialan. Pasti Rio menganggap dirinya aneh atau lebih parah lagi. Karena mungkin Rio memergoki dirinya melirik Leandra dari tadi. Bisa jadi Rio mengira Laras tertarik pada laki-laki berwajah Belanda Jawa itu. Walau rambutnya tampak panjang berantakan dan sedikit berewok tak beraturan. Namun, dengan penampilan semacam itu, tidak akan ada yang dapat mengatakan dia tidak menarik. hidungnya bibirnya bahkan daya tariknya dari tubuhnya yang tinggi tegap dan atletis tidak bisa di hindari. "Sebentar lagi Magrib, boleh minta tolong bantu aku mencari Rest area". Rio sangat sopan. Sebenarnya Rio sedang mengkhawatirkan Laras. Perempuan ini tadi menangis. *** Akhirnya kelimanya turun dari mobil, duduk dalam dua lingkaran meja tak beraturan. Tepat sesaat sebelum kumandang Azan Magrib. Rio berdiri menuju pintu minimarket Alf*mart di belakang mereka. "Kau mau ke mana?". Tanya Martin. "Aku akan beli kurma, kenapa? mau aku belikan sesuatu?". jawab Rio. "Sudahku bilang semua kebutuhan perjalanan aku yang menanggung jadi kalian tinggal bilang saja". Martin. Rio mengerutkan keningnya tidak setuju. "Kita sudah bahas dari awal. Kalian menemaniku membawa mobil ini ke rumah kakakku. Termasuk gentian mengemudikannya. Dan aku tanggung semua akomodasinya". jelas Martin. "Itu berlebihan". Rio pasrah, melihat Martin seperti orang berambisi. "Oppa Dermawan. Kau terbaik. belikan aku jus". Nana menyahut. "Oh iya boleh aku minta pencukur kumis sekalian". Semua melihat Leandra, karena permintaan anehnya itu. Dan terdiam. Dia memang membutuhkannya. *** "Aku tahu kau meliriknya". Nana tersenyum. "Aku yakin kau menganggapnya orang aneh, berantakan dan Bla bla bla". Nana terus bercerita tentang Leandra. Sejujurnya bagi Laras bukan aneh. Tapi sialan. "Dia itu buronan". Nana berkata santai. Laras membelalakkan matanya. mata itu seperti berkata. apa kita membawa penjahat di mobil. "tunggu. tunggu. bukan buronan semacam itu". Nana menenangkan. "Dia buronan keluarganya". Jelasnya. Laras semakin bingung saja. "Memang kau benar-benar tak mengenalnya?? dia anak UI yang populer?". Penjelasan Nana hanya berakhir dengan geleng kepala Laras. "Oh ya Tuhan pasti kamu anak rajin di kampus. Jarang main, jarang hang out dan semacamnya... BLA BLA BLA". Nana berputar-putar menjelaskan tentang Leandra. Intinya. Leandra adalah orang popular didukung latar belakang keluarga terpandang dan saat ini sedang melarikan diri dari keluarganya, sudah bulan ke 3 dia tidak pulang ke rumahnya, ke kampus saja tak berani karena setiap saat bisa ditemukan. Makanya dia ikut dalam perjalanan ini. Karena satu-satunya teman yang masih bisa di percaya adalah Martin. Cerita Nana semakin membuat Laras pening. *** Berbuka telah usai. Dan mereka semua sudah selesai salat maupun membersihkan diri di rest area. Martin dengan sabar menanti. Ada sedikit perbedaan dengan penampilan salah satu dari mereka. Itu adalah Leandra ternyata pemuda berantakan itu sudah ganti baju. Tentu saja dengan baju Martin. Karena style-nya bisa di tebak. Sedikit kesempitan, malah membuat beberapa mata dengan sengaja menatap ke arahnya. Celana yang dikenakan tampaknya milik sendiri karena pas sekali. Dan yang paling berubah adalah wajahnya yang bersih dari berewok tipis tak beraturan itu. Rambutnya pun sudah di kuncir rapi. 100% menjadi orang berbeda. Kecuali sikapnya, sepertinya masih sama saja. *** "Rio kau butuh diganti?". Martin