Happy Reading ^_^
***
Christopher sedang duduk dan fokus pada pekerjaannya kala gangguan itu datang. Dan tak main-main, gangguan itu berasal dari Papa Mertuanya –kalau dia masih boleh menganggapnya begitu- yang mencoba untuk menerobos masuk ke ruangannya dengan dibantu oleh dua orang berbaju hitam yang lebih kekar dari asisten pribadinya. Meski kewalahan, asistennya tetap kekeuh pada perintah Christopher yang sedang tidak mau diganggu oleh siapa pun. Tak ingin keributan itu semakin menjadi-jadi, Christopher melerai dengan cepat.
“Tak perlu menahannya, biarkan dia masuk. Bagaimana pun juga dia masih Papa mertuaku.” Ujar Christopher yang langsung membuat semua orang sadar akan posisinya. Asistennya langsung keluar, begitu juga dengan dua orang yang dibawa oleh mertuanya. Sementara itu sang mertua –Papa Chrystal- langsung berjalan mendekat. Ekspresinya serius, menandakan apa pun yang akan dibicarakan adalah sesuatu yang harus segera disampaikan.
“Jangan coba-coba untuk menemui Chrystal di Selandia Baru,” kata Jonathan Tan –Papa Chrystal- dengan kesungguhan yang terpancar di matanya.
Mendengar itu, Christopher langsung terkekeh mengejek. Dia sudah menduganya. Kabar tentang dirinya yang sudah tahu tentang Chrystal yang masih hidup dan saat ini sedang berada di Selandia Baru pasti sudah tersebar. Apalagi mengingat Rossy dan Papa Chrystal berada di satu kubu untuk menopang perekonomian Chrystal tanpa sepengetahuan wanita itu sendiri. Mereka berkomplot untuk menyembunyikan semuanya. Jadi ketika semuanya terbongkar, wajar saja bagi Rossy untuk berbagi cerita pada rekannya.
Christopher mengabaikan seluruh pekerjaan yang sedang dilakukannya. Dia menarik punggungnya lalu dia sandarkan dengan sombong di kursi kebesarannya.
“Anda datang tergesa-gesa hanya untuk mengatakan itu?” cibir Christopher. Kemudian dia melanjutkan dengan tatapan mengejek. “Atas dasar apa anda melarang aku untuk menemui Chrystal? Dia istriku.”
“Dia adalah istri yang tidak pernah kau harapkan. Dulu.” kata Jonathan dengan tajam. “Lagipula sekarang dia sudah berbahagia di Selandia Baru. Dan tentunya tanpa dirimu. Jadi jangan coba-coba untuk mengusik putriku lagi, Christopher Wang.”
Christopher langsung mengetatkan rahangnya. Dia terluka dengan fakta kalau Chrystal sudah berbahagia di Selandia Baru tanpa dirinya. Benarkah begitu?
“Kau boleh menghina aku atas kebodohanku di masa lalu. Dan aku akan menerima semua hujatanmu dengan senang hati, sir. Tapi semua itu tetap tidak akan menghalangi keinginanku untuk menemui Chrystal dan membujuknya untuk kembali padaku. Dulu aku tidak mencintainya, tapi sekarang aku sangat mencintainya. Jadi aku akan memperjuangkannya, bahkan meskipun dunia tidak mendukungku.” ujar Christopher dengan keras kepala.
“Kalau kau mencintainya, kau seharusnya merelakan dia berbahagia atas pilihannya, Christ. Dia tidak ingin bersama kita semua, jadi biarkan dia pergi. Walau ada di belahan bumi lain, tapi setidaknya dia masih hidup di dunia ini. Dan kalau kau mencintainya, seharusnya itu cukup untuk membuatmu merelakan putriku.”
“Merelakan Chrystal?” ulang Christopher dengan nada mengejek. “Anda bisa berkata seperti itu karena anda sudah melakukan sesuatu untuk Chrystal. Sementara aku? Aku tidak melakukan apa pun. Sampai akhir hayat Chrystal mungkin akan mengenang aku sebagai suami paling b******k. Dan aku tidak mau itu terjadi.”
“Karena itu kau mau menemuinya dan memaksanya untuk menerimamu lagi? Jangan konyol!” Bentakan Jonathan menggema ke seluruh penjuru ruangan. “Apa kau pikir dengan memaksa Chrystal kembali ke sisimu akan membuat dia bahagia? Kau salah besar kalau berfikir seperti itu. Dia muak dengan dirimu. Dia juga muak dengan kita semua. Makanya alih-alih hidup dia memilih untuk bunuh diri. Aku ulang... dia bunuh diri. Dia bunuh diri!”
Tangan Jonathan yang semula ada di pinggangnya kini terlihat mengurut pelipisnya yang berdenyut. Dia bukannya membenci Christopher dan Chrystal kembali bersama, tapi dia sedang berusaha melindungi putri satu-satunya. Dia hanya tidak ingin sang putri kembali berada di titik terendah dan melakukan hal bodoh lagi. Walau taruhannya adalah dia tidak bisa bertemu sang putri untuk selamanya, tapi itu bukan masalah besar asalkan sang putri baik-baik saja. Christopher mengaku mencintai putrinya, tapi kenapa dia tidak paham hal ini?
“Di masa lalu, aku tidak pernah menjadi Papa yang baik. Aku tidak tahu apa yang diinginkan putriku. Aku juga tidak memahami putriku sehingga dia merasa sendiri dan akhirnya memilih bunuh diri. Tapi sekarang aku tahu apa yang diinginkan putriku, Christ. Dan keinginannya adalah dia tidak ingin bertemu kita semua.”
“....”
“Sampai di titik ini, aku belum menjadi Papa yang baik. Tapi paling tidak, aku ingin mengabulkan satu-satunya keinginan putriku. Dia tidak ingin bertemu kita semua, jadi tolong jangan pernah menemuinya. Aku mencintai putriku, begitu juga dengan dirimu. Yah, meskipun kita cukup terlambat saat menyadarinya, tapi setidaknya kita sudah tersadarkan. Dan karena kita sudah tersadarkan, setidaknya kita tidak boleh melakukan kesalahan yang sama lagi. Ayo sama-sama kita relakan dia, Christ.”
Christopher menatap mertuanya lekat-lekat. Sebelumnya dia selalu memandang Jonathan Tan sebagai pebisnis yang andal nan angkuh. Sosoknya yang dingin membuat Christopher yakin sekali kalau tidak ada kehangatan dalam keluarganya. Tapi semua itu berubah saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pedihnya tangisan Jonathan Tan saat menyaksikan foto putrinya –Chrystalline Tan- yang tersenyum cerah di depan pusaranya sendiri. Walau tangisannya bukanlah jenis tangisan yang sangat histeris, tapi Christopher mampu melihat betapa terkoyaknya hati pria itu. Dunia terasa runtuh di sekelilingnya karena dia sudah kehilangan sang anak.
Setelah tiga hari mengurung diri, sosok Jonathan Tan tampil lagi ke publik dengan sikap angkuhnya lagi. Tidak ada jejak kesedihan lagi. Sampai akhirnya Christopher melihatnya lagi hari ini. Dan semua itu terjadi karena pria angkuh itu memohon untuk putrinya. Christopher terpana, tapi tidak boleh terlena. Dia tidak mau menyetujui permintaan mertuanya itu. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan Chrystal berbahagia di sana tanpa dirinya. Tidak –tidak boleh.
“Aku tidak akan memaksanya. Aku bersumpah tidak akan memaksa Chrystal –kalau itu yang kau takutkan,”
Christopher membuka bibirnya setelah keheningan melingkupinya selama beberapa saat. Jonathan memandang Christopher dengan ekspresi tidak percaya.
“... aku akan memperjuangkannya dengan cara membujuknya. Aku akan melakukan yang terbaik agar Chrystal mau kembali menjadi istriku. Tapi ketika akhirnya Chrystal tetap tidak mau menjadi istriku, aku tidak akan memaksanya. Aku akan merelakannya, seperti yang kau inginkan.”
“....”
“Tapi setidaknya.... tolong... tolong dengan sangat... izinkan aku memperjuangkan putri anda lagi, sir. Izinkan aku mencintai dia sebesar dia pernah mencintai aku. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi.” Christopher berujar dengan penuh luka. Tapi meskipun begitu, sorot serius memenuhi matanya. Dia benar-benar hanya ingin diberikan kesempatan untuk berjuang sekali lagi.
TBC