“Permisi, Mas, bisakah saya menitipkan Anggi sebentar?” ujar Michael—pria berkebangsaan Inggris yang raut mukanya sedatar tembok—kepada Ian. Tiga tahun di Indonesia, aksen British pria itu belum sepenuhnya hilang. Ian menyanggupi dengan menganggukkan kepalanya. “Hold his hand! Jangan sampai kau hilang!” Mike menyuruh Anggi memegang tangan Ian, baru setelah itu pergi menemui kolega bisnisnya yang sudah menjauh. “Apa dia memang posesif begitu?” tanya Ian heran. “Iya, Mas. Kadang-kadang aku sampai risih!” decak Anggi kesal. Ian tak bisa menyalahkan Mike. Kisah cinta Anggi, adik sepupunya yang paling bungsu itu bisa dibilang penuh lika-liku, darah dan air mata. Wajar jika Mike sangat posesif dan takut kehilangan Anggi . Padahal kalau di pikir-pikir, perjodohan mereka dulu amat ditentang