melirik Leandra. "Jangan aku malam ini... please... aku ingin beristirahat. Kau tahu aku gelandangan berhari-hari". Leandra "Baik, berarti besok giliranmu". Martin meminta Nana duduk di depan bersamanya. Laras kebingungan. Rio sudah duduk di dalam. Dan Leandra tidak tampak ingin masuk duluan. Dengan kepala yang semakin pening. Laras mengumpulkan keberanian untuk duduk di antara kedua laki-laki yang bahkan belum 24 jam dia kenal. Kepalanya seperti tidak bisa di ajak kompromi. Dia mencoba terjaga dan sia-sia. Kepalanya meminta untuk segera tidur. *** "Nana kau jangan tidur". Martin mengguncang tubuh Nana memintanya menemani mengemudi. "Musikmu terlalu merdu". Sahut Nana. Di belakang terlihat dua anak manusia saling bersanding. Sepertinya kepala Laras bersandar di bahu Leandra. Dan Leandra pun tertidur pulas meringkuk di kepala Laras. Rio Beberapa kali mencoba mengusir kepala Leandra agar meringkuk kesisi lain. "Ciiiii.....ttttt". Decit rem mobil membuat semuanya tersentak. Agar tidak oleng Martin segera memutar setir dan berusaha menghindarinya. Untung di belakang tidak ada kendaraan lain. Marti segera kembali ke jalur dan berkendara dengan pelan. "Wah gila bagaimana mobil itu bisa parkir santai di situ". Martin hampir mengumpat tapi menahannya. Nana terperanjat tak bisa berkata-kata. Dia memegangi sabuk pengaman. Dan mengumpulkan kesadarannya. Untung aku memakainya kalau tidak jadi apa tadi. Gumam Nana. Di belakang Rio dengan spontan merangkul tubuh Laras yang terbanting ke depan namun bantingan itu di tahan oleh Rio. Kini sejujurnya Rio-lah yang punggung tangannya terasa sakit. Dan Leandra terperosok ke depan, dia langsung terbangun untungnya tidak ada yang terluka. "Kalian baik-baik saja". Martin memastikan penumpangnya selamat. "Kita tidak apa-apa". Rio berusaha merapikan tubuh Laras di posisi yang tepat. "Tunggu bagaimana bisa dia tak bangun?". Lendra berusaha memeriksanya. "Dia panas sekali". Tambah Leandra. "Benarkah??". Rio panik, turut memeriksa. "Apa dia pingsan". Leandra menggoyang tubuh kecil itu. Seperti boneka tak memberi respons. "Tenang-tenang". Martin menghentikan mobilnya lalu meminta Leandra keluar dan segera memeriksa Laras. Martin anak kedokteran. Dia tampak lihai memeriksa denyut nadi. Meminta Leandra mengambilkan kotak obatnya dibagasi lalu sesaat kemudian Laras siuman. "Bagaimana keadaanmu?". Tanya Martin "Maaf.. tak perlu khawatir. Aku hanya sedikit pusing". suara itu lirih hampir tak terdengar. belum sepenuhnya sadar. "Apa kita masih punya minum?". Martin meminta. sesaat yang lain sibuk menyodorkan minuman. "Wah.. tidak ada yang hangat. dia butuh yang hangat". Martin tampak bingung. Leandra duduk di bangku pengemudi. "Kita harus segera keluar dari tol. cari tempat istirahat". Seru Leandra mengajak yang lain bergegas. Nana pun mundur ke belakang, mencoba membuat teman perempuannya itu nyaman di pangkuannya. Mobil melaju kencang. *** "Sebaiknya kita mencari penginapan di sekitar sini". Rio beberapa kali mencoba di aplikasi pencari penginapan sayangnya gagal. hampir semua penuh. "Kita perhatikan sisi kanan kiri". Tambahnya. "Yang ini bagaimana? kita coba?". Leandra membelokkan mobilnya menepi memasuki rumah yang bertuliskan home stay. Ini adalah tempat ketiga mereka berhenti. Leandra bergegas keluar. Sesaat kemudian dia datang mengetuk pintu mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD