Santa yang sejak tadi diam, akhirnya menatap Yunita. Matanya menangkap tubuh perempuan itu yang mulai gemetar, kedua bahunya naik turun menahan tangis. Tapi bibirnya tetap mengatup. Ia sedang mencoba untuk teteap kuat.
***
Sore itu, sehabis kerja, Santa langsung pulang ke kostan.
Tak ada lagi yang dia pikirkan, selain tanda tanya besar tentang Toni dan Yunita. Ia tak habis pikir, kenapa Toni menghilang begitu saja, tanpa kabar apapun… dan meninggalkan seorang perempuan di kamar kostnya.
Santa memarkir motornya di depan kamar kost. Lalu melangkah menuju pintu kamar kost. ia menemukan Yunita masih duduk di tempat yang sama.
Santa membuka helmnya perlahan. “Dia belum balik juga?”
Yunita menggeleng. Wajahnya lelah. Sorot matanya sendu.
“Tadi nasinya dimakan?”
“Ya, terimakasih banyak, A… tapi maaf tidak saya habiskan, saya mual…” jawabnya.
“Teteh sepertinya masuk angin. Nanti saya belikan obat ke warung…”
“Tidak usah. Saya tidak biasa minum obat …”jawab Yunita
“O ya… saya sudah mencoba telepon beberapa kali, ngechat via WA juga, tapi tetep... nggak aktif, Teh.”
Yunita menunduk. Jemarinya meremas ujung kerudungnya sendiri. Beberapa saat ia diam sebelum akhirnya menatap Santa, pelan-pelan, dengan mata yang sedikit menyipit curiga.
“A...” suaranya pelan tapi menusuk. “Aa beneran nggak tahu di mana Toni?”
Santa terkejut, bahkan nyaris tersinggung. “Gimana Teh... maksudnya?”
“Jangan-jangan Aa tahu... Aa cuma pura-pura enggak tahu. Kalian temenan, kan?”
Santa menarik napas dalam. “Saya nggak terlalu akrab sama Toni, Teh. Kami teman SMA, iya. Tapi setelah lulus, jalan kami beda. Saya kerja langsung, dia kuliah. Ketemu juga cuma sesekali. Bahkan tadi malam saya kaget, tiba-tiba dia datang membawa Teteh ke sini.”
Santa duduk, mencoba menahan kecewa di dadanya. “Saya pernah sekali diajak ke rumahnya. Tapi... saya kapok. Bapaknya… ya begitulah, kurang ramah. Ibunya pun, maaf, menurut saya sangat angkuh. Saya cuma kuli pabrik, Teh. Mereka nggak begitu suka sama saya. Makanya saya nggak pernah lagi main ke rumah Toni.”
Yunita menunduk. Air mukanya mulai melunak, menyadari bahwa kemarahannya sempat salah sasaran. Tapi luka dalam dirinya belum sembuh.
“A... maukah menolong saya, mengantar ke rumah Toni?” tanyanya pelan.
Santa menatapnya, ragu. “Sebenarnya ada masalah apa, Teh? Kenapa Teteh sampai harus menyusul ke rumahnya?”
Yunita menggigit bibirnya. “Itu urusan saya dan Toni. Aa cukup ngantar aja. Bolehkah?”
Santa tak ingin memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu meraih helmnya dan menyerahkannya ke Yunita.
“Yuk, Teh.”
Motor Santa melaju perlahan menyusuri jalan-jalan elit kawasan Jakarta Selatan. Rumah-rumah besar berdiri angkuh di balik pagar tinggi.
Hingga akhirnya mereka tiba di rumah megah dua lantai milik keluarga Toni, terlihat lebih seperti villa ketimbang tempat tinggal biasa.
Gerbang otomatis terbuka setelah penjaga berpakaian safari mengecek identitas mereka.
“Keperluannya apa nih?” tanya si penjaga dengan tatapan curiga.
“Saya teman Toni… pernah main kesini dulu. Jadi, saya hanya bertemu, ada sesuatu yang perlu kami diskusikan,” jawab Santa.
Setelah diizinkan masuk, mereka dibawa oleh seorang asisten rumah tangga masuk ke ruang tamu besar yang dingin dan mewah.
Tak lama, dari balik tangga meluncur seorang wanita elegan berusia awal 40-an, mengenakan gaun hamil yang mahal dan makeup tipis. Perutnya membuncit, mungkin sekitar enam bulan usia kandungan.
Zara. Ibunya Toni.
Ia berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya menyapu tubuh Yunita dari atas ke bawah, lalu berpaling ke Santa.
Pandangan itu dingin. Bukan hanya sinis, tetapi seperti pisau yang menyayat harga diri.
“Ada urusan apa kalian datang ke sini?” suara Zara terdengar kaku, sarat kecurigaan.
Santa menunduk sopan, sejenak menahan napas. Tapi Yunita tetap berdiri tegak, meski tubuhnya mulai gemetar. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya jelas, seperti berisi keberanian yang dikumpulkan dari luka-luka yang menyayat jiwa.
“Bu... saya Yunita,” ucapnya pelan, tapi mantap. “Beberapa bulan terakhir, saya menjalin hubungan dengan Toni. Sejak dia touring ke Pangandaran dan singgah di kampung saya. Kami dekat... sangat dekat.”
Zara menyilangkan tangan di d**a, angkuh. “Lalu?”
Yunita menggenggam tangannya erat, seperti sedang mencengkeram hatinya sendiri yang mulai rapuh. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan.
“Kami melakukan hubungan di luar batas, karena Toni terus menerus mendesak saya… hingga saya luluh. Saya tahu itu dosa. Tapi waktu itu kami serius. Dia berjanji akan bertanggung jawab. Saya tidak datang untuk meminta-minta. Saya hanya ingin bicara... karena saya kini… positif hamil.”
Sunyi. Seolah udara di ruangan itu ikut membeku. Hanya suara detak jam antik di sudut ruangan yang berani bicara.
Zara mendekat. Tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan denting yang membuat d**a Yunita bergetar. Kemudian… tawa.
Tawa dingin.
Tawa yang tak mengandung iba, bahkan tak sedikit pun menyimpan rasa empati.
“Kau pikir aku akan percaya dengan cerita murahan seperti ini?” Suaranya pelan, tapi kejam. Setajam kaca yang menusuk tanpa darah.
Yunita menggeleng, pelan. Air mata sudah menggenang di pelupuk. Tapi ia belum membiarkannya jatuh.
“Saya jujur, Bu. Saya tidak ingin mempermalukan siapa pun. Saya hanya ingin Toni bertanggung jawab. Itu saja.”
Zara menyipitkan mata. Wajahnya berubah bagaikan patung marmer, dingin dan tanpa belas kasih.
“Tanggung jawab? Hanya karena kau MENGAKU hamil?” Suaranya meninggi. “Jangan mempermainkan saya! Kau JANDA, kan?! Siapa tahu anak itu dari lelaki lain? Kau pikir aku sebodoh itu untuk percaya?”
Yunita mulai menangis. Bukan karena takut. Tapi karena merasa terhina.
“Saya tidak pernah main-main dengan kehormatan saya, Bu…”
“Omong kosong!” bentak Zara. “Kau datang ke sini karena tahu Toni anak pejabat. Kau mau hidup enak! Kau pikir kami sebodoh itu?! Kalau kau pikir bisa menjebak Toni demi harta, mimpimu terlalu tinggi!”
Santa yang sejak tadi diam, akhirnya menatap Yunita. Matanya menangkap tubuh perempuan itu yang mulai gemetar, kedua bahunya naik turun menahan tangis. Tapi bibirnya tetap mengatup. Ia sedang mencoba untuk teteap kuat.
“Cukup, Bu...” Santa bersuara, suaranya dalam dan tegas.
Zara menatap Santa seolah tak sudi melihat keberadaannya. “Dan kamu? Membela perempuan ini? Kau pikir kau siapa? Buruh pabrik? Tak pantas kau menjadi teman anakku!”
Santa tak menjawab. Ia hanya melangkah maju, meraih tangan Yunita dengan penuh kelembutan.
“Teh, ayo... kita pergi dari sini.” Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan.
Yunita masih menangis, tapi ia mengangguk pelan. Mereka berbalik, melangkah keluar tanpa kata. Tapi di genggaman tangan Santa, Yunita tahu, ia tidak sendiri.
Sepanjang lorong menuju gerbang, Santa menggenggamnya erat. Sesekali ia meremas lembut. Bukan dengan hasrat lelaki, tetapi terdorong oleh rasa kemanusiaan.
Santa mengajak Yunita mampir ke sebuah kafe kecil di pojok gang Blok M, tempat yang tenang dan remang. Ia memesan teh manis hangat dan sepotong roti bakar cokelat.
Yunita menatap kosong ke luar jendela, pipinya basah oleh air mata. Tapi ia sudah berhenti terisak.
“Terima kasih ya, A... udah mau anterin, nemenin...” suaranya parau, nyaris tak terdengar.
Santa mengangguk. “Saya... cuma gak tega lihat Teteh sendirian.”
Yunita menoleh, matanya sembab. “Saya mau pulang ke Banjarsari malam ini juga. Bisa antar saya ke terminal bus Primajasa?”
Santa sempat diam. Tapi ia mengangguk pelan.
“Bisa…”
Yunita tersenyum lirih. “Makasih, A.”
Santa mengangguk. “Nanti saya temani sampai bus-nya berangkat, ya…”
Namun saat mereka melangkah keluar dari kafe kecil itu, Santa menatap langit yang sudah gelap. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh. Udara malam mulai terasa dingin menusuk kulit.
Santa menghentikan langkahnya. “Teh, kalau boleh saran… jangan malam ini pulangnya.”
Yunita menoleh dengan mata lelah. “Kenapa?”
“Sudah terlalu malam. Terminal itu nggak selalu aman, apalagi buat perempuan sendirian. Mendingan kita balik ke kost saya aja dulu. Teteh bisa istirahat. Besok pagi saya antar ke terminal, lebih nyaman….”
Yunita diam sejenak. Hatinya masih ragu. Tatapannya samar, antara curiga dan letih.
Santa melihat keraguan itu, tapi ia tidak memaksakan. Ia hanya berkata pelan, “Saya ngerti kalau Teteh masih curiga sama saya. Tapi saya enggak ada urusan sama Toni. Saya juga kaget dia kabur begitu aja. Tapi satu hal yang saya tahu… saya nggak akan biarkan Teteh jalan sendirian malam-malam begini.”
Yunita menunduk. Ia mengangguk pelan. “Baiklah, A…”
Mereka akhirnya berboncengan ke tempat kost Santa.
Sesampainya di kost, Santa langsung membuka pintu dan mempersilakan Yunita masuk lebih dulu. Ia menggantung helmnya dan segera menuju dapur kecil di sudut ruangan.
“Bentar ya, Mbak. Saya masak nasi goreng sebentar. Tadi belum makan malam beneran.”
Yunita duduk pelan di tikar kecil, bersandar ke dinding. Wajahnya terlihat lebih tenang meski sorot matanya tetap kosong.
Tak lama, aroma bawang merah dan bawang putih serta kecap manis memenuhi ruangan kecil itu.
Suara yang mengaduk wajan terdengar berirama. Santa terlihat lincah, sesekali menoleh ke arah Yunita sambil tersenyum ramah.
Sepiring nasi goreng akhirnya terhidang. Santa memberikan satu piring kepada Yunita.
“Makan, Teh. Biar nggak masuk angin,” ujarnya pelan. Meski ia kini paham, ketika sebelumnya Yunita mengatakan mual. Itu bukanlah karena masuk angin.
Yunita menatap piring itu sejenak. Kemudian ia tersenyum, tipis, tapi tulus. “Terima kasih, A…”
Mereka makan berdua, dalam diam yang hangat. Dalam sunyi yang cukup menyembuhkan bagi Yunita, meski hanya sementara.