CHAPTER 7 - ESTHER ANN

1261 Words
Happy Reading ^_^ *** Pagi itu cerah. Burung-burung berkicau dengan merdunya di saat matahari perlahan-lahan merangkak naik dan menyinari bumi. Beberapa kali semilir angin pun hadir dan menerbangkan helai demi helai rambut seorang perempuan yang saat ini tengah bermeditasi dengan tenangnya. Seiring dengan kelopak matanya yang terbuka, terungkaplah sosok perempuan itu. Dialah Chrystalline Tan, perempuan yang beberapa bulan lalu menjadi headline terpanas berita kalangan atas tentang kematiannya yang tragis. Dan kontras dengan berita panas tentang kematiannya beberapa bulan lalu, saat ini Chrystal malah terlihat sangat baik-baik saja. Tidak ada cacat fisik atau sejenisnya. Justru sebaliknya, tubuhnya terlihat jauh lebih berisi dan rona wajahnya terlihat lebih segar dari terakhir kali. Melarikan diri seperti pengecut sepertinya menjadi solusi terbaik dari permasalahan mentalnya yang kacau beberapa bulan lalu. Mendengar bel rumahnya berbunyi, Chrystal memilih bangkit dan bergegas untuk membuka pintu. Di persimpangan koridor dia bertemu dengan asisten rumah tangganya lalu melambai untuk memberi kode kalau dirinya-lah yang akan membuka pintu. Dia tersenyum ramah, apalagi saat melihat siapa yang datang pagi ini. “Selamat pagi, dokter Hans. Aku tidak tahu apakah aku atau kau yang lupa, tapi ini bukan hari di mana kau biasanya melakukan kunjungan rutin." Pria yang dipanggil Chrystal sebagai dokter Hans itu pun tertawa renyah. "Aku libur hari ini, jadi kuputuskan untuk melakukan kunjungan rutin di hari sabtu dan minggu. Apa tidak boleh?" "Apa aku bisa melarangmu, sir?" kata Chrystal dengan kekehan di akhir kalimatnya. "Silakan masuk." "Oh ya, aku membawakanmu ini..." Dokter Hans menyerahkan sebuah paperbag yang Chrystal sangat paham apa isinya. Sebuah menu sarapan yang sebulan belakangan menjadi penyelamat kala dirinya tidak bisa makan karena mual. Di dalamnya terdapat beberapa potong pie s**u dengan taburan buah-buahan segar sebagai toppingnya. Chrystal menerimanya dengan senyum hangat sebagai tanda terima kasih. "Aku tidak paham kenapa kau selalu repot-repot seperti ini, dokter Hans. Padahal Regina juga sudah membuatkan beberapa pie untukku. Sekarang aku bingung harus makan yang mana dulu." kata Chrystal sambil membongkar paperbag dari dokter pribadinya selama di Selandia Baru. Dokter Hans tersenyum tipis. "Terserah kau mau makan yang mana duluan, tapi aku jamin tidak akan ada yang terbuang sia-sia. Selain ikan, kau kan sangat suka dengan pie-pie itu." Chrystal tergelak sambil mencomot satu buah pie dan memakannya dengan bahagia. "Ikan tetap yang nomor satu, tapi karena belakangan ini aku masih belum terbiasa dengan aroma ikan, jadi pie-pie mu selamat. Tidak akan ada yang terbuang sia-sia, sir." "Baguslah." katanya dengan sumringah. "Dari kalimatmu, aku rasa kau semakin membaik setiap harinya. Apa yang kau rasakan sekarang, Esther?" Esther. Panggilan itu langsung membuat Chrystal mendongak dan tersenyum tipis dengan penuh rasa syukur. Beberapa kali dia memang masih lupa dengan nama Esther Ann yang dipakainya selama di sini, tapi dia bersyukur karena refleknya sekarang jauh lebih baik terhadap nama itu. Dia mulai terbiasa dengan nama orang asing yang wujudnya belum pernah dia lihat secara langsung. "Aku? Kupikir aku sudah jauh lebih baik dari pertama kali kemari," kata Chrystal dengan senyum penuh arti. Tapi tak bisa ditutupi juga kalau matanya saat ini tampak berkaca-kaca. Dia bahagia sekaligus terharu. "Terima kasih. Semua ini berkat Rossy, kau, dan juga Bibi Regina. Terima kasih karena sudah membuat aku bertahan sampai detik ini." "Kau tidak akan bertahan tanpa perintah dari dirimu sendiri. Jadi berterima kasihlah pada dirimu sendiri, Esther. Kau hebat." "Kupikir ini karena bayiku. Aku tidak akan bertahan kalau bukan karena dia." "Apa pun alasannya, kau tetap hebat, Esther. Depresi bukan hal yang mudah, tapi kau berhasil melawannya. Bertahanlah sebentar lagi dan kau akan bisa melewati semua ini." Secara naluriah tangan mungilnya terulur untuk mengelus perutnya. Chrystal tersenyum penuh harapan. "Aku pun berharap begitu. Aku ingin bahagia bersama anakku kelak." "Aku yakin kau bisa bahagia bersama anakmu kelak," dokter Hans meyakinkan dengan sungguh-sungguh, tapi kemudian binar di matanya meredup yang menandakan kalau kalimat selanjutnya bukanlah jenis kalimat yang ingin di dengar oleh Chrystal. Dia melanjutkan dengan penuh kehati-hatian. "tapi apa kau yakin bisa menjauhkan dia untuk selamanya dari Papanya? Selama di sini kau bahkan menutup rapat tentang identitasmu dan juga orang-orang yang membuatmu seperti ini." Chrystal terdiam sejenak. Bayangan Christopher Wang, pria yang pernah dicintainya sampai rasanya ingin mati, kembali menyeruak. Pikiran bahwa dirinya sudah baik-baik saja sirna seketika. Ternyata dia belum baik-baik saja. Hatinya masih kesakitan setiap kali terkenang pria itu. Rupanya dia belum bisa merelakan semua beban yang bercokol di dalam benaknya. "Bisakah kita tidak membahas dia? Aku masih kesakitan setiap kali teringat pria itu." Chrystal berujar dengan jujur. Ekspresinya terlihat tidak nyaman dan dokter Hans menyadarinya. Tapi meskipun begitu pria tersebut tidak berniat untuk menurutinya. Terdengar agak kejam, tapi ini bagian dari pekerjaannya. Dia harus berhasil menarik Chrystal dari bayang-bayang masa lalu dan menyelamatkannya. "Tentu saja bisa, Esther. Aku tidak akan memaksamu. Tapi mau sampai kapan kau tidak ingin membahasnya? Itu sama saja kau melewatkan kesempatan untuk melupakannya. Semakin cepat kau terbiasa ketika namanya disebut atau saat membicarakannya, maka akan semakin cepat juga untukmu pulih. Kau akan terbiasa, lalu biasa saja, dan akhirnya berhasil merelakannya." "...." "Kau selalu meng-klaim kalau dirimu sudah menjadi pengecut karena melarikan diri ke Selandia Baru, tapi aku tahu kalau tujuanmu kemari yang sebenarnya adalah untuk healing. Kau ingin sembuh. Tapi percayalah, Esther, healing-mu tidak akan berguna kalau kau terus-terusan seperti ini. Untuk bisa sembuh, kau harus melupakannya. Dan untuk melupakannya, kau harus merelakan semuanya. Relakan semua hal buruk yang menimpamu. Berdamailah dengan luka itu lalu terima semua itu sebagai salah satu perjalanan hidupmu. Dengan begitu kau pasti akan sembuh total, Esther." Chrystal mengangguk dengan pedih. "Kau benar, aku memang belum bisa melupakannya, dokter Hans. Terkadang di malam-malam yang sepi aku masih sering bertanya-tanya kenapa kisah cintaku setragis ini. Aku tidak punya banyak mantan pacar. Aku benar-benar hanya melihat dia dan mendedikasikan seluruh cintaku untuknya. Tapi kemudian aku bertanya-tanya... kenapa aku disia-siakan? Apa kurangnya diriku? Dan karena masih terkenang dengan semua itu makanya aku belum bisa melupakannya." "Berhenti mempertanyakan apa kekuranganmu atau apa kesalahanmu, Esther. Kau harusnya tahu lebih baik dari siapa pun kalau kau tidak kurang satu sen pun. Jangan biarkan orang-orang yang tidak mensyukuri kehadiranmu menghancurkan kepercayaan dirimu." "...." "Percayalah padaku, sudah saatnya kau untuk melupakan dia, Esther. Relakan. Lupakan." Chrystal menatap dokter Hans dengan mata yang berkaca-kaca. Dia begitu tertohok dengan perkataan pria yang ada di depannya. Memang agak menyakitkan, tapi setelah dipikir-pikir memang benar adanya. Dia harus melupakan Christopher Wang untuk kebaikan dirinya dan juga bayinya. Tapi bagaimana caranya? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Tiga bulan berlalu namun dia masih belum bisa mengenyahkan sosok Christopher Wang sesakit apa pun hatinya karena pria itu. Cinta memang gila. Dan bodohnya dia karena tergila-gila pada pria itu. "Deep talk hari ini selesai. Sekarang PR-mu adalah merenungkan semuanya." kata dokter Hans sambil menepuk punggung perempuan yang dikenalnya sebagai Esther Ann itu dengan lembut. Dalam kepedihannya, Chrystal mengangguk. Kemudian perempuan itu menegarkan hatinya yang sempat lemah beberapa waktu lalu. "Terima kasih, dokter Hans." "Sama-sama, Esther." balas dokter Hans. "Tapi melihatmu terpukul seperti ini, sekarang akulah yang dilanda rasa bersalah. Maaf kalau tanpa sengaja aku terkesan kejam dan tidak memikirkan perasaanmu sama sekali." Chrystal menggeleng cepat. "Tidak perlu merasa bersalah, dokter. Kau melakukan tugasmu dengan baik, jadi tidak perlu merasa menyesal atas apa pun." "Tapi aku tetap tidak nyaman karena sudah membuatmu seperti ini," dokter Hans menjeda sejenak, lalu terlontarlah tawaran itu. "bagaimana kalau aku menebusnya dengan mengajakmu jalan-jalan?" "Jalan-jalan ke mana?" "Kupikir piknik di pinggir danau cocok untuk suasana pagi ini. Kau bisa duduk dan merenung sambil menanti cerahnya matahari. Anggap saja ini treatment khusus karena deep talk yang kulakukan pagi-pagi begini. Bagaimana menurutmu, Esther?" "Itu ide yang bagus. Terima kasih atas tawarannya, dokter Hans." TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD