"Tita". Panggil nya.
Seketika suasana kantin langsung riuh dengan suara "Cieeeeeeeeee.. ehem....ehem". Hampir semua orang di kantin menoleh pada meja mereka.
"Hai Zer". Sapa Ayla dan Dea bersamaan sambil mengedip-ngedip pada Tita.
"Hai" balas Zerico sambil mengambil duduk tepat di samping Tita.
"Kamu nggak masuk seminggu kenapa, Ta? Kamu sakit?" Tanya nya.
"Aduh duh perut gue tiba-tiba sakit nih, gara-gara ngikutin Dea sarapan pake baso". Kata Ayla tiba-tiba.
"Lho ko salah gue?" Protes Dea.
"Gue ke toilet dulu ya. Hayu De, anter gue". Pintanya ke Dea.
"Lho baso gue belom abis Ay". Kata Dea. Ayla melotot pada Dea dan dengan ekor matanya melirik Tita. Memberi kode pada Dea agar menyingkir dari sini. Emang dasar Dea suka telat peka, dia malah menjawab.
"Apaan sih?"
"Dea, gue kebelet nih. Kalau gue pup di celana, lu ya yang tanggung jawab". Katanya sambil menyeret paksa Dea untuk bangun. Dea melihat mata Ayla mengkode ke arah Tita baru lah dia paham.
"Oh bilang ke dari tadi". Katanya sambil berbisik ke Ayla. Doh! Ayla pengen tepok jidat ama nonjok ini anak deh. Kebanyakan makan micin jadi gini nih.
"Kamu nggak apa-apa, Ay?" Tanya Tita.
"Gue ke toilet dulu ya. Hayu De". Dan mereka berdua berlalu begitu aja, meninggalkan Tita dan Zerico berdua dalam diam.
"Aku pikir kamu sakit sampe seminggu nggak masuk". Zerico mulai berbicara memecah keheningan mereka.
"Oh ehmm anu. Tanteku ada yang lahiran di Surabaya jadi kami sekeluarga pergi kesana". Lagi-lagi Tita harus berbohong untuk menutupi masalahnya.
"Oya hari ini katanya ada pensi ya. Kamu jadi manggung?" tanya Tita.
"Iya. Nanti kamu nonton kan?" katanya lagi. Zerico tersenyum dengan lesung pipi di salah satu pipinya. Hari ini dia memakai kaos hitam dengan rambut dibuat pomade. Sekilas Tita berpikir Zerico begitu tampan hari ini tapi kenapa detak jantungnya berbeda dengan ketika dia bersama......... hais! Sudahlah Tita malu mengingatnya.
"Oya kamu sudah memutuskan ingin masuk universitas mana?" Tanya Zerico lagi.
"Belum sih. Aku belum ada gambaran mau masuk jurusan mana. Mau jadi apa atau mau di kota mana. Tapi kemarin sempet diajak melihat-lihat universitas tapi sepertinya sulit tes masuknya". Kata Tita dengan mata berbinar mengingat universitas yang dia lihat-lihat bersama Akira dua hari yang lalu.
"Emang lihat universitas dimana, Ta?" Tanya Zerico
"Di......Surabaya" Hampir Tita menyebut di Manhattan, untung dia ingat dan langsung mengoreksi kalimatnya.
"Kalau kamu sendiri?" Tanya Tita balik.
"Aku rencana akan kuliah di Berklee College of Music. Dibandingkan di The Julliard School. Aku pikir di Berklee lebih beragam jurusan yang dibukanya". Zerico bercerita dengan wajah cerah dan mata yang berbinar-binar.
Untuk sesaat Tita merasa iri dengan Zerico. Setidaknya dia sudah tau apa passion nya dan benar-benar bekerja keras untuk mengejar impiannya. Seolah kata "musik" sudah terkunci di otaknya dan menjadi lentera pada hari-harinya dan optimisme nya.
Tanpa sadar Tita mulai memilin-milin jari nya, kebiasaannya bila sedang gugup. Dia membayangkan seandainya dia tidak ada kesempatan untuk kuliah lagi karena statusnya sudah menjadi seorang "Istri". Tapi kenapa Al sampe menyuruh nya memilih universitas yang dia suka bahkan di Amerika pula. Cuma Tita cemas, apa Al akan membiayai kuliah nya atau papa? Tapi perusahaan papa sedang sulit bukan? dari mana papa sanggup membayar universitas mahal di Amerika pula.
Tita merasa ada yang menyentuh tangannya. Ternyata Zerico sudah menggenggam tangannya.
"Jangan cemas, nanti juga kamu akan menemukan cita-cita yang kamu inginkan". Katanya sambil tersenyum tulus. Tita balas tersenyum padanya.
Akhirnya mereka memutuskan ke lapangan untuk lihat pensi. Ayla dan Deandra juga sudah disana duluan. Zerico pamit untuk berganti baju karena dia harus manggung sebentar lagi.
"Kayanya hampir semua penontonnya cewek ya?" Tanya Tita pada Ayla setelah mereka bertemu lagi ditengah riuh nya penonton pensi.
"Ya iya lah. Mereka nunggu The Prince kita manggung". Balas Ayla dengan teriak karena suara nya berusaha mengalahkan suara desingan musik dan riuh para penonton yang bersorak.
"Hah? The prince siapa?" Tanya Tita lagi.
"Zerico lah. Siapa lagi". Kata Ayla sambil sesekali bertepuk tangan pada band-band adik kelas yang manggung juga.
Tita baru sadar kalau pesona Zerico sebesar ini. Dan tiba-tiba riuh sorak sorai makin membahana ketika MC memanggil nama grup band kelas XII tersebut.
Terlihat Zerico sudah mengenakan kemeja navy blue dengan aksen daun, lengan kemeja yang panjang di gulung nya sampai lengan atas memperlihatkan bakal calon otot-otot yang sedang proses terbentuk. Kali ini dia membawa gitar kesukaannya. Dia berjalan dengan tegap ke atas panggung tak lupa senyum tersungging di wajah tampannya. Semua penonton terutama kaum hawa teriak histeris sambil mengulurkan tangan minta dijabat.
Dengan senyum yang menawan, Zerico mulai memegang mic dan membuka suara.
"Hallo semua" Dan semua penonton menjawab Hallo seperti gemuruh ombak di lautan manusia.
"Well, this is a special song for someone special. Hope you like it". Zerico mulai memainkan gitarnya. Membentuk alunan melodi indah yang mengalun mengikuti irama dan hentakan alat musik lainnya. Semua orang terhanyut dan ikut bernyanyi bersama nya.
Oh, there she goes again
Every morning it's the same
You walk on by my house
Tita melihat sekeliling nya. tampak semua penonton ikut terlarut menyanyikan lagu Imagination nya Shawn Mendes ini. Bahkan di lirik pertama lagu ini dinyanyikan.
I keep craving, craving, you don't know it but it's true
Can't get my mouth to say the words they want to say to you
This is typical of love
Can't wait anymore, I won't wait
I need to tell you how I feel when I see us together forever
Tiba-tiba Ayla dan Deandra merangkul pundak Tita. mereka saling melempar senyum lalu ikut terlarut bernyanyi bersama.
In my dreams you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time
Or is that just me and my imagination
Tita melihat Zerico. Tiba-tiba tatapan mereka bertemu, seolah dari atas panggung si prince of high school ini memang sengaja sedang menatap nya. Seakan bicara tanpa kata, senyum lebar terukir di wajah tampan nya. Mata hitam lelaki itu berbinar memancarkan kebahagiaan karena Tita yang dia harapkan datang benar-benar ada di tengah-tengah lautan manusia yang melihat pertunjukan nya. Bahkan Tita ikut bernyanyi bersama.
Tita merasa Zerico melempar senyum hangat pada nya. Hati nya menghangat kala mendapati lelaki yang sudah menjadi secret admirer nya selama dua tahun ini memberikan senyum begitu lebar padanya. Seolah semua rasa yang ia miliki selama ini tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Tapi entah kenapa hati nya merasa tercubit.
In my dreams, you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there, who knows, maybe this will be the night
That we kiss for the first time
Or is that just me and my imagination
Imagination
Imagination
Tita merasa tubuhnya seakan melting seperti jelly, terlebih sepanjang bernyanyi tadi mata Zerico tidak lepas dari menatapnya sedetikpun. Seakan menyampaikan pesan tersirat padanya bahwa dia lah someone special di lagu ini. Masih dengan keterkejutannya, Zerico tiba-tiba turun panggung dan berjalan menembus keriuhan penonton dan mendekatinya.
Seluruh penonton kaget dan bersorak bahkan ada banyak yang tepuk tangan dan bersiul bersautan ketika Zerico mengeluarkan sebatang coklat yang diikat pita bunga warna merah. Dia mengambil tangan Tita yang masih terbengong menatap coklat di tangannya dengan tulisan "Be my girl?"
Tita mengangkat wajah sedikit untuk menatap Zerico yang lebih tinggi dari nya, berbeda sekali dengan Al yang tinggi nya jauh melampaui Tita, hingga Tita harus mendongak. Untuk beberapa detik mata mereka bertemu. Tita merasa sekian tahun dia menjadi pengagum rahasia Zerico dan akhirnya detik ini seolah seluruh usahanya terbalas. Zerico mulai menaruh hati padanya bahkan memintanya menjadi kekasihnya. Bukankah harusnya ia bahagia?
Tapi kenapa Tita merasa ini tidak benar. Tita merasa salah jika dia menjadi kekasih seseorang tapi disaat bersamaan juga istri seseorang yang lain. Tita masih terdiam menatap manik mata coklat Zerico, mencari-cari jawaban dari hatinya sendiri. Tiba-tiba tangan lembut dan panjang Zerico sudah menyentuh pipi nya dengan lembut dan berkata,
"Kau bisa menjawabnya nanti".
Lalu ia berbalik lagi ke panggung, menaiki tangga dan tanpa Tita sadari ternyata panggung sudah berganti latar dengan Piano besar di tengahnya. Sekali lagi Tita seakan tersedot oleh teriakan dan sorak-sorai penonton yang menyaksikan sang pangerang dari SMA mereka mulai memainkan denting demi denting piano, memainkan sebuah lagu yang diikuti oleh semua penonton dengan membahana.
Tanpa Tita sadari seseorang sedang memperhatikannya dengan lekat. Orang itu terlihat menelepon seseorang.
"Nyonya muda baik-baik saja. Tapi sepertinya beliau memiliki banyak penggagum". Lelaki berwajah oriental dengan mata sipit panjang itu seperti tersenyum menahan tawa nya.
"Sebaiknya anda segera jujur, Tuan. Cepat atau lambat bunga yang mekar sempurna terlalu banyak menarik lebah mendekat". Katanya. Orang yang diajaknya bicara hanya membalas dengan berkata.
"Damn you! Awasi terus dia." Dan lelaki itu hanya menjawab, "Yes,sir."
Sesosok lelaki dengan balutan jas hitam berdiri menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Butuh waktu lebih lama dari yang ia rencanakan untuk memindahkan sementara bisnisnya ke Jakarta. Lelaki itu barbalik dan ternyata Alfard Jayden Wood lah ia.
Dia melihat seorang lelaki dalam balutan jas pula di hadapannya. Salah satu anak buahnya yang ia tempatkan di Indonesia terutama Jakarta.
"Cari tahu latar belakang pria ini". Al melemparkan sebuah berkas yang terbungkus amplop coklat besar.
"Cari tahu lelaki bernama Zerico ini. Siapa dia. Apa latar belakangnya. Dan pastikan dia tidak mendekati Tita lagi". Katanya dengan nada perintah tak terbantahkan.
Tangan Al mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. Dia lalu tersenyum menyeringai.
"Ternyata macan kecil ku banyak yang meminati. Tak akan ada satupun yang boleh menyentuhmu kecuali Aku. Berani mengambil milik seorang Alfard Wood berarti bersiap mengantarkan nyawanya pada kematian."
---------------------******************-------------------------
"Ta. Lu tuh bego apa bego sih Ta?" Dea bertanya dengan ringan tanpa beban sambil nyeruput es jeruk nya.
Tita menolehkan wajah nya sejenak dari coklat yang ia dapat dari Zerico tadi. Dia melihat Dea sebentar sebelum melihat panggung di kejauhan lagi.
Entah apa yang dipikirkan nya kala tadi setelah Zerico memberinya coklat dan ia naik lagi ke panggung. Yang ada di pikiran Tita kala itu hanya ia ingin berlari menjauhi kerumunan itu. rasa nya d**a nya seolah terhimpit beban besar yang tak mampu ia bagi pada siapa pun.
Masih ia ingat Zerico terlihat cemas dari atas panggung kala mendapati Tita berlari menjauhi panggung dan berusaha membelah kerumunan manusia di tengah lapangan itu. Hingga Ayla dan Deandra mengejarnya dan mereka semua berakhir di stand minuman ini.
"Bukan nya lu suka udah lama sama Zerico? Bukan nya harus nya lu seneng dia nembak lu duluan?" Kali ini Ayla memecah lamunan nya.
Iya pertanyaan ini juga yang ingin Tita tanyakan pada hati nya. Bukan kah harus nya ia senang. Dua tahun sudah ia memendam rasa suka pada Zerico tapi dia malah terjebak pada friendzone yang dia ciptakan sendiri.
Tapi kenapa kalau ia menerima Zerico, dia merasa akan menghianati banyak orang. Mami nya, papa nya, juga pria itu. Pria sedingin es tapi mampu membuat Tita beberapa kali merona dengan sikap nya yang tak terduga.
"Gue... gue bingung Ay. Iya gue emang lagi bego, Dea". Kali ini Tita membalas omongan kedua teman nya dengan pelan.
"Gue biasa menjadi secret admirer nya dia. Tiba-tiba dia datang dan nembak gue. Ini Cuma terasa.....terasa mendadak". Jawab Tita lesu.
"Ya ampun, Tita. maafin kita ya. Kita nggak tahu kalau lu masih bingung sama situasi ini". Ayla dan Dea merangkul Tita. mereka mengusap pelan punggung tita. memberikan ketenangan pada sahabat mereka.
"Iya, Ta. Apa lu takut ketauan nyokap lu ya? Lu kan selama ini dilarang pacaran sama nyokap lu". Kata Dea
Tita hanya mampu menggeleng. Tidak mungkin kan dia bilang pada dua sahabat nya ini kalau dia menerima pernyataan Zerico tadi, dia merasa sudah berkhianat pada pernikahan nya sendiri. Meskipun pernikahan itu bukan kemauan nya sendiri. Tapi nama nya pernikahan bagi Tita itu tetap bernilai suci di mata Tuhan Yang Maha Esa.
"Gue Cuma ngerasa nggak siap". Kata Tita pelan.
Tiba – tiba ponsel nya berdering
Suasana ramai dan gaduh lapangan sekolah malah tidak berefek sama sekali pada tubuh Tita yang tegang dan wajahnya pucat pasi seakan nyawa sedang tercabut paksa dari tubuhnya ketika dia melihat layar hp nya berdering dan suara di balik telepon itu menyadarkannya dengan siapa dia bicara.
"Hallo"
"Aku akan menjemputmu selepas acara sekolah mu usai. Tunggulah disana. Satu jam lagi aku sampai". Dan telepon pun terputus tanpa menuggu jawaban dari si pemilik nya.
Wajah Tita pucat pasi, dia tahu suara siapa itu. Alfard. Suaminya.
Tidak! Alfard sudah di Indonesia.