Part 7. The Gorgeous Devil

1403 Words
Pagi ini sinar matahari mengintip malu-malu dari balik rimbunan gedung-gedung pencakar langit. Cahayanya nan lembut terpaksa harus bersaing dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi bak berlomba-lomba menggapai langit. Meskipun begitu sinar matahari itu mampu menembus dinding kaca yang menjulang, menampakan sulur lembut keemasan dan menciptakan nuansa hangat di seluruh ruang kamar mewah ini. Sinar hangat itu mengusap lembut pipi perempuan yang masih bergelung dengan selimut tebal nya. Memaksanya bangun karena silau nya matahari menyapa matanya. Menariknya untuk terjaga.   Tita bangun sendirian dengan sisi ranjang yang kosong dan dingin seperti suaminya tak pernah menempatinya sepanjang malam. Lelaki itu juga tidak terlihat dimana-mana ketika Manila, pelayan nya yang pendiam, melayani kebutuhannya untuk mandi dan berganti pakaian. Hampir saja Tita tidak bisa menahan diri untuk bertanya dimanakah Alfard berada.   Tetapi rasa malu yang membuatnya mampu mengurungkan niat untuk bertanya. Bagaimana mungkin seorang istri malahan menanyakan keberadaan suaminya kepada seorang pelayan? Di malam pertama mereka pula?   Malam pertama? ....... Suami? ......... Istri?   Memikirkan kata-kata tersebut membuat benaknya berkecamuk. Memikirkannya membuat wajah Tita memerah karena malu. Dia sudah berganti status. Kenapa rasanya ........... biasa saja.   Lamunannya sirna ketika kembaran Manila, Minerva datang membawa baki yang berisi makanan.   "Selamat pagi nyonya Tita. Tuan meminta saya menyiapkan sarapan anda di kamar. Hari ini tuan harus pergi ke kantor pagi-pagi karena ada rapat. Dan bila nyonya ingin berjalan-jalan tuan meminta Anda ditemani oleh saya atau Manila". Minerva tersenyum pada Tita dan Tita membalas tersenyum.   "Dimana saya harus letakan ini nyonya?" Tanya nya.   "Letakan saja di sana". Tita menunjuk pada nakas. Dan setelah baki berisi sarapan itu diletakan, mereka berdua undur diri dari kamar.   Tita yang masih memakai bathrobe dan menggerai rambut panjangnya memindahkan baki yang berisi sarapan itu ke atas kasur nya. Sudut kamar nya yang berupa floor to ceiling windows benar-benar menyuguhkan pemandangan kota dengan central park yang kontras dengan gedung-gedung di sekelilingnya.   "Wow what a great breakfast and view" Tita tersenyum lebar dan mulai menyantap sarapannya. Jus strawberry, semangkuk bubur oat, roti dengan toping telur, meatball dan asparagus serta tempura.   ***   "Kau sudah meninjau pembangunan hotel kita di Budapest?" Alfard melangkah di dengan diiringi beberapa orang pria berjas rapi di belakangnya. Disamping nya adalah asisten nya, Akira, pria asal Jepang yang merangkap sebagai wakil direktur nya di perusahaan. Al menyerahkan laporan itu pada Akira.   "Pembangunan itu akan rampung tepat waktu, Tuan. Tapi .......... Sebenar nya kita ada sedikit masalah, Tuan". Jawab Akira hati-hati.   Akira lebih suka menggunakan dua kata sapaan untuk Al. Dia akan menyebutnya 'tuan' ketika mereka di kantor. Tapi dia akan menyebutnya 'bos' ketika mereka di luar kantor.   Al menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap tajam pada Akira. Lelaki yang memiliki mata sehitam arang turunan dari ayah nya yang seorang mantan Yakuza Jepang ini masih terdiam.   Tau bos besar nya masih menatap meminta penjelasan, sejenak Akira menahan napas, ditatap dengan tajam dan mengintimidasi seperti itu membuat nya berharap lenyap senjenak dari tempat ini.   "Tell me". Kata Al. Dia berbalik dan mulai berjalan kembali.   "Tidak jauh dari proyek pembangunan kita, terdapat lokasi hotel baru dan layanan pariwisata yang mirip dengan kita, Bos. Mereka bahkan membuka casino lebih dulu. Bisa dibilang mereka saingan berat kita". Akira menjelaskan hati-hati   Al menghentikan langkahnya lagi dan berbalik lalu menatap tepat pada manik mata Richard yang sehitam arang.   "Dan siapa pemilik tempat tersebut?" Tanya Al.   "Ernesto and son, tuan". Jawab Akira.   "Ernesto? Apa maksudmu Ernesto yang ku kenal?" Al berkata mendesis pada Akira   "Benar, tuan. Ernesto dari Havana. Dia dan anak nya mendirikan hotel yang di lokasi yang sama dan di waktu yang berdekatan dengan kita. Mereka juga membuka casino dan bar nya lebih dulu dari kita. Bisa dikatakan mereka menjegal kita dari akses sebelah barat. Dimana pintu itu lah yang sering dipakai wisatawan datang kesana".   "Hah.. ha..haha maksud mu paman Ernesto dan Si anak bodohnya Sergio itu mau menjegalku?" Al tertawa sinis.   Akira terdiam.   "Awasi mereka" Kata Al   "Baik bos" Jawab Akira.   Akira berbalik dan melangkah ke pintu keluar ruangan itu ketika Al menghentikan langkahnya.   "Menurutmu apa ini ada hubungannya dengan 'Dia'?" Al bertanya seolah menimbang kejujuran Akira.   "Saya rasa tidak ada, bos". Jawab Akira singkat. Dan Al mempersilahkan dia keluar.   Al memandang lurus ke arah horizon lepas dimana matanya sudah tak mampu lagi menggapai sudut bumi. Dia berdiri tepat di depan dinding kaca yang menampilkan segala panorama kota Manhattan. Sebenarnya penasehat hukumnya melarangnya untuk berdiri terlalu dekat dengan kaca, meski kaca itu anti peluru sekalipun. Karena terlalu berbahaya untuk nyawanya bila ada penembak jarak jauh yang membidik nya detik ini. Tapi bukan Alfard namanya bila tidak menantang nyawa. Dia sudah berkali-kali lolos dari maut bahkan 'Dia' yang namanya tak boleh disebut pernah menanamkan satu peluru di d**a nya, menembus hingga ke punggungnya. Membuat Al tak sadar memegang d**a kirinya.   "Akan ku pastikan semua orang yang terlibat dengan mu akan aku balas. Dengan balasan berkali-kali lipat". Dan seringaian itu muncul kembali. Terasa dingin dan mengintimidasi.   ****   Seharian ini Tita sangat bosan di penthouse ini. Inginnya jalan-jalan tapi Manila atau Minerva sama saja, mereka terlalu pendiam dan seolah manjaga jarak dengannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusuri tiap sudut rumah ini. Pintu demi pintu ia buka hingga akhirnya matanya takjub pada sebuah ruangan yang seluruh sisi dindingnya adalah rak buku yang menjulang tinggi dari lantai hingga langit-langitnya.   Tita yang memang sudah jatuh cinta pada buku tidak melewatkan kesempatan ini apalagi banyak buku fiksi berbagai genre tersusun rapi di miniature perpustakaan ini. Walaupun ketika Manila memergokinya di ruangan ini, wanita itu seperti kena serangan jantung dengan terkesiap dan memberitahukan bahwa itu ruang kerja Alfard. Dan ruangan ini sangat privat. Akhirnya Tita harus puas dengan hanya membawa beberapa buku yang cukup tebal seperti buku-buku karya Dan Brown.   Dengan segelas coklat panas, Tita mulai membuka buku tebal di pangkuan nya sambil bersandar pada kepala ranjang. Selimut abu-abu yang hangat menyelimuti kaki nya hingga pinggang.   "Padahal hari masih sore. Kau tidak berminat berjalan-jalan di taman dekat sini?" Suara maskulin itu mengagetkan nya. Tita sama sekali tidak mendengar suara pintu dibuka bahkan suara langkah kaki pun tak terdengar sama sekali, seolah lelaki ini berjalan dalam senyap atau melayang di udara.   "Hmm .... Aku lebih suka.. ini" Tita mengangkat buku Inferno di tangannya, menunjukan buku yang sedang dibacanya. Al hanya merespon dengan menaikan alisnya.   "Mungkin kau akan merasa tidak nyaman, tapi nanti aku akan menempatkan bodyguard pribadi untuk mengawalmu. Aku sudah meminta Akira menyeleksi mereka".   Al membuka kancing kemeja teratas nya lalu berbalik menatap Tita yang sedang duduk memangku buku di ranjang.   "Bukannya apartment ini sudah dilengkapi dengan keaman yang canggih? Apa masih perlu bodyguard juga?"   Al menyipitkan matanya. "Disini bukan Indonesia, Tita. Kau tidak tahu bahwa kejahatan bisa terjadi dimana-mana. Dan tak sedikit musuh ku yang mengincar kelemahanku".   "Iiih emang kerja nya dia apa? President? Raja negeri antah berantah? Sampai banyak musuh segala. Dia cuma pengusaha kan? Papa juga pengusaha tapi nggak segitunya pake bodyguard segala. Dasar lebay." Gerutu Tita dalam hati.   Al tersenyum tipis dan melangkah mendekati Tita. Tita mengubah posisi duduknya menjadi di tepi ranjang. Al berdiri tepat di depan Tita yang masih duduk di tepi ranjang. Posisi Al yang membelakangi jendela telah menghalangi sinar matahari dengan tubuh besarnya. Membuat sinar matahari menyeruak lembut dari balik punggung dan rambutnya, menciptakan siluet indah bak malaikat.   "Tidak. Bukan malaikat." Tita membatin, sedikit memicingkan mata menatap Al yang berkemeja hitam.   "Mungkin lelaki ini lebih tepat kalau digambarkan dengan Iblis ....... Iblis yang sangat tampan. A gorgeous devil." Bisik Tita dalam hati.   "Kau tidak pernah tahu bahwa menjadi istriku saja bisa membuat mu terseret dalam bahaya yang mampu menghilangkan nyawamu. Di luar sana banyak orang yang ingin berteman dengan ku. Mereka bahkan harus membuat janji hanya untuk bertemu dengan ku. Tapi tidak sedikit juga orang-orang yang membenci ku. Beberapa dari mereka bahkan rela membunuh siapa pun yang menjadi kerabat atau keluarga ku. Jadi memastikan dirimu aman dalam perlindungan adalah tanggung jawab ku. Tapi aku minta suatu hal pada mu, Tita. Berikanlah kesetiaanmu padaku. Dan aku akan melindungimu sebagai timbal baliknya".   Tita benar-benar tidak mengerti ucapan suami nya ini. Tapi tanpa sempat otaknya mencerna ucapan Al, tanpa diduga, Al membungkukkan badan dan mengecup dahinya. Pelan, lembut dan lama. Seolah Al sedang menyalurkan rasa rindu nya yang tertahan selama lima tahun ini. Hati Al terasa miris ketika mengingat hanya ia seorang yang merindu. Sementara gadis muda yang cantik dihadapan nya ini tidak merasakan apapun pada nya. Bahkan menyemai benih suka pun, Tita seolah belum sudi.   Kemudian tanpa kata Al meninggalkan Tita dalam lamunan sesaat yang menghanyutkan dalam suasana magis yang melingkupi seluruh sudut ruangan tersebut.   Dengan wajah polos dan pikiran kosong nya, Tita masih menatap pintu yang telah tertutup rapat oleh lelaki tadi. Tiba-tiba rasa panas menjalar pelan di pipi nya. Menimbulkan rona merah muda pada kedua pipi mulus nya.   "Barusan .... Barusan dia cium gue kan?"   1 detik   2 detik   3 det .....   "Aaaaaaggggggghhhhh jidatku sudah tidak perawan lagi".  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD