CHAPTER 5 - CAN'T LET HER GO

1304 Words
Happy Reading ^_^ *** Christopher terlihat tertegun selama beberapa saat memandangi beberapa lembar foto yang diselipkan dalam dokumen yang dikirimkan padanya. Ketidakpercayaan terpancar di matanya hingga tangannya yang biasanya begitu kokoh terlihat gemetar seolah-olah tidak berdaya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Istrinya masih hidup dan saat ini berada di Selandia Baru. Semua ini bermula dari kecurigaan Christopher akan sikap Roseanne yang terkesan seperti menutupi sesuatu. Bukankah wajar baginya untuk menanyakan bukti transaksi atas jual-beli yang mereka lakukan? Uang sangat sensitif, bahkan dengan sahabat sekali pun. Oleh karena itu semuanya haruslah jelas. Dan Roseanne tidak punya itu. Tadinya Christopher tidak mau memperumit masalah tersebut mengingat betapa dekatnya Roseanne dengan Chrystal. Tapi karena perempuan itu tidak bisa bekerja sama bahkan saat dia menawarkan ingin membeli tas-tas tersebut dengan harga yang layak—sikap sopannya hilang seketika. Dengan semua kejanggalan ini dia memutuskan untuk mengorek informasi dengan caranya sendiri. Oleh karena itu orang yang terlatih di bidangnya ditugaskan oleh Christopher untuk menyelidiki masalah ini. Dia harus mengawasi Roseanne sampai berhasil menemukan penyebab kenapa Roseanne begitu aneh saat Christopher menyinggung tentang tas-tas mendiang istrinya. Dan berbekal rasa penasaran itu, tiga hari kemudian orang suruhan Christopher menemukan kejanggalan melalui aliran uang yang keluar-masuk rekening Roseanne. Salah satunya adalah banyak dan seringnya dana yang dikirimkan oleh Jonathan Tan, ayah Chrystal. Tadinya Christopher curiga dua orang itu menjalin affair yang menjijikkan, tapi setelah menelusuri lebih lanjut ke mana uang tersebut berakhir, di situlah kabar tentang istrinya yang berada di Selandia Baru terkuak. Christopher tadinya tidak mau percaya sama sekali, sampai hari ini bukti nyatanya ada dalam genggamannya dalam bentuk foto yang dijepret secara sembunyi-sembunyi. Fakta itu begitu mengejutkan Christopher. Bagaimana mungkin? Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat sang istri dimakamkan. Memang benar wajah istrinya sudah tidak bisa dikenali, tapi seluruh bukti mengarah pada sosok Chrystal. Hal itu terjadi tiga bulan lalu. Lalu bagaimana bisa tiga bulan kemudian istrinya terfoto sedang berada di Selandia Baru dan terlihat beraktivitas seperti biasanya? Dalam hatinya dia bertanya-tanya konspirasi macam apa yang berusaha memisahkan dirinya dengan Chrystal. Segala hal yang terjadi belakangan langsung terasa masuk akal. Pantas Roseanne begitu tenang di hari pemakaman istrinya. Pantas juga Roseanne kekeuh tak ingin mengembalikan tas Chrystal dan banyak beralasan. Bahkan Christopher pun kini paham kenapa saat sang istri dinyatakan meninggal dan Jonathan Tan bersikeras tidak mau melakukan autopsi. Semua ini memang sudah direncanakan dengan baik. Tapi yang menjadi pertanyaan Christopher adalah... apakah Chrystal ikut terlibat? Apa istrinya itu turut merencanakan semua ini agar dirinya bisa pergi sejauh mungkin dari Christopher? Apakah Chrystal sudah tidak mencintainya lagi? Benak Christopher bertanya-tanya dengan sedihnya. Tapi apa pun itu, yang sekarang harus menjadi perhatiannya dulu adalah Roseanne. Dia harus mendapat penjelasan dari Roseanne dan juga ayah Chrystal tentang semua hal yang mereka lakukan. *** Mengabaikan seluruh meeting pentingnya hari ini, Christopher langsung berkendara gila-gilaan ke apartemen Roseanne. Tangannya mencengkeram erat amplop coklat berisi banyak bukti tentang Chrystal yang masih hidup dan saat ini berada di Selandia Baru. Sesampainya di sana pun dia langsung menggedor pintu apartemen Rossy dengan kasar. Etika? Dia tidak butuh etika kala berhadapan dengan orang-orang yang sudah menipunya sedemikian dalamnya. Ketika membuka pintu, Rossy pun terlihat langsung terkejut. Perempuan itu hendak menutup pintu lagi, tapi sayangnya dia kalah cepat dan kalah kuat tenaganya. Pintu terbuka dengan lebar dan Rossy agak terdorong ke belakang. Matanya menatap Christopher dengan kemarahan yang menggebu-gebu. “Apa yang kau lakukan, hah? Keluar dari apartemenku atau aku akan memanggil polisi untuk menyeretmu dari sini!” bentak Rossy. Tapi meskipun begitu perempuan itu terlihat mundur tak berdaya kala Christopher memasuki apartemennya dengan langkah pelan namun dengan sorot mengerikan. Dia terintimidasi bahkan sebelum peperangan yang sebenarnya dimulai. “Memanggil polisi?” Christopher terkekeh mengejek sambil terus memasuki apartemen sahabat Chrystal. “Panggil saja. Kita lihat siapa yang akan ditangkap—kau atau aku?” Pada titik ini Roseanne mulai gentar. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Dia menatap Christopher dengan kebencian yang teramat dalam. “Pergi dari sini. Pergi dari sini!” Roseanne mendorong d**a Christopher, tapi pria itu menangkap pergelangan tangannya. Keduanya bertatapan dengan tajam. “Aku tidak akan pergi dari sini sampai kau menjelaskan padaku kenapa kau dan Jonathan Tan melarikan Chrystal ke Selandia Baru. Apa kau waras?!” Christopher mengakhiri kalimatnya dengan menghempaskan tangan Rossy secara kasar. Perempuan itu terlihat kesakitan sekaligus panik di waktu yang bersamaan. “Apa maksudmu, hah? Aku tidak tahu apa pun. Jangan mengada-ada tentang Chrystal—kau dengar aku, hah?!” “Mau sampai kapan kau menutupi fakta kalau Chrystal masih hidup, hah?!” bentak Christopher sambil mengangkat amplop coklat yang dibawanya. Dia menatap Roseanne dengan kebencian yang sudah mendarah daging. Bisa-bisanya dia ditipu! “Berhenti membohongiku aku, Roseanne Wong!!” Rossy terlihat terkejut. Kalau sebelumnya matanya memancarkan kebencian karena sikap Christopher yang semena-mena, maka sekarang matanya memancarkan ketakutan. Dia was-was karena Christopher sudah mengetahui semuanya. “Panggil polisi—panggil saja, Rossy. Aku tinggal menunjukkan semua bukti dan kaulah yang akan ditangkap oleh mereka. Dulu aku masih menghargaimu karena kau temannya Chrystal, tapi sekarang aku benar-benar tidak peduli lagi. Aku benar-benar bisa memenjarakanmu karena kau memanipulasi kematian istriku!” “Istrimu? Berhenti bersikap seolah-olah kau memperlakukan Chrystal sebagai istrimu. Suami macam apa yang terus-terusan menyakiti istrinya hingga istrinya lebih memilih bunuh diri, hah?” Rossy terkekeh di sela-sela kalimatnya. “Kau benar tentang aku yang memanipulasi kematiannya, tapi pilihan awalnya untuk bunuh diri adalah murni dari pikirannya sendiri. Dia sudah berencana untuk bunuh diri dan itu karena kau!” “....” “Kau seharusnya bersyukur karena berkat aku perempuan yang kau sebut sebagai istrimu itu masih bernyawa sampai detik ini.” “Kalau begitu terima kasih atas bantuannya, Rossy, tapi haruskah kau menyembunyikannya dari aku? Bagaimana pun juga dia masih istriku dan aku berhak tahu keadaannya.” ujar Christopher dengan nada sinis. “Kalau begitu kau ingin depresinya semakin menjadi-jadi dan dia bunuh diri lagi?” Christopher terdiam. Dia tertohok dengan perkataan Rossy yang setajam belati. “Chrystal sakit, Christopher. Depresinya sudah tak tertahankan makanya dia mampu menuliskan wasiat lalu bunuh diri setelahnya. Dengan kondisinya yang seperti ini, apa kau pikir dia masih ingin hidup bersamamu? Tentu saja tidak! Makanya dia tidak takut untuk menjemput ajalnya sendiri waktu itu.” Dada Roseanne terlihat naik-turun dengan cepat. Dia mencurahkan seluruh emosinya untuk menjelaskan ini pada Christopher. “Terserah bagaimana kau menyebutnya, tapi aku tidak merasa melakukan kesalahan sedikit pun. Karena asal kau tahu saja, semua ini atas persetujuan Chrystal.” “....” “See? Dia sudah tidak ingin menjadi istrimu makanya hal pertama yang dia lakukan setelah selama kematian adalah pergi ke Selandia Baru dan bukannya menemuimu dengan bahagianya. Dia sudah muak pada pria sepertimu, Christopher Wang.” “Tutup mulutmu!” “Kenapa, hah? Kau merasa tersakiti? Tersinggung karena selama ini penantianmu sudah tak berbalas lagi?” kata Rossy dengan nada mengejek. “Menyerahlah dan biarkan Chrystal bahagia di Selandia Baru. Dia sudah tidak butuh kau lagi.” “Aku adalah pria bodoh dan aku mengakuinya. Tapi sekarang aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Aku tidak akan melepaskan Chrystal!” Tak ingin memperpanjang perdebatan dan membuat dirinya semakin terluka lalu menyesal, Christopher memilih untuk bergegas pergi. Tapi sayangnya di ambang pintu lengannya ditarik dengan kasar. Dia memutar bola matanya dengan jengkel. “Apa kau tidak paham bahasaku? Lepaskan Chrystal. Kau hanya menyakitinya, Christopher Wang!” Muak dengan kata-kata itu, Christopher berbalik seraya menghempaskan tangan Roseanne hingga perempuan itu jatuh terduduk. Dia menunjuk Roseanne tepat di depan wajahnya. “Aku memahami bahasamu, tapi apa kau memahami perasaanku pada Chrystal, Rossy?” “....” Christopher menggeleng. “Tidak—kau tidak memahaminya. Berhenti ikut campur dalam rumah tanggaku, Rossy. Aku tahu lebih baik dari siapa pun tentang apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan menjauhlah sebelum aku melakukan hal paling kasar pada perempuan sepertimu. Kau memahami bahasaku dengan baik kan, Nona Roseanne?” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD