CHAPTER 8 - ARE YOU HAPPY NOW?

1093 Words
Happy Reading ^_^ *** Kapan terakhir kali dirinya merasakan sensasi seperti ini? Christopher menggeleng tak yakin. Setelah tiga bulan, hatinya yang mati rasa kini berdebar tak karuan karena efek akan bertemu seseorang. Dia khawatir apakah penampilannya tidak rapi dan akan mengecewakan orang tersebut. Bahkan tak dipungkiri juga kalau dia mengkhawatirkan tutur kalimatnya nanti. Christopher yang sebelumnya nampak tak peduli dengan penilaian orang-orang kini berubah dalam sekejap karena akan bertemu dengan belahan jiwanya. Ya, belahan jiwanya. Dialah Chrystalline Tan. Terdengar berlebihan, tapi Christopher tidak akan memungkirinya lagi. Dia memang mencintai Chrystal dan sudah menetapkan perempuan itu sebagai belahan jiwanya. Pernah sekali dia menampik semua fakta itu dan akhirnya dia malah kehilangan perempuan itu. Maka sekarang Christopher tidak akan ragu lagi. Dia akan mengakui cintanya dengan bangga sehingga Chrystal mau kembali ke pelukannya. Sekali lagi, masa bodoh dengan penilaian orang lain.  Selain memikirkan penilaian Chrystal padanya, Christopher juga memikirkan kondisi Chrystal saat ini. Meskipun ada Roseane Wong  dan Jonathan Tan yang menyokong perekonomian istrinya selama di Selandia Baru, tapi Christopher tetap saja takut kalau sang istri kekurangan uang dan dalam kondisi yang tidak baik.  Karena kekhawatiran itulah Christopher memutuskan untuk menyusul sang istri secepat yang dia bisa. Larangan Jonathan Tan dan juga Roseanne Wong dia abaikan meski tak dipungkiri kalau dia cukup tertohok mendengar perkataan dua orang tersebut. Katanya Chrystal sudah berbahagia dia sana. Tapi tentu saja dia tidak mau mempercayainya sampai mata kepalanya melihat kebahagiaan tersebut secara langsung. Oleh karena itu Christopher bergegas untuk melakukan perjalanan ke Selandia Baru. Beberapa pekerjaan yang bisa dia selesaikan langsung dia selesaikan dengan cepat, sementara yang tidak bisa langsung dia serahkan pada sekretarisnya. Pilihannya hanya ada dua, yaitu reschedule atau dibatalkan. Dan meskipun semua orang memilih opsi yang kedua, Christopher tetap tidak akan menyesali apa pun. Chrystal jauh lebih berharga dari semua itu. Berbekal keyakinan itu, terbanglah Christopher ke Selandia Baru. Belasan jam ditempuhnya dengan sabar meski pikirannya terus tertuju pada sosok sang istri yang entah sedang melakukan apa saat ini. Seharusnya dia tidur selama di pesawat agar tampilannya sedikit fresh saat mendarat nanti. Tapi sayangnya sangat sulit untuk melakukan itu di saat beberapa jam pertama penerbangan. Jantungnya terus berdebar hebat karena dia akan bertemu dengan belahan jiwanya. Alhasil, di detik-detik terakhir-lah matanya baru bisa terpejam. Namun sayangnya hal itu pun tidak berlangsung lama karena interupsi bahwa penerbangannya telah berakhir dan dirinya sudah sampai di Selandia Baru. Sesampainya di Selandia Baru, atau lebih tepatnya di Bandara Aukcland, Christopher langsung disambut oleh orang yang akan menjadi tangan kanannya selama di sini. Dialah Gordon. Tak butuh banyak basa-basi, Christopher langsung diarahkan menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mereka. Dia sudah berada di negara di mana istrinya berada, maka sekarang tujuannya adalah pulau di mana istrinya memilih menetap. Meski perjalanannya terkesan buru-buru, tapi Christopher tidak pergi dengan tangan kosong. Dia sudah tahu detail di mana sang istri tinggal dan bagaimana kesehariaannya selama ini. Dan tak dipungkiri kalau semua itu berkat kemampuan inteligen pria yang bernama Gordon-Gordon itu. Dalam perjalanannya ke sana, Christopher tampak terpana dengan negara tersebut. Selandia Baru tidak pernah mengecewakan. Negara itu tidak berubah sedikit pun dari terakhir kali dirinya datang kemari. Justru sebaliknya, hubungannya yang berubah. Terakhir kali kemari Chrystal-lah yang memperjuangkannya dan sekarang dia datang untuk memperjuangkan Chrystal. Christopher terkekeh menyadari adanya ironi di sini. Tapi meskipun begitu, hal tersebut tidak menutupi kegugupannya. Jantungnya terus berdebar, apalagi saat mobilnya sudah memasuki kawasan pulau yang ditinggali istrinya. Sebentar lagi dia akan sampai di komplek rumah yang tinggali sang istri. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Haruskah dia menampilkan senyum lebarnya dan menyapa Chrystal seolah-olah tidak terjadi apa pun? Atau haruskah dia langsung berlutut dan memohon maaf? Saat disibukkan dengan kalimat apa yang harus dia lontarkan pertama kali, Christopher dikejutkan dengan pergerakan dari sisi kanannya. Dia melihat seseorang yang familiar keluar dari rumah dan tentunya dengan kondisi yang luar biasa baik.  Dialah Chrystal, istrinya. Tapi yang menusuk hatinya adalah pria yang mengekori di belakang sang istri lalu membukakan pintu mobil. Ah, jangan lupakan tangan pria itu yang spontan melindungi kepala Chrystal kala perempuan itu masuk ke dalam mobil. Buket bunga yang dipegangnya dengan gemetar langsung terkulai tak berdaya di pangkuannya. Apakah ini yang dimaksud Jonathan Tan dan juga Roseanne tentang Chrystal yang sudah berbahagia di sini? "Ikuti mobil itu." perintah Christopher dengan suara serak menahan kepedihan.  Tanpa disadari, tangan Christopher terkepal di atas pahanya sendiri. Ada luka sekaligus kemarahan yang terpancar. Dalam hatinya dia terus mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Tiga bulan lalu Chrystal masih sangat mencintai dirinya, tapi kenapa sekarang sang istri bersama pria lain dan terlihat jauh lebih bahagia?  Sepertinya Tuhan sudah bercanda dengan dirinya, yakin Christopher. Meski tidak memberikan jawaban pasti, tapi Tuhan tahu bagaimana perasaannya pada Chrystal. Tapi kenapa dia mengubah rasa Chrystal padanya secepat ini? Apa yang harus dia lakukan sekarang? "Kau tahu tentang pria itu? Kenapa aku tidak tahu informasi ini satu pun." kata Christopher dengan nada marah pada Gordon yang duduk di bagian kemudi. "Maafkan aku, sir. Pria itu adalah dokter dan selalu melakukan kunjungan rutin di hari Minggu. Kupikir dia bukanlah orang yang penting, jadi aku tidak melaporkannya pada anda. Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka punya hubungan di luar hubungan pasien dengan tenaga medis." "Dokter dengan pasiennya? Apa kau pikir masuk akal bagi dokter dengan pasiennya untuk berjalan-jalan di hari sabtu seperti ini? Jangan konyol." "Maafkan aku, sir." ulang Gordon sambil terus berfokus pada mobil yang dikendarainya. Tangan kanan Christopher itu mengikuti dalam jarak aman sehingga tidak akan ada yang mencuriga mereka. Tapi sayangnya Christopher tetap gelisah. Dan kegelisahannya semakin menjadi-jadi saat mobil yang ditumpangi Chrystal memasuki kawasan berumput di pinggir pantai. Dia terkekeh penuh ironi. Apa seperti ini hubungan pasien dengan dokternya? Piknik di hari sabtu? batin Christopher dengan pedih saat melihat sang pria yang tak dikenalnya menggelar alas untuk mereka duduk dan mengamati pantai dari posisi tersebut. Christopher langsung patah hati. Interaksi mereka begitu sederhana tapi lumayan menyentuh hati. Tidak seperti interaksinya dengan Chrystal sebelumnya yang terkesan hambar. Apa ini artinya Chrystal sudah menemukan pria yang mencintainya? Apa  dia sudah tidak punya harapan lagi? Tadinya dia tidak percaya kalau Chrystal sudah bahagia, tapi sekarang dia sudah melihatnya secara langsung. Dan benar, sang istri terlihat sudah berbahagia di sini. Kepedihan langsung menggerogotinya. "Chrystal..." lirih Christopher pada dirinya sendiri.  "Ini aku--suamimu. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku... aku sangat merindukanmu, sayang." Christopher teringat dengan janjinya pada Jonathan Tan. Katanya, dia tidak akan memaksa Chrystal untuk menerimanya. Dia akan membiarkan Chrystal memutuskan apakah mau kembali padanya atau tidak. Tapi melihat ini... harapannya sirna. Chrystal sudah menemukan kebahagiaannya. Lalu haruskah dia berhenti sekarang? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD