"Aku sayang kamu tapi kamunya kaya taik."
Qilla terduduk di teras rumah dengan wajah yang mengantuk. Langit masih gelap karena jam masih menunjukan pukul 4 pagi. Hari ini seperti rencana yang telah ditentukan, keluarga Qilla akan melakukan liburan kecil untuk mengisi akhir pekan. Bahkan Dewa juga ikut camping di tengah hutan karena ajakan ayahnya.
Sebenarnya Qilla kurang setuju dengan pilihan liburan ala ayahnya ini, tapi apalah daya, ayahnya yang merupakan menteri keuangan di keluarganya, jadi mau tidak mau Qilla harus menurut.
"Ini." Qilla membuka sedikit matanya dan melihat Dewa yang tengah memberinya segelas s**u hangat. Sepertinya pria itu baru saja membuat s**u di rumahnya.
"Males ah, ngantuk Om."
"Minum Qill, nggak sempet sarapan 'kan? Di mobil buat tidur aja nanti."
Mau tidak mau akhirnya Qilla menerima gelas itu dan mulai meminumnya. Dewa ikut duduk di samping Qilla sambil melihat ayah Qilla yang sedang sibuk menyiapkan mobil.
"Syasa kapan dateng Qill? Udah mau terang ini," tanya Ibu Qilla sambil membawa tas yang penuh dengan makanan ringan. Tentu saja untuk camilan para anak muda selama 2 hari mendatang.
"Bentar lagi, udah otw katanya."
Qilla memberikan gelas s**u yang masih tinggal setengah tadi pada Dewa, "Nggak habis Om, nanti aku kencing terus di jalan."
"Habisin Qill tinggal sedikit itu." Lagi-lagi Qilla menggeleng dan kembali menyodorkan gelas itu pada Dewa.
Dewa menerima gelas itu dan meminum setangah s**u itu hingga habis. Setelah itu dia bangkit dan kembali masuk ke dalam rumah Qilla.
"Assalamualaikum sahabat!" Sebuah teriakan melengking itu membuat Qilla mendengus geli. Dari pagar rumah, terlihat Syasa masuk sambil membawa koper ungu yang berukuran besar.
"Mau minggat lo?"
"Isinya cuma makanan kok, santai." Syasa terkikik dan menghampiri ayah Qilla yang masih berkutat dengan mobilnya.
"Lapor Ndan! Syasa si unyu datang dan kita sudah bisa berangkat sekarang. Laporan selesai."
"Bawa apa aja kamu Sya? Cuma 3 hari 2 malem lo, kita juga tidur di tenda bukan di villa."
"Isinya energi tambahan untuk para jomblo Om."
"Koplak!" teriak Qilla dengan tertawa.
"Sudah siap semua 'kan? Ayo berangkat sekarang!" Suara kanjeng ratu bagaikan sebuah perintah, karena setelah mengatakan itu semua orang sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil.
***
"Sekarang Qilla sama Syasa cari kayu, Ibuk siapin makanan, dan kamu Dewa bantu Bapak bikin tenda."
"Siap Ndan!" teriak mereka semua kompak, bagaikan titah dari sang raja mereka semua langsung melakukan perkerjaan mereka.
"Qill ini hutan kok sepi banget ya?" tanya Syasa sembari menggosok tangannya yang terasa dingin.
"Biasanya rame kok, besok kali rame 'kan ini weekend."
"Kalo sepi gini gue jadi mikir aneh-aneh deh."
Qilla menghentikan langkah kakinya dan memandang Syasa kesal, "Jangan ngomong aneh-aneh deh Sya, kita sama-sama penakut di sini."
"Bukan gitu maksudnya!" sahut Syasa sambil memukul kepala Qilla.
Qilla hanya memutar matanya dan membungkuk untuk mengambil ranting kayu yang ada di depan kakinya. Dia berjalan meninggalkan Syasa yang terdiam sambil melihat pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya.
"Sya lo kenapa sih kaya orang b**o gitu?” tanya Qilla resah. Dia paling tidak suka jika ditakut-takuti seperti ini.
"Gue serius Qill, kalau di tengah hutan gini, biasanya ada—"
Brak!
Qilla melempar semua kayu yang dibawanya tadi ke tanah dan menutup telinganya rapat, "Udah gue bilang jangan ngomong aneh-aneh."
Syasa memandang Qilla aneh, "Lo kenapa sih Nyai? Gitu amat. Kan gue cuma mau bilang kalau di hutan begini biasanya ada vampir ganteng lewat, macam Edward cullen gitu," ucap Syasa santai sambil menghampiri Qilla.
"Sialan lo!" teriak Qilla kesal sembari melempar ranting kecil ke arah Syasa yang tengah menertawainya.
"Udah dapet kayunya 'kan? Ayo balik, ntar malah ketemu vampir cina lagi."
"Bawa tuh kayu!" Qilla yang kesal segera meninggalkan Syasa yang sedang memungut ranting sambil menggerutu.
Salah satu hobi Syasa adalah menakut-nakuti Qilla.
Enggak tau kenapa, gemes aja gitu liatnya.
***
Jreng jreng!!
"Ohh rinduku padamu..." Jreng! Jreng!
Qilla masih bernyanyi dengan diiringi petikan gitar asal oleh Syasa. Duo bangkai itu seolah tidak peduli dengan tatapan kesal dari Dewa yang sedang bersandar di bawah pohon. Bahkan ayahnya sudah lelah untuk menyuruh duo dadakan itu untuk berhenti bernyanyi. Untung lokasi tenda mereka sedikit jauh dengan tenda lainnya, sehingga para pengunjung lainnya tidak terganggu dengan suara menyeramkan yang keluar dari mulut Qilla dan Syasa.
"Ganti lagu Qill."
"Lagu apa?" tanya Qilla membuka ponselnya untuk mencari kunci gitar untuk Syasa.
"Ituloh lagu yang lagi hits, siapa itu? Lucinta?”
"Idih geli gue!”
"Kalian bisa diem nggak sih! Kalo nggak bisa nyanyi diem! Mau serigala dateng makan kalian nanti," rutuk ibu Qilla jengah. Tangannya mulai sibuk membuka bungkus marshmallow untuk camilan para kawula muda.
"Enak dong Tan, disamperin Jacob," celetuk Syasa.
"Jacob, jacob, yang ada lo dimakan sama pocong!"
"Jaga mulutnya Qill," tegur Dewa yang akhirnya mulai membuka suara. Kadang dia sangat heran melihat kerecehan dua orang sahabat itu.
Akhirnya Qilla dan Syasa berhenti bernyanyi begitu ibunya sudah menghidangkan marshmallow leleh di dalam teflon. Dengan cekatan tangan Qilla mengambil biskuit dan memasukannya ke dalam lelehan marshmallow.
"Ya allah.. surga dunia!" ucap Syasa sambil memejamkan matanya merasakan lelehan marshmallow di mulutnya.
"Om sini!" Ajak Qilla yang membuat Dewa menghampirinya.
"Aaaa ... " Qilla berucap sambil membuka mulutnya begitu Dewa sudah mengambil duduk di sampingnya. Dengan cepat Dewa membuka mulutnya dan menerima suapan marahmallow dari tangan Qilla.
***
Pagi telah tiba, Dewa keluar dari tenda dan langsung disambut oleh ayah Qilla yang sedang menyiapkan alat pancingnya.
"Mau ke mana Pak?"
"Mau mancing di danau. Ayo ikut."
Dewa terdiam dan memandang danau yang terletak sedikit jauh dari tendanya tapi dia masih bisa melihat dengan jelas air danau yang jernih itu. Sungguh ingin sekali dia mengatakan tidak, namun entah kenapa malah kata lain yang keluar dari mulutnya.
"Ayo Pak," sahut Dewa sambil mengambil ember dengan lemas. Dia menelan ludahnya yang terasa sulit dan mulai mengikuti langkah ayah Qilla menuju danau.
Dahi Dewa berkerut begitu telah sampai di danau, banyak orang yang berkumpul di sana. Dia juga melihat banyak polisi dan mobil ambulan. Kepala Dewa langsung berdenyut melihat keadaan itu. Seperti deja vu, Dewa melangkah mundur dengan perlahan menjauhi tepi danau.
"Ada apa ini Mas?" Suara samar-samar ayah Qilla yang bertanya pada seseorang masih bisa didengarnya.
"Ada orang tenggelam Pak, meninggal dunia."
"Inalillahi.."
Setelah mendengar itu, Dewa dengan cepat membuang ember yang dibawanya dan berbalik pergi meninggalkan danau. Bahkan dia tidak memperdulikan panggilan ayah Qilla yang meneriakinya.
Dewa berhenti berjalan ketika sudah merasa cukup jauh dari danau. Dia duduk bersandar pada sebuah pohon dan meremas rambutnya kesal. Dewa mencoba untuk mengatur nafasnya agar serangan panik itu segera menghilang.
Bukannya menghilang, kilasan masa lalu malah kembali datang dan berputar di otaknya. Bayangan-bayangan kelam bersama orang yang disayanginya kembali terlihat. Dewa memejamkan matanya kesal dan mengerang.
"Om?” Sebuah suara membuat Dewa terlonjak dan membuka matanya.
Dewa menghela nafas lega begitu melihat Qilla yang ada di depannya, "Om Dewa kenapa di sini? Dicariin ayah dari tadi."
"Nggak papa. Ayo balik ke tenda." Dewa tersenyum tipis dan berdiri. Dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Qilla yang memandangnya bingung.
***
"Udah enak kok Tan," sahut Syasa begitu selesai menyicipi masakan ibu Qilla untuk makan malam.
Hari ini berlalu begitu cepat. Rencananya mereka semua akan bermain di sekitar danau tadi, namun karena ada korban meninggal di sana, akhirnya mereka memilih untuk tetap di sekitar tenda.
"Qill kamu panggil Dewa ya Nak." Perintah ibu suri yang langsung membuat Qilla menghampiri tenda Dewa.
"Om?” Panggil Qilla pelan. Sebenarnya sudah sedari tadi dia ingin menghampiri Dewa, namun dia memilih untuk diam dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu.
Sejak pagi, Dewa lebih memilih untuk berada di tenda dari pada bergabung dengan mereka. Terlihat aneh memang, meskipun Dewa orang yang pendiam tapi dia selalu berbaur dengan orang terdekatnya.
"Om, waktunya makan malem." Panggil Qilla lebih keras namun tetap tidak ada sahutan.
Dengan kesal Qilla masuk ke dalam tenda yang tidak sepenuhnya tertutup. Dia menghela nafas kasar begitu melihat Dewa yang tengah tertidur pulas.
"Dasar kebo!" umpat Qilla sambil melempar Dewa dengan bantal kecil.
"Bangun Om," ucap Qilla santai sambil meraih ponsel Dewa. Hanya iseng, siapa tahu Dewa sudah mempunyai pacar dan tidak memberitahunya.
"Om bang—" Qilla kembali menatap Dewa dan menghentikan ucapannya begitu melihat pria itu mengerutkan keningnya dalam.
"Om?” Panggil Qilla lagi. Banyak hal yang ingin dia tanyakan sekarang.
"Om!" Panggil Qilla lagi begitu melihat wajah Dewa yang berubah seperti kesakitan. Keringat mulai bercucuran deras di dahinya.
"Papa," gumam Dewa dengan air mata yang keluar dari matanya.
"Om! Om Dewa kenapa? Bangun!" Dengan resah akhirnya Qilla memukul kening Dewa keras dan akhirnya Dewa berhasil membuka matanya.
Seolah tersadar, Dewa segera bangun dari tidurnya dan memandang ke depan dengan tatapan kosong.
"Om Dewa kenapa?" tanya Qilla khawatir bahkan hampir menangis. Dia takut melihat pria itu seperti tadi.
Dewa hanya menggeleng pelan dan menatap Qilla dengan senyuman tipis.
"Bohong ih, tadi nyeremin tau." Qilla memukul bahu Dewa pelan dan menghapus pipi Dewa yang basah karena air mata.
"Cuma mimpi." Dewa menarik tangan Qilla dan menggenggamnya erat.
"Kok bisa? Om mimpi apa? Aneh banget sih hari ini," rengek Qilla dengan kesal.
"Aku nggak papa, ayo keluar."
Qilla mencegah Dewa yang ingin keluar dengan menarik tangannya, "Om beneran nggak papa 'kan? Ada Qilla di sini Om, kalo mau curhat, Qilla siap dengerin. Jangan diem-diem bae, jangan dipendem."
"Ngomong apa sih, udah ah ayo keluar." Qilla terdiam dan memandang punggung Dewa bingung. Dia tidak mungkin salah, pasti ada sesuatu yang Dewa sembunyikan. Tapi bukan haknya untuk memaksa Dewa untuk berbicara. Biarkan dia yang menceritakannya sendiri nanti jika sudah tiba saatnya.
Qilla sayang Dewa, dia tidak bisa melihat Dewa kesakitan menahan beban seperti tadi.
***