Part 8. Breathless

1977 Words
Tiga hari sudah Tita di Manhattan. Tiga hari pula ia sudah tinggal di penthouse ini, tapi dia hanya bertemu dengan lelaki pemilik rumah ini yang mengaku sebagai suaminya, hanya ketika sarapan dan sisanya Al hanya pulang ke rumah bila sudah larut malam. Bahkan Tita sendiri tidak tahu dimana lelaki itu tidur tiap malam.   Dan parahnya selama tiga hari ini Tita benar-benar dibuat mati kutu dengan tidak adanya Hp di tangannya. Bayangkan, di tempat yang serba canggih ini bahkan Manila dan Minerva saja tidak diperkenankan membawa Hp ketika bekerja, bahkan mereka dilarang meminjamkan Tita Hp.   Tita benar-benar sudah gatal ingin menghubungi teman-temannya, atau sekedar membuka WA, IG, w*****d, Webtoon, Line dan lain-lain. Hari ini Alfard mengirimkan lelaki berdarah turunan Jepang bernama Akira untuk membawa nya melihat universitas-universitas sekitar penthouse nya. Tita sedikit terhibur ketika dia melihat Columbia University, one of top ten University in the world.   Meski ia ditemani oleh Akira dan Manila tapi sepertinya semua orang yang bekerja dengan Alfard mirip dengan kepribadian lelaki itu. Mereka semua kaku. Keduanya sangat pendiam seolah berhati-hati dan menjaga jarak dengan Tita.   Tita jadi kangen Bi Ita, asisten rumah tangga nya di rumah. Bi Ita pasti lagi nyanyi dangdut sambil nyapu atau ngepel sambil pake headset di telinganya. Tita terkekeh sendiri mengingat tubuh gendut Bi Ita goyang dangdut jaran goyang, favorit nya.   Sementara di penthouse ini meski ada Manila dan Minerva juga koki yang siap sedia memasakan apapun yang Tita minta tapi rasanya aneh. Disini ..... sepi. Meski Tita berusaha menghalau rasa itu dengan berkeliling penthouse yang memiliki berbagai ruangan tapi akhirnya ia memilih kembali membaca di kamarnya hingga tak terasa malam mulai menyapa.   **** Los Angeles, California, USA.   Sebuah rumah tepi pantai yang menampakan pemandangan sunset yang indah dari garis horizon di lepas pantai. Sejauh mata memandang hanya garis lurus yang tertempa warna jingga dari matahari sore yang terbenam. Di rumah yang dilengkapi dengan infinity swimmingpool itu terlihat beberapa orang wanita muda dengan swimsuit warna warni sedang bercanda di tengah kolam dengan seorang pria paruh baya ditengah-tengah mereka. Pria itu masih bertubuh atletis meski rambut nya sudah memutih.   Tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya dan memberikan telepon genggam diatas sebuah nampan perak pada pria itu.   "Halo". Pria itu merentangkan tangannya yang langsung disambut oleh wanita-wanita muda itu dan mereka menggelayut manja.   "Apa?" Pria itu mengangkat tangannya dan mengintruksikan para wanita muda itu untuk pergi.   "Owh Adolfo, it's uncool". Kata beberapa gadis itu manja.   Laksana ikan yang terusir karena makanannya sudah habis, mereka semua berenang menjauh tapi tak sedikit yang masih bersikap manja dengan menjentikan air ke muka si pria tua itu bahkan ada yang memberi kiss dengan tangan. Pria tua itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum pada mereka sambil tetap bicara pada orang yang di telepon nya.   "b******k Ernesto. Anak itu pasti makin membenciku gara-gara dia. Lantas bagaimana transaksi senjata dengan Israel? Kau tahu bukan banyak senjata canggih diproduksi disana. Klient ku pasti berani bayar mahal bila kita berhasil mendapatkan salah satu incaran koleksinya. Sebisa mungkin kita bergerak lebih dulu dari Alfard".   "............"   "Iya aku tahu, anak itu sudah tidak bisnis senjata lagi. Tapi tetap saja manusia itu bisa haus uang, Beatrice".   "............."   "Apa? Dia sudah menikah? Hahahaha lantas apa kau cemburu?"   Pria tua itu berjalan mendekati baki mengapung yang berisi cocktail dan mencecapnya perlahan, seolah menikmati setiap tegukan dari cairan alcohol manis itu.   "Terus awasi dia dari jauh, B." (dibaca Bi) dan telepon itu pun terputus. Pria tua dengan tubuh sexy itu terdiam sejenak tiba-tiba gelas cocktail itu dia lempar ke lautan lepas. Dan gerahamnya mengetat.   "Bocah tengik! Menikah diam-diam hah? Well well well, let's see seperti apa your bride, Alfard." Sebuah seringaian tiba-tiba terbit di wajahnya.   *****   Entah ada angin apa malam ini Alfard ada di rumah untuk makan malam. Meja makan mereka berupa meja panjang dengan ukiran klassik dengan sulur-sulur nya yang indah dan cantik. Meja berwarna putih gading itu dikelilingi dengan 12 kursi yang tak kalah indah nya. Berbagai makanan tersaji di atas meja pualam indah tersebut. Semuanya western food.   Dan Alfard memilih duduk di bagian ujung meja makan tersebut. Lelaki itu sedang mencecap kopi hitam pekat nya ketika Tita datang dari arah kamar nya. Tanpa kata Tita memilih sisi terjauh dari Al. Dia memilih ujung lain dari meja makan tersebut.   Al menyesap kopi hitamnya yang kontras dengan cangkir nya yang putih, menatap Tita tanpa ekspresi. Suasana ruang makan malam langsung terasa sepi. Tita sendiri hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Mereka jarang makan bersama dan fakta hari ini Al pulang cepat untuk makan malam tak pelak membuat suasa canggung diantara keduanya.   Tiba-tiba beberapa irisan daging dan sayuran serta kentang tumbuk tersodor dari tangan Manila. Entah sejak kapan Al memerintahkan wanita setengah baya itu mengambilkan makanan untuk Tita.   "Makan". Gumam lelaki itu singkat. Entah sejak kapan dia sudah selesai meminum kopinya. Sekarang dia menyandarkan punggungnya ke kepala kursi dan memperhatikan Tita memakan makanannya.   Tita menghela napas, kenapa lelaki ini berkata dengan nada otoriter, tidak bisakah dia sedikit bersahabat.   "Enak" Tita membatin "Harusnya minta resepnya nih biar Bi Ita bisa bikin juga di rumah. Pasti enak makan nya rame-rame sama ......." Tita terdiam tiba-tiba ia ingat rumah. Daging lembut dan lezatnya kentang tumbuk keju ini seakan tercekat di tenggorokannya.   "Kenapa? Tidak enak?" Rupanya Al memperhatikan perubahan ekspresi wajah Tita. Lelaki itu menyipitkan mata, menatapnya tajam.   Tita buru-buru menggeleng dan menelan daging yang sudah dikunyahnya. Entah kenapa rasanya jadi terasa seperti segumpal karet.   "Kenapa kau memilih diriku untuk jadi istrimu?" Tita memberanikan diri bertanya. Pertanyaan ini sudah berjuta kali mampir di benaknya tapi tak pernah ada kesempatan ia ungkapkan. Sayang nya pertanyaan sederhana nya ini dihadiahi tatapan tajam dari lelaki penuh kuasa sekaligus penuh pesona ini.   Al hanya menatapnya tajam, menelusuri keseluruhan dirinya dengan tatapan tajam dan menilai, menciptakan keheningan nan mencekat serta kecanggungan yang pekat.   "Karena aku tak ada pilihan lagi". Jawab Al dengan nada dingin dan menohok ulu hati Tita dengan emosi yang tiba-tiba meluap.   Karena aku sudah jatuh cinta pada mu. Dan tak ada pilihan lain selain memiliki mu. Tambah Al dalam hati.   "Dia pikir tinggal aku satu-satunya perempuan di dunia ini sampai dia tidak punya pilihan lagi. Terus kalau dia ada pilihan nasib aku kaya abis manis sepah dibuang gitu?". Gumam Tita sepelan mungkin. Tita merasa terhina dengan jawaban lelaki itu barusan. Tapi tanpa sadar sendok dan garpu nya berdenting lebih keras beradu dengan piring.   Dengan mata yang mulai panas, Tita meletakan sendok dan garpunya lalu mengambil serbet terdekat dari nya. Mengelap mulutnya dan menggeser kursinya.   "Aku sudah kenyang, permisi". Tita bangkit dari kursi, melirik pada Al yang masih duduk santai bersandar kursi, menatap Tita dengan datar tapi sorot matanya berkilat terlihat ............. Geli?   Lelaki ini sedang menertawakannya ya? Kenapa matanya seperti menahan ...........geli?   Tita mendengus kasar, dia merasa terhina. Didorong kemarahan yang entah dari mana asalnya yang jelas Tita ingin segera keluar dari ruang makan ini. Ia ingin menjauh sejauh mungkin dengan lelaki yang berstatus suaminya ini. Entah sejak kapan tapi memang ruangan ini hanya ada mereka berdua karena Manila dan Minerva sudah tidak terlihat lagi ketika Tita berniat memaksa membuka pintu keluar ruang makan tersebut.   Dengan kesal dihentakan kaki nya lalu membalikan tubuhnya dan melangkah ke pintu dengan kaki yang dihentakkan. Dia sudah berhasil membuka pintu dan hampir berhasil keluar dari pintu kalau saja tanganya tidak ditahan. Pintu itu tiba-tiba ditahan oleh tangan kuat nan kokoh dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, melalui sisi kepalanya pintu itu ditahan dan ditutup paksa kembali. Dentuman suara keras terdengar ketika tangan kuat berotot itu berhasil mendorong paksa pintu itu agar tertutup kembali.   Tita berdiri terpaku dengan jemari nya masih memegang handle pintu. Punggungnya tiba-tiba meremang merasakan suhu panas di balik punggung nya, menandakan Al berdiri merapat pada tubuh belakangnya. Dia bahkan tidak mendengar langkah kaki lelaki ini. Bukan kah Al duduk santai diujung meja yang berjauhan dengan nya. Bagaimana lelaki ini bisa sudah berdiri di belakangnya dengan sangat cepat.   Dengan pelan dan ragu-ragu Tita melihat pada lengan kokoh yang masih menempel di pintu, memenjarakannya diantara kedua lengan kokoh nya yang menahan pintu agar tetap tertutup. Baru Tita sadari jemari lelaki ini panjang dan kuat. Tita terkesiap melihat sebuah cincin platinum berukir melingkar di jari nya.   Mau tak mau mata nya melirik ke jari kirinya sendiri dan sebuah cincin platinum bermatakan berlian tersemat di jari mungil nya. Apakah itu cincin pernikahan mereka? Tita bahkan tidak menyadarinya tersemat di jarinya. Di pernikahan itu dia terlalu sibuk melamun hingga tidak memperhatikan detail cincin indah itu. Dia bersikeras tidak ingin berbalik dan menghadap Alfard.   "Sedang merajuk, hmm?" Gumaman Alfard lebih terdengar seperti bisikan lembut di lekukan lehernya. Lelaki itu menunduk sedikit, sengaja membiarkan napas panasnya menerpa kulit leher Tita yang sensitive. Sebelah tangan Al yang tadi ikut memenjarakan nya terangkat dan bergerak kebawah, melingkari perut dan pinggangnya dan membuat nya tidak hanya makin mendekat pada d**a bidang si pria tapi juga merapat, sangat merapat.   "Apa kau tidak betah disini, hmm?" Kepala Al bergerak sejajar dengan kepala Tita. Dia menumpukan dagunya di pundak Tita. Mencium aroma Tita yang wangi buah dan bunga dari shampoo yang dipakainya.   "Aku... Aku mau pulang. Hiks ... aku bosan disini. Aku harus sekolah, dua minggu lagi graduation hiks tapi ini..... hiks hiks aku mau pulang." Tita benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Masa bodoh dengan gengsi, bagaimanapun dia tidak tahu caranya pulang dari sini selain meminta bantuan lelaki yang sedang memerangkapnya dalam pelukan ini.   "Ssssst..... iya kau akan pulang. Aku sedang mengurusnya agar kau bisa pulang dulu untuk menyelesaikan sekolahmu. Lalu aku akan menyusul. Sekarang kau bisa berhenti menangis, hmm?" Kata nya lembut. Tita mengusap air matanya dengan punggung tangannya.   "Kau tidak bohong, bukan? Kalau kau berani inkar janji akan aku... hmm aku tendang pisang mu!" ancaman Tita malah membuat lelaki ini tekehkeh geli.   "Aku suka gadisku yang merajuk. Kau terlihat manis. Seperti kitten. Tapi aku juga suka kau yang suka mengamuk dan memberontak serta menentang kata-kataku. Seperti anak macan betina, yang membangkitkan gairah memburuku".   Tita berbalik hendak memprotes omongan Al tapi tindakan Al membuatnya bungkam.   Al meraih dagu Tita, memiringkannya ke samping , lalu melumat bibi Tita lembut. Tita melotot terkejut dengan apa yang lelaki ini lakukan. Seumur hidupnya dia hanya melihat ciuman di film remaja yang ia tonton. Itu pun diam-diam karena Mami sangat menyeleksi ketat tontonannya. Tapi ini rasanya aneh. Ciuman ini tidak manis seperti yang diceritakan di novel-novel w*****d. Rasanya pahit dan bau kopi. Tita hanya mampu terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat ketika Al mengulum bibir bawahnya lembut. Matanya memejam erat seperti takut diterkam singa jantan. Tanpa sadar tangannya meremas baju Al. Dan seluruh tubuhnya menegang. Tak berani membalas ciuman lembut itu.   Al yang merasakan hal tersebut tak urung tersenyum disela-sela kecupannya. Dia sudah menghentikan lumatannya, mengangkat kepala nya dan melihat Tita masih memejamkan mata dengan wajah mengenyit. So cute.   "Buka mata mu". Dan Tita mengikuti perkataannya, bernapas sedikit terengah dan wajah panas memerah karena malu.   "Bersiaplah, besok siang jet pribadiku akan disiapkan. Kau berangkatlah duluan ke Indonesia. Aku akan menyusul setelah urusanku selesai disini. Paham?" Perkataan Al itu lembut tapi ada nada yang sarat akan memerintah disana.   Mendengar besok ia akan pulang membuat Tita tanpa sadar tersenyum lebar. Senyum yang memperlihatkan deretan giginya yang putih, bersih, terawat dan gigi gingsulnya yang membuat Al seolah berhenti berpijak dan gravitasi lenyap disekitarnya. She shows her killer smile.   "Thank you"   "You're welcome" Dan Al mengecup kening Tita tanpa sempat Tita menghindar. Tangannya mulai melepaskan lilitannya di pinggang dan perut Tita, dan sebelah tangan lain nya membukakan pintu. Kecupan kening itu selesai dan dengan dagunya, ia memerintahkan Tita untuk ke kamar dan bersiap-siap. Tita hanya mengangguk malu dan berjalan dengan kikuk ke arah kamar nya.   *****   Tita menutup pintu kamar nya dan menyenderkan punggungnya pada pintu yang tertutup.   "Barusan itu apa?" Tanyanya pada diri sendiri.   "That .... Is .... My .... First .... Kiss!! Oh my Goodness, he stole my first kiss!!"   Aaaarrrrgggggghhhhhhhhhh ...............................   Tanpa Tita tahu seseorang menahan tawa nya di balik pintu.   "First kiss, huh? Hmm interesting". Dia menjilat bibirnya dan merasai kembali rasa ciuman tadi. "Sweet".   Dengan tersenyum ia melangkah. Berpapasan dengan Manila dan Minerva, kedua kembar itu terkejut melihat sebuah senyum terukir di wajah tuannya yang kaku dan dingin.   Mereka berdua menunduk dan bergeser ke pinggir, mempersilahkan tuannya lewat. Ketika punggung itu sudah menjauh, keduanya menatap balik punggung lebar dan kokoh itu.   "Kau sepikiran dengan ku, Manila?" Tanya Minerva.   "Sepertinya begitu". Jawab Manila.   "Sepertinya hari akan hujan deras".   "Kau benar".   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD