Sarah kembali memikirkan Saran Dewa untuk mengembangkan usaha dengan membuka toko fisik, Karena ia rasa penjualan secara online sudah cukup baik, maka untuk memperbesar brand miliknya, ia membutuhkan toko fisik agar konsumen dapat langsung datang, atau juga dapat menggunakan tempatnya untuk sekedar makan kue dan minum kopi atau minuman-minuman lain. Tetapi hasil dari keuntungannya berjualan online belumlah terkumpul cukup banyak untuk membeli sebuah ruko atau bahkan untuk biaya sewa sekalipun.
" Kenapa sih bengong aja" Ucap Reyhan fi pagi itu saat duduk di meja makan menyantap Sarapannya.
" Iya mas.. lagi butuh modal buat ngembangin usaha, oh iya mas gimana usahamu?" Jawab Sarah
" Usaha baik, berjalan lancar, kamu butuh modal untuk apa memangnya?" Tanya Reyhan.
" Untuk sewa ruko mas, aku mau buka toko fisik seperti kafe kue gitu, supaya orang tidak cuman belanja melalui online saja" Jawab Sarah sambil membersihkan meja makan dan mengambil piring bekas makan suaminya.
" Kamu sebenarnya ga perlu terlalu serius sayang, itu kan hanya sambilan, aku yang wajib mencari nafkah" Ucap Dewa sambil mengusap bibir dengan tisu.
" Yah.. bukan gitu dong mas, aku kan juga butuh kegiatan" Jawab Sarah.
" Ya sudah, ga usah banyak pikiran, mengalir aja nanti juga dapat solusi" Ucap Reyhan sambil meninggalkan meja makan hendak berangkat bekerja.
Sarahpun mengantar suaminya sampai ke teras, dan mencium tangan suaminya sebelum suaminya masuk ke dalam mobil. Reyhan tampaknya sudah mulai menuai hasil dari usahanya, kini motor butitnya telah pensiun dan berdiam diri di teras saja, Karena Reyhan baru saja membeli sebuah mobil, Memang bukanlah mobil mewah, namun cukup untuk meneduhinya saat dalam perjalanan bekerja.
Reyhan telah meninggalkan rumah menuju kantornya.
Sarah kembali masuk ke dalam Rumah untuk melanjutkan aktivitasnya membuat kue bersama kedua karyawannya.
Rin menurutmu kalau saya buka kafe kue bakalan laku tidak? " Tanya Sarah kepada Ririn.
" Wah keren itu bu, saya sih optimis ya, kapan kita akan buka bu? " Tanya Ririn
" Belum tau nih, modalnya belum cukup" Jawab Sarah sambil memeriksa ovennya.
" Ya minta saja kali bu ke bapak, bapak kan sekarang usahanya maju, cabangnya dimana-mana" Ucap Ririn.
" Ya dia kan juga harus bagi hasilnya dengan investor Rin" Jawab Sarah.
Sarah melangkahkan kaki ke teras rumah dan duduk di kursi teras sambil menatap ke layar ponselnya.
" Mas aku kepikiran soal ide kamu buka kafe kue" Sarah mengirim chat w******p ke Dewa.
" Ya bagus lah.. langsung jalan kalau udah yakin" Jawab Dewa dalam percakapan chat itu.
" Mas mah ngomong jalan doang kayak duit tinggal cetak" Ucap Sarah
" Ya sudah datang ke kantorku nanti aku kasih solusi" Jawab Dewa
" Memangnya solusi apa ya mas? " Tanya sarah penasaran.
" Ya kamu ingin buka kafe kue kan? datang kesini aku pastikan keinginanmu terwujud" Ucap Dewa tanpa menjelaskan rencananya kepada Sarah.
" Ya sudah besok ya mas, hari ini aku sudah terlanjur di dapur, tanggung kalau aku tinggalin" Jawab Sarah dengan hati lega karena Dewa telah menjanjikan solusi untuknya.
Selesai chat dengan Dewa, Sarah menelpon Reyhan Suaminya.
" Mas sedang sibuk tidak" Ucap Sarah
" Tidak.. ada apa?" Jawab Reyhan.
" Besok aku dipanggil Mas Dewa ke kantornya" Ucap Sarah.
" Oh iya yang waktu itu ya masalah catering? " Tanya Reyhan.
" Aku ga tau sih" Ucap Sarah.
" Ya sudah datang saja, besok bareng aku pas berangkat aku drop kamu di kantor Dewa, tolong kamu bantu deh kalau dia butuh apa-apa, aku ga enak udah banyak banget dibantu sama dia" Ucap Reyhan
" Iya Deh mas.." Ucap Sarah kemudian mengakhiri panggilan telepon itu.
Pagi harinya Sarah dan Reyhan sudah berada di meja makan untuk sarapan.
" Memangnya ga kepagian mas kalau aku bareng kamu? " Ucap Sarah yang sudah rapi dan siap berangkat menuju kantor Reyhan.
" Ya kamu nunggu sebentar ngga apa apa lah" Jawab Reyhan.
Reyhan dan Sarah sudah selesai sarapan dan segera untuk berangkat, Sarah memberikan arahan kepada kedua karyawannya lalu tak lama kemudian menyusul Reyhan yang sudah duduk di dalam mobil.
Keduanya melaju menuju kantor Reyhan yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari rumah mereka.
" Tuh kan.. untung berangkat pagi kita.. macet gini jalanannya" Ucap Reyhan sambil memegang kemudi.
" Ya aku ngga tau lah mas, aku kan jarang sekali keluar rumah" Jawab Sarah sambil sibuk dengan ponselnya.
Setelah lima belas menit perjalanan akhirnya sampailah mereka di kantor Dewa, yang letaknya di sebuah gedung perkantoran 25 lantai, kebetulan kantor Dewa berada di lantai 9, Sarah sendiri baru pertama kalinya berkunjung ke kantor Dewa.
" Ini mas kantornya? " Tanya Sarah dengan polos.
" Iya ini kantornya" Jawab Reyhan sambil terus memegang kemudinya.
" Kok besar sekali berapa orang ya yang kerja ikut Mas Dewa" Tanya Sarah dengan polosnya.
" Ini gedung bersama sayang, ga semuanya juga punya Dewa, Dewa kantornya di lantai 9, kalau yang lain ya kantor orang" Jawab Reyhan menjelaskan pada Sarah.
" Oh gitu.. kirain semuanya kantormya mas Dewa" Ucap Sarah.
" Kamu turun di lobby, terus tanya ke resepsionis nama perusahaan Dewa, bilang mau bertemu dengan Dewa, nanti kamu akan dikasih kartu tanda pengenal tamu, baru kamu masuk lift ke lantai 9" Ucap Reyhan menjelaskan kepada Sarah.
Sarahpun turun dari mobil dan masuk ke lobby gedung itu, seperti yang diarahkan oleh Reyhan, Sarah menemui resepsionis gedung itu.
Kaki Sarah melangkah menapaki lantai marmer yang begitu mengkilap dan bersih hingga akhirnya langkah kakinya sampai di depan meja resepsionis.
Tampak di hadapannya seorang wanita muda berumur sekitar 21 tahun, berwaras cantik dan berdandan formil berdiri seolah-olah mengetahui bahwa Sarah akan menghampirinya.
" Selamat pagi bu.. ada yang bisa saya bantu" Ucap wanita itu dengan senyuman ramah.
" Pagi mbak.. saya mau ketemu Pak Dewa di lantai 9 mbak"
" Oh baik bu bisa saya tau dengan ibu siapa? kalau boleh saya pinjam KTPnya bu, dan silahkan diisi buku tamunya" Ucap Resepsionis itu.
" Saya Sarah mbak" Ucap Sarah sambil merogoh tasnya untuk mengambil KTPnya di dalam dompet. Sarah merasa resepsionis itu menatap sinis kepadanya walaupun bahasa dan tutur katanya sangat ramah.
" Ini ibu silahkan dipakai tanda pengenalnya, lift ada di sebelah sana bu, silahkan ibu langsung naik ke lantai 9" Ucap Resepsionis itu menjelaskan pada Sarah.
" Baik mbak terima kasih" Ucap Sarah sambil lalu menuju lift dan naik ke lantai 9.
Lift telah bergerak naik dan membawa Sarah ke lantai 9 gedung itu. Pintu Lift terbuka dan Sarah keluar dan telah dampai di lantai 9, Kantor yang begitu mewah bagi Sarah, matanya memandang ke sekitar yang tampak bersih rapi dan banyak orang-orang yang berpakaian rapi khas pekerja kantoran berlalu lalang sampai akhirnya ada 1 orang wanita yang menyapa Sarah.
" Maaf mbak.. mau ketemu siapa ya? " Tanya wanita muda itu.
