Pesona Dewa yang membutakan

4170 Words
Hari itu Sarah mulai memindahkan trmpat usahanya ke lokasi baru yaitu sebuah ruko yang baru ia sewa. Sarah mengerjakan sendiri semua konsep dari kafe kue yang ia dirikan. Dari mulai rekrut karyawan, mendekorasi ruangan, merevisi menu, memesankan seragam, hingga membuat standar operasionalnya. Ditengah kesibukannya mempersiapkan launching Kafenya, Sarah merasa semua peningkatan ekonomi yang ia dan keluarganya raih tidak luput dari peran Dewa yang membantunya. Walaupun terkadang dirinya merasa kotor karena Dewa tidak semata-mata membantu dengan cuma-cuma, itu semua karena statusnya yang menjadi wanita simpanan Dewa. Terkadang Sarah merasa sebenarnya ia sudah cukup dengan semua yang diraihnya dan tidak perlu lagi menjalin hubungan dengan Dewa, Tetapi dalam hatinya ia tidak dapat memungkiri bahwa ia telah jatuh cinta pada pria itu. Setiap kali ia mencoba untuk menghilangkan rasa kagumnya pada Dewa, semakin dalam rasa itu melekat di dalam hatinya, Bahkan terkadang untuk membuang perasaan itu Sarah mencoba menyibukkan dirinya agar tidak ada lagi bayang-bayang Dewa di dalam benaknya, Namun semua usaha yang ia lakukan selalu mengingatkan dirinya atas peran Dewa di dalam setiap kemajuan yang ia raih. " Ibu semua peralatan produksi sudah dipindahkan dan sudah beres bu" Ucap Ririn di pagi itu. " Ya sudah kamu mulai tata dapurnya ya, kamu duluan ke ruko nanti aku menyusul" Jawab Sarah. " Baik bu" Jawab Ririn sembari meninggalkan rumah Sarah. " Sayang kamu kapan mulai launching?" Tanya Dewa sambil menyantap sarapannya di meja makan. " Mungkin dua sampai tiga hari ini mas, masih menunggu karyawan baru siap dulu" Jawab Sarah sambil mencuci piring di dapur. " Kamu sepertinya akan sibuk, lebih baik kamu ambil asisten rumah tangga untuk urus rumah" Ucap Reyhan. " Iya sih mas, cuman cari pembantu itu kan ngga mudah" Jawab Sarah. " Kamu harus paham Sarah, aku ada rencana punya anak, jadi kamu juga harus pikirkan itu" Ucap Reyhan sambil mengunyah makanannya. " Apa tidak bisa ditunda dulu mas? " Tanya Sarah. " Menunda? apalagi yang kita tunggu? apa kamu mau menunggu sampai kita tua renta? " Ucap Reyhan dengan nada Marah dan terdengar suara sendok yang yang ia benturkan ke piring. Reyhan dengan wajah memerah dan marah berdiri dari meja makan dan segera melangkahkan kaki menuju teras rumah dan segera memakai sepatunya. " Mas.. kopinya tidak diminum dulu? " Tanya Sarah sambil menghampiri suaminya yang tampak marah. Sedangkan Reyhan diam tanpa menjawab sedikitpun ucapan Sarah. Reyhan sudah selesai memakai sepatunya dan segera menuju mobil untuk berangkat. Tidak seperti biasanya Reyhan kali itu tidak mengucapkan kata pamit kepada Sarah, Ia hanya masuk mobil dan melaju meninggalkan rumah. Sarah memahami kemarahan Reyhan dan menyesali ucapan yang terlanjur ia katakan. Sarah menyadari bahwa tidak seharusnya ia mengatakan ucapan itu, Tapi Sarah memang mulai sedikit berubah, ia merasa tidak bersemangat melayani Reyhan di ranjang entah karena Sarah kelelahan karena aktivitasnya atau Sarah mulai membandingkan keperkasaan suaminya dengan Dewa, Sarahpun dalam hati belum menemukan jawaban atas prilakunya yang berubah itu. " Mas maafkan aku ya, aku tadi salah bicara dengan kamu" Ucap Sarah yang mengirim chat w******p pada Reyhan. Namun Reyhan tidak membalas chat Sarah, Sarah masih berfikir positif karena Sarah tau bahwa Reyhan sedang perjalanan menuju kantor dan sedang dalam keadaan mengemudikan mobil. Sarah tidak menganggap serius permasalahannya dengan Reyhan dan segera bersiap-siap untuk berangkat ke Ruko dimana karyawannya sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk launching Kafe Kue yang sedang mereka rilis. Taksi Online sudah terparkir di depan rumah, dan Sarah segera mengunci pintu rumahnya dan berangkat menuju Ruko. Perjalanan dari rumah Sarah menuju ruko hanya memakan waktu tidak lebih dari sepuluh menit. Sampai akhirnya Sarah tiba di Ruko itu, Ruko yang sudah mulai berubah tampilannya, Bangunan itu seolah kembali hidup dan cerah dengan Tulisan Sarang Kue Kafe terpampang di bagian atas bangunan itu. Rasa bangga bercampur bahagia tampak tercurah dari wajah Sarah yang berseri-seri. Sampai di depan Ruko Sarah sempat melihat sebuah mobil berwarna putih terparkir di depan Ruko, Sarah belum mengenal mobil itu sama sekali, Sarah berfikir mungkinkah ada tamu atau pelanggan yang datang, tetapi itu mustahil karena Kafe belum mulai buka dan baru masa persiapan. Sarah turun dari taksi online dan melangkah menghampiri pintu Kafenya. Matanya seolah mencari-cari siapa pemilik mobil yang diparkir di depan Kafenya. Sarah memegang gagang pintu kaca yang menjadi gerbang masuk ke kafenya. Rasa sejuk dari ruangan ber AC dirasakan meniup tubuh Sarah. Seketika Sarah merasa terkejut melihat sosok wanita cantik dengan setelan blouse berwarna putih sedang duduk di sofa pelanggan di bagian depan. Wanita yang wajahnya tidak asing bagi Sarah, Wanita itu Joyce teman Sarah semasa masih kuliah. " Hah.. itu kamu joy? " Ucap Sarah dengan wajah terkejut. " Hey.. Cantik..apa kabar? " Jawab Joyce sambil beranjak meninggalkan tempat duduknya dan segera menghampiri dan memeluk Sarah. Sarahpun merasa terkejut sekaligus gembira melihat teman lamanya tiba-tiba muncul di hadapannya. " Kamu kok tau aku disini? " Tanya Sarah sambil masih larut di dalam pelukan Joyce. " Ya tau dong.. kan kamu update di ig" Jawab Joyce. " Oh .. iya ya.. ayo duduk duduk.. ucap Sarah dengan senyuman gembira sambil mempersilahkan temannya itu kembali duduk " Wah hebat kamu Sar.. udah jadi pengusaha sukses sekarang" Ucap Joyce sambil duduk di sofa kafe itu. " Ah ini juga baru mulai belum apa-apa masih kecil-kecilan jo, mau minum apa? " Jawab Sarah sambil memgambil tempat di hadapan Joyce. " Kamu masih sama aja kayak dulu rendah hati hehehe, ngga usah repot-repot deh Sar, Aku cuman kebetulan pas lewat aja mampir" Ucap Joyce. " Rin.. tolong ambilkan minum ya buat temenku" Ucap Sarah memanggil Rini karyawannya. " Mau minum apa bu? " Tanya Ririn kepada Sarah. " Coba ambil minuman soda dingin saja di kulkas" Jawab Sarah. " Gimana kabar keluargamu Sar, kamu udah ada anak berapa? " Tanya Joyce. " Yah baik jo, anak sih belum dikasih ya, kalau kamu sendiri gimana jo?" Ucap Sarah. " Ya biasalah Sar aku masih jadi karyawan aja, staf di perusahaan, kalau nikah sih belum ya, aku masih fokus karier dulu" Jawab Joyce. Mereka berduapun asyik berbincang-bincang hingga tidak lama kemudian tampak Dewa muncul dari arah pintu utama. " Eh Sar.. itu ada tamu.. mana ganteng banget itu cowok" Ucap Joyce sambil menunjukkan Sarah ke arah pintu utama. "Hey.. Sarah.. udah rapi juga ya tempat ini" Ucap Dewa sambil menghampiri Sarah yang sedang duduk-duduk dengan Joyce. " Eh Mas Dewa, Kenalin ini Joyce temanku" Ucap Sarah memperkenalkan Joyce pada Dewa. Dewapun bersalaman dengan Joyce, Joyce tampak terkagum-kagum dengan pesona ketampanan Dewa sampai-sampai tangannya tidak mau lepas dari tangan Dewa. "Hmmm.. Jo.. awas ya suami orang lho itu" Ucap Sarah memperingatkan Joyce. " Eh iya.. maaf maaf hehehe" Jawab Joyce sambil melepaskan jabat tangannya dengan Dewa. " Mas Dewa ini yang punya ruko ini, sekaligus temen kuliah suamiku" Ucap Sarah. Dewapun mengambil tempat duduk dan ikut duduk bersama mereka berdua. " Bagus Sarah dekorasinya keren" Ucap Dewa. " Ah biasa mas yang dekor amatiran hehehe" Ucap Sarah sambil melihat Joyce yang matanya terus menatap pada Dewa. " Ih.. nyebelin banget sih joyce ini kayak ga pernah lihat cowok ganteng aja" Ucap Sarah dalam hatinya. " Eh Sarah aku mau ambil surat kontrak yang sudah kamu tanda tangani" Ucap Dewa. " Oh iya mas, sebentar aku ambil dulu" Jawab Sarah sambil beranjak meninggalkan tempat duduknya untuk mengambil surat kontrak. Sedangkan Dewa dan Joyce mulai berbincang saling bertanya satu sama lain sambil menunggu Sarah yang masuk ke ruangan untuk mengambil Surat Kontrak. " Kamu temen kuliah Sarah? " Ucap Dewa. " Iya mas.." Jawab Joyce dengan rasa canggung dan tidak berani menatap Dewa secara langsung. " Kerja dimana? " Tanya Dewa. " Staf akunting mas di perusahaan swasta" Jawab Joyce. " Wah ahli pembukuan dong ya? " Tanya Dewa. " Ah.. ngga mas, masih sambil belajar saja" Jawab Joyce. " Boleh dong minta nomer teleponnya siapa tau kantorku butuh tambahan staff hehehe" Ucap Dewa. " Ada mas" Ucap Joyce sambil merogoh isi tasnya dan memberikan selembar kartu nama. Dewapun mengambil kartu nama itu dan menyimpannya dalam saku kemejanya. Tidak lama kemudian Sarah datang dengan membawa beberapa lembar surat perjanjian kontrak toko yang telah ia tanda tangani. " Ini mas Surat Kontraknya" Ucap Sarah sambil memberikan Surat itu kepada Dewa. " Ya sudah aku pamit dulu ya, sukses ya buat usahanya" Ucap Dewa sambil berpamitan setelah membawa surat perjanjian kontrak yang diberikan oleh Sarah. " Eh.. Sarah itu Mas Dewa ganteng banget ya, campuran barat ya?" Tanya Joyce. " Kebiasaan deh kamu dari dulu ngga bisa lihat cowok ganteng dikit" Jawab Sarah. " Yah normal lah Sar.. aku kan juga single" Ucap Joyce. " Iya kamu single tapi Mas Dewa itu suami orang" Jawab Sarah. " Hehehe.. sayang banget ya udah jadi suami orang, kalau seandainya belum hehehe" Ucap Joyce bernada candaan. " Kamu mau ketemu aku atau mau ngerumpiin cowok sih? " Ucap Sarah. " Ih.. kamu mah ga bisa lihat orang seneng aja" Ucap Joyce. " Iya.. iya.. makanya buruan nikah deh biar mata ngga kegatelan kemana mana" Ucap Sarah. " Iya Sar.. ini juga lagi nyari yang kayak Mas Dewa gitu hahahaha" Jawab Joyce sambil bercanda. Setelah berbincang-bincang beberapa lama Joycepun berpamitan pada Sarah karena harus kembali ke kantornya. Tidak lupa Joyce mengucapkan selamat kepada Sarah atas kemajuan usahanya. Akhirnya Joyce meninggalkan tempat itu. Sarah tiba-tiba berfikir mengapa dia merasa cemburu kepada Dewa setiap kali melihat Dewa didekati wanita lain. " Aku kok jadi cemburu gini ya" Ucap Sarah dalam hati. Dalam perjalanan ke kantor, Dewa mengambil kartu nama Joyce yang ia simpan di sakunya. Dewa pun menghubungi Joyce melalui chat w******p. " Ini nomerku ya Dewa" Chat singkat Dewa kepada Joyce. " Iya mas terima kasih" Jawab Joyce singkat karena Joyce juga dalam keadaan mengemudikan mobilnya. Sejak saat itu Dewa dan Joyce mulai intens berkomunikasi walaupun hanya lewar w******p. Hal itu sama sekali tidak diketahui oleh Sarah, karena Sarah sudah mulai sibuk dengan Kafenya. Malam itu Sarah tampak sudah lelah pulang ke rumah. " Mas.. sudah dari tadi?" Tanya Sarah pada suaminya yang sudah ada di teras saat Sarah pulang dari Kafe. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, karena Kafe Sarah tutup hingga jam 10 malam. " Iya sayang, kamu ngga capek pulang malam-malam terus? " Tanya Reyhan. " Ya gimana lagi mas, namanya juga punya Kafe ya ikut jam tutup Kafe" Jawab Sarah sambil menaruh tasnya dan ikut duduk bersama Reyhan di teras rumah. " Mas sudah makan? " Tanya Sarah " Sudah.. aku makan masakan kamu yang ada di meja makan" Jawab Reyhan dengab nada kesal karena merasa istrinya mulai sibuk hingga berkurang waktu untuknya. Mereka berduapun masuk ke dalam rumah dan Reyhan langsung menuju ke dalam kamar untuk tidur sedangkan Sarah membersihkan diri dengan mandi setelah seharian dia berada di Kafe. Setelah mandi, Sarah masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaian, Sarah yang masih berbalut handuk itu mendapati suaminya sudah tertidur pulas dengan suara mendengkur. " Mas Reyhan sepertinya capek sekali" Ucap Sarah dalam hati sambil mengenakan pakaiannya. Sarah mulai berfikir tentang permintaan suaminya terkait ingin memiliki anak, Sarah mulai merasa bahwa mereka berdua sudah sangat jarang berhubungan badan karena kesibukan masing-masing dan pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Tetapi hal itu masih dimaklumi Sarah sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan harus dihadapkan dengan keadaan ekonomi yang sulit. Pagi itu Reyhan tampak sudah rapi dan sedang bersiap-siap untuk perjalanan ke Surabaya. Sedangkan Sarah tampaknya sedikit terlambat bangun karena kelelahan setelah Kafe yang ia kelola mulai ramai pengunjung, matanya berlahan terbuka dan yang tampak di hadapannya adalah Reyhan suaminya yang sedang mengemasi pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Sarahpun terperanjat melihat itu. " Lho mas.. mas mau kemana?" Tanya Sarah sambil terduduk seketika. " Mau ke Surabaya" Jawab Reyhan " Lho kok ngga bilang sih?" Ucap Sarah " Coba kamu cek w******p kamu lima hari yang lalu, kamu sibuk dan kamu bahkan sudah tidak mengingat ucapan suamimu" Jawab Reyhan dengan nada ketus. Sarahpun segera memeriksa ponselnya dan benar memang Reyhan sudah memberitahu pada Sarah, hanya Sarah yang tidak ingat. " Mas maaf ya.. aku benar-benar lupa" Ucap Sarah sambil menghampiri suaminya dan membantunya mengemasi pakaian. " Iya.. kamu kan wanita karir, pengusaha, ya wajarlah, kamu kan bukan ibu rumah tangga" Jawab Reyhan dengan nada menyindir. " Mas kok gitu sih ngomongnya?" Ucap Sarah sambil mengelus bahu suaminya. " Ya coba saja kamu ingat-ingat lagi kewajibanmu apa sudah semua kamu lakukan?" Tanya Reyhan sambil membuang muka dari Sarah dan segera menarik kopernya turun dari ranjang. Sarahpun mengikuti langkah Reyhan yang menyeret koper keluar kamar. Sarah kebingungan sarapan belum ia siapkan, minuman hangat juga belum, sedangkan ia baru saja terbangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut. Sarah merasa menjadi wanita tidak berguna, seorang istri yang tidak bertanggung jawab, tidak patuh, bahkan juga tidak setia. Ia merasa sangat kotor menghadapi Reyhan yang tidak pernah melanggar komitmen apapun di pernikahan mereka. " Mas.. mas berangkat jam berapa biar aku siapkan sarapan dulu ya? " Ucap Sarah sambil terus mengikuti kemana saja Reyhan melangkah. " Tidak usah, nanti aku sarapan di bandara saja" Ucap Reyhan sambil duduk dan memakai kaus kakinya. " Mas.. mas benar-benar marah padaku ya?" Tanya Sarah sambil menyandar manja di bahu Reyhan. Reyhan tidak menjawab pertanyaan Sarah dan segera beranjak menarik kopernya keluar dari rumah, sedangkan Sarah masih terus mengikutinya, Reyhan memeriksa ponselnya karena ia sedang memesan taksi online untuk berangkat ke bandara. Melihat prilaku Reyhan, Sarah merasa sangat bersalah dan tidak mampu mengucap apa-apa lagi selain mencoba bersikap manis di depan suaminya. Tak lama kemudian taksi online telah tiba di depan rumah, Reyhan segera menghampiri dan bergegas meninggalkan rumah menuju bandara. Sarah duduk terdiam di kursi teras, di benaknya ia merasakan penyesalan yang begitu dalam melihat apa yang terjadi terhadap hubungannya dengan Reyhan. Kalaupun ia merasa harus memperbaiki diri, dia bingung darimana dia harus memulai, Karier usahanya tidak mungkin rela ia tinggalkan, Hubungan rahasianya dengan Dewa juga tidak mampu ia hentikan. Rasa gundah menghantui benak Sarah. Sarah akhirnya berfikir, mungkin suaminya akan merasa sangat bahagia apabila mendapatkan keturunan darinya, seperti apa yang pernah diucapkan oleh suaminya. Tetapi di sisi lain Sarah berfikir jika memang itu pilihannya maka mau tidak mau Sarah harus berhenti dengan program KB nya. Ia harus melepas alat kontrasepsi yang ia gunakan. Sedangkan ia tidak cuma melayani suaminya seorang saja, ia juga melayani Dewa diatas ranjang. Kepalanya semakin pusing memikirkan hal itu, Jika ia sampai hamil maka ia akan kebingungan siapa ayah biologis anaknya nanti. Maka Sarah memilih tidak melanjutkan apa yang ia pikirkan, ia lebih baik diperlakukan ketus oleh suaminya daripada dia berfikir gegabah dalam mengambil keputusan. Tiba-tiba muncul notifikasi w******p di ponsel Sarah. " Reyhan keluar kota ya? Kita jalan yuk" Sebuah chat dari Dewa yang ternyata bahkan mengetahui jadwal kepergian suami Sarah. " Kok mas bisa tau sih mas? " Tanya Sarah " Tau dong, kan suamimu rekan bisnisku, bahkan dia juga harus membuat laporan agenda kerjanya juga" Jawab Dewa " Ih.. mas ini.. ya.. nakal banget dasar.." Ucap Sarah dalam Chat whatsapp " Iya.. tapi kamu suka kan dinakalin" Ucap Dewa menggoda Sarah. " Hehehe tau aja sih mas ganteng ini" Jawab Sarah. Semua kesedihan yang dirasakan Sarah seketika hilang saat ia mulai berkomunikasi dengan Dewa, mungkin itu salah satu penyebab mengapa Sarah begitu tergila-gila pada Dewa. " Sore ini kita check in ya, aku udah booking hotelnya" Ucap Dewa dalam chat. " Ye.. emangnya aku bilang mau gitu" Ucap Sarah. " Ya sudah aku cancel aja deh" Ucap Dewa. " Eh.. eh.. jangan-jangan mas.. " Jawab Sarah dengan panik seolah-olah Sarah tidak mau melewatkan kesempatan berduaan bersama Dewa. Pukul 9 pagi Sarah seperti biasa berangkat ke Kafe karena Kafenya buka pukul 10 pagi hingga 10 malam, Walaupun sebenarnya tanpa Sarah harus berada di Kafepun semua sudah berjalan dengan baik, Karena Ririn pegawai senior Sarah sudah mampu diberi tanggung jawab untuk memimpin karyawan-karyawan yang lain. Hanya Saja Sarah merasa tidak lega bila belum datang dan melihat sendiri aktivitas usaha yang terjadi di Kafenya. Setelah tiba di Kafe dengan menggunakan Taksi Online, Sarahpun seperti biasa memimpin brifing pagi memberikan arahan-arahan pada karyawannya agar menjaga reputasi, kualitas , dan pelayanan di Kafe miliknya. " Ibu ini laporan penjualan yang kemarin bu" Ucap Ririn kepada Sarah sambil memberikan buku catatan penjualan. " Ok Deh, Kamu nanti setor tunai ke bank ya" Ucap Sarah pada Ririn memerinrahkan anak buahnya itu menyetor uang tunai hasil penjualan ke Rekening Sarah. " Stok bahan baku aman kan? " Tanya Sarah pada Ririn. " Aman Bu untuk satu minggu ke depan" Jawab Ririn. " Aku nanti pulang awal tidak sampai tutup, Paling Sore aku sudah harus pergi aku ada acara malam ini, kamu tolong urus Kafe sampai tutup nanti ya, pastikan semuanya beres" Perintah Sarah pada Ririn. " Baik bu" Jawab Ririn. Setelah waktu menunjukkan pukul 12 siang, Kafepun mulai ramai pengunjung karena jam istirahat makan siang, begitupun pesanan melalui aplikasi online. Sarahpun tampak bahagia melihat perkembangan usahanya yang begitu pesat. Ditengah lamunannya yang sedang memikirkan perkembangan usahanya tiba-tiba tanpa Sarah sadari Dewa sudah berada di hadapannya. "Melamun aja mikirin apaaan?" Ucap Dewa membuat Sarah sontak terkejut. " Ih mas.. kayak hantu aja tau-tau nongol" Jawab Sarah. " Makan siang yuk.." Ucap Dewa. " Makan siang kue? mas mau apa ?aku siapin" Jawab Sarah dengan nada canda menggoda Dewa. " Bukan ga doyan Sarah.. cuman mau makan yang lain aja, biar ada alasan ngajak kamu keluar juga hehehe" Jawab Dewa. Akhirnya Sarah mengambil tasnya dan berdiri dari tempat duduknya untuk pergi keluar makan siang dengan Dewa. Sebenarnya kedekatan Sarah dengan Dewa sudah menjadi buah bibir pembicaran diantara para karyawan, namun Ririn selalu menepis ucapan mereka dan menjelaskan bahwa Sarah dan Dewa memang banyak urusan berkaitan usaha. Sarah dan Dewa segera meninggalkan Kafe dan melangkahkan kaki menuju mobil Dewa yang terparkir tepat di depan Kafe. Dewa segera mengambil kemudinya dan memacu mobilnya meninggalkan tempat itu bersama Sarah. " Mas kita mau makan dimana? " Tanya Sarah sambil menatap Dewa yang sedang konsentrasi dengan kemudinya. " Kita ke suatu tempat dulu ya" Jawab Dewa. " Kemana? ke hotel? katanya nanti sore? " Ucap Sarah " Bukan.. udah pokoknya surprise deh" jawab Dewa. Tidak lama kemudian mobil Dewa berbelok dan memasuki sebuah showroom mobil buatan jepang. " Kok ke showroom, mas mau beli mobil? " Tanya Sarah. " Iya.. pengen mobil baru" Jawab Dewa singkat. " Oh.." Jawab Sarah. Tidak lama kemudian Dewa memarkirkan mobil di depan lobby showroom. " yuk turun.." Ucap Dewa. Sarahpun menuruti ucapan Dewa dan segera turun dari mobil, mereka berdua berjalan menuju pintu utama showroom itu dan disambut oleh beberapa petugas showroom. " Selamat siang pak.. ada yang bisa dibantu pak? mau cari mobil apa? " Ucap salah seorang marketing yang tampak cantik dengan dandanan yang rapi dengan rok pendek yang seksi menurut Sarah. " Iya mbak mobil yang bagus buat dia yang mana ya? " Ucapan Dewa sambil menunjuk kepada Sarah. Sarahpun bingung saat Dewa menunjuk dirinya. " Kok aku? memangnya siapa yang mau beli mobil? " Ucapan Sarah dalam hati. Tetapi Sarah tidak berkomentar apapun dan hanya sekedar diam dengan semua rasa penasarannya. " Ibu.. silahkan ikut saya ibu biar saya tunjukkan mobil-mobil yang bisa ibu pilih" Ucap petugas showroom itu. " Sudah kamu pilih saja Sarah, aku duduk ya, nanti kalau kamu sudah selesai memilih, bilang ya" Ucap Dewa sambil menarik kursi di di ruangan showroom dan mendudukinya. " Tapi mas.." Jawab Sarah. " Udah mbak.. langsung antar saja biar dia pilih" Ucap Dewa pada petugas showroom itu. " Mari bu.." Ucap Petugas itu sambil mempersilahkan Sarah. Akhirnya Sarah mengikuti permjntaan Dewa dan segera melihat-lihat mobil yang terpajang di Showroom itu, sedangkan petugas itu dengan ramah menjelaskan tentang mobil-mobil itu dan kelebihannya. Sarah tampak lebih fokus dengan harga mobilnya bukan kelebihan mobilnya sampai akhirnya Sarah memilih mobil yang type termurah di showroom itu. mereka berdua Sarah dan petugas itu segera kembali menghampiri Dewa dan menunjukkan brosur mobil yang dipilih Sarah. " Kamu tidak salah pilih ini Sarah? ini kan mobil murah" Ucap Dewa. " Ya itupun aku juga belum ada uangnya mas.." Ucap Sarah " Kan aku yang belikan Sarah..percuma deh kamu dari tadi muter lihat-lihat" Ucap Dewa sambil meminta semua brosur yang dibawa Oleh petugas Showroom. " Mbak saya minta type ini kapan siap? " Tanya Dewa sambil menunjuk sebuah brosur mobil mercy sedan keluaran terbaru " Ada pak stok ready bisa langsung dikirim, BPKB siap dalam 1 bulan" Ucap petugas Showroom. " Ok siapkan pembayarannya mbak saya langsung transfer" Ucap Dewa. Petugas itupun segera berlarian menyiapkan semua dokumen pembayaran seolah tidak ingin konsumen berubah pikiran. Dan Sarahpun mulai duduk dengan wajah menunduk lesu. " Kamu kenapa Sarah? " Tanya Dewa. " Hutang kontrak Ruko saja aku belum selesai mas, sudah nambah lagi hutang mobil" Jawab Sarah. " Siapa yang bilang kalau kamu berhutang? Aku membelikannya untukmu bukan memberimu hutang" Ucap Dewa. " Tapi mas apa ini tidak berlebihan, bagaimana kalau mbak Ana tau kamu membelikanku sebuah mobil" Ucap Sarah. " Asal kamu tidak bicara kepadanya maka dia tidak akan tau" Ucap Dewa sambil membuka aplikasi M Bankingnya. Tidak lama kemudian petugas Showroom datang untuk membantu mengisi identitas Sarah dan dokumen pembayarannya. " Kemana saya harus transfer mbak? " tanya Dewa kepada petugas itu. Kemudian petugas itu memberikan nomor rekening showroom tersebut dan Dewa segera membayarnya. Setelah semua urusan selesai merekapun berpamitan meninggalkan Showroom itu dan mobil sudah dijadwalkan untuk dikirim keesokan harinya ke rumah Sarah. Mereka berdua mulai melangkah menuju mobil Dewa dan meninggalkan Showroom itu. " Mas apa kamu serius melakukan ini semua? " Tanya Sarah. " Iya sayang, aku melakukan ini semua untuk kamu" Ucap Dewa sambil mengecup kening Sarah dan kembali mengemudikan mobilnya. Sarah merasa berbunga-bunga mendengar ucapan Dewa, Hatinya yang sudah tergila-gila pada Dewa semakin memuncak menjadi sebuah perasaan cinta yang mendalam. " Kamu selalu membuatku senang mas, sedangkan aku tidak tau bagaimana caranya supaya aku bisa membuatmu senang" Tanya Sarah. Tiba-tiba sambil mengemudikan mobilnya, Dewa membuka resleting celananya dan mengeluarkan batang besarnya yang sudah kaku. " Layani aku seperti layaknya seorang b***k" Ucap Dewa. Sarahpun sudah mengerti maksud ucapan Dewa dan segera ia melepaskan sabuk pengamannya dan mendekatkan wajahnya ke arah batang besar milik Dewa itu. Sarah mulai memainkan batang besar itu dengan jari-jari dan mulutnya. " Oh..ssttt terus sayang.." Desah Dewa merasakan perlakuan Sarah kepada batang besar miliknya itu. Sarah dengan serius melakukan layanan kepada batang besar itu hingga menjadi semakin kaku dan tegak, Dewa tampaknya sudah tidak tahan dengan perlakuan Sarah kepada batang besar miliknya itu dan segera membelokkan mobilnya di sebuah basement parkiran Mall, Dewa sengaja mencari tempat parkir yang sepi dan lebih gelap agar bisa menyalurkan hasratnya pada Sarah. Akhirnya Dewa selesai memarkirkan mobilnya, Dewa memundurkan jok mobilnya dan menurunkan sandarannya, Sarah mulai berpindah ke pangkuan Dewa, mereka saling berhadapan dan berciuman dengan begitu hangat, Dewa menarik Hijab yang dipakai Sarah hingga terlepas dari kepala, Sedangkan Sarah membuka kancing-kancing kemeja warna biru yang dikenakan oleh Dewa. Tangan dan jemarinya membelai lembut d**a Dewa, sambil bibirnya terus berpautan dengan bibir Dewa. Tangan Dewa menaikan rok yang dipakai Sarah hingga kedua paha Sarah terlihat. Kemudian Sarahpun mulai menurunkan dan melepas celana dalamnya sendiri. Berlahan Sarah mengarahkan lubang kenikmatannya ke arah ujung batang besar milik Dewa yang telah tegak berdiri. " Ackk..ssshhh.. Mas Dewa.. sshhh " Desah Sarah ketika batang besar milik Dewa masuk menembus liang kenikmatannya yang basah. Dewa mulai menarik turun resleting gaun Sarah yang letaknya di punggung, dan menurunkan bagian bahunya hingga tampak bahu hingga p******a Sarah yang masih terbungkus bra warna hitam. Sarah mulai memainkan pinggulnya naik turun hingga batang besar milik Dewa bergesek keluar masuk ke l**************n milik Sarah. " Ackk.. mas..kamu dosa paling nikmat yang pernah kurasakan oh.. esssttt yes.." Desah Sarah saat mendapatkan klimaks pertamanya, Sarahpun tidak berhenti dan meneruskan gerakannya menggoyangkan pinggulnya naik turun, gerakan itu membuat mobil Dewa tampak bergoyang-goyang. " Oh.. ssst sayang enak sekali.." Ucap Dewa sambil tangannya menelusup ke dalam bra hitam yang dikenakan Sarah dan meremas p******a Sarah sesekali. " Essttt.. oh mas cepat keluarkan mas.. sshh ohh.." Desah Sarah sambil jantungnya berdebar-debar kawatir jika ada yang melihat perbuatan mereka. " Esshhh oh.. mas..aku masih mau lagi tapi nanti di hotel saja mas.. esshhh keluarkan cepat mas.. oh..essshhh" Desah Sarah yang terus meminta Dewa untuk mencapai klimaks. Tidak lama kemudian Dewa merasakan klimaksnya, batang besarnya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam l**************n Sarah. " Oh.. ah..aku keluar sayang.. ssshhh" Desah Dewa. Sarahpun segera mengambil tisu dan membersihkan ceceran cairan kenikmatan milik Dewa di dinding lubang kenikmatannya, dan di sebagian batang besar milik Dewa. Setelah mereka berdua sama-sama mencapai klimaksnya, mereka berdua segera beranjak pergi dari tempat itu dan segera menuju hotel, tidak sesuai rencana sebelumnya yang seharusnya check in di sore hari, mereka berdua sudah tampak tidak sabar ingin segera melanjutkan permainan yang mereka lakukan di mobil. Sarah merasakan kenikmatan dan sensasi luar biasa, baru pertama kalinya Sarah melakukan hubungan badan di tempat umum di dalam mobil, Rasa nikmat bercampur adrenalin yang dipacu membuat Sarah mendapatkan sensasi yang berbeda yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Dewa memang menjadi satu-satunya prioritas kesenangan bagi Sarah yang seorang ibu rumah tangga dan pengusaha, kesenangan yang tidak dapat ia peroleh dari gadgetnya, dari hiburan TV, dan dari apapun hal umum yang dianggap menyenangkan, Sarah tidak mampu menukar kesenangannya bercintan dengan Dewa dengan kesenangan apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD