Ian menutup pintu kamarnya, mengabaikan Kara yang merah padam menahan marah. Ia sudah menduga akan respon Kara yang seperti itu. Ia kembali duduk di samping Kara. Jarinya terangkat menyibak sejumput rambut disamping pelipis Kara, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. “Ini hanya Perjanjian Pranikah, Sayang. Kenapa kamu harus marah?” “Aku menikah denganmu bukan untuk menguras hartamu, Ian!” balas Kara jengkel. Kepalanya mendadak pusing membaca butirdemi butir pasal pada lembaran kertas yang diberikan Ian. “Memangnya siapa yang berpikir begitu?” tanya Ian polos. “Lalu, ini apa?” “Sayang, aku melakukan ini hanya untuk membuktikan kesungguhanku. Once I choose you to be my lover, I’m stuck with you forever,” ucap Ian serius. “There’s no turning back, Kara. I’ve burned the bridge behind