" Saya dipanggil untuk bertemu pak Dewa" Jawabnya.
" Oh mau ketemu Pak Dewa, lurus saja mbak di paling ujung ruangannya" Ucap wanita itu
" Baik mbak terima kasih" Ucap Sarah sambil segera melangkah menuju ke ruangan Dewa.
Langkah kakinya terhenti beberapa meter dari ruangan Dewa karena ada seorang wanita cantik, muda, dengan menggunakan kemeja putih menghalangi langkahnya.
" Eh.. maaf bu.. maaf.. mau bertemu siapa? " Tanya wanita itu.
" Pak Dewa ada? " Ucap Sarah
" Oh ibu sudah membuat janji? " Pertanyaan kedua yang diajukan wanita itu kepada Sarah.
" Saya memang diundang beliau mbak" Jawab Sarah.
" Ibu silahkan duduk dulu, biar saya kabari pak Dewa dulu ya bu, maaf dengan ibu siapa? " Ucap wanita itu yang tampaknya seperti sekretaris Dewa.
" Saya Sarah" Jawab Sarah.
Akhirnya wanita itu menelpon ke ruangan Dewa dan mengabarkan jika Sarah sudah ada di depan ruangan, Dewapun meminta wanita itu untuk mempersilahkan Sarah masuk.
" Mari bu saya antarkan" Ucap wanita itu sambil membuka pintu ruangan Dewa.
Akhirnya Sarah masuk ke ruangan itu, matanya memandangi luas dan mewahnya ruangan kerja Dewa, tapi seketika kekagumannya terhenti sejenak karena melihat ada sesosok wanita cantik langsing tinggi dengan kaki jenjang sedang berdiri menyandar ke meja kerja Dewa, Dan Dewapun tampak sedang sibuk dengan setumpuk kertas kertas dokumen diatas mejanya.
" Eh Sarah.. duduk.." Ucap Dewa sambil tetap sibuk menanda tangani berkas-berkas .
" Baik.. " Ucap Sarah sambil melangkah menuju sofa tamu.
" Kenalkan ini Ana istriku" Ucap Dewa mengenalkan Sarah kepada wanita yang sempat membuatnya penasaran itu.
Wanita itupun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Sarah yang duduk di sofa tamu.
" Saya Ana.. istrinya mas Dewa" Ucap wanita itu sambil mengajak Sarah berjabat tangan.
" Saya Sarah.." Ucap Sarah sembari berjabat tangan dengan wanita itu.
" Ma.. Sarah ini istrinya Reyhan teman kuliahku inget ga?" Ucap Dewa pada istrinya.
" Oh iya.. iya.. yang mukanya Arab-arab itu ya? " Ucap Ana.
" Iya bener" Jawab Dewa.
Sarahpun canggung dan hanya duduk sambil memandang Dewa dan Ana berbicara satu sama lain.
" Jadi gini Sarah.. Ana ini ada Ruko 3 lantai di daerah Selatan deket ga jauh dari tempatmu, Kebetulan tadinya dia pakai untuk usaha salon, Tapi karena ga pernah untung akhirnya ditutup, nah sekarang ruko itu nganggur, gimana kalau kamu aja pakai ruko itu terus kamu cicil biaya kontraknya ke Ana" Ucap Dewa.
" oh.. gini mas.. saya ngga enak sebenarnya, saya sih mau mas, cuman takutnya nanti saya bayar sewanya telat telat" Ucap Sarah.
" Udah ambil aja.. ya.., santai kalau bayarnya sampai telat biar aja suamiku yang aku tagih nanti hahahaha" Ucap Ana sambil bercanda.
Sarah hanya tersenyum dengan canggung.
" Gimana Sarah..? " Tanya Dewa.
" Saya gimana yang punya ruko saja mas, kalau saya dipercaya ya saya ambil, kalau tidak ya tidak apa-apa saya tidak enak merepotkan" Jawab sarah.
" Udah deal.. " Ucap Ana sambil mengulurkan tangannya mengajak Sarah berjabat tangan tanda kesepakatan.
Kemudian Ana mengambil secarik kertas di meja Dewa dan menuliskan alamat ruko itu dan nomor telepon orang yang ditugasi menjaga ruko tersebut.
" Ini langsung saja ya.., ini ada alamat dan orang saya namanya pak udin, nanti saya akan kabari dia kalau ruko sudah kamu ambil biar dicopot tuh tulisan dikontrakan" Ucap Sarah sambil memberikan secarik kertas kepada Sarah.
Entah kenapa hati Sarah terasa mendidih saat melihat Dewa bersama istrinya.
" Sarah.. kenapa mesti cemburu..? kamu hanyalah wanita simpanan Dewa yang tidak berhak atas hatinya" Ucap Sarah dalam hati, Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya hatinya dibakar api cemburu walaupun itu sebenarnya rasa yang tidak pantas ia rasakan. Rasa ingin memiliki Dewa sepenuhnya tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Sarah, Pria itu benar-benar telah mencuri hatinya, meracuni pikirannya, dan membakar api cemburunya. Sarah rasanya sudah tidak nyaman lagi berada di tempat itu, air matanya seolah hampir menetes, hatinya serasa diiris-iris.
" Baiklah, Saya pamit dulu ya mbak.. Saya akan segera lihat tempatnya" Ucap Sarah sambil mengambil secarik kertas yang disodorkan itu. Wajah Sarah tak mampu berlama lama melihat pasangan itu, tanpa Basa basi Sarah segera keluar dari ruangan itu.
Sampai di luar ruangan air mata Sarahpun menetes, tapi Sarah mengabaikannya dan segera dengan langkah terburu-buru ia segera ingin meninggalkan gedung itu.
" Dasar wanita bodoh, kamu sendiri yang menyediakan ruang di hatimu untuk pria itu, sekarang kamu sendiri yang merasakan sakitnya" Ucap Sarah dalam hatinya berbicara dan menyalahkan dirinya sendiri.
Sarah segera menaiki sebuah taksi yang sudah terparkir di depan gedung itu.
" Mau kemana bu?" Ucap Supir taksi itu
" Jalan pak.." Jawab Sarah sambil mengusap air matanya.
Supir taksi itupun melaju walaupun belum tau hendak kemana.
" ibu mau kemana? " Tanya supir taksi itu sekali lagi.
Sarah akhirnya memberikan secarik kertas yang ia terima dari Ana yaitu alamat ruko yang ia setujui untuk disewa.
Supir taksi itupun merubah arahnya dan mengikuti alamat yang diberikan oleh Sarah lewat secarik kertas itu yang kebetulan juga searah dengan rumah Sarah.
Lamunan Sarah melayang-layang seolah olah hatinya dicabik-cabik hingga air matanya jatuh bercucuran. Semua kenangan-kenangan indahnya bersama Dewa telah seolah seperti garam yang ditaburkan pada luka di hatinya. Terasa perih tak tertahankan. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi dan ada panggilan telepon masuk dari Dewa, namun Sarah mengabaikannya, Ia masih merasa sakit dengan apa yang ia alami. Sampai akhirnya taksipun telah sampai di alamat yang dituju.
" Sudah sampai bu.." Ucap Supir taksi itu.
" Sarah segera merogoh 2 lemar uang seratus ribuan dan memberikannya kepada supir taksi itu.
" Ibu ini terlalu banyak" Ucap Supir taksi itu.
" Ambil saja sisanya" Ucap Sarah sembari keluar dari dalam taksi.
Ia terdiam sejenak di depan ruko itu.
" Kamu harus kuat Sarah.. kamu wanita kuat" Ucap Sarah dalam hati.
Sarahpun segera menelpon pak Udin, penjaga ruko yang nomor teleponnya tertera di secarik kertas dari Ana.
" siang.. dengan pak Udin" Ucap Sarah dalam panggilan telepon.
" Iya bu benar, maaf ini siapa ya? " Tanya pak udin.
" Saya Sarah pak penyewa ruko yang baru, saya sudah ada di depan ruko pak" Ucap Sarah.
Tampaknya Ana sudah mengabarkan hal itu pada pak udin sehingga pak udin langsung membukakan pintu ruko dan mempersilahkan Sarah untuk masuk.
Berkali kali ponsel Sarah berdering tetapi Sarah tetap mengabaikannya, Sarah mulai mengalihkan pikirannya kepada rencana pengembangan usahanya, Sarah melihat-lihat seluruh sudut Ruko yang berlantai 3 itu, Semua rencana sudah ada di dalam pikirannya, Setelah beberapa lama dia sibuk melihat-lihat ruko itu akhirnya Sarah memutuskan untuk pulang. Sarah mulai menuruni anak tangga dari lantai 3 sampai ke lantai dasar.
" Pak terima kasih ya sudah dibantu, besok saya akan datang lagi untuk mulai menata ulang ruko ini" Ucap Sarah pada pak udin sambil berpamitan.
Sarah melangkahkan kaki keluar dari Ruko itu, namun ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Mobil Dewa baru saja datang dan terparkir di depan ruko.
" Hah.. mas Dewa ada disini, sedang apa dia?" Ucap Sarah dalam hati.
Dewa keluar dari mobil dan menyapa pak Udin yang mengantarkan Sarah hingga depan ruko.
" Hey.. pak gimana sehat? " Ucap Dewa pada pak Udin sambil menjabat tangan pak Udin. Sedangkan Sarah masih terpaku berdiri di depan ruko wajahnya tertunduk seolah-olah enggan memandang wajah Dewa.
" Gimana Sarah? Suka tempatnya? " Tanya Dewa.
Sarah hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan Dewa.
" Ya sudah, pak saya makan siang dulu dengan bu Sarah sebentar ya pak, biasa pak transaksi hehehe" Ucap Dewa pada pak Udin.
" Iya pak jangan lupa komisi saya lho pak" Ucap Pak Udin.
" Tenang pak.. aman" Jawab Dewa.
" Ayo Sarah.." Dewa seolah memberi kode pada Sarah agar masuk ke mobilnya.
Sarahpun berjalan menuju mobil Dewa dengan mulutnya yang masih terkunci.
Mereka berduapun meninggalkan ruko itu.
" Kamu kenapa sayang? " Tanya Dewa kepada Sarah sambil memegang kemudi.
Sarah hanya diam tanpa menjawab, bahkan menatap Dewapun ia seolah enggan.
" Sayang aku salah apa? " Tanya Dewa yang mulai gelisah melihat tingkah Sarah.
Dewa mencoba memegang tangan Sarah tetapi sarah melepaskannya dengan lembut.
" hmm.. Fixed.. kamu marah sama aku" Ucap Dewa.
Akhirnya Dewa mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel di kawasan yang tidak jauh dari tempat itu, Sebuah Hotel yang berbentuk garasi-garasi yang diatasnya terdapat kamar, Jadi pengunjung tidak harus turun dari mobil saat reservasi, petugas hotel dengan sigap langsung mendatangi mobil dan mengurus administrasi dan pembayarannya ditempat.
" Kita bicara di dalam sayang" Ucap Dewa setelah memasukkan mobilnya di garasi hotel itu. Dewa mematikan mesin mobilnya dan mengajak Sarah turun.
Sarah mengikuti semua yang diperintahkan Dewa tetapi mulutnya terkunci tidak keluar sepatah katapun.
Mereka berduapun naik dari garasi menuju kamar. Dewa menutup pintu kamar, sedangkan Sarah hanya berdiri saja tidak bergerak.
Dewa memeluk tubuh Sarah dari belakang, wajahnya diarahkan ke daerah pundak Sarah, Dewa mulai menciumi leher Sarah, Sarah tampak tetap diam walaupun sebenarnya Sarah merasakan rangsangan dari apa yang dilakukan Dewa kepadanya. Dewa membimbing Sarah mendekati Ranjang, Dewa mulai melepas kemeja hingga ia telanjang d**a, jari-jarinya mulai menyentuh pinggang Sarah, Dewa membalikan tubuh Sarah hingga berhadap-hadapan dengannya, Dewa mengarahkan bibirnya ke bibir Sarah, dan menciuminya, Lidahnya mencoba menelusup ke dalam bibir Sarah yang masih pasif dan pasrah.Dewa mulai menarik kain hijab di kepala Sarah dan melemparnya ke ranjang. Sarah masih tetap bertahan dalam diam, Tangan Dewa mulai menyentuh p******a Sarah yang masih tertutup oleh kemeja dengan corak garis vertikal pink dan putih.
"Ah..ssh.." Mulai terdengar suara desah dari mulut Sarah.
Sarahpun mulai menggelinjang, Dewa membuka kancing kemeja Sarah hingga kemeja itu terbuka dan tampak sepadang gunung kembar Sarah yang terbungkus oleh bra warna biru tosca, Dewa mulai menciumi daerah sekitar d**a Sarah yang masih dibungkus bra.
" Essshhh.. ahh.." Desah Sarah.
Tangan kanan Dewa mulai menelusup ke dalam Bra Sarah dan jari-jari Dewa menyentuh ujung p******a Sarah.
" Eesshhh.. oh.. hhh.." Sarah mendesah dan nafasnya semakin memburu.
Tampaknya Sarah mulai tidak kuasa menahan nafsu akibat perbuatan yang dilakukan oleh Dewa kepadanya, Sarahpun mulai melepaskan kemejanya yang menempel di tubuhnya, dan tangan Sarah mulai mencekram punggung Dewa. sesekali Sarah menciumi bahu dan lengan Dewa. Sarah mulai membuka dan menurunkan celana jeans yang ia kenakan, Begitu juga celana dalam yang ia kenakan segera ia turunkan hingga jatuh ke lantai, Dewa juga mulai membuka celana sekaligus celana dalamnya sambil mulutnya tetap menyentuh bagian seputar p******a Sarah yang masih tertutup bra. Batang besar milik Dewa sudah tampak berdiri tegak, Sarah segera menjongkokkan dirinya dan menghadapkan wajahnya ke arah batang besar milik Dewa, Sarah Segera memegang batang besar itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya, Sarah mengulum dan memainkan batang besar itu hingga semakin menegang dan mengeras. Sarah tampaknya juga sudah terangsang hebat. tetapi secara tiba-tiba Dewa melepaskan diri dari Sarah dan duduk di sofa. Sarah kembali menghampiri Dewa dan mencoba meraih batang besar itu lagi namun tangan Sarah ditangan oleh genggaman tangan Dewa seolah-olah Dewa melarang Sarah untuk menyentuhnya.
" Mas.. ada apa? kok ngga boleh? " Tanya Sarah dengan wajah kebingungan.
" Aku tidak mau lagi" Ucap Dewa.
" Tapi mas..? " Tanya Sarah semakin bingung.
" Kamu mau lanjutkan ini? " Ucap Dewa
" Iya mas aku mau.." Jawab Sarah.
" Memohonlah kalau begitu" Ucap Dewa
Sarah telah dilanda rangsangan hebat dan sudah tidak mampu lagi menahannya sedangkan Dewa tampaknya sengaja mempermainkan nafsu Sarah.
" Mas.. aku mohon ayo mas" Ucap Sarah memohon.
" Lebih serius" Perintah Dewa yang menolak permohonan Sarah.
" Mas.. aku mohon, tiduri aku mas, setubuhi aku mas, aku mohon mas tolong pakai lubang kenikmatanku semaumu mas.. aku mohon mas.." Ucap Sarah memohon-mohon.
Akhirnya Dewa melepaskan tangan Sarah dan membiarkan Sarah kembali menyentuh batang besar milik Dewa itu.
" Essh.. oh.. bangsat.. enak sekali.." Ucap Dewa mendesah saat Sarah kembali memainkan batang besar Dewa.
" Maafkan aku mas.. jangan kamu berhenti menyetubuhiku mas" Ucap Sarah sambil metanya melihat keatas kearah wajah Dewa sambil memainkan batang besar milik Dewa.
Sarahpun terus melayani Dewa, memainkan batang besar itu dengan mulut dan tangannya sedangkan Dewa tampak bersikap seperti raja hanya duduk dan menikmati apa yang dilakukan Sarah. Bahkan Dewa mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
" Mas.. telpon siapa?" Tanya Sarah sambil memainkan batang besar itu.
" Rekan bisnis" Jawab Dewa.
Sarahpun kembali memainkan batang besar Dewa.
" Hey bro.. jangan lupa laporan keuangan ya share ke gue" Ucap Dewa yang ternyata menelpon Reyhan.
" Siap Bro.. ntar gue kirim email" Jawab Reyhan dalam telpon.
" Esshhh.. uh.. okay deh" Ucap Dewa
" lo lagi ngapain bro kok desah desah gitu? " Tanya Reyhan penasaran.
" Hahaha tau aja lo Rey.. kalau ade gue lagi dimainin hahaha" Ucap Dewa dengan canda.
" Dasar lo dari dulu gila, lagi sama bini lo? bisa-bisanya nelpon gue lagi begituan lo" Ucap Reyhan sedikit kesal.
" Bukan bro.. sama yang lain lah biar ngga bosen hahaha.." Ucap Dewa.
" Hahaha dasar lo penjahat kelamin lo" Ucap Reyhan.
Sarah mulai menyadari bahwa orang yang ditelpon Dewa adalah Reyhan suaminya karena Reyhan menyalakan loud speaker.
" Nih perempuan mulutnya enak bgt tau, ade gw nyampe kaku" Ucap Dewa.
" Dasar lo bikin gue pengen aja" Jawab Reyhan.
Dewa meminta Sarah memasukkan batang besarnya ke lubang kenikmatan Sarah.
" Ah.. ssshhm.enak nih bro gw lagi dinaikin hahaha" ucap Dewa.
"Ahhssshhh..oh..oh.." Desah Sarah saat batang besar dewa masuk ke dalam lubang kenikmatannya.
" Busett dah beneran lo.. tuh ada suara cewek" Ucap Reyhan.
"Oh.. oh.. fuck..shit..terus" Ucap Dewa sambil menaruh ponsel di sampingnya yang sddang aktif dalam panggilan ke Reyhan, Sedangkan Reyhan tampak antusias mendengarkan walaupun walaupun sesekali ia merasa bodoh sekali mendemgarkan tingkah laku Dewa.
Ah..ah...oh..essshh.. oh.." Desah Sarah yang menduduki Dewa di sofa sambil menggoyangkan pinggulnya naik turun.
" Busyet.. bro lo gila, kurang aja lo bikin gue kepengen aja lo, mana gue udah lama ga main sama istri dasar lo" Ucap Reyhan.
" Hahaha.. kasian banget lo, bini lo ada yang pakai kali jadi ga sempat ladenin lo esshh.. oh.." Ucap Dewa meledek.
Sarah terus menggoyangkan pinggulnya naik turun.
" Ah.. ah.. ssstt.." Desah Sarah.
" Hahaha mana mungkin bro bini gue mah cupu" Jawab Reyhan.
Dewa membimbing Sarah agar membelakanginya dan akhirnya Dewa menyodokkan batang besarnya dari belakang, sambil sesekali menepuk p****t Sarah.
" Acchkksssttt..sssh..." Teriak Sarah saat batang besar Dewa mentok menyodok ujung rahimnya
"Esshhh oh.. enak banget bro.. sini bro mau join? mulitnya nganggur nih bisa lo pakai esshhh oh.. f**k" Ucap Dewa.
" Ohh.. sshhh.. oh.. fuck.. terus mas.. oh.. oh.. mas.. setubuhi aku mas.. oh...sshhh.." Desah Sarah semakin tidak karuan saat Dewa semakin cepat memompa l**************n Sarah.
" Dasar lo.. gila bro gue jadi kepengen nih.. mana tuh cewek desahannya mirip bini gue lagi.. ah udah ah gue tutup ya telponnya" Ucap Reyhan.
" Ya udah sorry ya bro gue hajar nih lubang dulu ya essdhhh... ohh.. f**k" Jawab Dewa sambil menutup panggilan telepon itu.
" Ach.. ahh. essh.. ayo mas terus mas.. sodok liangku lebih keras.. " Desah Sarah.
Dewa pun mempercepat ritme pompaannya hingga Sarah meronta-ronta
" Ah..ah.. ah. eshhh oh yes.. fuck.. aku keluar lagi oh.." Teriak Sarah saat mendapatkan klimaks.
Sedangkan Dewa masih tampak perkasa dan fit terus memompa lubang kenikmatan Sarah dari belakang sambil menarik rambut Sarah hingga kepala Sarah terdangak,
" Ah..ah..esshh.. oh.. mas aku budakmu mas.. pakai lubangku lagi sepuasmu ohh.. oh.. yes.. aku keluar lagi esshhhh" teriak Sarah saat kembali mendapatkan klimaks,
Terdengar suara ponsel Sarah berbunyi dan Sarah melihat ke layar ponselnya ternyata panggilan masuk dari Reyhan suaminya, Saraha mengabaikannya dan meminta Dewa melanjutkan memompa batang besarnya lebih cepat.
" Esssh.. abaikan saja mas.. tolong lebih keras lagi ahh.. ahh..mas.. aku dapat lagi. Sarah telah berkali kali mendapatkan Klimaksnya sedangkan Dewa masih tampak belum letih sedikitpun, Dewa membalikkan Badan Sarah dan mulai menindih diatas tubuh Sarah. Batang besarnya kembali dimasukkan ke l**************n Sarah yang sudah basah kuyup karena berkali kali mendapatkan klimaks. Sambil menciumin bibir Sarah, Dewa kembali memompa batang besarnya maju mundur.
" Esshh.. oh.. enak sekali lubangmu" Ucap Dewa.
"Ah.. ssshh.. iya mas pastinya lebih enak dari milik mbak Ana kan? " Ucap Sarah sambil mendesah.
Sarah ingin mendapatkan pengakuan dari Dewa bahwa ia jauh lebib bisa memuaskan Dewa daripada Ana Istri Dewa. Tetapi mulut Dewa tidak juga mengatakannya, Sehingga Sarah beejuang keras untuk membuat Dewa puas hingga mau mengatakannya, Sarah sudah berusaha keras memuaskan Dewa di Ranjang, sampai mengikuti apapun keinginan Dewa diatas Ranjang.
" Ah..esshhh.. oh.. mas.. toling oh.. esshhh bilang kalau lubangku lebih enak mas.. dari istrimu...oh.. eshh" Desah Sarah.
Dewa tetap diam dan semakin kencang menambah ritme pompaannya sehjngga tubuh Sarah mengelinjang tak karuan.
" Esshh oh.. mas.. aku keluar lagi..eshhh oh.. " Desah Sarah yang kembali mendapatkan klimaksnya.
Dewa pun sudah mendekati puncak kenikmatan
" Ah.. esshhh aku mau keluar.. oh..eshhh" desahan Dewa yang sudah hampir sampai di puncak kenikmatan.
" Ah.. essh ayo mas.. katakan mas.. lubangku lebih enak kan? eshhh.. oh.." Desah Sarah.
" Iya.. sayang.. lubangmu paling enak.. dari siapapun yang pernah kutiduri.. esshh.. oh.. aku keluar" Desah Dewa saat cauran kenikmatannya akhirnya keluar membasahi Rahim Sarah.
Mereka berdua terlentang bercucuran keringat, Sarahpun menaruh kepalanya di d**a Dewa.
" Mas.. kamu puas sama aku? " Ucap Sarah.
" Iya Sayang kamu benar-benar hebat" Jawab Dewa.
" Terima Kasih mas.. aku jadi lega, dan tidak cemburu lagi" ucap Sarah.
" Oh.. ternyata tadi diam karena cemburu?" Ucap Dewa Sambil mengecup kening Sarah.
Tak lama kemudian ponsel Sarah kembali berbunyi.
" Angkat dulu Sarah.." ucap Dewa.
" Halo.. iya mas?" Ucap Sarah di panggilan telepon dari suaminya.
" Kamu dimana Sih? " Tanya Dewa.
"Aku lagi cari ruko mas.. untuk usahaku ini baru saja dapat" Jawab Sarah.
" Oh ya sudah.. aku jadi kawatir kamu tidak angkat telpon" Ucap Reyhan.
" Iya Mas maaf, tadi HP di tas, aku lagi lihat-lihat Ruko yang mau aku kontrak" Jawab Sarah.
" sayang.. kita sudah satu bulan lebih tidak beehubungan badan, kamu sudah bosan atau bagaimana? " Tanya Reyhan.
" Bukan mas.. mas kan dari bulan kemarin liar kota terus karena buka cabang, pas sampai rumah aku lihat mas sudah lelah" Jawab Sarah.
" Ya sudah malam ini kita coba ya" Ucap Reyhan.
" Iya mas.. " Jawab Sarah.
" Ya sudah kalau sudah selesai cepat pulang ya, aku mungkin pulang cepat hari ini" Ucap Reyhan.
" Iya mas setelah ini aku pulang" Jawab Sarah.
Sarahpun mengakhiri panggilan itu dan segera beranjak dari ranjang.
Aku mandi dulu ya mas, aku harus buru buru pulang" Ucap Sarah pada Dewa yang masih terlentang di Ranjang sambil asyik dengan ponselnya.
" kamu mau diantar? " Tanya Dewa.
" Ga usah mas, aku naik taksi saja, mas istirahat dulu saja" Jawab Sarah.
Sarahpun segera membersihkan diri dan segera meninggalkan tempat itu, Sedangkan Dewa sepertinya masih kelelahan dan ingin tidur sejenak.
Sesampainya dirumah, Sarah menemukan suaminya sudah berada di meja makan sedang minum secangkir kopi sambil sibuk dengan laptopnya membuat laporan keuangan.
dan malam harinya Sarah berusaha menuruti permintaan Reyhan untuk melayaninya di ranjang walaupun Reyhan dirasa tidak seperkasa Dewa yang mampu memuaskan Sarah hingga titik puncak kenikmatan.