Chapter 6

1749 Words
"Mencoba melupakan tapi malah teringat kembali."   Tangan rapuh itu mengerat mencoba untuk bertahan dengan segala cacian yang dia dapatkan. Teriakan amarah itu membuatnya menutup kedua telinganya rapat. Suara teriakan marah wanita itu semakin jelas didengarnya dengan diiringi langkah kaki yang mendekat. Dewa semakin mengeratkan tubuhnya agar terpojok di dalam lemari. Dia tidak mau bertemu dengan wanita itu, wanita yang dia anggap sebagai ibu malah tidak sama sekali mencerminkan sosok itu. "Dewa! Di mana kamu?!" Suara pintu yang terbuka dengan teriakan itu membuat Dewa kecil menggigit bibirnya keras hingga berdarah. Air matanya menetes, bukan karena sakit pada bibirnya melainkan sakit pada hatinya.   Brakk!   Pintu lemari tiba-tiba terbuka dan muncul wanita paruh baya yang menatapnya dengan tajam. Dewa sangat tahu akan penyebab kemarahan wanita itu. Rapot sekolah yang ada di tangan ibunya sudah menjelaskan semuanya. Dalam sekali tarikan, Dewa terjatuh keluar dari lemari. Tangan mungil itu melindungi kepalanya yang dihantam keras oleh rapot sekolahnya. "Dasar bodoh! Kenapa dapet peringkat dua!" teriak wanita itu murka. "Maaf Ma," ucap Dewa dengan terbata-bata. "Sekali bodoh tetap bodoh! Berhenti untuk membuat malu keluarga!" Dewa mendongak dan menatap ibunya dengan berani. Sudah cukup ibunya merendahkannya seperti itu, "Ma, ini pertama kalinya aku dapet peringkat dua! Selama 4 kali berturut-turut aku selalu jadi juara kelas. Apa Mama belum puas!" "Nggak kalau kamu dapet peringkat dua kaya gini, dasar bodoh!" teriak wanita itu lagi. "Rani!" Suara bentakan seorang pria membuat Dewa dengan cepat berlari menghampiri pria itu dan bersembunyi di belakangnya. "Apa-apaan kamu ini!" "Dewa bodoh banget Mas! Dia dapet peringkat dua!" "Aku nggak bodoh Ma!" teriak Dewa masih berada di belakang Ayahnya. "Kamu! Dasar nggak tau malu!" Rani berjalan kearah Dewa dan menariknya. Dengan keras wanita itu menarik telinga Dewa hingga anaknya itu menjerit kesakitan. "Lepaskan anakku!" Andra menarik tangan Dewa dan memeluknya, mencoba untuk melindungi anak sulungnya itu. "Demi Tuhan Rani! Dia masih masuk 3 besar, nggak perlu dilebih-lebihkan kayak gini." "Nggak bisa gitu Mas! Kalo bukan Dewa yang meneruskan perusahaan kita siapa lagi?!" "Dewa masih 11 tahun Rani!" Andra terlihat mendesah kesal melihat sikap keras istrinya itu. "Aku nggak peduli Mas, urus anakmu itu. Kalau Dewa nggak dapet peringkat 1 untuk tahun depan, aku akan pindahkan dia ke Jerman!" Rani segera pergi meninggalkan suami dan anaknya. Andra menunduk dan mensejajarkan tingginya dengan Dewa. Tangan besar itu mengelap air mata anaknya dan mencium keningnya sayang. "Maafkan Papa ya Nak.." "Nggak Pa, Dewa yang salah. Dewa kebanyakan main sampai nilai Dewa turun seperti ini." "Main?" Dewa mengangguk dan menunjuk suatu permainan di atas meja belajarnya. Andra melihat itu dan meneteskan air matanya, "Itu cuma TTS Dewa, itu bukan sebuah permainan yang berarti. Kamu masih harus berpikir untuk menyelesaikan permainan itu." "Tapi aku menyukainya." "Besok Papa akan belikan mainan untukmu. Dewa mau apa? Mobil-mobilan, ular tangga, atau video game?" Dengan cepat Dewa menggelengkan, "Nggak perlu, Papa beikan buku aja. Aku nggak mau buat mama marah lagi." Andra menunduk dan kembali meneteskan air matanya.   Tangan besar itu mengepal dengan erat dalam tidurnya. Sedetik kemudian mata Dewa terbuka dan menampilkan keadaan kamarnya yang masih gelap, tetapi suara adzan subuh dari masjid sudah mulai terdengar. Dewa bangkit dari tidurnya dan mengusap wajahnya lelah. Akhir-akhir ini entah kenapa Dewa sulit sekali mendapatkan tidur nyenyaknya. Lagi-lagi kilasan masa lalu yang gelap kembali menghantui malamnya. Meskipun sedikit malas, akhirnya Dewa mau tidak mau harus bersiap untuk hari yang baru ini. Kakinya melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia membutuhkan air dingin untuk merilekskan tubuhnya yang terasa sangat lelah.   ***   Kopi itu diaduk dengan pelan karena mata Dewa masih terfokus pada koran yang ada di tangannya. Setelah selesai mengaduk, Dewa pun meminum kopinya. Ya, selalu kopi untuk pagi, siang, dan malam. Mungkin dulu dia memang membutuhkan itu agar terjaga dan tidak mendapatkan mimpi buruk, namun seiring berjalannya waktu Dewa mulai perlahan untuk meninggalkan kebiasaannya itu. Namun entah kenapa akhir-akhir ini dia kembali meminum kopi secara rutin. Mimpi-mimpi sialan itu kembali datang menghantui malamnya, bahkan pria itu ingin sekali terjaga di malam hari dengan meminum banyak kopi agar tidak mendapatkan mimpi buruk lagi. Namun Dewa tetaplah manusia, sekeras apapun dia berusaha untuk terjaga, matanya juga bisa merasa lelah. Mau tidak mau dia pun jatuh tertidur dan hanya mimpi buruk yang akan membangunkannya. Mata Dewa terhenti pada koran yang menampilkan suatu potret wanita paruh baya yang berpose dengan pakaian kerjanya. Dewa tahu siapa wanita itu, wanita yang baru saja semalam menghantuinya dari dalam mimpi. Rani Mahendra, wanita yang merupakan ibunya sendiri, ibu yang tidak pernah ditemuinya selama 9 tahun dan Dewa tidak merasa bersalah sedikitpun karena itu. Sepertinya wanita itu juga sudah menganggapnya hilang dari muka bumi ini. Dewa tersenyum miring begitu membaca judul koran yang berisikan tentang perusahaan keluarganya yang menurun ketika berada di bawah kekuasaan ibunya. Sampai sekarang Dewa masih tidak mengerti kenapa ibunya yang mengambil alih perusahaan dan bukan lagi ayahnya. Mungkin alasannya masih sama seperti dulu, ayahnya terlalu sayang pada ibunya hingga membuatnya buta dan memberikan semua aset pada wanita itu. Dengan rasa tidak peduli, Dewa melempar koran itu di meja dan kembali meminum kopinya. Pagi ini dia ingin sedikit bersantai, dia tidak mau memikirkan apa yang dilakukan ibunya itu, toh itu bukan urusannya lagi. Hidup Dewa sudah tenang sekarang, jauh dari siksaan ibunya dan tentu saja Dewa bisa hidup sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa beban yang diberikan oleh ibunya dulu.   ***   Bibir Qilla sedikit maju guna mencari sedotan yang ada di sampingnya. Mata gadis itu masih fokus pada laptop yang menampilkan sebuah film action kesayangannya. Karena kesal tak kunjung menemukan sedotan yang dia cari akhirnya dengan cepat dia meraih gelas itu dan meminumnya langsung tanpa sedotan. Qilla duduk bersandar dan melihat suasana kafe yang terlihat sedikit lenggang siang ini. Mungkin karena jam makan siang yang telah berlalu dan anak muda yang masih bersekolah. Berbeda dengan Qilla yang sudah selesai dengan kelasnya, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke kafe Dewa untuk mengunduh film yang sudah dia list sebelumnya secara gratis. "Qilla?" Panggil seseorang membuat Qilla melirik orang itu dengan kesal. "Ngapain lo di sini?" tanya Qilla galak. Angga terlihat tersenyum dan duduk tepat di depan Qilla. Tanpa sungkan pria itu mengambil burger milik Qilla dan memakannya. "Itu bayar 20 ribu ditambah duduk di depan gue 10 ribu," celetuk Qilla dengan menunjuk burger yang telah dimakan Angga. "Pelit banget sih lo." Qilla yang malas menanggapi Angga pun kembali memasang headseat-nya dan kembali fokus menonton film. "Nonton apa sih?" tanya Angga sambil mendekatakan tubuhnya ke arah Qilla untuk melihat apa yang sedang ditonton wanita itu. "Apaan sih! Jauh-jauh sana." Dorong Qilla pada Angga. "Eh, kita ngerjain tugas kapan?" Pertaaan Angga membuat mood Qilla langsung jatuh ke dasar bumi. "Kenapa lo ingetin sih? Kan gue lagi males nginget-nginget," rengek Qilla sambil meremas rambutnya kesal. "Lo jadi cewek males banget sih, harusnya gue yang kaya gitu." "Bodo amat dah." "Gue serius Qil, kita ngerjainnya kapan? Kalo lo nggak mau ya udah gue pake sendiri bukunya." "Nggak bisa gitu dong, lo ‘kan udah janji ngerjain bareng. Artinya lo juga harus bantuin gue." "Nggak mahal sih, upahnya 20 ribu ditambah pinjeman buku dari gue 10 ribu," balas Angga pada Qilla. Qilla hanya melirik kesal dan memandang laptopnya datar, "Besok deh lo sms gue, pokoknya nggak sekarang. Lagi males aku tuh." "Sama sih, lagi males juga gue. Makanya cuci mata main ke sini." "Dasar cowok, sama aja pada genit!” "Udah kodrat kali.” "Udah ah gue mau pulang." Qilla bergerak untuk memasukkan laptopnya dan bangkit berdiri. "Loh, lo nggak bayar dulu?" "Gue pelanggan VIP jadi nggak perlu pake bayar," sahut Qilla acuh dan berjalan keluar kafe. Angga mengikutinya Qilla dan menyamakan langkah kakinya di samping gadis itu. "Gue anter yuk?" Tawar Angga. "Nggak usah, ada ojol gue." "Gue anter aja, biar tau rumah lo kalo mau ngerjain tugas." Qilla berhenti melangkah dan menyipitkan matanya menatap Angga, "Lo nggak lagi modus kan?" "Gue? Modusin elo? Kayak nggak ada cewek kalem aja Qill. Lo mah suka ngelawak tapi garing abis." Dengan kesal Qilla tertawa garing dan kembali berjalan, "Nggak lucu." "Gimana? Mau gue anter?" "Mana motor lo?" tanya Qilla saat sudah sampai di parkiran. "Gue bawa mobil, ayo."   ***   "Berhenti di sini," ucap Qilla ketika sudah berada di depan perumahannya. "Kok di sini, kenapa?" "Nggak papa, ayah gue galak." "Galaknya nggak sampe bawa golok 'kan?" "Ya enggak lah, ngapain bawa-bawa golok coba," ucap Qilla sambil memukul bahu Angga pelan. "Ya udah kalo gitu gue anter sampe depan rumah aja." "Nggak usah Ngga, beneran deh." "Udah lo diem, sekarang tunjukin di mana rumah lo." Qilla hanya bisa pasrah dan menunjukkan letak rumahnya pada Angga. Dasar pria sok, belum tahu dia dengan ayahnya. Adit saja sampai tidak ingin berkunjung lagi ke rumahnya. "Itu pagar coklat." Tunjuk Qilla dan perlahan mobil Angga pun menepi di depan rumahnya. Qilla melirik halaman rumah sebentar dan mendapati mobil ayahnya yang sudah terparkir rapi di garasi. Ayahnya sudah pulang? Qilla meringis dan menepuk dahinya keras. "Lo kenapa?" "Bokap gue udah pulang, aduh gimana ini. Kita balik lagi deh ke depan nanti gue jalan aja." Angga hanya mengerutkan keningnya bingung dan keluar dari mobil sebelum Qilla dapat mencegahnya, "Angga! Kok lo keluar sih?! Dasar setan!" Angga pun membuka pintu untuk Qilla dan menariknya keluar, "Nggak usah ngumpet, ayah kamu udah ngintipin dari jendela dari tadi," ucap Angga geli. "Hah beneran?! Aduh mampus gue." "Ayo ah keluar!" Dengan lemas Qilla pun keluar dari mobil dan memandang rumahnya horror. Tanpa diduga Angga menarik tangan Qilla dan membawanya masuk ke dalam rumah. Qilla yang bingung pun hanya bisa menurut. "Permisi," teriak Angga agak keras saat sudah sampai di teras rumah. Tidak perlu menunggu waktu lama, ayah Qilla langsung keluar dan memandang Angga dan Qilla berhantian dengan tajam. "Selamat sore Om, saya Angga temannya Qilla," sapa Angga dengan tersenyum. Tidak lupa dia juga mencium tangan ayah Qilla. "Cuma temen ‘kan Qil?" "Cuma temen kok Om, kita lagi ada tugas kelompok makanya saya minta ijin, mungkin untuk beberapa hari ke depan saya bakal sering main ke sini untuk ngerjain tugas. Itupun kalo Om nggak keberatan." Ayah Qilla masih menatap Angga dengan tajam namun tak urung pria itu juga mengangguk mengijinkan. Lebih baik mengerjakan tugas di rumah bukan dari pada diluar tanpa pengawasan darinya. "Ya udah, karena kamu sudah minta ijin jadi saya ijinin." "Terima kasih Om, kalo begitu saya pulang dulu ya.. Oh ya Qilla nanti gue kirim materinya lewat email." Angga tersenyum dan kembali berpamitan. Qilla memandang Angga dengan bingung.   Kok di depan ayahnya dia bisa gentle kaya gitu, pas di depannya malah kayak setan nyebelinnya. Dan apa tadi? Materi? Email? Beneran halu itu orang.   Dasar muka dua!   ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD