Wajah menengadah. Sorot mata pasrah. Setiap gerak tubuhnya menunjukkan keresahan. Terlihat beberapa kali berganti posisi. Semula berdiri di pinggir pintu, lalu beralih ke luar balkon kamarnya. Pertemuannya bersama Davin beberapa saat lalu meninggalkan bekas keraguan. Kepercayaan diri menyusut tatkala mengetahui sendiri besarnya perhatian pria itu pada Zara. Ingatannya kembali singgah pada kata-kata yang entah sengaja atau tidak diucapkan Davin. Rasanya, Farhan merasa ucapan itu keluar sebagai sebuah kejujuran pria itu. “Kami menikah karena terpaksa. Tapi aku dan Zara sudah sepakat akan memperbaiki hubungan yang memang baru berjalan baik ini.” Kata sepakat benar-benar mengganggu pikirannya saat ini. Ituartinya, Zara berkeinginan menjadikan hubungan mereka serius. Lalu, satu sisihatinya

