CHAPTER 4 - JONATHAN X ROSEANNE

1435 Words
Happy Reading ^_^ *** “Chrystal masih hidup, Paman Jonathan.” “Apa katamu, Rossy? Jangan bercanda. Aku menyaksikan pemakamannya sebulan lalu. Dia di makamkan tepat di depan mataku!” “Tapi itu bukan Chrystal. Itu orang lain.” Jonathan Tan terkenang pertemuannya dengan Rossy sebulan setelah sang anak, Chrystalline Tan, dinyatakan meninggal dengan tragis dalam aksi bunuh dirinya. Awal mulanya Jonathan tidak mau termakan omongan Rossy, tapi setelah melihat foto sang anak yang dijepret langsung menggunakan telepon genggam, matanya memancarkan binar kebahagiaan. Ada ketidakpercayaan, tapi di sisi lain dia juga bahagia kalau itu memang benar-benar terjadi. Dalam pertemuan ini juga Roseanne membeberkan banyak hal tentang kondisi Chrystal saat ini. Katanya Chrystal baik-baik saja di Selandia Baru dan saat ini sedang menikmati momen di mana dia sedang berusaha menjadi calon ibu yang baik. Ya, Chrystal hamil. Dan anak itu adalah hasil dari pernikahannya dengan Christopher Wang. Pada titik itu Jonathan hampir saja lepas kendali dan mengembalikan semuanya ke tempat semula. Dia ingin menemui putrinya lalu memohon ampun sampai sang putri mau kembali ke Indonesia. Bahkan setelah ini dia sudah bersiap untuk memberi Christopher Wang pelajaran agar bertanggung jawab pada istri dan calon anak mereka. Dia hampir melakukan itu demi kebahagiaan putri satu-satunya, sampai Roseanne mencegahnya dengan keyakinan kalau inilah yang diinginkan Chrystal. Walau tertohok dengan fakta itu, tapi Jonathan tidak menepisnya sama sekali. Dia tahu kalau itu adalah kebenaran. Kalau itu tidak benar, bagaimana sang putri yang dulunya sangat manja berubah menjadi sosok yang putus asa dan berani menjemput ajalnya sendiri? Chrystal mungkin sudah muak memiliki keluarga seperti keluarganya saat ini makanya dia merasa mati jauh lebih baik dari apa pun. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengikuti rencana Rossy dan tidak bertemu putrinya lagi. Tidak bertemu putrinya lagi memang terdengar menyedihkan, tapi setidaknya sang putri masih hidup dan dalam kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan itu cukup. Setidaknya inilah yang bisa dilakukannya untuk menebus semua kesalahannya sebagai seorang Papa di masa lalu. “Jadi, bantuan apa yang bisa aku berikan agar putriku baik-baik saja di Selandia Baru, Rossy?” “Ini tentang kelangsungan hidup Chrystal di Selandia Baru. Seperti yang Paman tahu, biaya hidup di sana cukup mahal. Dan aku terlalu sembrono karena berfikir beberapa milyar saja cukup untuk menopang hidup Chrystal.” “Chrystal tidak kekurangan uang kan saat ini?” tanya Jonathan dengan panik. Tapi syukurnya, gelengan Roseanne cukup menenangkan Jonathan saat ini. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan sang putri kalau ada di posisi itu. Dan demi Tuhan, dia juga tidak akan membiarkan anak satu-satunya ada di kondisi tersebut. Tidak akan, tekad Jonathan. “Untuk sekarang ini Chrystal tidak kekurangan uang satu sen pun, Paman. Tapi aku khawatir untuk jangka waktu yang panjang. Apalagi dia akan punya bayi—uang yang dibutuhkan pun pasti akan lebih banyak. Dan asal kau tahu saja, Chrystal tidak bekerja di Selandia Baru. Dan aku pun tidak menganjurkannya karena aku pikir itu tidak baik untuk kondisinya yang seperti sekarang.” “....” “Tadinya aku dan Chrystal berfikir pendek dengan anggapan bisa memanfaatkan beberapa tas Chrystal untuk dijual. Tapi ternyata menjual tas yang sudah pernah dipakai tidak pernah semudah itu. Pada titik ini aku sadar kalau aku sudah menempatkan Chrystal dalam posisi yang berbahaya. Satu kali-dua kali aku memang berhasil menjual tasnya, tapi semuanya tidak semulus itu. Aku khawatir...” Rossy menjeda dengan panik. “.... aku khawatir kalau aku tidak punya uang yang cukup saat Chrystal membutuhkannya karena sulitnya untuk menjual tas.” “....” “Karena itu aku mohon... bantu aku untuk menolong putrimu, Paman. Aku tahu dia tidak tahu diri karena mewariskan banyak hal pada Christopher dan memutuskan meninggalkan dia. Tapi percayalah, semua itu dilakukannya untuk membuat Christopher terkekang dalam penyesalan untuk seumur hidupnya.” Jonathan menggeleng. “Aku tidak mempermasalahkan warisan atau apa pun, Rossy. Yang kupikirkan sekarang hanya putriku agar baik-baik saja.” katanya dengan sungguh-sungguh. “Dan ya, aku pasti akan memberikan uang yang cukup untuk Chrystal. Sekarang katakan berapa yang kau butuhkan dan aku akan mengirimkannya dalam waktu dekat.” Rossy menggeleng untuk menolak ide itu. “Jangan memberikan dalam jumlah yang besar sekaligus, Paman. Chrystal pasti akan mencurigainya.” “Lalu aku harus bagaimana, Rossy? Aku hanya tidak ingin putriku kekurangan uang dan mempengaruhi kondisinya di sana.” “Aku tahu, Paman. Meskipun Chrystal ada di Selandia Baru, tapi dia juga tahu berapa tas yang ada padaku dan berapa uang yang akan didapatnya ketika semua itu berhasil terjual. Walau aku tahu beberapa milyar tidak akan mengurangi kekayaanmu sedikit pun, tapi Chrystal pasti akan menyadarinya dengan cepat.” “....” “Oleh karena itu, daripada mengirimkan dalam jumlah besar sekaligus, lebih baik kirimkan secara rutin dengan nominal yang sewajarnya sebuah tas second terjual. Dengan begitu aku bisa berdalih kalau itu adalah hasil penjualan tasnya bulan ini. Meski faktanya itu bukanlah dari tasnya yang benar-benar berhasil terjual.” “Kau yakin ini akan berhasil?” “Selama setahun ke depan aku yakin ini akan berhasil. Aku punya cukup banyak stok tas Chrystal yang bisa kujual dan kujadikan alasan. Tapi untuk tahun-tahun selanjutnya aku tidak yakin bisa menggunakan alasan yang sama. Meskipun fisik tas tersebut masih ada, tapi Chrystal tahunya tas tersebut sudah dijual. Yang artinya, aku tidak bisa berdalih atas nama tas-tas tersebut lagi.” Rossy menatap Jonathan Tan dengan sedih. “Tapi tidak masalah, itu bisa dipikirkan nanti. Intinya kita harus membuat Chrystal bertahan dalam waktu ini. Dan semoga saja setahun kemudian mental Chrystal jauh lebih baik sehingga dia bisa menerima fakta kalau andalah yang membantunya bertahan hidup selama ini. Pada akhirnya dia akan sadar kalau seharusnya dia tidak menjauhi anda, melainkan hanya Christopher Wang saja.” “Kalau begitu aku setuju. Apa pun itu, asal demi kebaikan Chrystal maka aku pasti akan menyetujui rencanamu, Rossy.” Dan begitulah persekutuan ini terjadi. Sejak saat itu, setiap bulannya Jonathan akan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Roseanne Wong yang kemudian akan diteruskan ke rekening putrinya seolah-olah itu adalah uang hasil penjualan tas. Apakah Jonathan sedih dengan kondisi ini? Ya, tentu saja. Dulu dia tidak perlu alasan untuk mengirimi uang sebanyak apa pun pada putrinya, tapi sekarang tidak bisa seperti itu lagi. Selain itu sang putri juga masih terluka dengan ketidakmampuannya sebagai sosok Papa di masa lalu dan rasanya sangat menyakitkan karena dia tidak bisa bertemu dan meminta maaf secara langsung pada putri satu-satunya. Tapi sekali lagi, ini jauh lebih baik daripada mengetahui sang putri telah tiada. “Jonathan...” Panggilan itu membuat lamunan Jonathan Tan buyar. Dia menatap si pemilik suara dan mendapati istrinya –Chelsea Yu- berdiri tak jauh dari posisinya. Sang istri mengamatinya dengan kening berkerut. Dia mencoba tersenyum untuk menutupi segala kepedihan yang menghinggapi dirinya. “Kemarilah...” Jonathan mengulurkan tangannya dan Chelsea menerimanya dengan lembut. Ketika perempuan itu sudah dekat dengannya, tubuh ringkihnya langsung diraup Jonathan agar masuk ke dalam pelukannya. “Kenapa kau belum tidur?” tanyanya dengan lembut. Chelsea melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya. Penglihatannya tertuju pada taman samping rumah mereka dengan tatapan kosong. “Aku sulit tidur lagi.” katanya. Jonathan menghela napas. “Kau teringat Chrystal lagi ya?” “Selalu.” Dan jawaban itu cukup menohok Jonathan. Hidup istrinya memang jadi kelabu sejak sang putri dinyatakan meninggal secara tragis. Mentalnya terganggu dan dia terus-terusan menyalahkan dirinya. Katanya, dia adalah orang yang mendorong Chrystal untuk melakukan aksi bunuh diri itu. Jonathan sangat sedih setiap kali mendengar istrinya menyalahkan dirinya sendiri. Jelas sekali kalau ini bukan hanya kesalahan istrinya. Dia juga berperan di sini. Kondisi istrinya yang seperti ini jugalah yang mendorong Jonathan pulih lebih cepat dari orang lain. Dia memang menangis dengan pilu kala melihat putrinya dimakamkan, tapi tiga hari kemudian dia langsung tegar dan kembali bekerja tiga hari kemudian. Orang-orang menganggapnya gila, tapi dia tidak boleh terus-terusan bersedih karena sang istri sudah hampir gila karena dirundung kesedihan yang mendalam. Dia harus menjadi penguat sesedih apa pun perasaannya. “Kau tenang saja, Chrystal sudah baik-baik saja. Percaya saja padaku.” Hanya itu penenang yang bisa dia berikan untuk saat ini. Pada momen tertentu, Jonathan ingin sekali membeberkan kondisi Chrystal yang sebenarnya. Bahwa anak mereka masih hidup dan sedang berbahagia di Selandia Baru. Siapa tahu dengan hal itu kondisi istrinya berangsur membaik dan berhenti diliputi penyesalan. Tapi mengingat semuanya masih rapuh, dia memilih menahannya. Dia tidak ingin Chelsea lepas kendali dan memaksa menemui Chrystal yang akhirnya malah menyingkap fakta yang ada. Semakin sedikit yang tahu maka semakin aman posisi Chrystal, yakinnya dalam hati. Tapi Christopher Wang belakangan ini begitu meresahkan. Dia takut kalau pada akhirnya Christopher akan menyingkap rahasia besar ini dan membuat semuanya berantakan. Apa yang harus dilakukannya jika hal itu sampai terjadi? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD