“Makasih transferannya, Om.”
Sore ini terlihat begitu tentram di kediaman rumah Qilla. Gadis itu terlihat duduk santai di sebelah kolam ikan yang terletak di belakang rumahnya. Mata Qilla memandang ponsel dengan serius, apalagi kalau bukan memantau olshop kesayangannya, siapa tahu ada diskon?
Qilla menoleh ke dalam rumah begitu mendengar samar-samar suara Dewa yang terdengar. Sepertinya pria itu baru saja pulang dari kafe. Dengan semangat Qilla berlari ke dalam rumah dan menemui Dewa.
Di dalam rumah, Dewa terlihat duduk santai bersama ayahnya, tentu saja dengan ditemani kopi hitam kesukaannya. Jika sudah melihat Dewa membuat kopi di rumahnya, pasti stok kopi pria itu telah habis. Qilla mengambil tempat di belakang Dewa dan bertumpu dengan siku pada sofa di mana Dewa duduk.
"Om, bawa camilan nggak?"
Dewa menoleh dan menggeleng, "Kamu nggak minta tadi."
"Ya 'kan biasanya bawa kue dari kafe," ucap Qilla sambil cemberut.
"Besok aja," sahut Dewa singkat.
"Ya udah, kalo gitu Om Dewa beliin aku tas aja." Qilla berjalan memutari sofa dan mengambil duduk di sebelah Dewa, "Ini tas ini, bagus 'kan? Oke banget buat kuliah," ucap Qilla sambil menunjuk layar ponselnya.
Dewa hanya melihat sekilas dan kembali meminum kopinya, "Ya udah beli sana, nanti aku transfer."
Qilla duduk dengan tegap dan memandang Dewa dengan mata yang berbinar, "Beneran?"
Sebelum mengangguk, suara ayah Qilla tiba-tiba terdengar, "Jangan manjain Qilla terus Wa, suruh dia kerja, bantu-bantu di kafemu gitu."
Qilla cemberut dan memandang ayahnya kesal, "Kalo gitu Ayah aja yang beliin aku tas."
"Ya udah Ayah beliin, tapi uang jajan bulan depan dipotong ya?"
"Ih Ayah! Om, jangan dengerin Ayah, jadi 'kan beliin aku tas?" tanya Qilla memandang Dewa dengan tatapan mengharap.
"Jangan Dewa!" Ucapan tegas ayah Qilla membuat Dewa mengerutkan keningnya.
"Nggak papa kok Pak, cuma tas 'kan?"
"Suruh dia kerja di kafe, biar dia tau rasa susahnya cari uang."
Dewa tersenyum kecil dan mengelus kepala Qilla yang masih terlihat cemberut, "Nggak tega aku Pak, lagian nanti malah dia ancurin semua piring yang ada di dapur."
Dengan kesal Qilla menyentak tangan Dewa dari kepalanya dan berjalan kembali ke halaman belakang. Dia kesal karena diejek seperti itu. Ejekan biasa memang, tapi untuk Qilla yang merupakan anak tunggal tentu tidak bisa menerima begitu saja.
Dia sudah terbiasa dimanja sejak kecil, tapi tidak berlebihan. Apalagi setelah Dewa menjadi tentangganya yang secara otomatis menjadi kakak dan supir dadakannyanya. Qilla berubah menjadi gadis yang paling bahagia di dunia. Entah kenapa Dewa selalu menuruti permintaan Qilla yang kadang sedikit aneh itu.
Qilla meraih sebuah wadah di rak yang berisi makanan ikan dan menaburkan makanan itu ke kolam dengan kesal. Bibirnya masih mengerucut karena kesal.
Gagal deh dapet tas keren.
"Nggak usah cemberut gitu." Qilla masih diam tidak memperdulikan Dewa yang bersandar di pintu belakang.
"Jadi beli kan?" tanya Dewa sekali lagi, "Nanti malam aku transfer 200 ribu, jangan bilang ayah tapi."
Dengan cepat Qilla berbalik dan memandang Dewa dalam, "Serius?"
Dewa hanya mengangguk dan Qilla berteriak senang. Dia menghampiri Dewa dan memeluk lengannya erat, "Makasih ya Om, Qilla janji bakal nyisahin uang bulan ini buat di tabung."
"Harus." Dewa lagi-lagi tersenyum tipis dan mengacak rambut Qilla sayang.
Qilla kembali ke kolam dan menebar makanan ikan dengan raut wajah yang berbanding terbalik dengan tadi. Mood-nya sudah kembali normal sekarang, bahkan dia mulai berbicara dengan ikan-ikan hias miliknya.
"...ya ikan ya, liat aja nanti, tabunganku bakal aku beliin ferrari buat ayah.."
Dewa hanya tersenyum tipis dan pandangannya tertuju pada kolam ikan. Bukan tanpa alasan dia hanya berdiri di pintu belakang seperti ini, dia memang sedang menghindari kolam ikan. Entah apa yang ada di otak ayah Qilla ketika memutuskan untuk membuat kolam ikan yang memiliki kedalaman 1,5 meter itu, meskipun terpasang pagar kecil disekitar kolam, tetap saja bukannya itu cukup dalam untuk ukuran kolam ikan. Sebenarnya bukan kedalaman kolam yang membuat Dewa takut, tapi volume air yang banyak membuatnya lebih baik menghindar dari kolam itu.
"Ngapain berdiri di situ? sini bantu aku kasih makan ikan. Ikannya udah pada gede! Untung aja ikan hias bukan ikan lele.”
Dewa menggeleng pelan dan mengabaikan ajakan Qilla, tapi sepertinya Qilla tidak menyadari itu. Dia berjalan ke arah Dewa dan menarik lengannya kencang. Hal itu membuat Dewa terkejut dan dengan refleks menyentak tangan Qilla keras yang membuat wadah makanan ikan yang dibawa Qilla jatuh dan berceceran.
Jantung Dewa berdetak dengan keras. Jika dia tidak menyentak tangan Qilla, mungkin sekarang dia sudah terjatuh lemas melihat volume air kolam yang cukup banyak itu.
"Om?" Qilla bingung melihat tingkah Dewa.
"Jangan gitu lagi!" ucap Dewa penuh penekanan dan berbalik meninggalkan Qilla yang terdiam karena rasa terkejutnya.
Untuk pertama kalinya Dewa menatapnya seperti orang asing. Qilla ingin mengejar Dewa dan meminta maaf, tapi dia masih bingung untuk apa dia meminta maaf.
Apa salahnya? Kenapa Dewa tiba-tiba marah seperti itu.
***
Qilla duduk di depan kipas angin dengan diam, wajahnya sudah terasa kaku karena masker yang digunakannya. Sudah menjadi kegiatan rutin, jika setiap malam dia akan memanjakan wajahnya.
Mata Qilla melirik ke arah ponsel yang berbunyi karena adanya pemberitahuan. Mata Qilla membulat begitu melihat pesan itu, dia mendapat transferan di rekeningnya.
Pasti Om Dewa..
Tanpa peduli maskernya yang sudah pecah, Qilla pun berlari keluar kamar untuk ke rumah Dewa. Dia pikir pria itu marah padanya karena kejadian sore tadi tapi ternyata Dewa malah benar-benar mengirimkan uang ke rekeningnya.
"Mau ke mana kamu Qil!" teriak ibu Qilla begitu melihat anaknya berlari keluar rumah dengan masker yang masih tertempel di wajahnya.
"Ke Om Dewa bentar!" balas Qilla berteriak.
Qilla membuka pintu rumah Dewa tanpa mengetuknya terlebih dahulu, seperti kebiasaannya.
"Om Dewa!" Panggil Qilla mencoba untuk menemukan Dewa di ruang tengah yang kosong. Sepertinya pria itu berada di kamar.
"Om!" Panggil Qilla lagi sambil membuka pintu kamar Dewa. Terlihat pria itu menggosok rambutnya yang basah sambil menatap Qilla aneh.
Sepertinya pria itu baru saja selesai mandi. Kenapa mandi malam-malam begini? Qilla berjalan menghampiri Dewa dan menunjukkan layar ponselnya yang menunjukan jumlah saldo di rekeningnya.
"Tambah 200 ribu."
"Terus?" tanya Dewa bingung.
Qilla menghela nafas gelisah dan menunduk, "Aku pikir Om Dewa marah sama aku."
"Marah kenapa?"
"Pas tadi sore, Om bentak aku."
Dewa terdiam dan menggantung handuknya yang basah, "Aku minta maaf soal tadi sore, seharusnya aku nggak berlebihan kayak gitu."
Qilla terdiam sambil meremas ponselnya gemas. Sebenarnya dia ingin menanyakan sesuatu pada Dewa tapi Qilla takut jika pria itu akan membentaknya lagi. Masih dengan rasa penasarannya yang tinggi akhirnya Qilla pun bertanya.
"Kenapa takut air?" tanya Qilla langsung.
"Trauma," jawab Dewa acuh mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Qilla.
"Trauma kenapa?"
Dewa yang tidak suka masa lalunya diungkit menatap Qilla dengan datar, sama dengan tatapan sore tadi. Dengan gugup Qilla menyadari kesalahannya dan mulai mengalihkan pembicaraan.
"Nggak deh, nggak jadi tanya." Dengan cepat Qilla masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan maskernya. Dia sudah mulai risih dengan keberadaan masker di wajahnya itu.
Qilla keluar dengan wajah yang segar. Dia melihat Dewa telah berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya. Entah kenapa Qilla merasa canggung saat ini, biasanya malam-malam seperti ini dia akan maraton film bersama Dewa, lebih tepatnya dia yang memaksa Dewa untuk menemaninya menonton film tapi entah kenapa Qilla melihat aura Dewa berbeda hari ini. Aura yang sama seperti dulu ketika mereka pertama kali bertemu, tertutup dan penuh rahasia.
Mulut Qilla yang gatal dan rasa penasarannya yang tinggi pun menghampiri Dewa dan duduk di kasur tepat di sebelah Dewa. Dia tidak bisa terus diam seperti ini, "Om Dewa beneran nggak papa?"
"Nggak usah berbelit-belit. Kamu mau tanya apa?" tanya Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Om Dewa kenapa? Kenapa habis pulang camping jadi berubah. Om juga takut sama air."
"Udah dibilang aku trauma Qil."
"Om Dewa nggak pernah cerita sama aku kenapa bisa trauma sama air? Apa dulu pernah tenggelam? Oh iya Om juga nggak pernah cerita tentang keluarganya?" tanya Qilla beruntun tanpa menyadari raut wajah Dewa yang mulai berubah dingin.
"Kamu nggak perlu tau."
Entah kenapa hati Qilla terasa sakit mendengar itu. Seolah-olah Dewa tidak membutuhkannya lagi. Qilla tertawa dalam hati.
Emang benar ‘kan? Dewa nggak butuh kamu? Yang ada kamu yang butuh Dewa, kamu yang selalu nyusahin Dewa.
"Tapi kan—"
"Kalau kamu tetep mau bahas itu mending kamu pulang, aku mau tidur." Lagi, hati Qilla merasakan sakit lagi. Dewa mengusirnya untuk yang pertama kali.
"Om ngusir aku?" tanya Qilla tidak percaya. Nada bicaranya sudah mulai bergetar karena menahan tangis. Jangan lupakan fakta jika Qilla merupakan gadis yang cengeng, meskipun dia terkenal sebagai gadis yang urakan tapi di sisi lain dia juga orang yang mudah tersentuh.
Dewa yang merasa bersalah pun bangkit dari rebahannya dan menarik tangan Qilla, "Maaf, aku nggak maksud buat ngusir kamu, tapi aku bener-bener capek malam ini." Dengan pelan Qilla mengangguk dan berdiri dari kasur. Dia akan pulang.
Saat akan membuka pintu kamar Dewa, langkah Qilla terhenti saat Dewa berbicara, "Lain kali kalo keluar rumah pake baju yang bener." Qilla melirik ke bawah dan meringis ketika menyadari jika dia hanya mengenakan tanktop dan celana kain setengah paha.
Qilla tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Seneng Om, habis dapet transferan."
Dewa hanya menggelengkan kepala pelan dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur, "Pakai jaketku di belakang pintu." Qilla meraih jaket Dewa dan memakainya. Setelah itu dia benar-benar keluar dari rumah Dewa dengan tangan kosong. Dewa masih belum ingin bercerita tentang masa lalunya dan itu membuat Qilla menjadi semakin penasaran.
***